NYANYIAN PENA

Kisah Suka Duka Belajar Bahasa Arab Tanpa Guru

Posted on: April 12, 2011

Manusia Biasa

 

Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa aku akan tertarik belajar bahasa Arab. Sebab aku adalah orang yang biasa-biasa saja. Aku terlahir dan dibesarkan oleh orang tua yang biasa-biasa saja. Lingkungan tempat aku tinggal pun biasa-biasa saja. Bukan lingkungan yang agamis. Jadi tidak ada yang mendorongku untuk belajar bahasa Arab pada waktu itu.

Alhamdulillah sejak kecil aku sudah bisa membaca al-Qur’an. Ibuku yang mengajariku membaca al-Qur’an. Kemudian aku disuruh oleh ibuku untuk menghafal surat-surat pendek yang ada di juz ‘amma. Sehabis maghrib aku harus menyetorkan hafalanku di hadapan ibuku. Seingatku, sebelum lulus SD aku sudah berhasil menghafal juz ‘amma. Namun bacaan al-Qur’anku baru sebatas bacaan biasa. Aku tidak mengerti artinya. Dan ketika itu, belum ada keinginan dalam diriku untuk mengerti arti dari bacaan al-Qur’an yang aku baca.

Sejak kecil aku juga sudah bisa mengerjakan sholat. Guru agamaku di sekolah yang mengajarkannya. Aku sudah tahu gerakan dan bacaan sholat. Hanya saja, aku belum mengerti dengan bacaan yang aku baca ketika sholat. Dan aku memang tidak ada keinginan untuk mengerti waktu itu. Sehingga bacaan sholatku persis seperti orang yang sedang mengucapkan mantra-mantra. Mulutku komat-kamit tapi aku tidak mengerti dengan yang aku ucapkan.

Sebagaimana keadaan masyarakat pada umumnya, aku beragama atas dasar “ikut-ikutan”. Setiap yang dikatakan oleh penceramah di masjid, semua aku anggap benar. Aku tak mempermasalahkan siapapun yang ceramah. Meskipun dia seorang penyanyi atau pelawak, apabila dia ceramah tentang agama, aku anggap perkataannya benar dan bagus. Dan itulah yang aku ikuti. Tak pernah terpikirkan dalam benakku waktu itu untuk mempertanyakan,  “Apakah yang mereka sampaikan benar-benar sesuai dengan yang diajarkan oleh Alloh dan Rosul-Nya atau tidak? Apakah yang disampaikan oleh para penceramah di masjid, TV, dan radio benar-benar berdasarkan dalil yang kuat dari al-Qur’an dan hadits-hadits yang shohih atau tidak?”. Pokoknya, apapun yang aku dengar, entah dari penceramah, guru, atau siapa saja, aku pun langsung terima saja. Tidak pernah ada keinginan dalam diriku untuk mengkaji kembali ucapan mereka.

Lucunya waktu itu, setiap buku yang ada tulisan arabnya aku anggap sebagai buku yang bagus untuk dibaca. Buku apapun, baik yang dijual di toko buku, di bus, di kereta, atau dimanapun, jika isinya membahas tetang masalah agama, aku anggap isinya benar dan baik untuk diamalkan. Pernah suatu ketika aku membeli buku yang isinya mengajarkan  tentang zikir-zikir tertentu. Dalam buku itu dijelaskan tentang khasiat zikir-zikir. Dikatakan dalam buku itu kalau kita baca zikir ini dan itu selama sekian kali, maka kita akan begini dan begitu. Namun tidak dijelaskan dalam buku itu apakah amalan ini memang ada ajarannya dari Rosululloh atau tidak. Dalam buku itu cuma disampaikan, kalau membaca zikir ini selama sekian kali maka akan begini dan begitu. Itu saja. Tanpa ada keterangannya dari al-Qur’an, Hadits dan penjelasan para ulama. Aku pun kemudian tertarik untuk mencobanya. Namun, meskipun aku sudah baca zikir ratusan kali seperti  yang diajarkan, aku tetap tidak mendapatkan hasil apa-apa. Padahal aku sudah sangat serius membacanya. Sebab katanya, kalau aku mengamalkan zikir itu, aku bisa menjadi “orang sakti”. Waktu itu aku masih SMA. Karena di sekitar sekolahku sering terjadi tawuran, maka aku ingin sekali jadi orang sakti agar bisa menang kalau berkelahi. Baru kemudian, setelah aku mengerti tentang pemahaman Islam yang benar, aku baru tahu kalau zikir-zikir semacam itu tidak boleh dilakukan. Sebab tidak ada ajarannya dari Rosululloh.

Lagi pula kalau ada zikir-zikir semacam itu, niscaya Rosululloh lah yang akan pertama kali melakukannya, dan beliau tentu akan mengajarkannya kepada para Sahabat beliau. Sebab mereka sangat butuh zikir-zikir semacam itu. Bukankah mereka dahulu sering berperang sehingga tentunya sangat butuh kepada kesaktian untuk bekal berperang. Namun tidak ada keterangannya bahwa Rosululloh dan para Shahabat beliau mengamalkan zikir-zikir semacam itu.

Demikianlah diriku pada waktu itu. Aku bukanlah orang yang kritis dalam beragama. Aku cuma pengekor. Keadaan diriku dalam beragama persis seperti binatang ternak yang digiring oleh penggembala. Aku hanya manut-manut saja tanpa tahu mau digiring ke mana. Alhamdulillah aku belum sampai digiring ke penjagalan untuk disembelih!

 

***

 

Sejak SD hingga SMA aku lalui di sekolah umum. Tentu saja selama di sekolah umum aku tidak diajarkan bahasa Arab. Lalu, kenapa tiba-tiba aku bisa tertarik untuk belajar bahasa Arab? Begini ceritanya…..

 

 

 

Pondok AQ

 

Setamat dari SMA aku kuliah di kampus ABC yang terletak di kota X. Lokasi kampus ABC sebenarnya masih berdekatan dengan kota tempat aku dilahirkan. Namun untuk menuju ke sana dibutuhkan kira-kira 4-5 jam perjalanan dengan bus. Oleh karena itu, mau tidak mau aku harus kos di kota X.

Ada empat orang dari SMA ku yang kuliah di kampus ABC. Namun ketiga temanku kuliah di fakultas yang berbeda dengan diriku. Karena fakultas kami terpisah jauh, maka kami pun terpaksa harus tinggal terpisah. Ketiga temanku itu tinggal di daerah yang saling berdekatan. Sementara aku berada di daerah yang jauh dari mereka.

Awalnya aku tidak tahu harus kos di mana. Aku tidak kenal siapa-siapa di kota X. Segalanya serba asing bagiku. Syukurlah, saat aku sedang kebingungan, ada seorang mahasiswa senior yang memberiku informasi sebuah rumah kos. Aku disarankan untuk kos di sana. Dia pun memberitahuku alamat rumah kos itu. Nama kosannya Pondok AQ. Katanya dia punya banyak teman di sana. Aku pun kemudian mencari alamat kos itu. Setelah bertanya-tanya, akhirnya aku temukan juga kosan itu.

Ternyata Pondok AQ adalah sebuah rumah yang besar. Ada 16 kamar di dalamnya. Masing-masing kamar diisi oleh dua orang. Jadi aku tinggal bersama sekitar 30-an lebih mahasiswa. Semua kuliah di kampus yang sama.

Berbeda dengan kos yang yang lain, Pondok AQ dikenal sebagai “rumah binaan”. Ada kajian keislaman yang diadakan di dalamnya. Semua penghuni kos, terutama mahasiswa baru, harus mengikuti kajian keislaman yang ada di dalamnya.  Diantara materi yang diajarkan ialah bahasa Arab. Nah, inilah awal perkenalanku dengan bahasa Arab.

Seminggu sekali sehabis subuh, kira-kira sekitar satu jam, kami diajarkan kaidah-kaidah bahasa Arab. Waktu itu aku diajarkan kaidah nahwu untuk tingkat dasar. Aku diperkenalkan apa itu isim, fi’il, dan huruf beserta tanda-tandanya. Namun, karena belum ada motivasi yang kuat dalam diriku untuk belajar bahasa Arab, maka tidak ada satu pun ilmu yang nyangkut di kepalaku. Waktu itu bisa dikatakan bahwa aku ini “terpaksa” ikut belajar bahasa Arab. Sebab itu sudah peraturan yang harus dipatuhi oleh semua  penghuni kos. Dengan terpaksa aku pun harus mengikutinya.

Aku sendiri sudah lupa apakah ustadz yang mengajarku waktu itu memberi motvasi kami tentang pentingnya bahasa Arab atau tidak. Yang jelas waktu itu aku belum termotivasi sama sekali untuk belajar bahasa Arab. Aku benar-benar tidak mengerti dengan materi yang disampaikan ustadz. Yang masih aku ingat sampai sekarang adalah perkataan ustadz ketika menjelaskan huruf jar. Beliau berkata begini, “Sudah, hafalin saja dulu. Ntar lama-kelamaan juga bakalan ngerti…”.

Karena aku memang tidak tertarik dengan bahasa Arab, akhirnya setelah beberapa kali belajar, tetap tidak ada perubahan yang menggembirakan dalam diriku. Aku tetap tidak mengerti dengan kaidah bahasa Arab yang telah diajarkan. Hingga ketika diadakan ujian, nilaiku pun ancur-ancuran. Namun aku tidak merasa sedih. Sebab teman-temanku yang lain mengalami nasib yang sama denganku. Mereka juga tidak tertarik belajar bahasa Arab. Hanya ada satu orang yang sepertinya sangat bersemangat belajar bahasa Arab. Selain belajar di kos, dia juga belajar di tempat lain di luar kos. Namanya AK.

 

 

Sahabatku AK

 

Mahasiswa yang tinggal di Pondok AQ semuanya berasal dari luar daerah. Namun kebanyakan masih berada di pulau jawa. Hanya ada beberapa saja yang berasal dari luar jawa. Dan yang rumahnya terjauh adalah AK. Dia berasal dari daerah ujung Indonesia. Dia seangkatan denganku. Hanya saja kami berbeda jurusan.

Berbeda denganku, AK adalah orang yang sangat perhatian dengan permasalahan agama. Dia tipe orang yang kritis dalam beragama. Dia berusaha untuk mengamalkan ibadah agama di atas landasan ilmu, bukan ikut-ikutan. Oleh karena itulah dia banyak membaca buku-buku Islam. Di rak bukunya banyak terdapat buku-buku bacaan Islami tentang berbagai permasalahan, seperti aqidah, fiqih, dll.

Aku dan dia cukup berteman baik. Aku sering berkunjung ke kamarnya. Aku pun sering meminjam buku-buku agama koleksinya. Lewat perantaraan dialah aku mengenal tentang bagaimana seharusnya seorang muslim itu memahami Islam.

AK sering mengajukan permasalahan-permasalahan agama yang membuatku penasaran. Pernah suatu ketika dia mengajukan sebuah pertanyaan tentang aqidah kepadaku dan teman-teman yang sedang ngobrol-ngobrol di kamarku. Dia bertanya (bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: