NYANYIAN PENA

BILA NASKAH KITA DITOLAK

Posted on: September 11, 2008

”Cuma dua naskah saya yang berhasil menembus tembok tebal penerbit buku. Yang pertama naskah saya yang berjudul ”Menjadi Kaya Dengan Merokok” dan yang kedua naskah saya yang berjudul ”Seandainya Aku Mati Besok…””.

***

Naskah ditolak! Ah, itu sih biasa. Jangankan kita penulis pemula, penulis yang sudah senior saja kadang masih mendapat penolakan. Apalagi kita yang baru pertama kali nulis buku. Saya sendiri sudah beberapa kali mendapat penolakan. Tujuh buku yang saya buat, lima di antaranya ditolak oleh beberapa penerbit.

Cuma Dua yang Diterima

Setahun lalu, tepatnya menjelang bulan puasa, saya mengirim naskah buku pertama saya ke Penerbit X di Solo. Waktu itu saya mengirimnya via pos. Yang saya kirim berupa draft naskah yang belum saya bentuk menjadi buku. Jadi masih berupa kertas A-4 (Cara pengiriman model pertama; lihat kembali ”Bab. Mengirim Naskah”). Kurang lebih seminggu kemudian saya meng-SMS pihak penerbit untuk menanyakan; apakah naskah saya sudah diterima? Penerbit menjawab sudah, dan naskah saya katanya sekarang sedang dikaji oleh bagian redaksi.

Beberapa bulan kemudian, saya mengkonfirmasi pihak penerbit lewat SMS. Bagaimana nasib naskah yang pernah saya kirim dulu? Penerbit kemudian menyatakan bahwa naskah saya belum bisa diterbitkan, karena menurut mereka temanya terlalu berat. Sedangkan mereka biasa menerima naskah yang ringan-ringan saja. Kesimpulannya, naskah saya ditolak!

Naskah saya yang ditolak itupun kemudian saya perbaiki dan saya buat menjadi layaknya sebuah buku. Naskah itu saya bentuk menjadi buku seukuran ½ A4, saya beri kover, dan isinya saya layout sedemikian rupa sehingga menjadi seperti sebuah buku yang siap jual. Kemudian naskah yang sudah berbentuk buku itu saya kirim via pos ke penerbit yang ada di Jakarta. Namun, sampai kini, saya tidak tahu bagaimana nasib naskah saya selanjutnya. Apakah masih hidup atau sudah…

Naskah saya yang lain pun mengalami nasib yang sama dengan naskah pertama saya. Semuanya ditolak. Cuma dua naskah yang berhasil menembus tembok tebal penerbit buku. Yang pertama naskah saya yang berjudul …. Ah, saya rasa Anda sudah tahu. Jadi, tidak perlu saya sebutin lagi, khan?!

Untuk naskah saya yang berjudul ”Menjadi Kaya Dengan Merokok”, tidak sampai dua minggu setelah naskah saya kirim ke penerbit, saya langsung ditelpon pihak penerbit. Waktu itu saya mengirimnya via pos. Yang saya kirim berupa naskah yang sudah saya bentuk menjadi buku seukuran ½ A4 dengan diberi kover sederhana dan dilayout ala kadarnya. Dengan amplop coklat berukuran kertas A4 lebih dikit, dan disertai kata pengantar serta biodata singkat, saya kirim naskah saya ini ke penerbit.

Pihak penerbit awalnya menawarkan untuk beli putus. Maksudnya, naskah saya dibeli dengan harga tertentu, kemudian pihak penerbit bebas mencetak naskah saya sekehendak mereka, dan saya tidak mendapat apa-apa lagi setelah itu. Mereka menawar naskah saya seharga Rp. 700.000 s/d Rp. 800.000.

Tapi saya mengajukan bentuk kerjasama berupa ”royalti”saja. Sebab, biar sama-sama enak. Kalau buku saya nantinya laku, saya dan penerbit sama-sama untung; sedangkan jika buku tidak laku, saya dan penerbit sama-sama rugi. Penerbit rugi karena telah mengeluarkan uang untuk biaya produksi, sedangkan saya rugi waktu, tenaga dan pikiran yang saya keluarkan selama menulis buku.

Berbeda halnya dengan sistem ”beli putus”. Kalau buku tidak laku, berarti penerbit rugi sedangkan saya untung karena telah mengantongi sejumlah uang yang cukup besar. Tapi kalau buku best seller, penerbit untung besar sementara penulis cuma bisa bengong menyaksikan bukunya dicetak berulang-ulang dan uang jutaan (bahkan bisa jadi miliaran) rupiah masuk ke kantong penerbit tanpa ada sepeserpun yang mengalir ke kantong penulis. Jadi, saya merasa ada unsur ”gambling” di sistem ”beli putus”. Oleh karena itu, saya lebih senang dengan kerjasama bentuk ”royalti” meskipun cuma diberi 5 % dari harga buku dipasaran (harga bandrol) dan diberikannya 3 bulan ke depan terhitung setelah buku terbit.

Awalnya memang saya agak bimbang. Sebab waktu itu saya sedang butuh uang. Tapi karena saya yakin buku saya bakalan laku di pasaran, maka dengan mantap saya memutuskan untuk memilih bentuk kerjasama berupa royalti. Dan ternyata pilihan saya itu tepat. Saya mendapat uang royalti tahap pertama dari buku saya ini sebesar Rp. 2. 430.000 (dipotong uang depe sebesar Rp. 500.000 yang telah diberikan lebih dahulu ketika pertama kali buku saya terbit). Buku saya terjual sebanyak 2700 eksemplar dengan harga buku di pasaran sebesar Rp. 18.000.

***

Perjalanan Buku ”Seandainya Aku Mati Besok …”

Untuk buku saya yang berjudul ”Seandainya Aku Mati Besok…” saya punya pengalaman begini.

Awalnya saya pernah mengirim buku ini ke penerbit X yang berada di Solo. Saya mengirimnya via email (Cara pengiriman model ke-2). Beberapa minggu kemudian -kalau tidak salah sekitar dua mingguan, kurang lebih- saya mendapat SMS dari pihak penerbit. Mereka menyatakan tertarik untuk menerbitkan buku saya. Setelah berdialog sebentar, akhirnya bentuk kerjasama yang disepakati berupa royalti 5 % (dari harga buku dipasaran), dan royalti tahap awal akan diberikan enam bulan kedepan. Untuk selanjutnya diberikan setiap empat bulan. Pihak penerbit mengatakan akan memberikan uang depe sebesar satu juta setelah MoU ditandatangani.

Setelah itu, saya menunggu-nunggu datangnya MoU ke alamat tempat tinggal saya. Tapi hingga bermingu-minggu, bahkan hampir 2 bulanan menunggu, MoU tak kunjung datang. Saya pun kemudian mengkonfirmasi pihak penerbit. Dan perkiraan saya benar. Pihak penerbit batal menerbitkan naskah saya. Mereka mengucapkan permohonan maaf karena telah membuat saya menunggu-nunggu. Beberapa hari kemudian, datanglah sepucuk surat ke alamat tempat tinggal saya. Isinya begini:

***

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Semoga Allah ’Azza wajalla senantiasa melimpahkan rahmad dan karunia-Nya kepada kita, amin.

Kami atas nama Redaksi Pustaka X, sebelumnya mengucapkan jazakumullahu khairan katsiran atas partisipasi saudara dalam pengiriman naskah kepada kami (Pustaka X) beberapa waktu yang lalu.

Hasil dari musyawarah team redaksi pada tanggal 14 Juni 2008, setelah membaca dan mengkaji beberapa naskah yang saudara ajukan kepada redaksi X, dengan beberapa pertimbangan dan alasan-alasan, maka kami memutuskan. Bahwa naskah atau karya saudara belum dan atau kurang memenuhi karakter baik isi (kualitas) maupun jumlah halaman dari sebuah buku yang kami harapkan, sehingga kami belum dapat menerbitkan naskah-naskah saudara.

Demikian pemberitahuan ini kami sampaikan, semoga menjadi masukan yang positif, besar harapan kami jangan pernah patah semangat untuk berkarya dan beramal. Mudah-mudahan Allah ’Azza wajalla memberi hikmah dan hidayah kepada kita, amin.

Jazakumullahu khairan katsiran.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

***

Demikian isi surat yang saya terima.

Beberapa hari kemudian, setelah mendapat kabar naskah saya dibatalkan, saya langsung mengirim ke penerbit Y yang berada di Jakarta. Saya mengirimnya via email. Ternyata, tidak sampai seminggu saya langsung ditelpon pihak penerbit. Mereka menyatakan tertarik untuk menerbitkan naskah saya. Tidak berapa lama, saya sudah melakukan penandatanganan MoU dan cover buku saya sudah terpampang di situs penerbit itu. (Kemudian tepat tanggal 1 Ramadhan 1429 H/1 September 2008, saya mendapat kabar dari pihak penerbit bahwa katanya buku saya telah selesai dicetak).

Dari pengalaman saya ini, ada pelajaran berharga yang bisa kita ambil, terutama untuk penulis pemula seperti saya. Jika suatu saat ada penerbit yang menyatakan tertarik untuk menerbitkan naskah kita, jangan kita merasa gembira dulu. Atau, boleh saja merasa gembira, tapi jangan berlebihan. Jangan lantas kita mengadakan acara selametan besar-besaran sampai mengundang orang sekampung segala. Sebab, belum tentu naskah kita jadi diterbitkan.

Bahkan, saya pernah dengar cerita, ada seorang penulis yang sudah menandatangani MoU dengan pihak penerbit, tapi setahun kemudian naskahnya tidak jadi diterbitkan. Bayangkan!!! Setahun lamanya penulis itu menunggu dengan harap-harap cemas, namun ternyata bukunya batal diterbitkan. Sungguh terlalu!

Oleh karena itu, saran saya, luapkanlah kegembiraan itu! Tapi nanti, setelah kita melihat naskah kita benar-benar telah menjadi sebuah buku yang beredar luas di pasaran alias telah diterbitkan.

***

Jangan Bersedih

Lalu, apa yang seharusnya kita lakukan jika naskah kita ditolak?

Yang jelas kita tidak perlu bersedih ketika naskah kita ditolak. Sebab, bukan kita saja yang mengalami hal ini. Penulis lain pun banyak yang mengalami hal serupa.

Pernahkah Anda mendengar ada penulis yang naskahnya pernah ditolak oleh penerbit sampai berkali-kali, bahkan sampai ada yang ratusan kali ? Kalau belum, nih saya ceritakan untuk Anda. Semoga bisa menjadi bahan hiburan buat Anda.

Dalam sebuah artikelnya yang dimuat di Surat Kabar Pikiran Rakyat, Wilson Nadeak menulis begini:

Konon, seorang pengarang terkenal, yang dibesarkan di Tiongkok, namanya Pearl S. Buck, menulis naskah The Good Earth (Tanah yang Baik) dan mengirimkannya ke penerbit. Malang baginya, naskah itu ditolak. Mungkin ia memperbaiki kembali naskahnya dan mengirimkannya ke penerbit lain, tetapi tidak lama kemudian, naskah itu kembali. Ia tidak putus asa, ia terus mencoba sampai empat belas kali! Empat belas kali! Setelah itu, ia mengirimkannya ke penerbit lain, dan untunglah penerbit itu mau menerbitkannya. Setelah beredar, buku itu mendapat hadiah tertinggi di Amerika Serikat, hadiah Pulitzer Prize.

Norman Mailer mengirimkan karangannya yang kemudian terkenal The Naked and the Dead, (Yang Mati Telanjang) ditolak dua belas kali sebelum berhasil diterbitkan. Patrick Dennis dengan novelnya yang berjudul Auntie Mame (Tante Mame) yang bersifat autobiografis itu, beredar-edar lima tahun dalam bentuk naskah di lorong-lorong penerbit yang menolaknya, sampai ia menemukan penerbit yang kelima belas yang bersedia menerbitkannya. Richard Bach mengalami penolakan dua puluhkali sebelum bukunya yang kemudian terkenal dan beredar jutaan eksemplar, Jonathan Livingston Seagul. Joseph Heller memberi judul kepada naskahnya Catch-22 karena naskah tersebut ditolak sekian puluh kali, sehingga penerbit Doubleday bertanya mengapa diberi judul seperti itu. Heller menerangkan bahwa penerbit Doubleday adalah penerbit yang ke-22 yang dihubunginya yang mau menerbitkan naskah tersebut! Dua puluh satu penerbit yang dihubunginya lebih dahulu menolaknya. Namun, kemudian buku itu beredar 10 juta eksemplar, sukses yang luar biasa!

Mary Higgins mengalami penolakan 40 kali. Sesudah itu naskahnya diterbitkan 30 juta eksemplar, padahal sebelumnya editor yang menolak memberi komentar atas naskah tersebut: ringan, kurang berbobot dan membosankan! Yang lebih mengherankan lagi, pengarang populer Alex Haley, dengan naskahnya Roots (Asal-usul), ditolak 200 kali sebelum terbit. Robert Pirsig dengan bukunya yang terkenal Zen and the Art of Motorcycle Maintenance terbit pada penerbit yang ke-21. Ia mengalami penolakan naskah sampai 120 kali! Novel pertama John Grisham, A Time to Kill (Saat untuk Membunuh) ditolak penerbit lima belas kali dan oleh biro naskah tiga puluh! Setelah terbit, buku itu diterbitkan 60 juta eksemplar!

Tiga puluh tiga penerbit menolak naskah Chiken Soup for the Soul yang dikumpulkan oleh Jack Canfield dan Mark Victor Hansen. Nyatanya, setelah buku itu terbit, menjadi buku terlaris dan bahkan menjadi buku yang berseri. Penerbit Indonesia pun tertarik menerbitkannya dan mendapat sambutan khalayak pembaca! Buku Baltimore Sun yang berjudul Naked in Deccan selama lebih tujuh tahun ditolak oleh 375 penerbit, setelah terbit buku tersebut dinilai “klasik” dari segi mutunya dan diterima orang banyak.

Pengalaman pengarang Amerika terkenal F.Scott Fitzgerald agak lucu. Pacarnya, Zelda tidak mau menikah dengannya sebelum ada karangannya yang terjual. Ia menempeli dinding kamarnya dengan slip (kertas) penolakan naskah dari berbagai penerbit, sebelum ia memenangkan hati pacarnya.

Buku pertama karangan Dr.Seuss ditolak oleh editor 24 kali. Setelah naskahnya berhasil diterbitkan, buku anak-anak itu beredar 100 juta eksemplar! Louis L’Amour menerima surat penolakan naskah 200 kali atas naskah novelnya yang pertama. Namun, setelah sterbit selama 40 tahun, penerbit Bantam telah menjual hampir 200 juta dari buku karangannya, yang menempatkannya sebagai pengarang yang tetap bertahan selaku pengarang paling laris.

Jika Anda mengunjungi tempat tinggal Jack London di Sonoma County, San Francisco, Anda akan melihat 600 surat penolakan naskah sebelum ia berhasil menerbitkan karangannya yang pertama. Rekor yang tercatat paling tinggi penolakan naskah dialami oleh pengarang Inggris, John Creasy, menerima penolakan naskah sebanyak 774 kali sebelum karyanya yang pertama berhasil dijual. Ia menulis buku kemudian sebanyak 564 judul dengan menggunakan nama 14 buah nama!

(Dikutip dari tulisan Chandra Kurniawan yang dipublikasikan oleh penerbitjabal.multiply.com)

***

Jadi sekali lagi, ketika naskah kita ditolak, jangan bersedih. Apalagi sampai nangis sekencang-kencangnya sambil berguling-guling di lantai (Kayak anak kecil aja pake guling-guling di lantai segala!). Segera ambil tindakan! Jika ada orang yang berkata: Cinta ditolak, dukun bertindak; kitapun bisa berkata: NASKAH DITOLAK, PENULIS BERTINDAK!

Billi PS Lim, penulis buku super laris Dare To Fail, pernah mengeluarkan kata-kata yang kira-kira bunyinya begini: Naskah ditolak bukan berarti dunia telah kiamat!

Billi sendiri pernah mengalami penolakan. Naskah bukunya ditolak oleh beberapa penerbit. Tapi, begitu ada penerbit yang mau menerbitkan, bukunya laris manis di pasaran hingga terjual jutaan eksemplar! Bukunya pun telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa.

***

Bertindak!

Kalau saya, begitu tahu naskah saya ditolak, maka tindakan yang selanjutnya saya lakukan adalah:

1. Memperbaiki naskah dan mengajukannya ke penerbit yang lain. (Atau, kalau mau, Anda bisa juga mengajukan ke penerbit yang sama. Kali saja penerbit berubah pikiran setelah melihat naskah yang sudah diperbaiki)

2. Langsung mengirimkannya ke penerbit lain, karena saya merasa naskah saya sudah fix. Jadi tidak perlu diubah-ubah lagi.

Sebenarnya ada cara lain yang bisa kita lakukan ketika naskah ditolak. Cara ini sangat ampuh. Naskah kita tidak akan mungkin ditolak, alias langsung diterima dan diterbitkan. Tapi syaratnya agak berat. Kita harus punya uang jutaan rupiah dulu kalau ingin menggunakan cara ini. Anda tentu sudah tahu maksud saya. Ya, betul sekali! Kita terbitin sendiri saja buku kita. Gampang, khan?! Gitu aja kok repot!

Tapi, ada juga cara yang lebih murah. Naskah yang kita punya, kita bentuk jadi buku, kemudian kita fotokopi plus dijilid menjadi beberapa buku (tentunya jumlahnya disesuaikan dengan kondisi kantong). Setelah itu kita tawarkan ke kawan-kawan. Cara seperti ini pernah juga saya lakukan. Gimana, Anda mau pakai cara yang mana?

(Dikutip dari buku saya yang berjudul “Penulis Pemula Juga Bisa Menulis Buku”

1 Response to "BILA NASKAH KITA DITOLAK"

Naskah saya dah 5 penerbit yg nolak,,kayaknya dunia mau kiamat tapi setelah baca info ini. Dunia gak jadi kiamat ! (Penerbit yang nolak gak mau kasih saran jadi kita gak tau cara perbvaiki naskahnya )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: