Posted by: penulis biasa on: September 17, 2008
Seorang perokok tidak mungkin bisa menyayangi orang lain, karena menyayangi diri sendiri saja tidak bisa.
***
Dikutip dari buku “Menjadi Kaya Dengan Me-ROKOK”
Atau, buku “Ngerokok Bikin Kamu ‘Kaya’”
|
S |
aya mempunyai seorang kawan. Sebut saja namanya Kumbang (bukan nama sebenarnya). Di kalangan kawan-kawan yang lain, dia terkenal sebagai orang yang supel, gampang bergaul. Kepada siapa saja, baik laki-laki maupun wanita, tua maupun muda, bahkan anak kecil sekalipun. Memang, dia orangnya senang bercanda.
Sayangnya, ada satu sifat yang kami (saya dan beberapa kawan) kurang sreg dari dirinya. Dia orangnya suka ceplas-ceplos kalau bicara. Kata-kata yang keluar dari mulutnya terkadang tidak terkontrol serta tidak dipikirkan terlebih dahulu dampaknya terhadap orang lain. Dan lagi, dia seolah tidak peduli, dengan siapa dia sedang berhadapan.
Segala sesuatu inginnya dikomentarin. Orang berbuat begini, dikomentarin; orang berbuat begitu, dikomentarin. Kalau komentarnya mengenakan hati sih nggak apa-apa. Tapi, terkadang komentarnya terasa menusuk hati dan membuat malu. Udah gitu, disampaikannya di depan orang lain. Ya, Anda bayangkan saja sendiri, bagaimana perasaan Anda jika hal ini terjadi pada diri Anda. Apalagi, dia usianya lebih muda dari Anda.
Namun, sepengetahuan saya, belum ada seorang pun kawan-kawan yang mencoba untuk menasihatinya secara langsung. Begitupun dengan saya. Walaupun sebenarnya saya sangat ingin melakukan hal itu. Namun, sampai saat ini belum bisa terlaksana. Paling-paling saya cuma bisa memberi nasihat secara umum tentang pentingnya menjaga lisan lewat SMS.
Lalu, apa hubungannya si Kumbang dengan rokok? Tentu saja ada, walaupun tidak secara langsung. Ceritanya begini.
Suatu hari saya mendapat kabar dari kawan saya yang lain, sebut saja namanya Lebah (juga bukan nama sebenarnya), bahwa istri si Kumbang pernah curhat kepada istri si Lebah. Salah satu isi curhatnya adalah, bahwa si Kumbang terkadang suka mengeluarkan kata-kata yang “dalam” kepada istrinya. Namun istrinya hanya bisa diam bersabar. Barangkali untuk tetap menjaga keharmonisan rumah tangga mereka.
Nah, kaitannya dengan rokok, terkadang ada sebagian orang yang benci dengan kelakuan seorang perokok, dan merasa tersiksa jika tinggal berdekatan dengan orang yang sedang merokok. Tapi mereka hanya bisa menyimpan kebenciannya dalam hati. Jarang yang mau berterus terang. Umumnya karena perasaan tidak enak. Mereka ini terutama berasal dari kalangan wanita. Lebih khusus lagi, para istri yang suaminya merokok.
Berikut ini ada sebuah tulisan menarik yang saya dapat dari internet. Penulisnya adalah seorang wanita. Dalam tulisannya itu terlihat sekali bahwa dia sangat benci dengan seorang perokok. Hal ini tergambar jelas dari judul tulisannya: Perokok yang (teramat sangat) saya benci (sekali). Dia menulis begini.
*****
Pulang kampung adalah saat terindah bagi siapa saja yang tinggal di perantauan. Termasuk saya.
Bis AC yang tidak pernah dilirik sejak saya kuliah, mulai episode pulang kemarin telah resmi diproklamirkan sebagai sarana transportasi pilihan. Pokoknya forever (sambil berdoa “Ya Allah semoga hamba-Mu ini senantiasa mampu menyediakan ongkos yang cukup”)
Alasan tidak memilih bus ekonomi sebenarnya sudah lama mengendap dalam benak. SAYA BENCI PEROKOK.
Bagi saya, para perokok adalah orang-orang yang tidak bersyukur. Kenapa? Karena Sang Pencipta dengan Maha Pengasih-Nya telah memberi karunia organ pernafasan yang sempurna namun dirusaknya melalui isapan tembakau.
Selain itu, bohong besar jika ada perokok yang mencintai istri, anak, atau kerabatnya. Kenapa juga?
Karena secara langsung ia telah membagi-bagikan bibit penyakit lewat kepulan asap di lingkungan sekitar. Seharusnya ia tahu bahwa menghisap asap rokok orang lain dampaknya lebih berbahaya daripada bagi si perokok itu sendiri.
Lagipula (meski dalam hal ini taqdir Allah-lah yang menentukan), usia hidup perokok biasanya lebih singkat karena penyakit paru-paru kronis dan sejenisnya. Tentu, kerabat dekat akan merasa sedih saat ditinggal wafat atau harus pontang-panting mencari dana dalam mengupayakan pengobatan ke rumah sakit.
Ini memperkuat pendapat saya bahwa SEORANG PEROKOK TIDAK MUNGKIN BISA MENYAYANGI ORANG LAIN KARENA MENYAYANGI DIRI SENDIRI SAJA TIDAK BISA.
Oh ya, saya jadi ingat perkataan salah seorang rekan kerja saya. Isinya kira-kira begini; “Sebelum menikah saya berdoa semoga memperoleh suami yang tidak suka merokok dan Alhamdulillah terkabul…. suami saya bukan perokok ”
Sepertinya, mulai sekarang, saya pun harus menambahkan kriteria ini dalam doa-doa saya.
Bagi perokok yang membaca tulisan ini…. maaf ya kalo kata-kata saya tidak berkenan di hati. Pesan saya… berhentilah merokok mulai detik ini!
Sumber:
http://amary1is.multiply.com/journal/item/146/perokok_yang_teramat_sangat_saya_benci_sekali
****
Cerita di atas semoga bisa menyadarkan para perokok, terutama mereka yang telah berkeluarga. Jangan Anda kira diamnya istri melihat Anda merokok menunjukkan persetujuannya. Belum tentu! Bisa jadi, istri Anda menyimpan kebencian yang mendalam dan merasa tersiksa dengan perbuatan Anda.
Oleh karena itu, jika Anda sayang istri, berhentilah merokok sekarang juga! Mendingan uangnya Anda belikan semangkok bakso. Kan enak, bisa dinikmati berdua. Dengan begitu, insya Allah, istri Anda akan semakin menyayangi Anda. Setuju ?!
Posted by: penulis biasa on: September 11, 2008
”Cuma dua naskah saya yang berhasil menembus tembok tebal penerbit buku. Yang pertama naskah saya yang berjudul ”Menjadi Kaya Dengan Merokok” dan yang kedua naskah saya yang berjudul ”Seandainya Aku Mati Besok…””.
***
Naskah ditolak! Ah, itu sih biasa. Jangankan kita penulis pemula, penulis yang sudah senior saja kadang masih mendapat penolakan. Apalagi kita yang baru pertama kali nulis buku. Saya sendiri sudah beberapa kali mendapat penolakan. Tujuh buku yang saya buat, lima di antaranya ditolak oleh beberapa penerbit.
Cuma Dua yang Diterima
Setahun lalu, tepatnya menjelang bulan puasa, saya mengirim naskah buku pertama saya ke Penerbit X di Solo. Waktu itu saya mengirimnya via pos. Yang saya kirim berupa draft naskah yang belum saya bentuk menjadi buku. Jadi masih berupa kertas A-4 (Cara pengiriman model pertama; lihat kembali ”Bab. Mengirim Naskah”). Kurang lebih seminggu kemudian saya meng-SMS pihak penerbit untuk menanyakan; apakah naskah saya sudah diterima? Penerbit menjawab sudah, dan naskah saya katanya sekarang sedang dikaji oleh bagian redaksi. Baca entri selengkapnya »
Posted by: penulis biasa on: September 10, 2008
Writer’s Block
Saat pena terangkat
aku pun termenung sejenak
mencoba berfikir kuat
kalimat apa yang hendak aku buat
sementara malam kian pekat
suara jangkrik menyayat-nyayat
aku masih saja termenung
kebingungan semakin menggunung
ah…
lagi-lagi writer’s block
selalu saja writer’s block
kenapa ada writer’s block
tapi sudahlah
lebih baik kutinggalkan saja
mungkin sekarang bukan waktunya
untuk bercanda dengan kata-kata
Bogor, 24 Mei 2008
***
Aduh, bingung euy, mau nulis apa nih? Mmm…mau nulis apa ya? Oya, saya mau menulis tentang writer’s block. Lho, memangnya ada apa dengan writer’s block? Nggak tahu tuh, saya juga bingung!
Berkenalan dengan Writer’s Block
Writer’s block (WB) biasa diartikan dengan “kebuntuan penulis”. Kalau seorang penulis sudah terkena writer’s block, biasanya dia cuma bisa duduk bengong sambil memandangi layar monitor tanpa bisa menuliskan sepatah katapun. Bisa jadi ide di kepalanya melimpah ruah. Namun, ide-ide itu begitu sulit untuk ditumpahkan menjadi kata-kata. Seperti saya yang bingung mau memulai dengan apa ketika menulis bab ini. Saya pun terdiam cukup lama sebelum akhirnya menulis kata-kata seperti yang Anda baca pada awal paragraf di atas. Baca entri selengkapnya »
Posted by: penulis biasa on: September 10, 2008
“Sekarang, saya ingin bertanya kepada Anda: Mau atau tidak Anda menulis buku? Mau atau tidak Anda menyebarkan ilmu yang Anda miliki kepada orang lain? Kalau mau, segera ambil pena, kemudian menulislah!”
***
Hmm… Tahukah Anda, apa yang saat ini sedang saya fikirkan? Terus terang, saya sedang bingung. Kata-kata apa yang harus saya tuliskan agar Anda tertarik untuk terus membaca bab ini sampai selesai. Hmm… Writer’s block datang. (Hah! Apaan tuh writer’s block?!)
2 Tips Mudah Menulis
Barangkali ada di antara Anda yang protes begitu membaca buku ini. “ Jelas saja Anda (saya maksudnya) mengatakan menulis buku itu gampang. Sebab Anda sudah bisa menulis dan sudah sering menulis. Sedangkan kami, boro-boro nulis buku. Megang pulpen saja jarang. Gimana mau diharapkan nulis buku!!!” Baca entri selengkapnya »
Posted by: penulis biasa on: September 10, 2008
”Setelah belajar banyak tentang teori menulis dan dilanjutkan dengan mempraktekannya serta dengan terus mencoba mengirimkannya ke media, saya pernah punya pengalaman melakukan hattrick. Tiga artikel yang saya tulis dimuat tiga bulan berturut-turut di sebuah majalah, dan tiga artikel saya yang lain tiga bulan berturut-turut dimuat di sebuah koran nasional”.
***
Saya agak lupa, sejak kapan mulai menulis artikel untuk dikirim ke media. Seingat saya sejak duduk di bangku kuliah tingkat dua. Sekitar semester tiga atau semester empat. Yang jelas tingkat dua. Ya, tingkat dua. Sekitar segitulah.
Awal Ketertarikan
Awalnya saya melihat tulisan seorang kawan dimuat di sebuah koran nasional. Tulisannya tidak terlalu panjang, sekitar 300-350 kata (satu lembar A4, font 12 dengan spasi 1). Karena merasa bisa, saya jadi tertarik untuk ikutan menulis. Ketertarikan saya semakin bertambah setelah tahu bahwa untuk sekali muat, kawan saya katanya mendapat honor sebesar Rp. 50.000. Waktu itu, dengan uang segitu bisa dipakai buat makan di warteg untuk sekitar 30 porsi dengan menu sederhana (nasi plus sayur dan telur). Satu porsinya seharga Rp. 1.500. Baca entri selengkapnya »
Posted by: penulis biasa on: September 10, 2008

Perjalanan itu pasti akan kita tempuh.
Kita tak tahu; setahun lagi, sebulan lagi, seminggu lagi, besok, sejam lagi, atau bahkan beberapa menit lagi–setelah ini.
Yang jadi pertanyaan, siapkah kita menempuhnya?
Padahal, perjalanan itu begitu panjang. Bahkan untuk selama-lamanya.
Tak akan mungkin kita kembali lagi. Tak mungkin pula kita menangguhkannya. Tidak sedetik, tidak sejam, tidak sehari, apalagi setahun. Kita akan “DIJEMPUT PAKSA” untuk menempuhnya.
Dan, bekal apakah yang telah kita siapkan?
Padahal, bekal itulah yang menentukan ke mana dan seperti apa perjalanan itu akan kita lakoni.
Berat, terhuyung-huyung penuh beban di pundak, jalan yang berliku penuh batu cadas dan kerikil tajam, ditambah panas terik yang menyengat.
Ataukah;
Di atas tandu dengan kursi empuk beralas beludru, membawa aneka makanan lezat dan buah-buahan segar, melewati jalan lurus dengan pepohonan hijau nan rindang di kanan-kiri, angin semilir nan sepoi-sepoi, serta dikawal oleh banyak pelayan yang siap sedia menuruti keinginan kita?
Siapkan PASPOR Anda.
Rapikan dokumen-dokumen dan BEKAL Anda. SEGERA!!!
Sekarang juga!!!
Baca buku ini, dan temukan DOKUMEN-DOKUMEN dan BEKAL yang mesti Anda siapkan.
PASPOR KEMATIAN, mengantarkan Anda menuju surga-Nya.
Judul : Paspor Kematian; Jalan Menuju Surga-Mu
Penulis : Abdul Jabbar
Tebal : xxii + 200 hlm.
Harga : Rp. 28.500,-
Posted by: penulis biasa on: Juni 13, 2008
PEMBACA, tahu tidak?
Merokok, selain bisa bikin orang kecanduan, ternyata bisa bikin orang kaya, lho!
APA!!! Menjadi kaya dengan merokok!
Mmm…masak sih! Nggak salah denger nih? Gimana caranya? Lah wong saya saja yang setiap hari ngerokok dari dulu keadaannya begini-begini saja. Tidak ada perubahan.
Tuh khan! Sudah saya tebak. Anda pasti nggak bakalan percaya kalau saya katakan bahwa merokok bisa bikin kaya.
Padahal bener lho, saya serius!
Merokok memang bisa bikin kaya.
Sudah banyak kok yang membuktikannya.
Biar Anda nggak mati penasaran,
mendingan baca aja deh buku ini.
Dijamin nggak bakalan rugi.
Selamat menjadi kaya!
Posted by: penulis biasa on: Juni 13, 2008
Jum’at pagi tanggal 6 Juni 2008 sekitar jam 8-an, saya pergi ke warnet. Biasanya kalau di warnet kegiatan saya nggak jauh-jauh dari ngecek email. Kali-kali aja ada email penting yang masuk. Ada 3 email yang biasa saya cek, 2 di gmail dan satunya lagi di yahoo. Baca entri selengkapnya »
Posted by: penulis biasa on: Juni 4, 2008
(Sebuah Pengalaman Sederhana Dalam Membuat Penerbitan Buku Sendiri)
Sekarang kayaknya makin rame aja orang-orang ngebicarain tentang self publishing. Saya jadi tertarik untuk nyeritain sedikit pengalaman saya seputar nerbitin buku sendiri (self publishing). Walaupun pengalamannya terbilang sederhana dan biasa-biasa saja, namun kali-kali aja bisa memberi sedikit pencerahan buat mereka-mereka yang pingin nyoba nerbitin bukunya sendiri. Sekalian juga sebagai ajang pemanasan buat saya sebelum nulis buku tentang pengalaman sederhana saya di dunia tulis menulis. Dari mulai nulis artikel, nulis buku, nerjemahin kitab (Arab-Indonesia), bikin penerbitan sendiri, jadi editor di sebuah penerbitan buku, dll. Baca entri selengkapnya »
Posted by: penulis biasa on: Juni 4, 2008
Hayo, kena lho gua kerjain! Anda pasti nyangkanya tulisan ini bakalan ngomongin tentang dua kelompok pergerakan Islam ini, khan ?! Ngaku aja deh. Nah, begitu khan enak he..he..he..
Tapi, maaf nih sebelumnya ya. Bukan maksud saya ingin menipu Anda. Saya beri judul demikian karena saya sedang mempraktikkan Ilmu Menulis (IM) yang telah saya pelajari selama ini (Yah, ketahuan deh maksud kata-kata ”IM”. Kalo HT apa ayo?!). Teutama tentang cara membuat judul yang menarik. Baca entri selengkapnya »
Komentar Terakhir