NYANYIAN PENA

AHMADIYAH JUGA MANUSIA

Posted on: Mei 11, 2008

A

hmadiyah kembali menjadi sorotan. Aksi pengrusakan terhadap fasilitas milik Jemaat Ahmadiyah kembali terjadi. Di Sukabumi, sebuah tempat ibadah milik Jemaat Ahmadiyah dibakar sekelompok massa. Tiga madrasah pun tak luput dari aksi pengrusakan.

Dalam akidah Islam, keyakinan bahwa ada nabi lagi setelah Nabi Muhammad SAW adalah keyakinan yang keliru. Bahkan dianggap sebagai keyakinan kufur yang bisa berpotensi membuat orang yang meyakininya kafir, murtad keluar dari Islam. Sebab, dalil-dalil tentang tidak adanya nabi setelah Nabi Muhammad SAW telah begitu jelas, baik tertera dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits. Dalam Al-Qur’an (QS Al-Ahzab [33]: 40), secara gamblang Allah SWT menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah nabi terakhir (khotamun nabiyyin). Dengan begitu, setelah wafatnya Nabi Muhmmad SAW, wahyu telah terputus. Dan ini telah menjadi ijma’ (kesepakatan bersama) ummat Islam. Pembahasan lengkapnya bisa dibaca di kitab-kitab akidah yang ditulis oleh para ulama.

Namun, apakah setiap orang yang memiliki keyakinan kufur lantas otomatis bisa dikatakan bahwa orang itu telah kafir, murtad keluar dari Islam? Tentu saja tidak. Sebab beda antara vonis kafir secara umum (takfir muthlaq) dam vonis kafir secara khusus (takfir mu’ayyan).

Jadi, seorang Muslim yang memiliki keyakinan kufur, tidak bisa langsung divonis kafir. Harus dilihat faktor-faktor yang melatarbelakanginya sehingga dia memiliki keyakinan kufur itu. Bisa jadi dia cuma ikut-ikutan. Atau, bisa jadi dia belum tahu. Dan masih banyak faktor lainnya yang harus menjadi bahan pertimbangan sebelum dijatuhkan vonis kafir. Intinya, untuk mengkafirkan individu tertentu bukanlah perkara yang mudah. Butuh pengkajian yang mendalam dan tidak bisa dilakukan oleh sembarangan orang.

Mengingat masalah kafir-mengkafirkan (takfir) ini bukan wewenang saya, maka saya tidak akan membahasnya lebih lanjut. Yang ingin saya angkat dalam tulisan ini ialah, bahwa tindakan anarkhis dan teror yang dilakukan sebagian oknum terhadap Jemaat Ahmadiyah, jelas sangat tidak dibenarkan oleh Islam. Bahkan Islam sangat mengecam keras hal ini.

Prilaku Jahiliyah

Kalau kita baca kitab-kitab sirah nabawiyyah ( sejarah perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW), akan kita dapati bahwa perbuatan anarkhis merupakan prilaku masyarakat jahiliyah zaman dahulu. Ketika Islam pertama kali muncul, langsung disambut dengan tindak kekerasan oleh masyarakat sekitar. Padahal, di antara mereka ada yang masih memiliki hubungan keluarga.

Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya kerap mendapatkan tindakan tak berprikemanusiaan. Mereka diteror, diintimidasi, bahkan sebagiannya ada yang disiksa sampai mati. Nabi Muhammad sendiri beberapa kali mendapat percobaan pembunuhan. Akhirnya, karena tekanan semakin menjadi-jadi, mereka pun memutuskan untuk hijrah. Mereka terusir dari kampung halamannya sendiri.

Jadi, berdasarkan bukti sejarah, tidak salah kiranya jika dikatakan bahwa tindakan anarkhis dan tindakan kekerasan lainnya merupakan prilaku jahiliyah yang mestinya harus ditinggalkan dan tidak pantas untuk ditiru. Apalagi oleh ummat Islam yang tentu sangat faham betul betapa tidak enaknya mendapatkan tindak kekerasan, sebagaimana yang pernah menimpa nabinya dahulu. Di tambah lagi, jelas-jelas Islam sangat melarang keras tindakan seperti itu. Terlebih jika yang menjadi objek sasarannya adalah para wanita dan anak-anak.

Islam juga melarang ummatnya untuk melakukan pengerusakan terhadap tempat ibadah ummat lain, meskipun dalam peperangan. Jika dalam posisi perang saja dilarang, apalagi dalam posisi damai. Tentu lebih sangat dilarang lagi.

Terzalimi

Dalam hal ini, Jemaat Ahmadiyah (yang mendapatkan tidak anarkhis dan teror oleh sebagian oknum) jelas berada dalam pihak yang terzalimi. Sedangkan dalam syari’at Islam, do’a orang yang terzalimi berpotensi besar untuk dikabulkan oleh Allah SWT. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda,”Takutlah kalian dari do’a orang yang terzalimi, karena sesungguhnya tiada suatu tabir penghalang antara do’anya dengan Allah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itu, hendaknya para pelaku tindak anarkhis sadar. Jangan sampai tindakan anarkhis yang mereka perbuat justru menjadi bumerang buat diri mereka sendiri. Bisa jadi orang-orang yang mereka zalimi (dalam hal ini Jemaat Ahmadiyah) mendo’akan kecelakaan untuk mereka, kemudian Allah pun mengabulkannya.

Akhirnya, berlepas apakah Ahmadiyah masih Muslim atau tidak, yang pasti mereka jelas masih manusia. Mereka berhak mendapatkan perlakukan yang manusiawi sebagaimana halnya manusia lainnya. Jika memang mereka keliru, mereka berhak mendapatkan nasihat dan penjelasan secara baik-baik. Bukannya dengan aksi teror, intimidasi, tindakan anarkhis, dan perbuatan tak terpuji lainnya. Bagaimana menurut Anda ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: