NYANYIAN PENA

MENYIKAPI ALIRAN SESAT

Posted on: Mei 30, 2008

(Catatan dan Tambahan untuk Dr Syamsuddin Arif)

Secara umum saya sependapat dengan paparan Dr Syamsuddin Arif (SA) dalam tulisannya ”Solusi Masalah Ahmadiyah” (Republika, 26 Mei 2008). Hanya saja, ketika beliau membantah dalih (ketiga) yang biasa dikemukakan Jemaat Ahmadiyah, bahwa kaum Muslim harus mengedepankan kasih sayang daripada kekerasan dalam menyikapi Ahmadiyah, ada yang perlu diberi catatan di sini.

Pada paragraf 11, SA menulis:” Ketiga, dalih bahwa kaum Muslim harus mengedepankan kasih sayang daripada kekerasan dalam menyikapi Ahmadiyah. “Abu Bakr as-Shiddiq ra adalah orang yang paling penyayang di kalangan umatku (arhamu ummati),” sabda Rasulullah SAW. Namun manakala muncul sekelompok orang yang durhaka kepada Allah dan Rasulullah, beliau tidak segan-segan mengambil tindakan tegas atas mereka.” Pada paragraf selanjutnya, SA juga menulis:” Oleh karena itu, Rasulullah SAW sebagai kepala negara bersikap tegas kepada para nabi palsu semacam Musaylamah dan Thulayhah: bertobat atau diperangi (Lihat: Imam al-Mawardi, al-Hawi al-Kabir, 13:109).”

Secara sepintas, apa yang diungkapkan SA ini ”seolah-olah” menunjukkan bahwa Islam melegalkan tindakan anarkhis dan teror yang dilakukan oleh sebagian oknum masyarakat terhadap Jemaat Ahmadiyah di sebagian tempat beberapa waktu belakangan ini. Padahal kita sudah sama-sama tahu bahwa Islam sangat mengecam keras tindakan itu. Sebab, Islam adalah agama kedamaian untuk seluruh alam (rahmatan lil ’alamin). Jadi, tidak akan mungkin Islam membenarkan tindakan tak terpuji itu, apapun alasannya. Ketika berperang saja Islam melarang melakukan pengrusakan, seperti menebang pohon dan merusak tempat-tempat ibadah. Apalagi ketika tidak berperang.

Oleh karena itu, agar tidak disalahpahami, perlu kiranya tulisan SA ini saya beri sedikit catatan bahwa: ” Memang benar Rasulullah dan para sahabatnya sangat tegas dalam menyikapi kelompok pembangkang yang ada di zaman mereka. Tapi perlu diingat, dalam melakukan tindakan, mereka tidak main hakim sendiri. Melainkan mereka serahkan kepada penguasa (pemerintah). Selanjutnya, pemerintahlah yang kemudian mengambil tindakan. Jadi bukan masing-masing orang bebas bertindak.”

Cara tepat

Sebenarnya, Islam telah memberikan solusi yang tepat dalam menyikapi aliran dan kelompok sesat yang ada dalam tubuh ummat. Secara gamblang telah ”dipertontonkan” oleh Khalifah Ali bin Abi Thalib RA ketika menghadapi kelompok Khawarij.

Dalam sejarah Islam, aliran sesat yang muncul pertama kali ialah Khawarij. Walaupun bibitnya sudah ada sejak zaman Rasulullah, namun mereka baru berani menunjukkan batang hidungnya di zaman pemerintahan Ali bin Abi Thalib RA (khalifah keeempat). Ketika itu jumlah mereka sekitar enam ribu orang. Mereka memisahkan diri dari barisan kaum Muslimin dan membentuk kelompok sendiri.

Dalam menghadapi mereka, Ibnu Abbas ( selaku pemuka Ulama ketika itu) meminta izin kepada Ali bin Abi Thalib RA (sebagai kepala negara) untuk mendatangi kelompok Khawarij dan mengajak mereka dialog. Dengan harapan, mereka mau bergabung kembali dengan barisan kaum Muslimin  dan meninggalkan keyakinan mereka yang keliru. Ali pun menyetujuinya.

Kemudian, di markaz kelompok Khawarij, terjadilah dialog antara Ibnu Abbas dengan beberapa orang dari mereka. Dilog dimulai dengan pemaparan argumentasi oleh kelompok Khawarij. Mereka mengemukakan tiga alasan yang melandasi tindakan mereka, memisahkan diri dari barisan kaum Muslimin dan mengkafirkan orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka. Namun, berkat kelimuannya yang tinggi, Ibnu Abbas berhasil mematahkan semua argumentasi mereka. Akhirnya, dialog dimenangkan oleh Ibnu Abbas. Sekitar dua ribu orang berhasil disadarkan. Sedangkan sisanya tetap kekeuh dengan keyakinannya. Mereka pun kemudian diperangi oleh Ali bin Abi Thalib RA.

Dari kisah ini, setidaknya ada dua pelajaran berharga yang bisa kita ambil tentang bagaimana seharusnya menyikapi sebuah aliran/kelompok sesat. Pertama, hendaknya ulama kaum Muslimin tampil untuk menjelaskan kebenaran kepada mereka. Sebab, bisa jadi kesesatan mereka lahir karena mereka memang belum tahu atau karena faktor salah paham. Sehingga setelah diberi penjelasan secara gamblang, merekapun akhirnya mau insaf.

Kedua, hendaknya kita tidak main hakim sendiri dalam menindak aliran sesat. Kita serahkan saja kepada pemerintah. Biarkan pemerintah yang bertindak. Sebagaimana Ibnu Abbas, setelah dialog, beliaupun menyerahkan tindak lanjutnya kepada pemerintah. Beliau tidak lantas mengumpulkan massa dan melakukan tindakan main hakim sendiri. Inilah dua cara yang tepat yang diajarkan Islam dalam menyikapi aliran sesat.

Tindakan preventif

Memang, munculnya kelompok dan aliran sesat tidak akan mungkin untuk dihindari. Hal ini sudah sunnatullah. Dalam banyak hadits, Rasulullah telah mengabarkan bahwa ummat Islam ini akan berpecah belah menjadi beberapa kelompok. Semua kelompok divonis sesat oleh Rasulullah, hanya satu kelompok yang selamat. Realita sekarang membuktikan kebenaran sabda beliau.

Jika memang demikian keadaannya, maka sudah seharusnya kita melakukan sebuah tindakan preventif. Hendaknya kita bentengi diri dan keluarga dari pengaruh aliran sesat.

Tentunya, yang pertama kali harus kita lakukan adalah belajar tentang ajaran Islam yang benar. Yaitu, ajaran Islam yang murni sebagaimana yang dibawa oleh Rasulullah dan dipraktikkan oleh para sahabatnya dahulu. Kemudian, kita ajarkan Islam yang benar itu kepada keluarga kita masing-masing. Semoga dengan begitu, masyarakat kita akan selamat dari jerat aliran sesat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: