NYANYIAN PENA

Wanita & Shalat Berjama’ah

Posted on: Maret 1, 2009

Kawan…

Mungkin ada di antara kalian yang bertanya-tanya. Bagaimana dengan wanita? Apakah kaum wanita diperintahkan juga untuk shalat berjama’ah di masjid kayak laki-laki?

Mmm…setau saya sih, berdasarkan kesepakatan para ulama, kaum wanita nggak diperintahkan untuk shalat berjama’ah di masjid. Jadi, boleh-boleh aja bagi mereka untuk nggak dateng ke masjid. Dateng boleh, nggak dateng juga boleh. Namun, yang lebih utama bagi mereka melakukan shalatnya di rumah, bukan di masjid.

Dari Ummu Humaid As-Sa’idiyyah radhiyallahu ‘anha, dia mendatangi Rasulullah Shallallâhu ’alayhi wa sallam dan berkata,”Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya senang shalat bersamamu.” Beliau Shallallâhu ’alayhi wa sallam berkata,”Sesungguhnya saya mengetahui bahwa engkau senang shalat bersamaku. Namun, shalatmu di rumahmu lebih baik daripada shalatmu di kamarmu. Shalatmu di kamarmu lebih baik daripada shalatmu di tempat tinggalmu. Shalatmu di tempat tinggalmu lebih baik daripada shalatmu di masjid kaummu. Dan shalatmu di masjid kaummu lebih baik daripada shalatmu di masjidku.” (HR. Ahmad dan Ibnu Khuzaimah)

Namun, kalo mereka tetep pingin ikutan shalat berjama’ah di masjid, nggak boleh ada orang yang ngelarang. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallâhu ’alayhi wa sallam,”Jangan kamu melarang istri-istrimu (shalat) di masjid, namun rumah mereka sebenarnya lebih baik untuk mereka.”(H.r. Ahmad, Abu Dawud, dan Al-Hakim)

Hanya saja, bagi wanita yang pingin ikutan shalat berjama’ah di masjid, hendaknya mereka nggak memakai wangi-wangian.

Lho, emangnya kenapa nggak boleh?!

Sebab, Rasulullah ngelarang hal itu. Beliau bersabda begini:

“Janganlah kalian melarang para wanita (pergi) ke masjid dan hendaklah mereka keluar dengan tidak memakai wangi-wangian.”(H.r. Ahmad dan Abu Dawud)

Dan beliau Shallallâhu ’alayhi wa sallam juga bersabda:

“Perempuan yang mana saja yang memakai wangi-wangian, maka janganlah dia ikut shalat Isya’ berjama’ah bersama kami.”(H.r. Muslim)

Pada kesempatan lain, beliau Shallallâhu ’alayhi wa sallam juga bersabda,”Perempuan yang mana saja yang memakai wangi-wangian, kemudian dia pergi ke masjid, maka shalatnya tidak diterima sehingga dia mandi.”(H.r. Ibnu Majah)

Nah, jadi Rasulullah ngelarang kaum wanita memakai wewangian kalo pingin ke masjid. Dan kewajiban kita sebagai sesorang Muslim, harus “sami’na wa atho’na”. Kita nggak boleh ngebantah.

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,”Seungguhnya jawaban orang-orang mukmin bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan,”Kami mendengar, dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Q.s. an-Nur: 51)

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ juga berfirman,’Semua yang diberikan Rasul, ambillah! Dan semua yang dia larang, tinggalkanlah! Takutlah kalian kepada Allah. Sungguh, Allah sangat keras hukuman-Nya.’(Q.s. al-Hasyr: 7).

Dan kita harus yakin, bahwa setiap yang dilarang Rasulullah Shallallâhu ’alayhi wa sallam pasti mengandung bahaya, walaupun terkadang kita belom mengetahui bahayanya, dan kita ngerasa (berdasarkan pengetahuan kita yang serba sedikit) kalo hal itu nggak berbahaya. Sebab, Rasulullah adalah orang yang paling tau tentang apa saja yang bisa membahayakan ummatnya. Dan Rasulullah, sebagaimana udah saya sebutin di awal, adalah orang yang paling sayang kepada ummatnya. Beliau sangat menginginkan kebaikan bagi ummatnya.

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,”Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan kebaikan bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (Q.s. at-Taubah: 128)

***

Kemudian, bagi wanita yang pingin ke masjid, hendaknya mengenakan busana yang sesuai aturan syari’at. Yaitu busana yang menutup aurat, longgar sehingga tidak membentuk lekuk-lekuk tubuh, tebal (tidak tipis), dan tidak menarik perhatian kaum laki-laki. Merekapun nggak boleh bertabarruj.

Wah, apaan tuh tabarruj?

Tabarruj itu artinya perbuatan wanita menampakkan perhiasan dan kecantikannya, serta segala sesuatu yang seharusnya ditutup dan disembunyikan karena bisa membangkitkan syahwat laki-laki. Dan ini nggak boleh dilakukan. Sebagaimana Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,”Janganlah kamu bertabarruj seperti orang-orang jahiliyah dahulu.”(Q.s. al-Ahzab [33]: 33)

Kamu tau nggak, kenapa tabarruj dilarang? Sebab nih, tabarruj-nya seorang wanita bisa menimbulkan kerusakan yang besar di masyarakat, khususnya bagi laki-laki. Sebab sudah menjadi tabiat (fitrah) laki-laki memiliki ketertarikan kepada wanita. Dan tabarruj-nya seorang wanita sangat potensial mendorong terjadinya perbuatan zina. Minimal yang terjadi adalah zina mata. Oleh karena itu Islam sangat keras melarang tabarruj. Sampai-sampai perbuatan tabarruj ini disejajarkan dengan perbuatan syirik, zina, mencuri, dan perbuatan haram lainnya.

Abdullah bin Amr pernah mengisahkan. Umaimah bintu Ruqaiqah pernah datang berbai’at kepada Nabi untuk masuk Islam. Nabi berkata,”Aku bai’at kamu untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anakmu, tidak membuat-buat kedustaan yang dibuat dengan kedua tangan dan kakimu, tidak meratap, dan tidak ber–tabarruj seperti yang dilakukan wanita jahiliyah dulu.” (H.r. Ahmad)

Kok, kayaknya Islam terlalu banyak aturan deh! Nggak boleh begini lah, nggak boleh begitu lah!

Eeh, jangan salah, Fren! Justru itu bukti keindahan Islam dan kasih sayang Islam kepada ummatnya. Emang harus diakui kalo agama Islam memberi banyak aturan kepada ummatnya. Tapi kamu harus ingat nih…

1. Aturan Islam berasal dari Allah Subhânahu wa Ta’âlâ, Pencipta manusia, yang paling tahu segala sesuatu yang bermanfaat untuk manusia. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,” Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Q.s. al-Anfaal [8]: 73). Allah Subhânahu wa Ta’âlâ juga berfirman,”Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Q.s. Al-Baqarah : 232)

Namun sayang, sekarang ini, banyak kita liat manusia yang merasa lebih pintar dari Allah Subhânahu wa Ta’âlâ. Sehingga mereka lebih senang dan bangga mengikuti aturan yang mereka buat sendiri daripada harus mengikuti aturan Allah Subhânahu wa Ta’âlâ. Akibatnya, timbullah kerusakan di mana-mana.

Telah nampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan oleh tangan-tangan (ulah) manusia sendiri...”. (Q.s. ar-Ruum: 41)

2. Aturan dalam Islam semuanya mudah untuk dilaksanakan. Tiada yang sulit dalam menjalankannya.

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,”…Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu….”(Q.s. al-Baqarah [2]:185)

”…Allah tidak ingin menyulitkanmu…”(Q.s. al-Maa-idah:6)

”…Dan Dia (Allah) tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama…”(Q.s. al-Hajj:78)

Rasulullah Shallallâhu ’alayhi wa sallam bersabda,”Sesungguhnya agama (Islam) itu mudah”. (H.r. al-Bukhari [39])

Seandainya kita merasa sulit dan berat dalam melaksanakan sebagian aturan Islam, jangan salahkan aturannya. Hendaknya kita periksa diri kita. Jangan-jangan dalam hati kita ada penyakit. Sebab, bagi orang yang sedang sakit, makanan manis pun akan terasa pahit olehnya. Dan, aktivitas yang paling ringan sekalipun akan terasa berat dikerjakannya.

3. Aturan Islam manfaatnya akan kembali kepada manusia itu sendiri. Sayangnya, banyak manusia yang nggak sadar akan hal ini.

Saya akan berikan sebuah contoh supaya kamu makin jelas. Islam memerintahkan wanita muslimah mengenakan jilbab. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,”Hai Nabi, katakanlah pada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin:”Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuhnya. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang.”(Q.s. Al-Ahzab:59)

Nah, perintah jilbab ini datangnya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang tentunya paling mengetahui terhadap segala sesuatu yang baik untuk para wanita. Kemudian, pelaksanaannya pun mudah. Setiap wanita pasti mampu melakukannya. Dan, manfaat jilbab ini akan berpulang kepada wanita itu sendiri.

Jilbab berfungsi untuk melindungi kehormatan wanita. Tanpa jilbab, wanita layaknya bunga di tepi jalan. Tak ada yang melindungi. Setiap saat mata-mata nakal bebas memandangnya dengan buas, dan begitu mudahnya dipetik oleh tangan-tangan jahil manusia berhati srigala. Setelah puas, bunga pun bisa dengan mudahnya dicampakkan di jalanan. Jadi, jilbab adalah benteng bagi wanita agar kesuciannya tetap terlindungi dan terpelihara.

Jadi demikianlah, kawan. Jika kita mau ngeliat semua aturan Islam dengan kaca mata keadilan, niscaya kita akan dapati bahwa aturan Islam adalah aturan yang Indah. Sebab, aturan Islam berasal dari Allah Subhânahu wa Ta’âlâ Yang Mahaindah dan mencintai keindahan. Rasulullah Shallallâhu ’alayhi wa sallam bersabda, ”Sesungguhnya Allah itu Maha Indah, dan mencintai keindahan..”. (H.r. Muslim)

Jika kita merasa bahwa Islam terlalu banyak aturan, dan sebagian aturannya ada yang “seolah” mengekang, memaksa, dll, maka ketahuilah bahwa justru itu merupakan wujud kasih sayang Islam. Ingatlah bahwa Allah Subhânahu wa Ta’âlâ sangat sayang kepada hamba-Nya, demikian pula dengan Rasulullah Shallallâhu ’alayhi wa sallam. Jadi, mustahil jika Allah Subhânahu wa Ta’âlâ dan Rasul-Nya Shallallâhu ’alayhi wa sallam membuat peraturan yang akan menyengsarakan ummatnya.

Saya akan berikan sebuah permisalan. Permisalan ini sebenarnya mirip-mirip dengan yang udah saya sampein di awal-awal bab. Tapi nggak apa-apa saya ulang lagi, biar kamu semua tambah ngerti bin paham.

Misalnya begini. Ada dua orang ibu, masing-masing mempunyai seorang anak kecil. Ibu yang pertama selalu mengingatkan anaknya,” Nak, jangan main api, jangan main pisau, jangan hujan-hujanan, jangan bermain di jalan raya, pagi-pagi jangan jajan es, … Kalau sampai Ibu tau, nanti Ibu jewer!”. Sedangkan ibu yang kedua berkata kepada anaknya,”Terserah kamu mau ngapain, Ibu nggak bakalan ngelarang. Mau main api kek, hujan-hujanan kek, main pisau kek, terserah. Ibu nggak akan marah. Kamu bebas berekspresi”. Dari kedua ibu ini, siapakah yang pantas dikatakan sebagai orang tua yang sayang kepada anaknya? Tentu ibu yang pertama, bukan?!

Oo..jadi begitu, toh! Saya baru tau kalo ternyata Islam itu emang agama yang indah. Saya jadi semakin cinta sama Islam nih..he..he…uhuk..uhuk..

Emang udah seharusnya begitu. Sebagai orang Islam, emang udah sewajarnya bagi kita untuk mencintai Islam. Kalo bukan kita, siapa lagi yang bakal mencintai Islam.

Trus juga, kita emang harus banyak belajar tentang Islam. Agar jangan sampe kita salah paham terhadap Islam disebabkan ketidaktauan kita. Sebab, sekarang ini, banyak lho orang yang salah paham tentang Islam. Ada yang bilang Islam itu ekstrim, sadis, brutal, nggak adil, memasung kebebasan berekspresi, menzalimi wanita, dll. Kenapa mereka bisa bilang seperti itu? Ya, karena mereka nggak ngerti terhadap aturan-aturan dalam Islam. Seandainya mereka paham bin ngerti, niscaya mereka akan berteriak histeris,”Wow…! Islam indah bangeet…!” Kayak kamu itu, lho. Setelah saya jelasin, kamu baru sadar kan kalo ternyata Islam itu agama yang indah? Padahal sebelumnya kamu bilang kalo Islam itu terlalu banyak aturan dan sering ngelarang-larang.

***

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

(Q.s. al-Baqarah [2]:216)

***

Nah, kawan…

Demikianlah pembahasan tentang hukum shalat berjama’ah di masjid bagi wanita. Jadi, berdasarkan hadits Rasulullah Shallallâhu ’alayhi wa sallam, kaum wanita lebih utama shalat di rumahnya. Dan ini lagi-lagi menunjukkan bentuk kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi kaum wanita sekaligus bagi masyarakat. Sebab, dengan wanita shalat di rumah, tentu saja hal ini akan lebih menjaga wanita dan lebih melindunginya. Selain itu, juga untuk menjaga anak-anak di rumah, para lanjut usia, serta manfaat lainnya. Maha Suci Allah yang telah menurunkan syari’at yang penuh hikmah ini!

***

Tadi kan dibilang kalo wanita itu lebih utama shalatnya di rumah..

Betul! Trus, kenapa?

Boleh nggak mereka mengerjakannya secara berjama’ah antara sesama wanita?

Yup! Pertanyaan yang bagus! Untuk ngejawabnya, saya akan bawakan perkataan dari Dr. Shalih bin Ghanim berikut ini. Dia berkata bahwa jama’ahnya kaum wanita di rumah lebih utama dari pada kehadiran mereka di masjid bersama kaum lelaki, karena shalat mereka di rumah sendirian lebih utama ketimbang dilakukan di masjid. Maka, jika dikerjakan dengan berjama’ah (di rumah) akan lebih utama.

Karena inilah, lanjut Dr. Shalih, jika ada sekelompok wanita yang tinggal di rumah, sekolah, universitas, atau rumah-rumah kontrakan, disunnahkan bagi mereka mengadakan jama’ah shalat. Adapun imamnya boleh berdiri di depan atau di tengah shaf yang pertama, boleh juga mengeraskan suara dalam shalat jahriyah, namun tetap menjaga dan memperhatikan kerendahannya, jika dimungkinkan ada laki-laki non mahram yang mendengarnya.

Banyak riwayat yang menerangkan pensyari’atannya, diantaranya ialah yang diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau pernah mengimami para wanita dalam shalat fardhu, tepatnya shalat Maghrib. Beliau berdiri di tengah shaf dan mengeraskan bacaannya. (Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla (3/171))

Dari Hujairah binti Husain, dia berkata,”Ibunda Ummu Salamah mengimami kami dalam shalat Ashar, dan beliau berdiri di antara kami.” (Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla (3/171-172))

Nah, inilah beberapa dalil tentang bolehnya wanita mengerjakan shalat berjama’ah antar sesama mereka selain di masjid. Trus, ada ilmu baru juga nih yang mungkin ada diantara kamu yang baru tau sekarang. Jadi, kalo imam wanita, yang disunnahkan ialah poisinya di tengah-tengan shaf pertama, sejajar dengan barisan. Nah, baru tau kan?!

Oke deh… Kayaknya cukup sampe di sini aja pembahasan tentang hukum shalat berjama’ah di masjid bagi wanita. Sekarang kita berlanjut ke pembahasan selanjutnya yaitu tentang udzur shalat berjama’ah. Tapi sebelumnya, kita ikuti dulu pesan-pesan berikut ini…

Dokutip dari buku saya yang berjudul “Shalat Berjama’ah Emang Duahsyaat!”, yang sedang dalam proses penawaran ke penerbit. Doain ya supaya lolos…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: