NYANYIAN PENA

Ternyata, Menulis Pun Butuh Uang!

Posted on: Mei 13, 2008

B

enar juga apa yang dikatakan Tung Desem Waringin dalam bukunya yang berjudul Financial Revolution. “Uang memang bukan segalanya, tetapi segalanya butuh uang”, demikian kira-kira kata Pak Tung dalam bukunya itu. Dan ternyata kenyataannya memang demikian adanya. Sekarang ini, apa-apa butuh uang. Sampai-sampai buang air kecil saja harus keluar uang. Begitupun halnya dengan menulis. Ternyata, tak sedikit uang yang harus dikeluarkan untuk ongkos “melahirkan” sebuah tulisan, baik artikel maupun buku.

Saya punya sedikit pengalaman pribadi tentang kegiatan tulis-menulis yang mendukung statementnya Pak Tung di atas. Ceritanya begini…

Kira-kira, pada pertengahan bulan September tahun lalu (2007) saya resmi “dirumahkan” oleh perusahaan tempat saya selama ini bekerja. Kebetulan waktu itu perusahaan sedang mengalami permasalahan keuangan yang cukup berat. Akibatnya, kegiatan produksi untuk sementara waktu dihentikan dan karyawan bagian produksi untuk sementara waktu “dirumahkan” hingga kondisi keuangan perusahaan membaik.

Selama masa dirumahkan, saya mencoba menekuni hobi lama saya yang sempat tertunda, yaitu menulis artikel dan mengirimkannya ke media. Alhamdulillah, selama ini, beberapa artikel yang saya tulis sudah pernah dimuat di majalah dan surat kabar. Di antaranya pernah “nongol” di kolom hikmah HU Republika. Kalau ada yang ingin baca tulisan saya itu, silakan lihat kembali Koran Republika edisi Selasa 9 Mei 2006 dan edisi Rabu 19 Juli 2006. Insya Allah, tulisan saya ada di situ. Yang satu berjudul “Memuliakan Wanita” dan yang satunya lagi berjudul “Menjaga Kesucian”.

Tapi, untuk saat ini, saya ingin berhenti dulu menulis artikel. Sekarang, saya ingin mencoba menulis buku. Sebab, saya sering mendengar banyak penulis yang kaya dari hasil menulis buku. Di antaranya, yang sempat saya baca biografi singkatnya, seperti Fauzil Adhim dan Andreas Harefa. Mereka mengaku telah mendapatkan uang jutaan dari buku-buku yang mereka tulis. Makanya saya jadi termotivasi untuk membuat buku juga. Harapan saya waktu itu, saya bisa dapat uang banyak dari royalti buku yang saya tulis tanpa harus capek-capek kerja pada orang lain.

Karena saya senang membaca buku-buku agama (Islam), di tambah lagi saya memiliki koleksi buku-buku bacaan Islami yang lumayan banyak, maka buku yang hendak saya tulis adalah buku yang membahas tentang tema-tema keislaman, seperti aqidah, ibadah, akhlak dll. Dan, saya memiliki tujuan, lewat buku saya ini, saya ingin mengajarkan kepada masyarakat (khususnya yang Muslim) untuk kritis dalam beragama. Lewat buku-buku yang hendak saya tulis, saya coba untuk menghimbau masyarakat untuk menjauhi sikap taklid (membeo) dalam beragama. Sekaligus saya ajarkan mereka untuk lebih arif dalam menyikapi perbedaan pendapat yang ada di tengah-tengah masyarakat.

Sekitar dua minggu, lahirlah sebuah buku sederhana dari ujung pena saya. Lho, kok cepat? Iya, soalnya buku ini sudah sempat saya rilis sejak dahulu kala. Jadi sekarang tinggal penyempurnaannya. Apalagi saya cukup menguasai tema dari buku yang saya tulis ini.

Begitu buku ini selesai, langsung saya kirimkan ke penerbit yang kira-kira mau menerima buku saya ini. Waktu itu saya mengirimnya lewat pos. Selesai mengirim, langsung saya ancang-ancang untuk menulis buku baru sambil menunggu kabar dari penerbit yang saya kirimi naskah buku pertama saya.

Kurang lebih, satu bulan telah berlalu dari waktu pengiriman naskah buku pertama saya. Kini, telah lahir buku kedua saya. Sama halnya dengan buku yang pertama, buku kedua saya ini berbicara masalah agama.

Tak beberapa lama, saya mendapat kabar dari penerbit bahwa naskah saya belum bisa diterbitkan. Penerbit beralasan bahwa tema yang saya tulis terlalu berat. Padahal, kalau menurut pendapat beberapa orang kawan, tema buku saya ringan-ringan saja. Tapi sudahlah. Barangkali penerbit punya penilaian lain.

Saya pun kemudian mengirim naskah kedua saya ke penerbit yang sama. Waktu itu saya merasa optimis bahwa naskah kedua saya ini bakalan diterima oleh penerbit. Sebab, dari beberapa teman yang membaca buku kedua saya, hampir semuanya mengatakan ”bagus”. Banyak yang suka membacanya.

Sambil menunggu keputusan penerbit, saya pun kembali berkarya untuk menelorkan buku ketiga saya. Tak lama berselang, kurang lebih selama tiga minggu, lahirlah buku itu. Dan, saya pun langsung mengirimkannya ke penerbit. Tapi, penerbit yang saya kirimi berbeda dengan penerbit sebelumnya, walaupun kedua penerbit ini masih satu daerah, Solo-Jawa Tengah.

Selesai mengirimkan buku ketiga saya, maka sayapun bersiap-siap untuk menulis buku keempat. Akan tetapi, ada sedikit hambatan waktu itu. Uang saya dikantong sudah habis tekuras untuk biaya menulis buku. Akhirnya, dengan berat hati, saya putuskan untuk menjual HP Sony Ericcsson K300i milik saya satu-satunya dengan harga murah, Rp. 380.000.

Singkat cerita, jadilah buku keempat saya. Dan, langsung saya kirimkan ke penerbit tempat saya mengirimkan naskah pertama kali. Kenapa ke penerbit itu lagi? Sebab, saya merasa, penerbit itulah yang paling cocok dengan tema buku keempat saya. Walaupun akhirnya, kedua naskah saya ini kembali ditolak oleh penerbit dengan berbagai alasan. Berarti, sudah tiga naskah saya yang ditolak oleh penerbit (yang sama).

Tinggal kini harapan satu-satunya tertumpu pada buku ketiga saya. Saya amat sangat optimis dan yakin penerbit akan mau menerbitkannya. Kenapa? Sebab, semua kawan yang membaca buku ini, menyatakan keyakinan mereka bahwa buku ini bakalan laris dan diterima oleh penerbit. Memang, buku ketiga saya ini memiliki cukup banyak keunikan, terutama pada judulnya: Menjadi Kaya Dengan Me-Rokok.

Dan ternyata benar. Kira-kira satu minggu setelah buku ini saya kirim, saya mendapat telpon dari penerbit bahwa buku saya bisa diterima. Waktu itu bulan November. Dan, penerbit menjanjikan buku saya itu akan naik cetak sekitar bulan Februari atau Maret. Adapun royalti (sebesar 5%) akan diberikan 3 bulan setelah buku itu terbit. Berarti saya harus menunggu beberapa bulan lagi untuk mendapatkan royalti. Tapi, penerbit menjanjikan uang depe sebesar 500 ribu dalam waktu dekat.

Sambil menunggu buku saya terbit[1], saya pun masih terus mencoba untuk menulis buku. Hingga akhirnya, ”penyakit lama” kembali kambuh. Uang di kantong sudah semakin menipis. Sehingga, untuk kembali menghasilkan sebuah buku, saya jadi berpikir beberapa kali. Sebab, untuk menghasilkan satu buku butuh uang yang lumayan besar. Misalnya, biaya untuk rental komputer, biaya ke warnet, biaya ngeprint naskah, foto copy dll. Sementara, sampai saat, ini belum ada hasil menggembirakan dari menulis buku. Uang depe yang dijanjikan penerbit pun hingga berbulan-bulan lamanya tak kunjung datang[2].

Namun akhirnya, saya mencoba untuk terus menulis. Rasanya, saya sudah terlanjur menceburkan diri dalam dunia tulis menulis. Saya ingin menjadikan menulis sebagai profesi saya. Sehingga saya pun menjadi tidak tertarik untuk mencari pekerjaan di bidang lain.

***

Demikianlah sedikit pengalaman menulis buku yang pernah saya alami. Jadi, benarlah apa yang dikatakan Pak Tung: Uang memang bukan segalanya, tetapi segalanya butuh uang. Dan ternyata, menulis pun butuh uang!


[1] Alhamdulillah, akhirnya bukunya bisa terbit dengan selamat. Oleh penerbit judulnya diganti menjadi “NGEROKOK BIKIN KAMU ‘KAYA’”

[2] Alhamdulillah, sekarang uang depe-nya sudah saya terima. Tapi sayang, uangnya langsung ludes buat bayar hutang (hik..hik..hik..)

7 Tanggapan to "Ternyata, Menulis Pun Butuh Uang!"

Kisah yang sangat mengharukan. Tetapi begitulah, setiap perjuangan pasti memerlukan pengorbanan. Banyak yang bernasib seperti anda. Banyak penulis daerah yang “wafat” sebelum karya dipublikasikan karena tidak adanya pendanaan. Dari pada berjuang mengejar idealisme untuk menjadi penulis lebih baik mencari pekerjaan lain yang notabene nya langsung memperoleh penghasilan. Jadi nasib anda lebih baik.

Kalau buku-buku mas yang terdahulu ditolak penerbit. Mungkin mas bisa mencoba dengan self-publishing. Dengan demikian mas bisa mendapatkan segala-galanya. Mungkin mas bisa belajar dari blognya Pak Zen tentang Self-Publishing. Ini blognya Pak Zen http://mhzen.wordpress.com.

Pengen sih self publishing. Bahkan, saya dulu pernah punya penerbitan sendiri dan udah nerbitin 4 judul buku. Tapi, fulus lagi fulus lagi…
Terima kasih masukannya

Pak pengalamannya seru juga yah, tetapi sekarang udah biasa dong pada kondisi tersebut. Kalau aku mesti begitu, rasanya ndak pede lagi mau nulis, gimana yah?

Penerbit MASmedia Buana Pustaka yang berada di bawah naungan Intisari Group membutuhkan naskah-naskah buku umum.
Bagi penulis yang ready naskahnya bisa mengirimkannya ke MASmedia Buana Pustaka ke alamat Tropodo 2/7 Waru Sidoarjo Jawa Timur atau melalui email : masmedia_buana@yahoo.co.id.
Apabila naskah dinyatakan layak oleh dewan penyeleksi naskah maka akan dilanjutkan dengan penandatanganan MoU sekaligus penyerahan DP royalti sebesar 25% dari total royati.
Royalti diberikan sebesar 10% dari harga buku dengan minimal cetak 2500 eksemplar.
Bagi Anda yang siap untuk bekerjasama dengan kami, dapat segera mengirimkan naskah Anda untuk segera kami telaah.
Info lebih lanjut dapat menghubungi ibu Indah (08884141593)

Saya mau mengajukan Novel saya, bolehkah saya langsung ke Sidoarjo????

saya

U truly produced some remarkable tips within ur blog post, “Ternyata, Menulis Pun Butuh Uang!
NYANYIAN PENA”. I am going to become coming back again to your website shortly.

Thank you -Caroline

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: