NYANYIAN PENA

Tentang “IM” dan “HT”

Posted on: Juni 4, 2008

Hayo, kena lho gua kerjain! Anda pasti nyangkanya tulisan ini bakalan ngomongin tentang dua kelompok pergerakan Islam ini, khan ?! Ngaku aja deh. Nah, begitu khan enak he..he..he..

Tapi, maaf nih sebelumnya ya. Bukan maksud saya ingin menipu Anda. Saya beri judul demikian karena saya sedang mempraktikkan Ilmu Menulis (IM) yang telah saya pelajari selama ini (Yah, ketahuan deh maksud kata-kata ”IM”. Kalo HT apa ayo?!). Teutama tentang cara membuat judul yang menarik.

Katanya nih, judul itu harus dimuat semenarik mungkin. Tujuannya biar orang (pembaca) tertarik pada pandangan pertama. Kalau judul buku dibuat menarik salah satu tujuannya biar konsumen (pengunjung toko buku) tertarik untuk mengambil buku dari rak buku yang ada di toko buku, seraya berkata dalam hati,”Apaan sih isinya?”. Nah, inilah tujuan utama dibuatnya judul yang menarik. Kira-kira, kalau menurut Anda, judul yang saya buat di atas menarik nggak sih?

Dalam tulisan ini, saya ingin membicarakan dua hal sekaligus. Yang pertama tentang IM, singkatan dari Ilmu Menulis. Yang kedua tentang HT, singkatan dari Harga Tulisan. Gimana, Anda tertarik? Kalau ya, lanjutin aja bacanya. Kalau nggak, ya…nggak ada salahnya khan untuk terus membaca. Daripada baca yang nggak-nggak. Tul ngak?! (Ce ileh, maksa banget ya…)

***

Pentingnya ”IM”

Saya agak lupa, sejak kapan saya mulai menulis artikel untuk dikirim ke media. Kalau nggak salah sih sekitar tahun 1999. Atau mungkin sekitar tahun 2000-an. Ya pokoknya sekitar itu lah. Waktu itu saya tertarik nulis karena melihat ada seorang kawan yang tulisannya dimuat di sebuah koran nasional. Katanya dia dapet duit (honor) sebesar 50 ribu dari hasil tulisannya itu. Wah lumayan, kata saya. Uang 50 ribu waktu itu bisa buat makan nasi 30-an porsi dengan lauk telor, sayur dan tempe orek. Satu porsi makan dengan lauk begituan sekitar 1500,-. Apalagi kalau saya lihat, tulisannya gak terlalu panjang. Sekitar 300-an kata.

Iseng-iseng saya coba nulis. Waktu itu saya belum pernah baca buku tentang ilmu menulis (kiat menulis). Jadi saya menulis layaknya orang-orang pada umumnya menulis. Yang penting jadi tulisan seukuran dengan tulisan yang sudah-sudah yang pernah dimuat di koran yang akan saya kirimi tulisan saya. Setelah jadi saya pun langsung mengirimnya lewat pos. Kalo nggak salah, saya cuma nyantumin satu lembar tulisan plus foto copy KTP. Kemudian saya pun menanti dengan harap-harap cemas.

Setelah sekian lama menanti, akhirnya tulisan saya berhasil nyemplung ke sumur redaksi alias nggak dimuat. Begitupun dengan tulisan saya yang lain yang saya kirim ke media lainnya. Saya pun akhirnya berhenti nulis untuk dikirim ke media. Ngapain nulis kalo nggak dimuat-muat. Apalagi ongkos yang saya keluarkan lumayan gede buat ukuran mahasiswa yang setiap bulannya masih ngandelin duit dari ortu. Anda bisa hitung sendiri, untuk bikin sebuah tulisan harus keluar uang buat ngerental komputer, ngeprint, beli amplop, foto copy, perangko dll.

Sebenarnya, pernah juga tulisan saya dimuat. Namun bukan dikoran. Melainkan di bulletin kelas yang saya asuh. Kalo ini sih dimuat terus. Soalnya saya yang bikin bulletinnya. Jadi nggak bakalan ada yang nolak.

Pernah juga saya tertarik untuk ngikutin lomba menulis artikel yang diadain masjid kampus. Temanya tentang ”masjid”. Tapi, lagi-lagi saya mendapatkan kegagalan. Kayaknya sih karena tulisan saya yang ”garing” (emangnya kerupuk, garing).

Hingga suatu hari, sekitar tahun 2003, saya pergi ke Pasar Senen di Jakarta. Rencananya waktu itu saya ingin mesen tiket ke Surabaya dalam rangka mengikuti pelatihan Bahasa Arab tingkat lanjutan selama sebulan full. Sehabis dari stasiun, sebelum pulang ke Bogor, saya mampir dulu di tempat penjualan buku-buku yang ada di daerah Kwitang.

Ketika sedang melihat-lihat buku di sana, mata saya tertuju pada sebuah buku. Buku itu berisikan tentang kiat-kiat menjadi penulis sukses. Dibahas di dalamnya tentang cara membuat artikel yang baik agar bisa dimuat di media, serta berbagai hal yang terkait dengan dunia tulis menulis. Saya pun tertarik untuk membelinya.

Setelah membaca buku itu saya baru tahu kalau menulis (untuk media) itu ternyata ada ”ilmunya”. Nggak bisa sembarangan. Saya juga baru tahu apa itu lead, bagaimana bikin lead yang menarik, bagaimana membuat judul yang menarik, bagaimana mengirim tulisan ke media, dst…dst…

Berbekal IM yang baru saya dapat, langsung saya coba untuk membuat sebuah tulisan. Saya coba praktikan teori yang ada dalam buku itu. Setelah beberapa tulisan berhasil saya garap, langsung saya kirimkan. Waktu itu saya biasa mengirimnya lewat pos. Saya belum terbiasa mengirim lewat email (terus-terang, saya ini orangnya gaptek. Baru sekarang-sekarang ini aja saya rajin ke warnet). Dan kemudian, dua tulisan saya dimuat di dua majalah yang berbeda. Yang pertama artikel pertama saya yang saya kirim ke majalah itu dan langsung dimuat. Sedangkan yang kedua, kalo nggak salah, artikel ketiga saya yang saya kirim ke majalah itu.

Dari sini, ada satu pelajaran penting yang bisa saya ambil. Bagi seorang penulis pemula, kalo kita ingin tulisan kita dimuat di media, hendaknya kita baca paling nggak satu buku tentang teori penulisan dari orang yang udah berpengalaman. Lebih bagus lagi jika kita bisa konsultasi langsung dengan orang yang nulis. Atau bisa juga kita baca dari artikel tentang kiat menulis yang banyak bertebaran di internet. Insya Alloh banyak hal yang akan kita dapati di sana.

Intinya ”IM” itu penting lho! Jadi, jangan sekali-kali mengabaikan ”IM”. Gimana, Anda setuju?!

H Sebuah T

Berapa ”Harga Sebuah Tulisan” jika kita ”menjualnya” ke media? Ya, tentu saja beda-beda. Tergantung di rubrik dan ke media apa kita menjualnya.

Misalnya, saya pernah dapat honor 50 ribu dari sebuah majalah untuk tulisan sebanyak 700 kata. Pernah juga tulisan saya dibayar dengan uang sebesar 20 ribu plus bundel majalah untuk 6 edisi. Pernah juga dapat 150 ribu (tapi potong pajak 15%) dari sebuah koran daerah Jawa Barat.

Ada juga teman yang dapat 700 ribu sekali tulisannya dimuat. Dan, ada juga teman satu kos yang dapet 150 ribu dari hasil menulis puisi di koran nasional. Jadi harga tulisan itu bervariasi. Ada juga tulisan saya sebanyak 300 kata dibayar dengan buku seharga 20 ribuan. Dan ada juga tulisan saya yang dibayar dengan kaos seharga 25 ribuan. Jadi memang beda-beda.

Tapi yang penting, usahakanlah untuk menulis dalam rangka mencari pahala. Agar ketika honor yang kita dapat kecil (tidak sesuai harapan) atau bahkan tidak dihonor, kita tidak kecewa. Sebab, kita yakin, ”honor” dari Alloh jauh lebih baik dibanding uang sebesar apapun. Dan Allah pasti akan memberi kebahagiaan kepada orang-orang yang ikhlas dengan balasan yang lebih baik di dunia dan di akhirat. Inilah yang harus kita yakini dengan benar. Oleh karena itu, menulislah dengan ikhlas. Jadikanlah tulisan sebagai sarana untuk meraih ridha Allah (pahala). Gimana, setuju?

Eh, ngomong-ngomong, Anda pernah dapet honor berapa dari hasil menulis selama ini?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: