NYANYIAN PENA

MENGAPA SAYA MENULIS BUKU ?

Posted on: September 10, 2008

”Setelah belajar banyak tentang teori menulis dan dilanjutkan dengan mempraktekannya serta dengan terus mencoba mengirimkannya ke media, saya pernah punya pengalaman melakukan hattrick. Tiga artikel yang saya tulis dimuat tiga bulan berturut-turut di sebuah majalah, dan tiga artikel saya yang lain tiga bulan berturut-turut dimuat di sebuah koran nasional”.

***

Saya agak lupa, sejak kapan mulai menulis artikel untuk dikirim ke media. Seingat saya sejak duduk di bangku kuliah tingkat dua. Sekitar semester tiga atau semester empat. Yang jelas tingkat dua. Ya, tingkat dua. Sekitar segitulah.

Awal Ketertarikan

Awalnya saya melihat tulisan seorang kawan dimuat di sebuah koran nasional. Tulisannya tidak terlalu panjang, sekitar 300-350 kata (satu lembar A4, font 12 dengan spasi 1). Karena merasa bisa, saya jadi tertarik untuk ikutan menulis. Ketertarikan saya semakin bertambah setelah tahu bahwa untuk sekali muat, kawan saya katanya mendapat honor sebesar Rp. 50.000. Waktu itu, dengan uang segitu bisa dipakai buat makan di warteg untuk sekitar 30 porsi dengan menu sederhana (nasi plus sayur dan telur). Satu porsinya seharga Rp. 1.500.

Saya pun langsung take action. Saya gerakkan pena dan langsung menulis. Tanpa pake lama, jadilah sebuah tulisan di atas kertas. Setelah dipindahkan ke komputer dan di-print, tulisan itu langsung saya kirim lewat pos dalam amplop coklat seukuran kertas A-4 lebih dikit. Isinya berupa naskah tulisan, surat pengantar, biodata singkat, dan foto copy KTM (Kartu Tanda Mahasiswa).

Karena waktu itu saya belum pernah sedikitpun membaca tentang kiat-kiat menulis di media massa, saya menulis dengan “asal” saja. Yang penting jadi tulisan. Format tulisan seperti spasi, jenis font, margin, saya tentukan sekehendak saya. Selain mengirim tulisan ke koran, saya juga pernah mencoba untuk mengirim tulisan ke majalah.

Setelah lama menunggu, tak satupun tulisan saya yang dimuat, baik di koran maupun di majalah. Karena lelah menunggu, sementara tak satupun tulisan yang muncul, akhirnya saya putus asa. Saya pun tak lagi menulis untuk media. Namun, walaupun tidak menulis untuk media, saya masih tetap aktif menulis. Saya rutin menulis untuk bulletin kelas yang saya asuh. Kalau di bulletin, tulisan saya muncul terus. Sebab yang bikin bulletin adalah saya sendiri dengan dibantu beberapa orang kawan.

Lama juga saya tidak menulis untuk dikirim ke media, hingga berbulan-bulan lamanya. Namun, saat tingkat tiga (entah semester berapa), timbul lagi keinginan untuk menulis. Waktu itu, ada sebuah majalah remaja yang baru terbit. Di majalah baru itu terdapat rubrik “Tulisan Kamu”. Pihak redaksi menerima tulisan pembaca dengan tema yang telah ditentukan sebelumnya. Waktu itu tema yang ditentukan redaksi ialah “Hakikat Cinta”. Tulisan yang terpilih akan dimuat di dua edisi depan (dua bulan kedepan).

Saya pun langsung mencari referensi tentang tema itu. Tak berapa lama, jadilah sebuah tulisan yang saya beri judul “Hakikat Cinta”. Tulisan itupun kemudian saya kirim via email (Nitip kawan, karena waktu itu saya masih gaptek, nggak ngerti bagaimana cara bikin email). Selanjutnya, dengan harap-harap cemas, saya menunggu terbitnya majalah untuk dua edisi ke depan.

Dua bulan telah berlalu. Saya pun bergegas mencari majalah terbitan terbaru. Begitu dapat, langsung saya buka halaman tengah di mana rubrik “Tulisan Kamu” berada. Dan ternyata…….. BERHASiiiL!!! HOREEE….SAYA BERHASiiiL!!! Maksudnya berhasil DITOLAK. Tulisan saya tidak dimuat (Hiks, sedih rasanya).

Setelah saya baca-baca dan saya kaji kembali tulisan yang pernah saya buat, saya jadi maklum kenapa tulisan saya tidak dimuat. Sebab, untuk tulisan di rubrik yang saya tuju panjang tulisan yang dibutuhkan sekitar 700 kata. Sedangkan tulisan yang saya kirim mencapai 1000 kata lebih. Maka wajar saja jika tulisan saya tidak dimuat.

Lagi-lagi saya putus asa menulis untuk media. Lebih baik saya menulis untuk bulletin saya sendiri, bisik saya dalam hati. Sebab tidak akan mungkin ditolak. Anda tentu tahu kenapa? Yups, benar sekali! Karena sayalah redakturnya.

Beberapa tahun kemudian (sekitar 2-3 tahun) saya pun kembali berhenti menulis untuk media. Tapi saya tetap istiqomah menulis untuk bulletin yang saya dan kawan-kawan asuh.

Hingga suatu hari…

***

Buku yang Mencerahkan

Sekitar tahun 2003 (kalau tidak salah akhir bulan Mei), saya pergi ke daerah Senen, Jakarta Pusat. Tepatnya ke daerah Kwitang, tempat orang banyak berjualan buku. Ketika sedang melihat-lihat buku yang dijual di emperan, mata saya tertuju pada sebuah buku tentang kiat menulis. Judulnya “Kiat Menjadi Penulis Sukses” karya Abu Al-Ghifari. Buku itu berisikan tips-tips menulis artikel agar bisa dimuat. Selain itu juga mengajarkan tentang cara menulis buku, dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan dunia tulis menulis. Buku itu merupakan hasil pengalaman penulisnya selama berkecimpung di dunia kata. Karena isinya bagus –menurut saya- dan harganya pun tergolong murah, saya pun memutuskan untuk membelinya.

Setelah membaca buku itu, semangat saya untuk menulis di media bersemi kembali. Semenjak itu pula, saya jadi suka membaca dan mengoleksi buku-buku tentang kiat menulis yang ditulis oleh para penulis senior. Hampir setiap ada buku kiat menulis, jika gaya bahasanya saya suka dan harga bukunya cocok dengan isi kantong, saya langsung membelinya. Waktu itu, ada lima buku kiat menulis yang sudah saya miliki: Kiat Menjadi Penulis Sukses karya Abu Al-Ghifari, Berdakwah Lewat Tulisan karya Aef Kusnawan, Menulis Artikel Itu Gampang karya Nurudin, dan dua buku lagi karya Wilson Nadeak dan ASM. Romli, tapi saya lupa judulnya.

Di samping itu, saya juga rajin mengumpulkan artikel-artikel tentang kiat menulis yang ada di internet. Hampir setiap kali main ke warnet untuk suatu keperluan, saya sempatkan diri untuk mencari artikel seputar dunia tulis menulis. Artikel yang saya dapat kemudian saya download lalu diprint di kertas A4 dan saya bundel. Sehingga saya sekarang punya 2 buku seukuran A4 masing-masing setebal 500 lembar lebih yang isinya tentang hal-hal yang terkait dengan tulis menulis.

Dari buku-buku yang saya baca, tahulah saya bahwa menulis artikel untuk media tidak bisa asal-asalan. Ada tekniknya agar tulisan kita bisa dimuat. Misalnya, judul harus dibuat semenarik mungkin, kemudian buat lead/intro (paragraf pembuka) yang bikin orang penasaran untuk mau terus membaca tulisan kita hingga selesai. Isi tulisan pun harus dikemas dengan menggunakan bahasa yang enak dibaca, dst…dst…

Tanpa tunggu lama, saya coba untuk membuktikan keampuhan teori menulis yang telah saya dapat. Minggu-minggu awal, jadilah 3 buah artikel. Dua saya kirim ke majalah remaja El-Fata dan satunya lagi ke Majalah Islam Ar-Risalah. Kedua-duanya berada di Solo. Waktu itu saya masih tinggal di Bogor.

Rupanya teori yang saya dapat dari berbagai bacaan tentang kiat menulis benar-benar manjur. Dua dari tiga artikel yang saya kirim langsung dimuat. Semenjak itu, saya pun jadi semakin rajin menulis. Lahirlah kemudian dari tangan saya puluhan artikel. Dari puluhan artikel yang saya kirim, kadang ada yang dimuat, kadang ada juga yang ditolak. Tapi yang ditolak lebih banyak dari yang dimuat. Walaupun begitu, saya masih tetap semangat untuk menulis.

Terkait dengan penolakan naskah, saya pernah mendengar nasehat dari para penulis yang telah lebih dahulu malang melintang di dunia persilatan –eh salah- di dunia penulisan maksudnya. Kata mereka, jika ada tulisan kita yang ditolak, bukan berarti tulisan kita jelek. Bisa jadi ada tulisan lain yang lebih bagus sehingga tulisan kita kalah bersaing. Oleh karena itu, kata mereka, jangan sedih ketika tulisan tidak dimuat. Banyak-banyaklah belajar dan terus mencoba. Suatu saat kesuksesan akan menjadi milik kita, begitu kira-kira kata mereka.

Nasehat mereka lagi, kalau tulisan kita ada yang ditolak, jangan lantas dibuang ke tong sampah. Simpan saja. Atau kalau mau diperbaiki, ya diperbaiki, kemudian coba dikirim lagi. Atau kalau tidak, simpan saja dulu. Suatu saat akan bermanfaat.

Saya jadi teringat dengan seorang penulis senior yang saat ini sudah sukses di dunia merangkai kata. Suatu hari artikelnya ditolak oleh sebuah surat kabar. Namun kemudian, dari artikelnya yang ditolak itu, dia terinspirasi untuk menulis sebuah buku. Temanya sama dengan tema artikel yang dia tulis. Ternyata, setelah bukunya jadi, buku itupun laris manis di pasaran alias best seller.

Hattrick

Setelah belajar banyak tentang teori menulis dan dilanjutkan dengan mempraktekannya serta dengan terus mencoba mengirimkannya ke media, saya pernah punya pengalaman melakukan hattrick. Tiga artikel yang saya tulis dimuat tiga bulan berturut-turut di sebuah majalah, dan tiga artikel saya yang lain tiga bulan berturut-turut dimuat di sebuah koran nasional.

Bagi penulis senior, hal ini mungkin suatu hal yang biasa-biasa saja. Tidak ada istimewanya. Tapi bagi penulis pemula seperti saya, hal ini sungguh luar biasa. Semenjak itu, semangat saya untuk terus merajut kata menjadi kian berkobar-kobar.

***

Kenapa Menulis Buku?

Telah diceritakan di atas bahwa setelah saya membaca buku-buku tentang kiat menulis, saya jadi tercerahkan. Banyak manfaat yang saya dapat dari membaca buku-buku itu. Buktinya, dua artikel saya langsung dimuat setelah mempraktekkan ilmu yang telah saya dapat. Padahal sebelumnya, tidak satupun artikel saya yang dimuat.

Jadi, buku bisa memberi perubahan ke arah yang lebih baik. Tidak hanya untuk satu-dua orang, tapi bisa beribu-ribu bahkan berjuta-juta orang. Tidak hanya di satu negara, tapi bisa di banyak negara. Tidak hanya untuk satu masa tertentu, tapi bisa sepanjang massa.

Misalnya saja para ulama. Meskipun mereka telah wafat ratusan tahun yang lalu, namun karya-karya mereka masih tetap hidup dan berhasil mencerahkan jiwa jutaan orang di berbagai belahan bumi hingga saat ini. Nama mereka pun tetap harum dan dikenang orang. Padahal jasad mereka telah hilang ditelan bumi.

Oleh karena itu, jika ada yang bertanya kepada saya,”Kenapa menulis buku?” Jawab saya,” Agar saya bisa memberi manfaat yang sebesar-besarnya kepada masyarakat; agar saya menjadi orang yang berguna bagi orang lain; agar saya bisa mencerahkan orang lain”.

Itulah sebabnya mengapa saya menulis buku ini dan buku-buku lainnya. Semoga tidak disalahpahami.

(Dikutip dari buku saya “Penulis Pemula Juga Bisa Nulis Buku” yang sedang saya ajukan ke penerbit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: