NYANYIAN PENA

AGAR MENULIS MENJADI MUDAH

Posted on: September 10, 2008

“Sekarang, saya ingin bertanya kepada Anda: Mau atau tidak Anda menulis buku? Mau atau tidak Anda menyebarkan ilmu yang Anda miliki kepada orang lain? Kalau mau, segera ambil pena, kemudian menulislah!”

***

Hmm… Tahukah Anda, apa yang saat ini sedang saya fikirkan? Terus terang, saya sedang bingung. Kata-kata apa yang harus saya tuliskan agar Anda tertarik untuk terus membaca bab ini sampai selesai. Hmm… Writer’s block datang. (Hah! Apaan tuh writer’s block?!)

2 Tips Mudah Menulis

Barangkali ada di antara Anda yang protes begitu membaca buku ini. “ Jelas saja Anda (saya maksudnya) mengatakan menulis buku itu gampang. Sebab Anda sudah bisa menulis dan sudah sering menulis. Sedangkan kami, boro-boro nulis buku. Megang pulpen saja jarang. Gimana mau diharapkan nulis buku!!!”

Baiklah. Saya terima protes Anda dengan senang hati. Saya mengerti perasaan Anda. Saya juga dulu merasakan hal yang sama dengan Anda. Menulis buku begitu sulit dilakukan. Makanya di bab-bab awal saya memberikan permisalan bahwa menulis buku itu ibarat membuat kulit ketupat. Kalau kita belum bisa memang terasa sulit. Tapi, begitu kita mau mencoba dan terus belajar, membuat kulit ketupat ternyata terasa begitu mudah. Jadi intinya, sebagaimana telah saya singgung juga di bab sebelumnya, kalau kita mau bisa menulis, kita harus memiliki dua modal dasar, yaitu kemauan dan kesungguhan.

Sekarang, saya ingin bertanya kepada Anda: Mau atau tidak Anda menulis buku? Mau atau tidak Anda menyebarkan ilmu yang Anda miliki kepada orang lain? Kalau mau, segera ambil pena, kemudian menulislah!

Kenapa….!? Sulit!? Ya, itu sih biasa dan wajar. Namanya juga orang baru belajar. Coba Anda ingat kembali pengalaman Anda ketika pertama kali belajar naik sepeda. Awalnya terasa sulit, bukan?! Kadang nabrak pohon, kadang nyebur ke selokan, dan kadang “nyium” tiang listrik. Tapi setelah Anda berkali-kali mencoba dan terus mencoba, Anda pun akhirnya bisa mengendarai sepeda. Bahkan mungkin sekarang Anda bisa naik sepeda sambil lepas tangan (asal jangan naik sepeda sambil lepas pakaian saja. Ntar dikirain orang gila he…he..). Setelah itu Anda pun akan merasa bahwa naik sepeda itu mudah. Ya, nggak?!

Trus…mmm…langsung saja deh pada intinya. Di bab ini sebenarnya saya ingin memberikan tips kepada Anda, terutama bagi Anda yang masih merasa bahwa menulis itu susah.

Anda tentu senang ngobrol, khan? (Hayo, ngaku aja deh!) Nah, sekarang coba Anda ambil alat perekam, kemudian Anda minta orang lain mewawancarai Anda. Atau kalau tidak, Anda bisa mewawancarai diri Anda sendiri. Setelah itu, salin hasil rekaman Anda di atas kertas. Maka, jadilah sebuah tulisan. Gampang, khan?!

Agar lebih jelas, saya akan berikan contoh. Misalnya Anda seorang pedagang nasi goreng sukses. Kemudian Anda ingin berbagi pengalaman kepada banyak orang agar mereka pun bisa merasakan sukses seperti Anda. Maka, Anda bisa meminta kawan Anda untuk mewawancarai Anda dengan mengajukan beberapa pertanyaan berikut ini:

Sejak kapan Anda berjualan nasi goreng?

Kenapa bisa tertarik menjual nasi goreng?

Siapa yang mengajari Anda membuat nasi goreng?

Berapa modal awal yang Anda keluarkan untuk berjualan nasi goreng?

Persiapan apa saja yang pertama kali Anda lakukan sebelum memulai berjualan?

Di mana biasanya Anda membeli bahan-bahan untuk membuat nasi goreng?

Siapa yang biasanya meracik bumbu nasi goreng?

Beras seperti apa yang bagus untuk dibuat nasi goreng?

Bagaimana Anda memilih tempat berjualan yang strategis?

Apa…………?

Siapa…………..?

Di mana …………?

Kapan…………..?

Dengan siapa………?

Bagaimana…………….?

Mengapa …..?

Dst….dst…

Setelah wawancara selesai dilakukan, Anda bisa menyalin hasil wawancara di atas kertas. Maka, jadilah sebuah buku. Gimana, mudah sekali bukan?!

Namun, tahukah Anda, kenapa Anda bisa begitu mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas? Jelas, jawabnya adalah karena Anda paham terhadap hal-hal yang ditanyakan. Anda sudah mengetahui segala hal yang berkaitan dengan bisnis yang Anda jalani selama ini, yaitu jualan nasi goreng.

Berbeda halnya jika pertanyaan-pertanyaan di atas diajukan kepada tukang mie ayam yang tidak pernah sekalipun jualan nasi goreng. Tentu dia akan geleng-geleng kepala sambil berucap kepada orang yang mewawancaraninya,”Kayaknya Anda salah orang deh!”

Nah, dari sini ada pelajaran penting yang bisa kita ambil terkait dengan kegiatan tulis menulis. Agar menulis menjadi mudah, tulislah sesuatu yang Anda ketahui ilmunya. Sekali lagi (biar jelas): TULISLAH SESUATU YANG ANDA KETAHUI ILMUNYA. Atau dengan kata lain; MENULISLAH DENGAN ILMU! Jangan menuliskan sesuatu yang Anda tidak mengetahui ilmunya. Hal ini semakna dengan tips ke-4 dari Bambang Trim di bab sebelumnya,” Jangan menulis sesuatu yang tidak dikuasai”.

Jika Anda seorang sarjana pertanian, agar menulis menjadi mudah, tulislah sesuatu yang ada hubungannya dengan petanian, jangan menulis tentang kedokteran. Walaupun bisa saja Anda menulis tentang kedokteran (misalnya dengan melakukan studi pustaka), tapi akan lebih mudah jika Anda menulis tentang pertanian, karena Anda lebih mengetahui dan menguasai ilmunya.

Kemudian, kalau Anda merasa susah menumpahkan ilmu yang Anda miliki lewat pena, Anda bisa menggunakan tenik wawancara sebagaimana yang telah saya contohkan di atas. Atau, Anda bisa juga mencontoh wawancara antara Edy Zaqeus dengan Eni Kusuma di bab sebelumnya.

Kesimpulan

Kesimpulannya, ada dua tips agar menulis bisa dengan mudah dilakukan. Pertama, gunakanlah teknik wawancara jika merasa sulit untuk menuliskan kata-kata. Mintalah orang lain untuk mewawancarai Anda. Misalnya keluarga Anda, kerabat Anda, tetangga Anda, teman Anda, atau siapa saja yang bisa dimintai tolong. Atau, kalau tidak ada yang bisa dimintai tolong, Anda juga bisa mewawancarai diri Anda sendiri. Anda tinggal menyiapkan pertanyaan-pertanyaan yang akan Anda ajukan, kemudian Anda jawab sendiri pertanyaan Anda sambil direkam. Setelah itu hasil rekamannya Anda salin ke dalam tulisan, lalu Anda susun menjadi buku.

Selain mewawancarai diri Anda sendiri, Anda juga bisa mewawancarai orang lain yang menurut Anda punya pengalaman berharga yang bisa diambil pelajaran oleh orang lain. Misalnya Anda punya banyak kenalan orang-orang sukses (seperti tukang bakso sukses, tukang somay sukses, tukang jamu gendong sukses, tukang becak sukses, tukang bangunan sukses, tukang ojek sukses, pemulung sukses, pembantu sukses, supir angkot sukses, tukang gorengan sukses, tukang es cendol sukses, tukang …… sukses, tukang ……. sukses, dll.) Anda bisa mewawancarai mereka. Kemudian hasil wawancara itu Anda bukukan. Anda bisa mencontoh buku Mas Edy Zaqeus yang berjudul “Kalau Mau Kaya Ngapai Sekolah”. Buku ini berisi kumpulan hasil wawancara Mas Edy dengan orang-orang sukses.

(Tips) Kedua, tulislah sesuatu yang diketahui ilmunya. Menulislah dengan landasan ilmu. Tulislah sesuatu yang memang kita telah menguasai dan memahaminya. Dalam hal ini, ada baiknya kita mendengarkan masukan dari Mbak JK. Rowling, penulis buku best seller internasional Harry Potter. Dia pernah ngomong begini,” Mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kau ketahui. Tulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri. Itulah yang saya lakukan.”

Perlu Anda ketahui, saya bisa menulis 7 buku dalam waktu 6 bulan dikarenakan saya telah terlebih dahulu memahami apa yang hendak saya tulis. Buku-buku yang saya tulis merupakan sari pati ilmu dari puluhan referensi (buku, majalah, artikel dll.) yang telah saya baca selama ini. Dan, saya bisa menulis buku yang sedang Anda baca ini dengan mudah (sekitar 2-3 mingguan) dikarenakan isinya berupa hal-hal yang dekat dengan diri saya, yaitu pengalaman saya selama berkecimpung di dunia tulis menulis. Jadi, saya tinggal mengingat-ingat kembali tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini terkait dengan kegiatan menulis buku. Maka, wajar saja jika buku ini bisa saya selesaikan dengan mudah.

Tapi kita juga harus ingat. Selain harus menulis dengan ilmu, kita pun harus menulis dengan cinta. Jadi, menulislah dengan ilmu dan cinta. Tahukah Anda, kenapa kita juga harus menulis dengan cinta? Temukan jawabannya di dua bab setelah ini.

Sebelumnya, saya ingin terlebih dahulu membahas tentang “Writer’s Block (WB)”. Sebab, WB kerap kali datang mengganggu seorang penulis ketika hendak menggerakkan pena. Tanda-tanda kedatangannya bisa dilihat pada diri seorang penulis. Di antara tanda seorang penulis kerasukan WB, dia cuma bisa duduk bengong tanpa bisa menuliskan sepatah katapun. Padahal bisa jadi ide di kepalanya sangat melimpah. Tapi, keran kata-kata begitu sulit terbuka alias macet.

Anda pingin tahu khan, apa itu WB dan bagaimana cara mengusirnya? Ya udah kalau begitu. Langsung aja…

(Dikutip dari buku saya “Penulis Pemula Juga Bisa Nulis Buku” yang sedang saya tawarkan ke penerbit)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: