NYANYIAN PENA

Berbeda Tapi Tetap Satu

Posted on: April 9, 2009

Kawan…

Kita emang nggak menutup mata kalo dalam masalah shalat ini banyak sekali kita temukan perbedaan. Coba aja kita perhatiin orang-orang yang shalat di masjid. Niscaya akan kita dapati mereka berbeda dalam banyak hal. Misalnya ada yang kalo sujud tangan duluan, ada yang lutut duluan. Trus ada juga yang kalo duduk tasyahhud jarinya digerak-gerakkan, dan ada juga yang nggak. Dan masih banyak lagi perbedaan yang lainnya.

Namun hal ini wajar. Sebab, sebagaimana udah saya bilangin, kalo masalah shalat ini merupakan masalah fikih yang tentu saja nggak menutup kemungkinan terjadinya beda pendapat. Perbedaan pendapat ini terkadang bersumber dari perbedaan dalam memahami dalil-dalil, baik al-Qur’an dan as-Sunnah. Ada yang memahaminya seperti ini, dan ada yang memahaminya seperti itu. Terkadang, dari satu dalil, seorang ulama bisa berbeda dalam memahaminya, sehingga terjadilah pebedaan pendapat.

Kita tentu pernah mendengar kisah pengutusan para Sahabat Nabi ke Bani Quroizhoh. Sebelum berangkat, Rasulullah Shallallâhu ’alayhi wa sallam berpesan kepada para sahabatnya begini,”Janganlah ada seorang pun dari kalian yang mengerjakan shalat Ashar, kecuali setelah sampai di Bani Quroidzhoh!” (Muttafaq ‘alaih), demikian pesan Rasulullah Shallallâhu ’alayhi wa sallam kepada mereka. Namun, di tengah perjalanan, masuklah waktu shalat Ashar. Para sahabat kemudian berbeda pendapat. Ada yang berpendapat bahwa mereka harus tetep shalat pada waktunya. Adapun perintah Rasulullah, menurut mereka, maksudnya ialah agar para Sahabat mempercepat perjalanan seshingga bisa sampe di Bani Quroizhoh pas waktu Ashar. Merekapun kemudian shalat di tengah jalan.

Sahabat yang lain lagi memahami berbeda. Mereka berkesimpulan bahwa mereka dilarang shalat, kecuali di Bani Quroizhoh. Sehingga merekapun nggak ikutan shalat. Mereka baru melaksanakannya ketika sudah sampe di Bani Quroizhoh. Kemudian setelah itu, merekapun menyampaikan hal ini kepada Rasulullah Shallallâhu ’alayhi wa sallam. Namun Rasulullah nggak memarahi mereka karena berbeda pendapat dalam masalah ini. Sehingga dari sini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa Islam memberi keluasan dalam masalah-masalah fikih yang seperti ini.

Sayangnya, banyak di antara kawan-kawan kita yang nggak ngerti tentang hal ini. Sehingga tak jarang kita jumpai terjadi insiden kecil-kecilan di antara mereka hanya gara-gara permasalahan fikih yang mestinya mereka harus bersikap lapang dada terhadap orang yang berbeda pendapat dengan dirinya. Namun, tak jarang pula kita melihat, perbedaan masalah fikih ini bisa menyulut api permusuhan antar sesama Muslim.

Seorang kawan pernah bercerita begini. Suatu hari, selesai shalat berjama’ah, dia ditegur oleh seseorang yang shalat di sisinya. Rupanya orang itu merasa terganggu dengan gerakan jari telunjuk kawan saya ketika duduk tasyahud. Bikin nggak khusyu’, katanya (Orang itu nggak paham bahwa shalat khusyu bukan berarti seseorang itu nggak ngeliat gerakan di sekelilingnya. Salah satu ciri shalat khsuyu adalah shalat yang dilakukan sesuai contoh Rasulullah Shallallâhu ’alayhi wa sallam. Dan, menggerak-gerakkan jari telunjuk ketika tasyahud termasuk yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallâhu ’alayhi wa sallam, karena ada dalilnya).

Kawan saya itu pun langsung mengajak orang itu ke lantai bawah masjid di mana di sana terdapat pedagang buku-buku Islam yang menggelar dagangannya. Kawan saya lalu mengambil sebuah buku tentang tata cara shalat Nabi. Di tunjukkan kepada orang itu hadits tentang menggerakkan jari telunjuk ketika tasyahud. Haditsnya berbunyi,” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menggerak-gerakkan jari telunjuknya (ketika duduk tasyahud-pent) sambil membaca doa.”(HR. Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Jarud dalam Al-Muntaqa (208), Ibnu Khuzaimah (1/86/1-2), Ibnu Hibban dalam Shahih-nya (485) dengan sanad shahih, disahkan oleh Ibnu Mulaqqan (28/2).

Namun, orang itu tetap ngeyel. “Tapi kan tetep ganggu…”, demikian sangkalnya. “Lho, ini hadits Rosul”, ucap pedagang buku ikut nimbrung. Orang itu tetap tidak bisa menerima dan pergi begitu saja dengan perasaan kesal.

***

Oleh karena itu, agar perbedaan pendapat semacam ini nggak sampe menyulut api permusuhan di antara kau muslimin, hendaknya kita belajar tentang bagaimana seharusnya bersikap ketika berhadapan dengan perbedaan pendapat. Apapun bentuknya perbedaan itu, entah perbedaan dalam masalah fikih, perkara akidah, maupun perkara-perkara yang lainnya. Lalu, bagaimana sebenarnya cara menyikapi perbedaan pendapat yang diajarkan Islam?

Sebenarnya Islam sudah memberikan solusi jitu dalam menyikapi perbedaan pendapat. Islam telah memberikan pedoman yang jelas dan terang dalam menyikapi perbedaan pendapat. Mari kita simak ayat berikut ini.

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,”Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (Q.s. an-Nisa [4]:59)

Inilah sikap yang wajib kita ambil ketika menghadapi perbedaan pendapat, yaitu: Mengembalikan kepada al-Qur’an dan As-Sunnah. Sebab, Allah Subhânahu wa Ta’âlâ yang memerintahkan demikian sebagaimana ayat di atas.

Dari sini, jelaslah kekeliruan sebagian orang yang berkata bahwa ketika terjadi perbedaan pendapat,”Kita kembalikan kepada masing-masing saja! Jangan dipermasalahkan! Dll.”. Sebab, yang pertama, perkataan ini menyelisihi petunjuk Allah Subhânahu wa Ta’âlâ. Kemudian, yang kedua, perkataan ini membuka lebar-lebar pintu kerusakan. Kok bisa?! Saya akan berikan contoh tentang kerusakan yang akan timbul jika kaidah ini dipakai.

Misalnya ada anggota keluarga kita (misalnya Ibu dan Ayah kita) yang mempunyai pendapat sebagai berikut:

v Minum minuman beralkohol nggak mengapa jika tidak sampai mabuk dan tujuannya untuk menenangkan diri. Dalilnya hadits Rasulullah Shallallâhu ’alayhi wa sallam,”Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya”. (H.r. Al-Bukhari dan Muslim).

v Shalat, puasa, zakat, haji dan ibadah-ibadah lainnya nggak wajib bagi seseorang yang sudah mencapai derajat “al-yaqin”. Dalilnya firman Allah Subhânahu wa Ta’âlâ,” Dan beribadahlah kepada Rabb-mu hingga datang kepadamu “al-yaqin”. (Q.s. Al-hijr [15]: 99).

Nah, jika kita melihat ayah kita sedang minum minuman keras dan ibu kita tidak shalat lima waktu karena memiliki pendapat seperti di atas, maka apa yang kita lakukan? Apakah kita biarkan saja dengan alasan,” Kita kembalikan kepada masing-masing saja! Jangan dipermasalahkan!”. Ataukah kita ingatkan mereka, dengan cara menjelaskan kekeliruan dalil yang mereka gunakan ?

Jawabannya tentu yang kedua. Kita ingatkan mereka tentang kekeliruan dalil yang mereka lakukan. Kita jelaskan kepada ayah kita bahwa minum minuman beralkohol hukumnya haram meskipun niatnya baik. Sebab, niat baik caranya pun harus baik, yaitu yang tidak bertentangan dengan syari’at.

Kemudian kita jelaskan kepada ibu kita bahwa maksud dari “al-yaqin” dari Q.s. al-Hijr ayat 99, sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama, adalah “al-maut” (kematian). Jadi, maksud ayat ini adalah: Dan beribadahlah kepada Rabb-mu hingga datang kepadamu kematian.

Nah, kamu tentu sudah paham betapa bahayanya jika kaidah “Kita kembalikan kepada masing-masing saja!” diterapkan ditengah masyarakat.

Jadi kesimpulannya, kalo kita ngeliat perbedaan perndapat, untuk mengetahui mana pendapat yang benar, kita harus kembalikan kepada Al-Qur’an, As-Sunnah. Kita cek dan recek. Mana pendapat yang paling sesuai dengan Al-Qur’an dan sunnah Rasul. Maka itulah yang kita ambil dan kita pegang.

***

Jangan Taklid, Yaa…!

Namun, perlu saya ingatkan juga, bahwa ketika kita berbeda pendapat kita nggak boleh taklid. Kamu tau kan taklid itu apaan? Taklid itu maksudnya adalah mengikuti pendapat/perkataan seseorang tanpa diketahui dalilnya. Sebab taklid ini sangat berbahaya. Dia ibarat virus ganas yang bisa membahayakan orang-orang yang dihinggapinya. Virus taklid ini telah terbukti memakan banyak korban. Di zaman Rasulullah Shallallâhu ’alayhi wa sallam dahulu, khususnya di awal-awal munculnya Islam, ratusan bahkan ribuan orang masuk neraka gara-gara taklid. Orang-orang kafir Quraisy pada waktu itu banyak yang enggan menerima Islam gara-gara terjangkit virus taklid. Mereka taklid kepada nenek moyang mereka. Oleh karena itu Islam sangat melarang taklid.

Dalam al-Qur’an, banyak sekali ayat-ayat yang memberi peringatan untuk menjauhi taklid. Diantaranya Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,”Dan apabila dikatakan kepada mereka:”Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah”. Mereka menjawab:”(Tidak) tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk”. (Q.s. al-Baqarah [ 2]:170)

Bahkan, para ulama jaman dahulu –seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’I, dan Imam Ahmad bin Hambal- sudah mewanti-wanti para muridnya untuk waspada dari sikap taklid.

Imam Abu Hanifah berkata,”Tidak halal bagi seseorang untuk mengikuti perkataan kami bila ia tidak tahu dari mana kami mengambil sumbernya.”

Imam Malik berkata,”Saya hanyalah seorang manusia biasa, terkadang salah, terkadang benar. Oleh karena itu, telitilah pendapatku. Bila sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah, ambillah; dan bila tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah, tinggalkanlah.”

Imam Asy-Syafi’i berkata,”Bila kalian menemukan dalam kitabku sesuatu yang berlainan dengan hadits Rasulullah, peganglah hadits Rasulullah itu dan tinggalkanlah pendapatku itu.”

Imam Ahmad berkata,”Janganlah kamu taklid kepada siapapun dari mereka dalam urusan agamamu. Apa yang datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan para Sahabatnya, itulah hendaknya yang kamu ambil.”

Oleh karena itu kita harus hati-hati. Jangan sampe kita terkena virus yang satu ini. Terutama sebagai seorang terpelajar (penuntut ilmu). Dia harus membentengi dirinya sekuat tenaga dari virus taklid ini. Caranya?

Untuk membentengi diri dari virus taklid, sebagai seorang yang terpelajar (saya yakin, kamu-kamu yang baca buku adalah orang terpelajar semua, ya kan?), kita harus kritis dalam beragama. Tidak asal menerima pendapat setiap orang. Ketika ada seseorang yang mengeluarkan pendapat, entah itu ustadznya, kiyainya, gurunya, syaikhnya, atau siapapun hendaknya diteliti terlebih dahulu. Sesuai tidak pendapatnya itu dengan al-Qur’an dan as-Sunnah? Benar nggak pemahaman al-Qur’an dan as-Sunnah yang disampaikan? Ada nggak contoh pengamalannya dari Rasulullah dan para sahabatnya?

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ memerintahkan kita untuk besikap kritis. Mari kita renungi kembali firman Allah Subhânahu wa Ta’âlâ,”Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (Q.s. An-Nisa [4]:59)

Dalam ayat ini, ketika terjadi perbedaan pendapat, Allah Subhânahu wa Ta’âlâ menyuruh kita untuk melakukan studi kritis. Kita tidak diperintahkan untuk mengembalikan pendapat kepada diri masing-masing atau ustadz/kiyai masing-masing. Akan tetapi Allah Subhânahu wa Ta’âlâ menyuruh kita untuk mengembalikannya kepada al-Qur’an dan as-Sunnah. Jika cocok dengan keduanya, itulah yang diambil, meskipun menyalahi pendapat yang kita yakini selama ini atau pendapat yang diyakini oleh ustadz kita dan kiyai kita di pengajian.

Seorang penuntut ilmu yang kritis, otaknya akan berkembang. Tidak jumud (beku). Sebab, otaknya akan terlatih melakukan penelitian yang mendalam. Dia akan rajin membuka-buka referensi, membaca, menelaah, membandingkan, menganalisa, untuk kemudian mengambil pendapat yang paling kuat. Yaitu yang paling sesuai dengan al-Qur’an dan as-Sunnah.

Seorang penuntut ilmu yang kritis akan senantiasa menerima kebenaran, meskipun kebenaran itu menyalahi pendapat dirinya dan gurunya selama ini. Bagi dirinya, kebenaran lebih berhak untuk diterima dan diikuti, dari siapapun datangnya.

‘Abdurrahman bin ‘Abdillah bin Mas’ud rahimahullah berkata,”Ada seseorang yang datang kepada ‘Abdullah bin Mas’ud seraya berkata,”Wahai Abu ‘Abdirrahman, beritahukanlah kepadaku kalimat yang simpel namun banyak mengandung manfaat!” ‘Abdullah menjawab,”Jangan sekali-kali engkau menyekutukan Allah. Berjalanlah bersama al-Qur’an kemana saja engkau pergi. Jika ada kebenaran yang datang kepadamu, janganlah segan-segan untuk menerimanya sekalipun kebenaran itu jauh letaknya dan tidak menyenangkan. Dan jika ada kebathilan yang datang kepadamu, tolaklah ia jauh-jauh sekalipun kebathilan itu dekat letaknya dan sangat kau sukai.”

******

Berbeda halnya dengan penuntut ilmu yang terjangkit virus taklid. Otaknya akan beku, keras, tumpul, dan nggak akan berkembang. Sebab, otaknya jarang diasah. Kebiasaannya adalah menelan mentah-mentah apa yang dikatakan oleh ustadznya saja. Akibatnya, otaknya tidak terlatih untuk melakukan anailisis ilmiyah terhadap suatu permasalahan.

Bagi orang yang taklid, apa yang dikatakan ustadznya, itulah satu-satunya yang dia anggap benar. Dia pun berusaha membela pendapat itu mati-matian. Dia enggan mempertimbangkan pendapat orang lain, meskipun itu suatu kebenaran (berdasarkan dalil yang kuat). Seolah-olah perkataan gurunya adalah wahyu dari Tuhan yang tidak boleh diganggu gugat. Maka, keadaannya tidak jauh beda dengan orang-orang zaman jahiliyyah dahulu.

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb selain Allah, dan (juga mereka menjadikan Rabb ) Al-Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Ilah Yang Maha Esa; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”. (Q.s. at-Taubah [9]:31)

Ada juga yang memberikan permisalan, bahwa orang yang terkena virus taklid ini ibarat hewan yang diikat lehernya, kemudian dibawa. Namun hewan itu nggak tau mau dibawa ke mana? Seringkali hewan itu dibawa ke tempat penjagalan kemudian disembelih!

Semoga Allah menyelamatkan kita semua dari virus berbahaya ini. Amien.

***

Jadi intinya begini kawan…

Ketika kita ngeliat ada beda pendapat, trus kita nggak tau mana yang bener dan lebih kuat, maka yang pertama kali kita lakukan ialah bertanya kepada ahlinya. Bisa ke ulama atau ustadz yang mumpuni keilmuannya.

Tapi, setelah kita diberi jawaban, kita juga jangan menelan mentah-mentah begitu aja. Tapi kita juga kudu cari kejelasan: dalilnya apa? Pemahamannya gimana? Misalnya kita nanya begini,”Maaf Pak Ustadz, kalo boleh tau, dalilnya apa ya? Trus penjelasannya gimana?”

Nah, beginilah kita seharusnya dalam menghadapi beda pendapat. Dengan begitu, kita akan terhindar dari sikap taklid. Sebab, ketika kita udah tau dalilnya, berarti yang kita ikuti itu dalilnya, bukan ustadznya.

Kemudian, kalau ada orang lain yang berbeda pendapat dengan kita, dan setelah kita kaji secara mendalam, ternyata dalil yang dia bawakan lebih kuat dan lebih cocok dengan pengamalan (sunnah) Rasulullah, kita mesti mengambil pendapat itu, meskipun berbeda dengan yang dikatakan oleh ustadz kita, kiyai kita, guru kita, ulama kita, dll. Sebab, kebenaran itu lebih berhak untuk diikuti. Dan setiap orang perkataannya bisa diterima dan bisa ditolak, kecuali Rasulullah Shallallâhu ’alayhi wa sallam.

Imam Malik pernah berkata ”Setiap orang perkataannya bisa diambil dan bisa dibuang, kecuali perkataan penghuni kubur ini,”sambil tangan beliau menunjuk ke kuburan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

***

Gimana, kawan… Semoga kalian semua ngerti dengan yang barusan saya sampaikan. Untuk mengakhiri pembahasan yang cukup melelahkan ini, saya akan membawakan sebuah kisah yang dari kisah ini insya Allah kita akan bisa mengambil banyak pelajaran tentang bagaimana seharusnya kita menyikapi perbedaan pendapat. Kisahnya begini…

Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ’anhu berkata,”Pernah ada dua orang bepergian bersama. Ketika dalam perjalanan, datanglah waktu shalat, namun mereka tidak mendapatkan air. Merekapun tayammum dengan tanah yang suci, lalu shalat. Setelah selesai shalat, mereka mendapatkan air, sedangkan waktu shalat masih ada. Salah seorang dari mereka berwudhu lalu mengulangi shalatnya, sedangkan yang satunya tidak mengulangi shalatnya. Setelah pulang, mereka datang dan menceritakan kepada Rasulullah Shallallâhu ’alayhi wa sallam tentang kejadian yang mereka alami. Rasulullah Shallallâhu ’alayhi wa sallam berkata kepada yang tidak mengulangi shalatnya,’Kamu telah mengikuti sunnah dan shalat yang kamu lakukan telah cukup bagimu.’ Sedangkan kepada yang mengulangi wudhu dan shalatnya beliau berkata,’Kamu mendapatkan dua pahala.’” (H.r. Abu Dawud dan an-Nasa’i)

Hadits ini, kata Syaikh bin Baz, menunjukkan bahwa orang yang tidak mengulangi wudhu dan shalatnya telah mengikuti sunnah Nabi, karena mencukupkan dengan sesuatu yang dia mampu ketika itu. Adapun orang yang mengulani shalatnya berarti telah berijtihad. Oleh karena itu, dia mendapatkan dua pahala. Pahala pertama didapatkan dari shalatnya yang pertama, dan pahala kedua didapatkan dari ijtihadnya mengulang shalat yang dia maksudkan untuk mengikuti sunnah Nabi.

Nah, kawan…

Dari cerita di atas, setidaknya ada empat pelajaran yang bisa kita petik.

  1. Ketika berbeda pendapat, kita harus menghormati orang yang berbeda pendapat dengan kita. Nggak boleh kita saling ejek dan cela, apalagi sampe cakar-cakaran. Malu dong! Masak sesama orang Islam berantem! Kayak anak kecil aja…
  2. Ketika berbeda pendapat, kita nggak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain. Nggak boleh kita memaksa orang lain untuk ikut pendapat kita. Emangnya kita siapa maksa-maksa orang lain! Kita ini bukan kompeni yang biasa nyuruh orang kerja paksa. (lho, kok jadi larinya ke kompeni sih..he..he..)

Tapi, bukan berarti kita nggak boleh untuk saling berdiskusi. Silakan aja berdiskusi atau bertukar pikiran. Tapi ingat! Tujuan berdiskusi bukan untuk menang-menangan. Tapi buat nyari kebenaran. Jika kita emang mau berdiskusi, lakukanlah dengan suasana sejuk dan penuh keakraban (Kalau perlu diskusinya dilakukan di bawah pohon rindang dengan ditemani segelas es campur dan pisang goreng). Kemudian, hendaknya berlemah-lembut dalam mengeluarkan argumentasi. Agar jangan sampe nantinya jadi debat kusir. Kalo sampe terjadi debat kusir, maka ucapkanlah ”Sampai jumpaaa…!”. Sebab, Rasulullah Shallallâhu ’alayhi wa sallam bersabda,” Saya adalah pemimpin di sebuah rumah di pelataran surga bagi orang yang meninggalkan debat kusir meskipun ia berada dalam pihak yang benar” (H.r. Abu Dawud)

  1. Ketika terjadi perbedaan pendapat, kita nggak boleh mengembalikan kepada diri masing-masing. Sebagaimana dalam cerita di atas, para Sahabat kemudian mengembalikannya kepada Rasulullah Shallallâhu ’alayhi wa sallam agar beliau memutuskan yang benar dari perbedaan pendapat mereka. Seandainya kita boleh mengembalikannya kepada diri masing-masing, niscaya para sahabat nggak akan nanya ke Rasulullah Shallallâhu ’alayhi wa sallam. Ya udah, masing-masing aja…
  2. Jangan kita jadikan perbedaan pendapat sebagai alasan untuk berpecah belah. Lihatlah para sahabat Rasul! Di antara mereka terjadi perbedaan pendapat, sebagaimana cerita di atas. Trus, mereka juga berbeda pendapat dalam permasalahan lainnya, misalnya tentang hukum memakan daging onta, apakah membatalkan wudhu apa nggak. Ada di antara mereka yang berpendapat bahwa orang yang memakan daging onta maka wudhunya batal, dan ada yang berpendapat nggak batal. Tapi mereka tetap bersatu. Mereka tetap shalat di belakang satu imam. Mereka nggak lantas membikin jama’ah sendiri-sendiri sesuai dengan yang sependapat dengan mereka. Tidak! Mereka tetap shalat di belakang satu imam, meskipun bisa jadi imamnya itu berpendapat bahwa memakan daging onta nggak membatalkan wudhu, sedangkan makmumnya bependapat sebaliknya.

Inilah beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dari cerita dalam hadits di atas. Jadi sekarang, kalo kamu ngeliat adanya perbedaan pendapat di sekitarmu, kamu nggak usah bingung. Sebab, kamu udah tau kan gimana caranya bersikap? Siiip lah kalo gitu…! Lanjuut…

Eee..sebentar…sebentar..! Ada yang kelupaan. Saya mo ngingetin juga nih. Dalam berbeda pendapat, kita juga harus bersikap lapang dada ketika suatu waktu menerima kritikan, meskipun yang mengritik kita ialah orang yang paling kita benci. Anggaplah kritikannya itu sebuah bingkisan yang diberikan kepada kita. Jika ternyata isinya memang sebuah kebenaran, hendaknya kita menerimanya. Kita nggak boleh menolak kebenaran itu. Sebab menolak kebenaran merupakan sikap sombong, sebagaimana Rasulullah bersabda,”Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” (H.r. Muslim)

Ya udah, gitu aja. Lanjuuut…!

3 Tanggapan to "Berbeda Tapi Tetap Satu"

ust,,, ana sependapat dengan tulisan antum tentang berbeda tapi tetap satu terutama pembahasan tentang “taqlid buta” / sembarang mengikuti tampa tau dalilnya, ana berharap banyak orang yang membaca tulisan ini, supaya tersadarkan,,karena realita yang terjadi di lapangan, banyak terjadi komplik dan ketidakharmonisan disebabkan ketidakpahamannya terhadap ikhtilafiyah dan sumber-sumber pengambilan hukum islam….. afwan,,,

Insya Alloh saya sekarang sedang menyusun tulisan tentang “kritis dalam beragama”, semoga dimudahkan….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: