NYANYIAN PENA

SIAPA SAYA ?

Saya hanyalah seorang PENULIS PEMULA yang sederhana dan biasa-biasa saja. Tiada yang istimewa dari diri saya. Baru satu tahun ini saya mencoba belajar menulis buku.Saya lahir tanggal 4 Mei 1980. Tempat lahir saya di Jakarta, lebih tepatnya di daerah Joglo Jakarta Barat.

Selama berkecimpung di dunia tulis menulis, saya baru bisa menulis puluhan artikel (belum sampai ratusan) dan 7 buah buku. Tiga artikel saya pernah dimuat di Kolom Hikmah HU. Republika, satu artikel dimuat di HU. Pikiran Rakyat, dua artikel di Majalah Islam Ar-Risalah, satu artikel di Majalah Keluarga Nikah, tujuh artikel di Majalah Remaja El-Fata, dan puluhan artikel tersebar di berbagai bulletin. Untuk buku, dari tujuh buku yang saya tulis, baru dua buku yang diterbitkan. Buku pertama berjudul ”Ngerokok Bikin Kamu Kaya” diterbitkan oleh Penerbit Samudera Solo, dan satunya lagi berjudul ”Paspor Kematian: Jalan Menuju Surga-Mu” diterbitkan oleh Cicero Publishing Jakarta. Sisanya ? Entahlah, penerbit mana nantinya yang berkenan untuk menerbitkanya. Kita lihat saja nanti.

Bagi Anda yang ingin berkomunikasi dengan saya bisa berkunjung ke alamat rumah saya di dunia maya. Datang saja ke: http.//www.penulispemula.wordpress.com. Atau kalau mau berkirim surat, layangkan saja ke: penulisbiasa@gmail.com atau abduljabbar06@gmail.com. Untuk no HP masih belum bisa saya berikan, karena masih ada kemungkinan gonta-ganti nomor. Maklumlah, kondisi keuangan masih belum stabil.

Saya kira, cukup ini saja perkenalan dari saya. Sampai di sini, barangkali ada yang mau ditanyakan?

14 Tanggapan to "SIAPA SAYA ?"

Mas Abdul Jabbar blognya bagus
Kok hanya menyebut nama pena, dan tidak nama asli ?
Salut dengan semangatnya menulis artikel dan buku.
Sukses Selalu Ya
Salam dari Kota Apel Malang
Muhammad Zen

Jawab:
Terima kasih. Kenapa ya? Mmm…Biar nggak terkenal kali ya…

assalamu’alaikum wr wb
saya ingin berkenalan dengan anda. Saya ingin juga menulis buku. Dengan berkenalan dengan anda saya berharap mendapat suntikan semangat dari anda.
Terimakasih sebelumnya.
Wassalamu’alaikum wr wb

Salam kenal juga bung.
Btw… tulisan tentang Self Publishingnya diteruskan ya….
Penonton pengen baca lagi neh

Jawab:
Tunggu aja ya… lanjutannya udah ditulis kok, tinggal diketik aja.

Mas..alamat email cv.mus nya kok nggak lengkap.Saya jadi wara-wiri nyarinya.Mohon bantuannya ya

assalamualaikum…. salam kenal… ni dari bilik penerbit samudera…. semoga karya-karya antum tambah banyak dan tambah berkualitas….

Salam kenal. Tetap semangat!

http://mediatarbiyah.com/blog/

Buku, Sahabat Sejati

May 30th, 2008 by admin

Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan pena sebagai ciptaan yang pertama kali diciptakan seraya berfirman, “Tulislah!” rnaka pena pun menulis apa yang akan terjadi hingga Hari Kiamat. Puji syukur ke hadirat Allah yang telah memberikan nikmat pena dan tulisan kepada hamba-hamba-Nya dan menjelaskannya seraya berfirman,

“Nun, demi qalam dan apa yang mereka tulis.” (Al-Qalam: 1)

Sumpah dalam ayat ini menunjukkan atas keagungan qalam (pena) dan tulisan, karena Allah tidak bersumpah kecuali dengan sesuatu yang agung. Di antara nikmat Allah yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya adalah nikmat berbicara seperti yang difirmankan-Nya,

“Dia menciptakan manusia. Mengajarnya kepandaian berbicara.” (Ar-Rahman: 3-4)

Imam Ibnu Qayyim Rahimahullah berkata,”Renungkanlah nikmat berbicara yang diberikan Allah kepada manusia yang berupa dua nikmat, yaitu: berbicara secara lisan dan berbicara lewat tulisan. Allah berfirman kepada rasul-Nya dalam surat Al-Alaq:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan peraniaraan qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Al- Alaq: 1-5)

Kemudian Ibnu Qayyim melanjutkan perkataannya, “Pengajaran dengan pena merupakan nikmat Allah yang terbesar kepada hamba-hamba-Nya, karena dengannya ilmu bisa abadi, kebenaran menguat, wasiat diketahui, kesaksian terjaga, perhitungan transaksi antara sesama manusia bisa dihitung dengan tepat, dengannya berita-berita orang terdahulu bisa diwariskan ke generasi selanjutnya.Seandainya tidak karena tulisan tentu berita-berita orang-orang terdahulu sudah terputus dari generasi ke generasi, sunnah-sunnah hilang, hukum-hukum sirna, dan generasi khalaf (masa kini) tidak mengenal manhaj para salaf (orang-orang terdahulu).

Kelemahan manusia yang dapat menyebabkan kelemahan agama mereka adalah karena lupa sehingga menghapus gambaran ilmu dari hati mereka. Di sinilah buku berfungsi menggugah mereka kembali sehingga mereka terjaga dari kelupaan dan kebatilan. Nikmat Allah dengan mengajarkan tulisan setelah bacaan merupakan nikmat Allah yang terbesar.”l

Allahlah yang mengajarkan tulisan kepada manusia, seperti yang difirmankan-Nya,

“Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Al-Alaq: 5)

Allah mengajari manusia cara berbicara sehingga dia berbicara, memberinya kalbu sehingga dia berakal, memberinya lisan untuk menerjemahkannya, dan memberinya anggota badan untuk menulis dengannya. Betapa banyak tanda-tanda kekuasaan Allah yang kita lupakan dalam pengajaran dengan pena. Berhentilah sejenak ketika kamu menulis dan renungkan keadaanmu. Kamu memegang pena yang merupakan benda amati,lalu kamu goreskan di atas kertas yang juga benda mati, maka lahirlah dari keduanya berbagai rnacam hukum, ilmu, seni tulisan, surat-surat, peraturan-peraturan, penyebaran informasi, jawaban berbagai macam masalah dan sebagainya.”

Allah telah menurunkan buku teragung yaitu Al-Qur’an, lalu Dia dan rasul-Nya menyunnahkan kita agar membacanya. Para shahabat telah melakukan suatu tindakan yang mulia, yaitu mengumpulkan Al-Qur’an dan mengkodifikasikannya serta membacanya hingga sebagian mereka sangat hapal karena terlalu seringnya rnereka membaca. Ilmu para shahabat dan tabi’in ada di dalam dada dan di situlah mereka menyimpan ilmu mereka. Pada awalnya, mereka tidak menulis hadits-hadits Nabi, tetapi mereka menghapalnya secara lisan dan mengamalkannya, karena jika mereka menulis hadits ditakutkan akan bercampur dengan Al-Our’an. Hal ini menyebabkan mereka memiliki kekuatan menghapal yang sangat hebat. Ketika Al-Our’an telah bersemayam dalam hati dan manusia telah menghapalnya, sementara sanad-sanad hadits semakin panjang dan sulit dihapal, maka muncul keinginan untuk menulis. Maka ditulislah sunnah itu dan ilmu dikumpulkan dalam tulisan-tulisan dan buku-buku sehingga buku itu menjadi pengikat ilmu seperti yang dijelaskan dalam hadits, “Ikatlah ilmu itu dengan tulisan. “

Di antara yang menunjukkan pensyariatan aktivitas ini adalah Firman Allah,

“Dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu.” (Al-Baqarah: 282)

Jika Allah memerintahkan untuk menulis hutang untuk menjaga, berjaga-jaga, dan menghindari terjadinya keraguan di dalamnya, apalagi menjaga ilmu, tentu lebih sulit daripada menjaga hutang, sehingga menulis ilmu jauh lebih dianjurkan daripada menulis hutang karena ditakutkan masuknya keraguan di dalamnya.

Kedudukan Buku Menurut Ulama

Buku-buku ilmiah, memiliki kedudukan yang mulia dalam jiwa para ulama. Buku adalah teman mereka yang tidak pernah bosan, teman mereka dalam perjalanan dan sahabat mereka dalam majelis serta kekasih mereka dalam berkhalwat. Ditanyakan kepada Ibnu Mubarak, “Wahai ayah Abdurrahman, apa yang kamu lakukan jika kamu keluar lalu duduk-duduk bersama sahabat-sahabatrnu?” Dia menjawab, ‘Jika saya duduk di rumah, maka saya berkawan dengan shahabat-shahabat Rasulullah.” Maksudnya menelaah buku-buku.

Syafiq bin Ibrahim Al-Balkhi berkata, “Kami berkata kepada Ibnu Mubarak,”Jika kamu selesai mengerjakan shalat bersama kami, mengapa kamu tidak duduk-duduk bersama kami?” Ibnu Mubarak menjawab, “Saya pulang, lalu duduk-duduk bersama para tabi’in dan shahabat.” Kami katakan, “Di mana ada tabi’in dan shahabat?” Dia menjawab, “Saya pulang, lalu menelaah ilmu mereka sehingga saya mengetahui atsar dan amal mereka. Apa yang saya peroleh jika saya duduk bersama kalian? Kalian hanya duduk-duduk sambil membicarakan orang.

Az-Zuhri Rahimahullah telah mengumpulkan buku-buku yang banyak dan mempelajarinya dengan serius hingga isterinya berkata, “Sungguh, buku-buku ini lebih berat bagi saya daripada dia mempunyai tiga orang selir.” Dikatakan kepada sebagian mereka, “Siapa yang menemanimu?” Lalu dia memukul buku-bukunya dengan tangannya seraya berkata, “Ini.” Ditanyakan lagi, “Dari manusia?” Dia menjawab, “Orang-orang yang ada di dalamnya.?”

Para ulama itu selalu membaca dalam segala situasi mereka. Ibnu Qayyim Rahimahullah berkata, “Saya melihat ada orang yang terkena penyakit pusing dan demam. Dia meletakkan buku di atas kepalanya. Jika rasa sakitnya mereda, dia langsung membaca buku itu dan jika sakitnya kambuh lagi dia meletakkannya. Padasuatu hari, dokter memeriksanya dan dia mengetahui kebiasaan pasiennya itu sehingga dia berkata, “Ini tidak boleh kamu lakukan …. “

Diriwayatkan dari Hasan Al-Lu’luai bahwasanya beliau berkata, “Saya telah melalui empat puluh tahun tidak bangun dan tidak tidur kecuali di dadaku selalu ada buku yang menyertaiku.” Sebagian mereka ada yang tidur sementara kertas-kertas berserakan di sekitar kasurnya. Jika dia bangun dari tidurnya dan sebelum tidur dia selalu membacanya. ” Jika Khathib AI-Baghdadi Rahimahullah berjalan, beliau selalu membawa buku di tangannya sarnbil dibaca. Sebagian ulama menyaratkan kepada orang yang menqundangnya untuk menyediakan tempat khusus dalam majelis itu untuk meletakkan buku-buku yang dapat dibaca di dalamnya.”

Ada sebagian ulama yang saking asyiknya membaca dia tidak merasa jika ujung surbannya terbakar oleh lampu yang ada di depannya hingga hampir membakar rambutnya. Abu Abbas Al-Mubarrad berkata, “Saya tidak pernah melihat orang yang lebih giat menuntut ilmu daripada tiga orang: AI-Jahidz, AI-Fath bin Khaqan, dan Ismail bin Ishaq Al-Qadhi.” Tentang Al-Jahidz, jika dia membawa buku, dia selalu membacanya dari awal hingga akhir, buku apa pun. Sedangkan Al-Fath, dia membawa buku di kakinya. Jika dia meninggalkan majelis Al-Mutawakkil untuk kencing atau shalat, dia mengeluarkan buku itu, lalu melihatnya sambil berjalan hingga sampai di tempat yang ditujunya. Beliau melakukan hal yang sama ketika pulang darinya hingga sampai di majelisnya. Adapun Ismail bin Ishaq, saya tidak pernah menghadap beliau sekali pun kecuali di hadapannya ada buku yang dilihat, dibaca, atau dicarinya.”

Kegigihan para salaf dan ulama Islam untuk mengumpulkan buku dan menelaahnya sangat besar. Ibnu AI-Jauzi Rahimahullah berkata, “Saya ceritakan tentang keadaan saya sendiri bahwa saya tidak pernah kenyang dalam menelaah buku. Jika saya melihat buku yang belum pernah saya lihat sebelumnya, seakan-akan saya menemukan barang tambang. Seandainya saya katakan bahwa saya telah membaca dua puluh ribu jilid buku atau lebih, saya tidak akan berhenti mencarinya.”

Sebagian rnereka berkata,’Jika saya menganggap sebuah buku itu baik dan saya mengharapkan faidah darinya, maka Anda akan melihat saya menelaahnya dari waktu ke waktu, melihat berapa halarnan rnasih tersisa karena takut segera habis, “

Untuk mendapatkan buku, rnereka rela mengeluarkan banyak harta dan mungkin sebaqian mereka ada yang membelanjakan seluruh hartanya untuk mendapatkan buku. Sebagian rnereka, ketika isterinya rnencelanya karena banyaknya harta yang dikeluarkan untuk membeli buku, dia berkata,

Seorang wanita berkata
bahwa engkau telah banyak belanja
untuk membeli buku

aku katakan biarkan aku
semoga aku melihat di dalamnya
buku yang menunjukkanku
dan selalu kulihati buku itu
apakah ia aman di sisi kananku

Fairuz Abadi pernah membeli beberapa buku dengan harga lima puluh ribu berat ernas dan beliau tidak bepergian kecuali membawa buku-buku itu yang selalu ditelaahnya ketika berhenti dari perjalanannya.”

Sebagian ularna ada yang membagi kantong-kantongnya sesuai dengan buku. Misalnya, Abu Daud Rahimahullah. Dia mempunyai sebuah saku besar dan saku kecil. Ditanyakan kepadanya tentang masalah itu, maka dia menjawab, “Saku yang besar untuk buku yang besar. Adapun yang kecil saya tidak membutuhkannya.”

Sebagian mereka ada yang mempunyai lemari khusus untuk buku, yang tidak ada di dalamnya setiap buku memiliki tiga salinan.

Ada yang mengatakan bahwa karena perhatian mereka yang besar kepada buku-buku itu, maka mereka menulis buku-buku khusus yang terdiri dari pasal-pasal dan bab-bab tentanq etika seorang pelajar yang membaca bukunya, bagaimana cara menyalinnya, bagaimana cara menjaga kertasnya, bagaimana syarat pena, tinta, dan warna yang boleh digunakan untuk menulis buku itu, bagaimana cara menjaga buku itu dan sebagainya.

Keutamaan Buku

Buku adalah tetangga yang paling baik, pengajar yang paling tawadhu, ternan yang paling setia dan tidak akan pernah bermaksiat kepadamu sama sekali. Pernahkah Anda rnelihat ada guru yang tawadhu kepada muridnya? Begitulah buku bertawadhu kepada pembacanya. Buku juga bisa menjadi ternan yang sejajar dan pohon yang selalu berbuah. Buku memadukan antara hikmah yang baik, akal yang matang, berita-berita masa lalu dan negeri-negeri yang tercecer, menjernihkan akal, mencerdaskan otak, memperluas wawasan, memperkuat keinginan, melembutkan keganasan, memberi faidah dan tidak meminta faidah, serta memberi dan tidak mengambil.

Sebaik-baik buah hati yang engkau kencani adalah buku
jika kawan-kawanmu berkhianat, engkau bisa bercumbu dengannya
jika engkau menitip pesan rahasia, dia akan menjaga
akan engkau peroleh darinya hikmah dan kebenaran

Abu bakar AI-Qaffal berkata,

Bukuku adalah sahabatku yang akan selalu menyertaiku
Walaupun hartaku sedikit dan ketampananku sirna
Bukuku adalah ayah dan ibuku tercinta
Keduanya terwakili olehnya,
walaupun ayah dan Ibuku tiada

Bukuku adalah teman duduk terbaikku yang tiada pernah bosan
Pemandu kebenaran yang tak pernah jemu
Pemberi berita masa lalu yang telah berjalan berabad-abad lamanya
Seakan-akan aku melihat masa-masa itu masih ada

Bukuku bagaikan laut yang tiada pernah habis memberi
Yang selalu memberi harta jika hartaku tiada
Bukuku adalah bukti atas balknya tujuan
Darinya aku mendapatkan bukti dan petunjuk
Jika aku tersesat dari tujuan dia meluruskanku
Jika akalku tersesat dia mengembalikanku dari kesesatan

Kaltsum bin Amru Al-Atabi berkata

Kami mempunyai teman duduk
yang tak bosan kami berbincang denganya
Mereka dapat dipercaya ketika ada atau tiada
Dari pendapat mereka kita tahu ilmu orang-orang terdahulu
Pemikiran, pendidikan, dan pendapat yang benar

Tidak pernah mengeluh dan tidak pernah berperilaku buruk
Tidak perlu menjaga lisan dan tangan dari mereka
Jika kamu katakan mereka telah mati maka kamu tidak salah
Jika kamu katakan mereka masih hidup maka kamu tidak berdusta

Buku adalah sebaik-baik teman duduk dan teman bercumbu tatkala sendiri. Buku adalah sebaik-baik pengetahuan tentang negeri yang asing, teman terdekat dan terdalam. Buku adalah sebaik-baik menteri dan tamu. Kadang-kadang kamu tertawa dengan anekdotnya, kadang kamu takjub dengan keanehan faidahnya, kadang kamu lupa dengan catatan pinggirnya, dan kadang kamu terlena dengan nasihat-nasihatnya. Buku memberitahukan kepadamu berita-berita tentang generasi awal dan akhir, apa yang tersembunyi dan yang tampak, berbicara tentang orang yang telah mati dan menerjemahkan orang-orang yang masih hidup , pandai menyimpan rahasia si empunya rahasia, amanah dalam menjaga barang titipan. Buku tidak akan rnemperlakukanmu dengan makar, tidak akan mendustaimu dengan kemunafikan, dan tidak akan membohongimu dengan tipu daya. Buku adalah kekasih yang jika kamu semakin lama melihatnya akan semakin nikmat kamu rasakan, menghangatkan suasana, melancarkan percakapan, memperbaiki sigap anggota badan dan mempertegas perkataan. Dengannya kamu tahu perkataan orang-orang di kurun waktu tertentu. Buku akan selalu mentaatimu siang dan malam, mentaatimu dalam perjalanan dan di waktu kamu bermukim. Dia tidak akan tertidur dan tidak akan lekang karena perjalanan.’

Buku tidak mengenal perbedaan waktu, tempat, dan batas geografis, sehingga pembaca dapat hdup di segala rnasa, segala kerajaan, dan segala penjuru. Dia bisa berteman dengan orang-orang besar dan apa yang mereka lakukan, walau jarak antara dirinya dan mereka terpaut beribu-ribu tahun lamanya.

Renungkanlah keadaan umat Islam ketika membaca kisah-kisah para. nabi dalarn Al-Our’an, Mereka hidup di negeri yang sangat jauh dan di masa yang sangat lama. Namun demikian, seorang Muslim dapat membaca kisah tersebut seakan-akan mereka hidup sezaman denqan mereka.Mereka dapat membaca kisah Ibrahim, Ishak. Ya’qub, Nuh, Daud, Sulaiman, Ayub, Yusuf, Musa. Harun, Zakaria, Yahya, Isa, llyas, Ismail, Ilyasa, Yunus, Luth, nabi-nabi, dan orang-orang salih lainnya, yang berita mereka tercatat dalam AI-Qur’an dan Sunnah. Kita dapat membaca berita mereka dan merasakan seakan-akan kita hidup bersama mereka. Renungkanlah nikmat ini, tidak ada yang dapat mendatangkan kepada kita faidah sebesar ini kecuali buku. Maka betapa agung keberadaannya dan betapa besar nikmat tersebut!

Mengapa Kita Membaca?

Seorang Muslim membaca karena beberapa faidah:

* Supaya mendapatkan pahala membaca seperti membaca Al-Our’an.
* Membaca untuk belajar ilmu syariat dan memahami agamanya.
* Membaca untuk mengembangkan kepandaian berbahasa dan mendapatkan ilmu-ilmu dunia yang bermanfaat.
* Mengulang-ulang bacaan untuk menghapal.
* Membaca untuk mengetahui tipu daya musuh-musuh Islam dan berhati-hati dari jebakan orang-oranq munafik.
* Membaca untuk menyibukkan diri dari kebatilan, karena jika jiwa ini tidak disibukkan dengan ketaatan, dia akan sibuk dengan kemaksiatan.
* Membaca untuk hiburan dan melepaskan ketegangan.
* Masih banyak lagi faidah dan tujuan membaca yang disyariatkan dan untuk mendapatkan faidah keduniaan.

Sedangkan menurut metode yang keliru, suku yang di dalamnya banyak orang yang dapat membaca, maka suku itu dianggap sebagai suku terpelajar. Orang-orang yang berpemahaman seperti ini berpendapat bahwa membaca adalah untuk membaca dan seni untuk seni.

Mereka menjadikan membaca sebagai tujuan bukan sarana. Maka dari itu, mereka membaca apa yang menyenangkan dan menggairahkan tanpa ada seleksi dan pemilahan. Sedangkan kita harus menganggap bahwa membaca adalah sarana untuk merealisasikan tujuan, yaitu keridhaan Allah. Dia membaca bukan supaya bisa menjauhi orang-orang bodoh, dekat dengan ulama dan menjadi pusat perhatian manusia, karena siapa yang membaca untuk tujuan seperti ini, akan dimasukkan Allah ke dalam api neraka karena ketidak-ikhlasannya.”

Jangan membaca sesuatu yang tidak bermanfaat bagi agama dan duniamu, karena waktumu lebih berharga daripada itu.

Diantara penyakit yang melanda kita pada saat ini adalah mengambil sesuatu tanpa seleksi dan membaca metode dan jalan pikir orang lain tanpa kritik dan pembedaan. Hal semacam ini dalam masyarakat Islam telah menyebabkan masuknya serangan musuh-musuh Islam ke dalam diri mereka, sehingga mereka tidak bisa lagi membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Mereka belajar sesuatu yang membahayakan bagi agama mereka dan tidak bermanfaat bagi mereka, membaca sesuatu yang telah direkayasa oleh tangan-tangan musuh Islam, lalu mereka sendiri menyebarkan virus itu kepada kaum Muslimin tanpa sadar dan tanpa pemahaman.

Oleh: Syaikh Muhammad Shalih Munajjid.
dikutip dari Blog sahabat kami, ichsanmufti.wordpress.com

Assalamu’alaikum.
Ustadz Muji ya?
Hehe…

Ini tugasnya:

ضَرَبَ
يَضْرِبُ
ضَرْبًا
ضَارِبٌ
مَضْرُوْبٌ
اِضْرِبْ
لاتَضْرِبْ
مَضْرِبٌ
مِضْرَبٌ

Assalamu’alaikum

Pak guru, ni ada blog kecil-kecilan, blog sampean ku link ya..

Tafadhol

bahasa anda dalam mengungkapkan sesuatu sangat mudah diterima.
saya yakin anda penulis masa depan.

Alhamdulillah….Thanks

Assalamualaikum. Afwan ternyata tetangga tapi gak pernah tau… selamatr berjuang dengan penasilahkan mampir di blog kami majelispenulis.blogspot.com

Wa’alaikumussalam….Sip!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: