NYANYIAN PENA

FIKIH DEMONSTRASI

Posted on: Juni 13, 2008

Jum’at pagi tanggal 6 Juni 2008 sekitar jam 8-an, saya pergi ke warnet. Biasanya kalau di warnet kegiatan saya nggak jauh-jauh dari ngecek email. Kali-kali aja ada email penting yang masuk. Ada 3 email yang biasa saya cek, 2 di gmail dan satunya lagi di yahoo.

Sambil ngecek email, saya buka-buka juga yang lain. Waktu itu, salah satu situs yang saya buka adalah situs Koran Republika (republika.co.id). Setelah situs terbuka, saya klik rubrik opini. Kemudian keluarlah sebuah tulisan berjudul: Fikih Demonstrasi yang ditulis oleh Nur Faizin Muhith.

Karena tertarik dengan tulisan ini, saya pun kemudian mem-print out-nya untuk nantinya saya baca di rumah. Pengennya sih baca langsung di warnet. Tapi takut kelamaan. Ntar biaya ngenetnya jadi mahal, sementara uang yang ada dikantong takut tidak mencukupi buat bayar ngenet. Setelah keperluan di warnet selesai, sayapun pulang dengan membawa 2 lembar hasil prin-prinan.

Ternyata, setelah artikel itu saya baca, saya menemukan beberapa kejanggalan. Di artikel itu tertulis bahwa Islam membolehkan demo selama tidak keluar dari Alquran dan Hadis. Tapi dalil yang dibawakan nggak nyambung dengan definisi demo yang dikemukakan penulis. Jadinya, kesimpulan ini masih perlu dikaji ulang. Benarkah Islam membolehkan demo secara mutlak selama tidak menyimpang dari Alquran dan Hadis? Kalau ya, mana dalilnya? Sebab, dalil yang dibawakan penulis menurut saya tidak tepat untuk dijadikan sebagai dasar pijakan (hujjah). Saya pun kemudian tertarik untuk menulis tanggapan.

Awalnya saya ragu, ditulis apa nggak ya? Saya nggak yakin tulisan saya bakalan dimuat. Sebab, yang saya tanggapi adalah seorang ” Mahasiswa Pascasarjana Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, dan Calon Mufti di Darul Ifta’ Mesir.”, sementara saya ini siapa? Gelar saya cuma ”MSl. (Baca: Muslim). Mungkinkah saya yang bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa menanggapi seorang ”Mahasiswa Pasca Sarjana ….. ? Ditambah lagi, hampir semua masyarakat setuju dengan demo. Berarti saya menentang arus. Apa nantinya nggak menimbulkan fitnah?

Setelah saya pikir-pikir, akhirnya tanggapan itu saya tulis juga. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan untuk memberi nasehat kepada kaum Muslimin agar mereka kritis dalam menilai sesuatu. Jadi, jika dalam kehidupan sehari-hari mendapati sebuah perndapat, apalagi masalah agama, jangan buru-buru menerimanya. Hendaknya dikaji lebih mendalam. Baru kemudian, jika diyakini pendapat itu benar, maka baru boleh diambil.

Kemudian, lewat tanggapan ini, saya pun ingin mengajak teman-teman yang setuju demo untuk menghormati orang lain yang tidak setuju demo. Sebab mereka punya hujjah, sebagaimana kalian juga punya hujjah. Yang penting masing-masing kita punya hujjah yang bisa dipertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak. Sehingga, jika ada kelompok yang setuju demo mengajak orang lain untuk bergabung, kemudian orang itu menolaknya, jangan langsung divonis ”Wah, nggak solider! Wah, nggak peduli nasib ummat dll”. Dan, hendaknya kita tidak anti untuk mendengar masukan dari pihak lain yang memiliki pendapat berbeda. Kita pun harus saling menghormati.

Sebagaimana para sahabat Rasul dahulu. Mereka pernah berbeda pendapat. Namun perbedaan pendapat mereka tidak membuat hubungan mereka retak. Mereka tetap hidup harmonis meski perbedaan pendapat ada di antara mereka.

***

Setelah mencari referensi dari sana-sini, dan dilanjutkan menuliskannya di komputer, maka jadilah sebuah tulisan sederhana. Judulnya: Demonstrasi Dalam Islam (Tanggapan untuk Nur Faizin Muhith).

Pada sore hari Minggu (8/6) ba’da shalat Ashar, tulisan itupun langsung saya kirim ke alamat redaksi koran Republika lewat email (sekretariat@republika.co.id). Tapi, karena saya kurang yakin tulisan saya ini bakalan dimuat, maka disurat pengantar saya tulis begini:” Besar harapan saya pihak redaksi berkenan untuk memuat artikel ini. Namun, jika belum layak muat, saya sangat berterima kasih seandainya pihak redaksi berkenan menyampaikan tanggapan saya kepada saudara Nur Faizin Muhith. Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih.”

Inilah tulisan yang saya kirim. Selamat membaca dan mengkritisi. Kalau ada yang tidak sesuai di hati silakan ditanggapi. Dengan senang hati saya akan menerimanya.

Sebelum membaca, agar tidak timbul prasangka yang nggak-nggak, saya ingin menegaskan, bahwa DENGAN MENULIS TANGGAPAN INI BUKAN MAKSUD SAYA UNTUK MENJELEK-JELEKKAN TEMEN-TEMEN YANG SENANG DEMO. SEKALI LAGI, BUKAN ITU MAKSUD SAYA. Silakan saja Anda berdemo jika Anda meyakini itulah yang benar. Tapi kita harus selalu ingat bahwa di akhirat nanti kita akan berdiri di hadapan Allah untuk mempertanggungjawabkan semua amal yang pernah kita lakukan selama hidup di dunia. Sudahkan Anda mempersiapkan diri dengan hujjah yang mantap? Jika belum, coba dikaji kembali tentang hukum demo yang Anda lakukan. Semoga kita semua ditunjuki Allah ke jalan yang lurus.

***

Demonstrasi Dalam Islam

(Tanggapan untuk Nur Faizin Muhith)

Tulisan Nur Faizin Muhith (NFM) yang berjudul “Fikih Demonstrasi” (Republika, 06 Juni 2008) menarik untuk ditanggapi. Dalam tulisannya NFM membawakan sejumlah dalil yang dijadikan hujjah bolehnya demonstrasi. Namun, dalil-dalil tersebut tidak tepat untuk dijadikan alasan bolehnya demonstrasi dengan pengertian seperti yang dikemukakannya. NFM telah keliru dalam menggunakan dalil (istidlal). Maka, kesimpulan bahwa Islam membolehkan demonstrasi sepanjang tak keluar dari koridor Alquran dan Hadis (seperti yang tertulis pada bagian ikhtisar) perlu ditinjau kembali.

Kalau kita perhatikan, demonstrasi yang terjadi sehari-hari di sekitar kita umumnya adalah aksi sekelompok masyarakat (rakyat) dalam mengritik dan memrotes kebijakan pemerintah. Dalam Islam, perbuatan ini jelas-jelas dilarang. Sebab, Rasulullah SAW bersabda,”Barangsiapa yang ingin menasihati penguasa, janganlah melakukannya terang-terangan. Namun, hendaklah dia menasihatinya secara sembunyi-sembunyi. Jika (nasihat) diterima, maka itulah yang diharapkan. Namun, jika tidak diterima, maka dia (si pemberi nasihat) telah menunaikan kewajibannya.” (HR Imam Ahmad dalam Al-Musnad, vol: 3, halaman: 403-404, no: 15.369; Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah, dll.)

Hadits ini secara gamblang melarang kita untuk meluruskan kekeliruan pemerintah secara terang-terangan (di hadapan khalayak ramai). Terkait hal ini, Imam Asy-Syaukani berkata,”Orang yang melihat kesalahan seorang pemimpin dalam beberapa masalah, maka hendaklah dia memberikan nasihat kepadanya dengan cara tidak menampakkan kejelekannya di depannya dan di depan khalayak ramai.” (Imam Asy-Syaukani: kitab As-Sail Al-Jarrar, vol: 4, halaman:556)

Kemudian, tidak pernah pula kita dapati para sahabat Rasul melakukan perbuatan seperti ini. Pernah suatu ketika sekelompok orang mendatangi Usamah bin Zaid ra. Mereka meminta beliau untuk menasihati Utsman bin Affan ra (selaku khalifah pada waktu itu). Beliau pun menjawab,”Apakah setiap yang aku katakan harus aku perdengarkan kepada kalian!? Adapun aku –demi Allah- tidak ingin membuka pintu fitnah (kerusakan). Sesungguhnya aku telah menasihatinya secara sembunyi-sembunyi.” (Lihat Shahih Muslim, Vol: 4, halaman: 2990, no: 2989; Shahih Bukhari, vol: 4, halaman: 108, no: 3267)

Bukti sejarah

Sejarah telah membuktikan dampak buruk perbuatan mengkritik pemerintah di depan umum. Di zaman kekhalifahan Utsman bin Affan ra, ketika masyarakat yang diprovokasi kelompok Khawarij (kelompok sesat pertama dalam tubuh ummat Islam) melakukan kritik dan protes terhadap pemerintahan Utsman secara terang-terangan, maka berkecamuklah api kekacauan di tengah-tengah masyarakat. Pertumpahan darah dan kerusakan terjadi di mana-mana.

Demikian pula sengketa yang terjadi antara Ali dan Muawiyah, terbunuhnya Utsman bin Affan lalu disusul Ali bin Abi Thalib ra, serta terbunuhnya para sahabat Rasul dalam jumlah banyak. Semua peristiwa itu terjadi sebagai akibat masyarakat (rakyat) mengingkari kesalahan pemerintah dan menyebutkan segala kekurangan mereka di hadapan umum. (baca kisah detailnya di kitab Al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir)

Kelemahan dalil

Terkadang orang yang membolehkan mengritik pemerintah di depan umum berhujjah dengan hadits Rasulullah SAW. Sayangnya, hujjah mereka lemah dari dua sisi. Pertama, dalil yang mereka kemukakan tidak valid (shahih). Kedua, mereka keliru dalam ber-istidlal.

Dalil yang sering dipakai, di antaranya seperti yang dibawakan NFM dalam tulisannya ini, yaitu peristiwa masuk Islamnya Umar bin Khattab ra yang saat itu semua sahabat berkumpul dan membentuk dua barisan, satu dipimpin Umar bin Khattab dan satu lagi dipimpin Hamzah bin Abdul Muththalib. Mereka kemudian berjalan rapi menuju Kabah di Masjidil Haram dan orang-orang kafir Quraisy menyaksikannya.

Kisah ini lemah (dha’if). Sebab, dalam sanadnya terdapat seorang yang bernama Ishaq bin Abdullah bin Abi Farwah. Imam An-Nasa’i berkata:”Dia seorang yang matruk (orang yang ditinggalkan haditsnya).” Imam Al-Bukhari berkata,”Para ulama meninggalkannya”. Imam Baihaqi berkata,”Dia matruk”. (lihat kitab: Adh-Dhu’afa wal Matrukin oleh An-Nasa’i, no. 50; Adh-Dhu’afa Al-Kabir oleh Al-Bukhari, no. 20; Adh-Dhu’afa wal Matrukin oleh Al-Baihaqi, no. 94, dll.)

Kemudian, kalaupun kisah ini valid, namun tidak tepat jika digunakan sebagai dalil bolehnya mengritik pemerintah di depan umum. Begitupun dengan kisah-kisah lainnya yang dibawakan NFM. Sebab, pada kisah-kisah itu, Rasulullah dan para sahabatnya tidak sedang melakukan kritik atau protes terhadap pemerintah. Yang mereka lakukan pada waktu itu adalah unjuk kekuatan di hadapan orang-orang kafir (idzharul quwwah). Dan inilah yang dibolehkan dalam Islam. Adapun mengritik pemerintah di depan umum telah jelas dalil larangannya sebagaimana telah saya sebutkan di atas. Jadi, tidak semua bentuk demonstrasi (baca: pengerahan massa) dibolehkan dalam Islam. Harus dilihat terlebih dahulu tujuannya.

Ada juga yang berdalil dengan hadits,”Seutama-utama jihad adalah perkataan yang hak (benar) di hadapan penguasa yang jahat/zalim.” (HR. An-Nasa’i dan Ibnu Majah). Namun, hadits ini pun tidak bisa dijadikan hujjah. Sebab, dalam hadits ini Rasulullah SAW mengatakan “di hadapan”. Jadi, kritikan/nasihat harus disampaikan langsung di hadapan penguasa. Dan, cara menyampaikannya telah dijelaskan dalam hadits lain yang menyuruh untuk tidak dilakukan secara terang-terangan.

Jika pemerintah zalim

Umumnya para pelaku demo beralasan bahwa pemerintah telah berbuat zalim, sehingga tidak bisa dibiarkan dan harus ditentang. Salah satu caranya yaitu dengan melancarkan aksi kritik dan protes di depan umum. Harapannya, pemerintah mau sadar dan menghentikan kezalimannya.

Memang, kalau hawa nafsu dan perasaan yang jadi ukuran kebenaran, perbuatan seperti ini sah-sah saja dilakukan. Kezaliman pantas untuk dibalas dengan kezaliman. Namun, Islam tidak dibangun di atas hawa nafsu dan perasaan. Ukuran kebenaran dalam Islam adalah dalil (Alquran dan Hadis).

Dalam hadis, ketika Rasulullah SAW ditanya tentang cara menyikapi pemerintah yang tidak menunaikan hak rakyatnya dan hanya mementingkan diri sendiri (zalim), beliau menjawab,”Tunaikanlah kewajiban kalian (menaati pemerintah pada perkara yang bukan maksiat), dan mintalah hak kalian kepada Allah.”(HR Muslim, no: 1843). Beliau SAW juga pernah bersabda,”Hendaklah kalian mendengar dan menaati pemimpin kalian, walaupun punggung kalian dipukul dan harta kalian dirampas.”(HR Muslim, no: 1847)

Kemudian, sezalim-zalimnya pemerintah kita, masih kalah zalim dengan Firaun yang mengaku dirinya sebagai tuhan (QS An-Naazi’at:24) dan telah banyak menumpahkan darah (QS. Al-Qoshos: 4). Walaupun kezaliman dan kerusakan Fir’aun sangat melampaui batas, namun Allah SWT tetap memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun agar mendatangi langsung Firaun dan menasihatinya secara lembut dan sopan (QS. Thoha:43 – 44).

Cara terbaik

Maka, cara terbaik dalam menyikapi kekeliruan dan kezaliman pemerintah ialah dengan mengikuti petunjuk Allah SWT dan Rasul-Nya. Pertama, kita nasihati langsung dengan lemah-lembut dan secara sembunyi-sembunyi. Jika tidak bisa secara langsung, kita gunakan cara lain yang mubah seperti lewat surat, telpon, atau melalui orang terdekat yang suaranya kemungkinan akan didengar. Jika segala cara yang ditempuh tidak berhasil, hendaknya kita ingat firman Allah,”Allah tidak membebani seseorang kecuali dengan kesanggupannya.”(QS Al-Baqarah: 286)

Kedua, hendaknya kita bersabar. Rasulullah SAW bersabda,”Barangsiapa melihat sesuatu yang ia benci dari pemimpinnya, hendaknya dia bersabar.” (HR Muslim, no. 1849). Kita tetap penuhi kewajiban kita terhadap pemerintah, yaitu menaatinya pada perkara yang bukan maksiat (QS An-Nisa: 59), dan kita minta hak kita kepada Allah SWT.

Terakhir, hendaknya kita doakan kebaikan untuk pemerintah. Semoga pemerintah kita mau bertobat dan berbuat baik (adil) kepada rakyatnya. Fudhail bin Iyadh berkata,”Seandainya saya memiliki doa yang mustajab, maka saya akan doakan kebaikan bagi pemimpin. Sebab, kebaikan pemimpin akan berdampak bagi kebaikan rakyat. Jika rakyat baik, maka negara akan aman sentausa.” (Imam Ibnu Katsir: kitab Al-Bidayah wan Nihayah, vol: 10, halaman: 199) . Imam Ahmad bin Hambal juga pernah berkata,”Sungguh saya akan mendoakan kebaikan, taufiq dan pertolongan bagi pemerintah setiap pagi dan malam. Dan saya menganggap bahwa mendoakannya adalah kewajiban atasku.”(Al-Khollal: kitab As-Sunnah, vol: 1, halaman: 83). Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: