NYANYIAN PENA

DARI ARTIKEL KE BUKU

Posted on: Mei 12, 2008

A

pa yang Anda lakukan kalau artikel Anda ditolak? Kalau saya sih biasanya akan menyimpannya. Siapa tahu suatu saat dibutuhkan. Atau, terkadang, artikel yang ditolak itu saya perbaiki (tambah dan kurangi), kemudian saya kirim ke media yang lain.

Jadi, saran saya nih, kalau artikel kita ditolak, jangan langsung dibuang ke tong sampah. Simpan saja dulu. Atau, kalau mau, coba dinalisis, kira-kira apa yang membuat artikel kita ditolak. Atau, bandingkan dengan artikel orang lain yang dimuat.

Perlu diketahui bahwa artikel kita ditolak bukan berarti artikel kita jelek. Bisa jadi artikel kita sebenarnya bagus, tapi ada artikel lain yang lebih bagus sehingga artikel kita tereliminasi. Atau, bisa jadi artikel kita kurang aktual. Atau, bisa jadi artilek kita …. Atau, bisa jadi artikel kita …. Pokoknya, banyak sekali faktor yang membuat sebuah artikel ditolak oleh editor sebuah media. Jadi, jangan berkecil hati.

Lalu, apa manfaat menyimpan artikel yang telah ditolak? Oo tentu saja ada. Misalnya saja, dari membaca-baca kembali artikel yang pernah kita tulis itu, bisa saja kemudian kita terinspirasi untuk mengembangkannya menjadi sebuah buku. Apa, sebuah buku!? Ya, sebuah buku.

Saya pernah mendengar cerita dari seorang penulis (Indonesia). Suatu hari, artikel yang pernah dia kirim ke sebuah surat kabar, kembali lagi kerumahnya alias ditolak. Namun kemudian, artikelnya itu dia kembangkan menjadi sebuah buku. Hasilnya, bukunya itu laris di pasaran alias best seller!

Makanya, kalau ada artikel kita yang pernah ditolak, kenapa nggak dicoba saja dikembangkan menjadi sebuah buku. Kali saja, nasibnya berbeda setelah diubah menjadi buku. Siapa tahu khan?

Tapi, hal ini tidak hanya berlaku untuk artikel yang pernah ditolak saja. Artikel yang pernah dimuat pun tidak ada salahnya untuk dikembangkan menjadi sebuah buku. Seperti pengalaman saya ini.

Kalau tidak salah, sekitar tahun 2004 yang lalu saya pernah menulis artikel bertemakan tentang rokok. Waktu itu artikelnya saya beri judul “Merokok = Bunuh Diri”. Via email, artikel itu saya kirim ke sebuah majalah Islam di Solo. Dan alhamdulillah artikel saya dimuat. Oleh redaksi judul artikel saya diganti menjadi ”Pembunuh Berasap”.

Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 2007, saya tertarik untuk menulis sebuah buku tentang rokok. Sebab, saya melihat jumlah perokok semakin hari semakin banyak. Padahal dalam bungkus rokok jelas-jelas tertulis ” Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, dan gangguan kehamilan dan janin”. Anehnya lagi, orang yang merokok ternyata bukan hanya dari kalangan orang-orang yang berpendidikan rendah. Yang bertitel Doktor pun ada yang merokok. Salah satunya ialah ayah kawan saya.

Padahal buku tentang bahaya rokok, dari sisi kesehatan dan agama, telah banyak ditulis. Lalu, kenapa jumlah perokok tidak kunjung menurun? Kayaknya sih, kalau menurut perkiraan saya, mereka belum membaca buku-buku itu. Mungkin karena judulnya yang to the point, langsung memvonis rokok begini…rokok begitu…

Seperti cerita kawan saya. Katanya dia pernah meletakkan buku tentang haramnya rokok di tempat bapaknya. Tapi sekarang buku itu tidak kelihatan lagi. ”Nggak tahu tuh, dibuang kali sama bapak ane…”, kata teman saya itu kepada saya. Teman saya juga meragukan, apakah bapaknya itu baca buku itu apa nggak.

Nah, dari sini saya kepikiran untuk menulis buku tentang rokok. Tapi, judulnya saya buat menarik agar orang-orang penasaran. Ya, paling tidak, membuat orang tertarik untuk melongok isi buku.

Setelah mencari-cari literatur, kemudian disusul dengan menuliskannya, jadilah sebuah buku sederhana berjudul ”Menjadi Kaya Dengan Me-Rokok”. Buku ini kemudian saya kirim ke sebuah penerbit di Solo. Kira-kira seminggu kemudian saya mendapat kabar dari penerbit bahwa buku saya itu diterima. Dan, pada bulan Februari, akhirnya buku saya bisa terbit dengan selamat. Oleh penerbit judulnya diganti menjadi ”Ngerokok Bikin Kamu ’Kaya’”.

Nah, inilah sedikit pengalaman saya tentang mengembangkan artikel menjadi sebuah buku. Sebuah pengalaman yang sederhana dan biasa-biasa saja. Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: