NYANYIAN PENA

MEMBEDAH BUKU

Posted on: September 17, 2008

“Jangan melihat buku dari ketebalannya agar kita tidak merasa bahwa akitifitas menulis buku merupakan aktifitas yang begitu sulit dan melelahkan karena terbayang harus menulis berpuluh-puluh halaman bahkan sampai beratus-ratus halaman. Tapi, marilah kita lihat bab-bab yang ada dalam buku itu yang hanya berupa tulisan pendek saja”.

***

Sekarang, coba Anda ambil sebuah buku. Atau begini saja. Coba Anda perhatikan buku yang sedang berada di tangan Anda ini. Bolak-baliklah bagian isinya, perhatikan baik-baik. Apa yang Anda lihat?

Kalau Anda perhatikan, buku ini sebenarnya hanyalah terdiri dari kumpulan beberapa bab, betul tidak?! Masing-masing bab berisi sebuah tulisan pendek yang panjangnya tidak jauh beda dengan panjang karangan yang saya dan Anda buat sewaktu sekolah dulu. Ya, paling-paling satu atau dua halaman kertas HVS atau folio. Bahkan bisa jadi dahulu Anda menulis lebih panjang dari itu. Seperti saya waktu SMP dulu. Kalau sedang pelajaran mengarang, guru saya waktu itu menyuruh untuk menulis sepanjang-panjangnya. Terutama waktu ujian.Tujuannya apa? Tentu saja agar mendapat nilai yang bagus.

Kemudian, saya juga diberi tips lain agar bisa dapat nilai bagus. Katanya, kalau ngarang, paragraf-paragraf awal dan akhir kalau bisa dibagusin. Sebab, katanya lagi, pemeriksa tidak akan mungkin membaca seluruh karangan, dari awal hingga akhir karena karangan siswa yang harus diperiksa jumlahnya puluhan. Paling-paling yang dibaca bagian awal dan akhirnya saja. Kalau bagus, kemungkinan akan mendapat nilai tinggi.

Oleh karena itu, waktu mengarang dulu, yang saya seriusin cuma bagian awal dan akhirnya saja. Adapun di bagian tengahnya terkadang saya “ngoceh” ngalor-ngidul. Yang penting saya bisa menulis sepanjang-panjangnya agar mendapat nilai bagus.(Tapi cara seperti ini tidak bisa diterapkan untuk menulis artikel jika tujuannya agar dimuat di media. Bisa-bisa tulisan kita nanti tidak akan pernah dimuat-muat. Sebab redaktur tentu akan membaca semuanya, dari awal hingga akhir. Kecuali jika kita sendiri yang jadi redakturnya).

***

Hakikat Sebuah Buku

Kembali ke awal pembicaraan. Jadi, sebuah buku (secara umum) pada hakikatnya hanyalah terdiri dari kumpulan tulisan pendek. Sedangkan tulisan pendek itu kalau kita bedah lagi hanyalah kumpulan paragraf atau alinea. Paragraf sendiri, hanyalah terdiri dari kumpulan kalimat. Sedangkan kalimat, hanyalah terdiri dari kumpulan kata. Adapun kata berasal dari gabungan huruf-huruf.

Jadi, kata Mas Edy Jaqeus, kalau kita bisa merangkai huruf menjadi kata, merangkai kata-kata menjadi kalimat, kemudian membuat kalimat-kalimat tersebut menjadi paragraf, lalu bisa merangkai sebuah paragraf menjadi sebuah tulisan, dan terakhir menulis beberapa artikel atau tulisan pendek, ya jadilah buku itu. Sederhana itulah! Makanya, jangan punya persepsi menulis buku itu sulit. Demikian kata Mas Edy.

Saya setuju dengan Mas Edy. Jangan punya persepsi menulis buku itu sulit! Sekali lagi, JANGAN PUNYA PERSEPSI MEMBUAT BUKU ITU SULIT! Sebab, buku hanyalah terdiri dari kumpulan tulisan pendek yang Anda sendiri tentu dengan mudah bisa membuatnya.

Maka, jangan melihat buku dari ketebalannya agar kita tidak merasa bahwa akitifitas menulis buku merupakan aktifitas yang begitu sulit dan melelahkan karena terbayang harus menulis berpuluh-puluh halaman bahkan sampai beratus-ratus halaman. Tapi, marilah kita lihat bab-bab yang ada dalam buku itu yang hanya berupa tulisan pendek saja. Kalau cuma segitu, kita pun dengan mudah tentu bisa membuatnya. Betul, tidak?! (Dengan intonasi suara mirip Aa Gym)

Kalau dalam sehari kita cuma bisa menulis satu-dua paragraf saja, tidak masalah. Tuliskan saja. Lama-kelamaan juga akan meningkat menjadi satu-dua halaman, bahkan sampai berlembar-lembar halaman. Kalau kita disiplin dan kontinu dalam menuliskannya, dalam waktu satu atau dua bulan, kita bisa menelorkan sebuah buku yang berisi kumpulan tulisan yang kita buat (cicil) selama ini. Isinya bisa saja berupa peristiwa yang kita alami sehari-hari yang mengandung hikmah (pelajaran berharga), agar bisa diambil sebagai pelajaran bagi orang lain yang membacanya. Atau kita pernah mendengar sebuah kisah bermanfaat dari orang, atau kita pernah membacanya dari sebuah buku, atau kita menemukan kata-kata mutiara dari buku yang kita baca, bisa saja kita tuliskan dan kumpulkan. Setelah jumlahnya cukup banyak, kita bisa menjadikannya sebagai sebuah buku. Beri saja judul buku kita “HARI-HARIKU” atau “PENGALAMANKU” atau judul apa saja terserah kita.

Saya pernah membaca sebuah buku kecil (ukuran saku) yang berjudul “Kiat Meraih Ketenangan Batin”. Buku ini adalah terjemahan dari buku karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, seorang ulama besar dari Saudi Arabia. Judul edisi bahasa Arabnya “Al-Wasa-ilul Mufiidah lil Hayaatis Sa’idah (Artinya: Berbagai Sarana yang Bermanfa’at untuk Meraih Kehidupan Bahagia)”. Ternyata dari 21 kiat yang ada dalam buku itu, beberapa kiat hanya terdiri dari satu paragraf saja. Misalnya kiat ketujuhbelas dan kesembilan belas. Sebagiannya lagi ada yang terdiri dari dua paragraf.

Sebagai bahan inspirasi, berikut ini saya kutipkan untuk Anda.

**********************************

KIAT MERAIH KETENANGAN BATIN

Kiat Ketujuhbelas:

Memikirkan Hal-hal yang Bermanfaat

Ketahuilah bahwa hidupmu mengikuti apa yang ada dalam pikiranmu. Jika pikiran-pikiran itu berisikan tentang perkara-perkara yang bermanfaat bagi agama dan duniamu, maka hidupmu adalah kehidupan yang baik dan bahagia. Jika tidak, maka sebaliknya.

Kiat Kesembilanbelas:

Menyibukkan Diri dengan Hal yang Bermanfaat

Jadikanlah hal-hal yang bermanfaat selalu berada di hadapanmu, dan beramallah untuk merealisasikannya. Janganlah engkau berpaling pada perkara-perkara yang membahayakan dan bersenang-senang dengannya, karena hal itu merupakan sebab yang dapat mengantarkan pada duka cita dan kesedihan. Maka minta tolonglah dengan ketenangan dan terpokusnya jiwa dalam melakukan amal-amal yang penting.

*******************

(Buku Kiat Meraih Ketenangan Batin. Beberapa kiat dalam buku ini hanya terdiri dari satu paragraf)

Membaca dua kutipan di atas, bagaimana pendapat Anda? Mudah sekali bukan menulis buku itu? Tinggal tulis beberapa kata hingga menjadi sebuah paragraf dan tulisan pendek, kemudian digabungkan menjadi satu. Maka jadilah sebuah buku. Jadi, menulis buku tidaklah sesulit yang dibayangkan. Menulis buku itu mudah. Yakinlah!

Saya juga sangat yakin, setiap kita pasti bisa menulis buku. Andrie Wongso saja yang gelarnya SDSTT (Sekolah Dasar Saja Tidak Tamat) bisa menulis buku. Udah gitu bestseller lagi. Apalagi Anda yang barangkali banyak diantara Anda yang bergelar sarjana. “Bohong besar” jika Anda mengaku tidak bisa menulis buku. Kalau memang tidak bisa, lalu skripsi Anda siapa yang nulis?

Maka tulislah meskipun cuma satu paragraf! Tapi ingat, tulislah sesuatu yang bermanfaat; untuk Anda dan untuk masyarakat sekitar Anda; untuk dunia Anda dan untuk akhirat Anda. Gimana, siap?!

(Dikutip dari buku saya yang berjudul ”Penulis Pemula Juga Bisa Nulis Buku”)

1 Response to "MEMBEDAH BUKU"

Numpang pesan, nemu halaman ini ketika tadi nyari dan mengingat-ingat cara ‘membedah buku’.
Terima kasih!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: