NYANYIAN PENA

Menilai Moral Sebuah Masyarakat (Catatan Untuk Asra Virgianita)

Posted on: Mei 22, 2008

Membaca artikel Asra Virgianita (AV) yang berjudul “Moral dan Agama” (Republika, 09 Mei 2008), menyisakah sebuah tanda tanya dalam hati saya. Adilkah jika kita menilai baik-buruknya moral suatu masyarakat hanya dari satu-dua kasus saja?

Cerita yang dibawakan AV mengingatkan saya kepada salah seorang dosen semasa kuliah dahulu. Ketika sedang mengajar di kelas, dosen saya itu sempat membanding-bandingkan antara masyarakat Indonesia yang mayoritas Muslim, dengan masyarakat Jepang yang mayoritas non-Muslim. Contoh yang diberikan sama, yakni tentang kasus barang hilang. Di akhir cerita, dosen saya mengeluarkan sebuah pernyataan yang isinya mirip dengan yang ditulis AV:” Tapi, mengapa negara dengan masyarakat yang notabene tak mengenal agama bisa lebih menghargai dan menjaga hak orang lain, sementara di Negara kita yang mayoritas penduduknya beragama Islam, dengan nilai-nilai agama yang seringkali dinilai keras oleh masyarakat Barat, persoalan barang yang hilang dan dapat kembali seolah-olah telah menjadi tabu dalam kehidupan kita?” (p. 13)

Terus terang, saya tidak sependapat dengan pernyataan ini. Sebab, yang pertama, pernyataan ini “seolah-olah” memvonis bahwa secara umum moral masyarakat non-Muslim lebih baik dari masyarakat Muslim, padahal kenyataannya belum tentu demikian. Kedua, pernyataan ini “seolah-olah” menunjukkan bahwa agama Islam kurang bisa membentuk moral ummatnya, dan hal ini tentu saja tidak benar. Ketiga, pernyataan ini bisa berpotensi untuk membuat seorang Muslim tidak lagi bangga dengan agamanya. Bahkan sebaliknya, hal ini justru bisa menumbuhkan rasa malu bagi mereka yang ingin menunjukkan identitas keislamannya (misalnya memakai jilbab) karena takut dicap sebagai orang yang kurang memperhatikan masalah moral.

Kasus barang hilang

Berbicara tentang barang hilang, saya pun punya banyak cerita tentang hal ini. Akhir ceritanya ada yang menyenangkan (barang bisa kembali) dan ada yang sebaliknya. Namun, kebanyakan berakhir menyenangkan.

Di antaranya, pernah suatu ketika salah seorang kawan saya kehilangan HP. Waktu itu dia sedang naik angkot (angkutan umum) di daerah Bogor, Jawa Barat. Dia duduk di depan, bersebelahan dengan sopir angkot. Tanpa disadari HP di saku celananya terjatuh, dan dia baru sadar setelah beberapa saat turun dari angkot. Karena saat itu malam hari, dan biasanya kalau sudah malam sopir angkot di daerah itu jarang yang berhenti di terminal, maka sulit bagi kawan saya untuk mencari angkot yang baru saja ditumpanginya. Akhirnya, kawan saya itupun memutuskan untuk pulang kembali ke rumahnya.

Rupanya, sopir angkot yang baru menyadari bahwa ada HP tertinggal di (jok) mobilnya, kemudian langsung mencoba menghubungi nomor yang ada di phone book HP itu. Singkat cerita, HP kawan saya itu pun akhirnya bisa kembali dengan selamat.

Kawan saya yang lain lagi pernah juga kehilangan barang. Pada suatu siang, dompet yang berisi uang dan surat-surat berharga tidak dia dapati di saku celananya. Namun, sore harinya, seorang sopir angkot datang ke rumah kawan saya yang kehilangan dompet itu. Rupanya dompet kawan saya itu tertinggal (jatuh) di dalam angkot yang dia tumpangi siang tadi. Akhirnya, dompet kawan saya itupun bisa kembali dengan selamat, tak kurang suatu apapun.

Sebenarnya, masih banyak cerita sejenis yang pernah saya alami, baik yang langsung maupun tidak langsung. Dan semua itu terjadi di Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim. Sehingga, hal ini mengikis anggapan bahwa persoalan barang yang hilang dan dapat kembali bukanlah suatu hal yang tabu bagi masyarakat kita.

Bahkan, di lingkungan tempat saya tinggal semasa kuliah (Bogor), saya banyak mengenal orang-orang yang sangat anti untuk mengambil barang yang ditemukan di jalan. Pernah suatu ketika, ada seorang mahasiswa yang menemukan sejumlah uang di sebuah jalan setapak. Mahasiswa itupun kemudian memungutnya dari jalan karena takut digunakan untuk hal-hal yang tidak baik (baca: haram) oleh orang lain yang menemukannya. Setelah itu, dia membuat kertas pengumuman yang kemudian ditempel di tembok yang terletak di dekat lokasi ditemukannya uang. Harapannya, orang yang merasa kehilangan uang bisa menghubunginya untuk mendapatkan kembali uang yang hilang.

Jadi, berdasarkan pengalaman saya ini, kasus barang hilang yang kemudian bisa kembali lagi, merupakan hal yang biasa dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat kita (Indonesia). Walaupun saya tidak menutup mata dari adanya orang-orang yang “hobinya” mengambil barang yang bukan miliknya. Namun, adilkah jika ulah segelintir orang ini dijadikan ukuran untuk menilai baik-buruknya moral suatu masyarakat ?

Sama juga halnya dengan masalah korupsi. Memang, di dunia internasional, negara kita terkenal sebagai negara dengan tingkat korupsi yang tinggi. Namun, siapakah para pelaku tindak korupsi itu? Apakah mayoritas masyarakat ataukah hanya segelintir orang? Hal ini tentu harus dikaji lebih dalam agar kita tak tergesa-gesa memvonis rusak moral suatu masyarakat. Padahal, pada kenyataannya, yang moralnya rusak hanyalah segelintir orang yang jumlahnya tidak seberapa jika dibandingkan dengan anggota masyarakat lain yang bermoral baik (dalam hal ini mereka yang anti korupsi).

Lebih menjaga hak ?

Kemudian, saya juga tidak setuju jika dikatakan bahwa masyarakat non-Muslim secara umum bisa lebih menghargai dan menjaga hak orang lain. Kalau memang demikian, mengapa sampai ada undang-undang yang melarang Muslimah berjilbab di Perancis? Mengapa di beberapa negara yang mayoritas penduduknya non-Muslim, ummat Islam tidak bebas melaksanakan syariat agamanya (beribadah) dan dipersempit ruang geraknya?

Lalu, bagaimana dengan di Jepang? Saya pernah membaca sebuah buku kumpulan catatan harian seorang muslimah yang telah cukup lama tinggal di Jepang. Dalam bukunya itu, Muslimah itu bercerita bahwa suatu ketika dia pernah mengutarakan keinginannya untuk memakai jilbab kepada suaminya yang asli Jepang. Namun, suaminya agak keberatan. Alasannya, dia takut istrinya mendapatkan perlakuan diskriminatif oleh masyarakat sekitar (di Jepang).

Saya juga pernah mendengar seorang da’i yang mendapatkan perlakuan diskriminatif ketika berada di bandara saat hendak memenuhi undangan ceramah dari para pekerja Indonesia (TKI) yang tinggal di Jepang. Si da’i harus diinterogasi dalam waktu yang cukup lama sebelum diizinkan masuk ke Jepang. Maka, dari sini timbullah sebuah pertanyaan. Benarkah masyarakat non-Muslim bisa lebih menghargai dan menjaga hak orang lain ?

Jadi, menilai baik-buruknya moral sebuah masyarakat bukanlah pekerjaan yang mudah. Harus dilakukan pengkajian secara menyeluruh dan mendalam. Tidak parsial. Tidak bisa satu-dua kasus dijadikan modal untuk melakukan sebuah penilaian. Dan, kitapun harus hati-hati. Sebab, hal ini menyangkut nama baik sebuah komunitas masyarakat yang terdiri dari individu-individu yang memiliki sifat beraneka ragam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: