<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>NYANYIAN PENA</title>
	<atom:link href="http://penulispemula.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://penulispemula.wordpress.com</link>
	<description>Mari Menulis Dengan Ilmu dan Cinta !!!</description>
	<lastBuildDate>Mon, 11 Jul 2011 22:26:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='penulispemula.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>NYANYIAN PENA</title>
		<link>http://penulispemula.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://penulispemula.wordpress.com/osd.xml" title="NYANYIAN PENA" />
	<atom:link rel='hub' href='http://penulispemula.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Ada Apa Dengan PBAJJ ?</title>
		<link>http://penulispemula.wordpress.com/2011/06/28/ada-apa-dengan-pbajj/</link>
		<comments>http://penulispemula.wordpress.com/2011/06/28/ada-apa-dengan-pbajj/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Jun 2011 16:46:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penulis biasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penulispemula.wordpress.com/?p=144</guid>
		<description><![CDATA[Kenapa dibentuk PBAJJ? &#160; PBAJJ (Pelatihan Bahasa Arab Jarak Jauh) ini dibuat karena beberapa alasan: Pentingnya bahasa Arab bagi kehidupan seorang Muslim. Banyaknya kaum Muslimin yang belum tahu tentang pentingnya bahasa Arab. Banyaknya kaum Muslimin yang ingin belajar bahasa Arab, namun belum ada kesempatan untuk mengikuti kursus bahasa Arab di luar rumah. Banyaknya kaum Muslimin [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penulispemula.wordpress.com&amp;blog=3691474&amp;post=144&amp;subd=penulispemula&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kenapa dibentuk PBAJJ?</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>PBAJJ</strong> (Pelatihan Bahasa Arab Jarak Jauh) ini dibuat karena beberapa alasan:</p>
<ol>
<li>Pentingnya bahasa Arab bagi kehidupan seorang Muslim.</li>
<li>Banyaknya kaum Muslimin yang belum tahu tentang pentingnya bahasa Arab.</li>
<li>Banyaknya kaum Muslimin yang ingin belajar bahasa Arab, namun belum ada kesempatan untuk mengikuti kursus bahasa Arab di luar rumah.</li>
<li>Banyaknya kaum Muslimin yang ingin belajar bahasa Arab, namun belum tahu metode yang tepat dalam belajar bahasa Arab?</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Oleh karena itu, dalam rangka memasyarakatkan bahasa Arab ke tengah-tengah ummat, dan membimbing kaum Muslimin yang ingin menguasai bahasa Arab, maka dibentuklah PBAJJ.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Kenapa dilakukan jarak jauh?</strong></p>
<p>Agar peserta pelatihan bisa memilih waktu belajar sesuai dengan waktu yang diinginkan. Dan peserta pelatihan bisa mengkondisikan lingkungan belajarnya sendiri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Kenapa digunakan kitab FAHIMNA?</strong></p>
<p><strong>            </strong>Kitab FAHIMNA merupakan intisari dari kitab-kitab bahasa Arab yang sudah lebih dahulu beredar. Kitab ini disusun agar bisa dipelajari sendiri oleh mereka yang baru pertama kali belajar bahasa Arab.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Kenapa dibuat menjadi 6 kelas dan 6 modul? Kenapa tidak dibuat satu modul saja yang berisi 6 kelas pelajaran? </strong></p>
<p>Ya, kami membagi pelatihan ini menjadi 6 kelas dengan 6 modul karena beberapa alasan:</p>
<ol>
<li>Kami ingin peserta pelatihan mempelajari bahasa Arab secara santai. Kami tidak ingin membuat peserta pelatihan merasa berat karena melihat banyaknya pelajaran yang harus dilewati.</li>
<li>Kami ingin peserta pelatihan memiliki pondasi yang kuat dalam belajar. Kami ingin peserta kajian betul-betul kuat dalam pemahaman sebuah materi pelajaran sebelum melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Apa Target yang Ingin Dicapai?</strong></p>
<p>Kami berharap, setelah mengikuti pelatihan ini peserta pelatihan:</p>
<ol>
<li>Menguasai kaidah dasar bahasa Arab sebagai bekal untuk melanjutkan ke tingkat berikutnya.</li>
<li>Mengetahui kedudukan sebuah kata dalam kalimat.</li>
<li>Bisa membuat kalimat sederhana dalam bahasa Arab.</li>
<li>Mengerti doa dan dzikir dalam sholat.</li>
<li>Mengerti ayat-ayat al-Qur’an yang dibaca.</li>
<li>Bisa membaca kitab gundul untuk tingkatan pemula.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai target di atas?</strong></p>
<p>Sangat tergantung banyak hal. Diantaranya kerajinan dan kesungguhan peserta pelatihan dalam belajar. Kalau peserta pelatihan bisa belajar rutin setiap hari, insya Alloh dalam waktu sekitar 3-4 bulan, bisa mencapai target yang diharapkan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Kenapa harus bayar?</strong></p>
<p>Ya, kami mohon maaf karena pelatihan ini harus bayar. Sebab untuk menyelenggarakan acara pelatihan ini dikeluarkan dana yang cukup besar. Oleh karena itu terpaksa pelatihan ini dipungut bayaran. Namun, untuk menentukan biaya sebesar <strong>Rp.50.000/kelas</strong> kami sudah rundingkan dengan beberapa kalangan dan mereka mengatakan jumlah ini sudah sangat murah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>Jika Anda puas dengan pelatihan ini, silakan ajak kawan-kawan Anda untuk ikut bergabung</strong></p>
<p align="center"><strong>Namun, jika Anda kecewa, mohon hubungi kami </strong></p>
<p align="center"><strong>Saran dan kritik yang membangun dari Anda sungguh kami harapkan</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penulispemula.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penulispemula.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penulispemula.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penulispemula.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/penulispemula.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/penulispemula.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/penulispemula.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/penulispemula.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penulispemula.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penulispemula.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penulispemula.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penulispemula.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penulispemula.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penulispemula.wordpress.com/144/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penulispemula.wordpress.com&amp;blog=3691474&amp;post=144&amp;subd=penulispemula&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penulispemula.wordpress.com/2011/06/28/ada-apa-dengan-pbajj/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33ca217fb1a3adb928c3df8e2b32fdf9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mujianto2008</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PELATIHAN BAHASA ARAB JARAK JAUH</title>
		<link>http://penulispemula.wordpress.com/2011/06/28/pelatihan-bahasa-arab-jarak-jauh/</link>
		<comments>http://penulispemula.wordpress.com/2011/06/28/pelatihan-bahasa-arab-jarak-jauh/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Jun 2011 16:43:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penulis biasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penulispemula.wordpress.com/?p=141</guid>
		<description><![CDATA[KENAPA KITA PERLU BELAJAR BAHASA ARAB ??? Alasan 1: Agar kita tidak seperti ORANG MABUK ketika sholat Saudara-saudari yang kami cintai karena Alloh… Alloh Subhanahu wa Ta’ala melarang kita sholat dalam keadaan mabuk. Kenapa ??? Agar kita sadar dengan bacaan sholat yang kita ucapkan. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ”Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penulispemula.wordpress.com&amp;blog=3691474&amp;post=141&amp;subd=penulispemula&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p align="center"><a href="http://pustakalaka.wordpress.com/2011/06/25/kenapa-kita-perlu-belajar-bahasa-arab/"><strong>KENAPA KITA PERLU BELAJAR BAHASA ARAB ???</strong></a></p>
<p align="center"><strong> <a href="http://pustakalaka.files.wordpress.com/2011/07/images.jpeg"><img class="aligncenter size-full wp-image-97" title="images" src="http://pustakalaka.files.wordpress.com/2011/07/images.jpeg?w=480" alt=""   /></a></strong></p>
<p align="center"><strong>Alasan 1: </strong>Agar kita tidak seperti <strong>ORANG MABUK</strong> ketika sholat</p>
<p align="center"><strong>Saudara-saudari yang kami cintai karena Alloh…</strong></p>
<p align="center">Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> melarang kita sholat dalam keadaan mabuk.</p>
<p align="center"><strong> Kenapa ???</strong></p>
<p align="center">Agar kita sadar dengan bacaan sholat yang kita ucapkan.</p>
<p align="center">Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman:</p>
<p align="center">”Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mendekati sholat ketika kamu dalam keadaan mabuk sampai kamu sadar apa yang kamu ucapkan.”</p>
<p align="center">(QS. An-Nisa [4]:43)</p>
<p align="center"><em>Alhamdulillah</em>, sekarang ini kita tidak pernah melihat ada orang yang sholat dalam keadaan mabuk. Namun, apakah lantas mereka sadar dengan yang mereka ucapkan ketika sholat??? Apakah lantas mereka mengerti bacaan sholat mereka??? Entahlah.</p>
<p>Coba saja tanyakan sendiri kepada mereka:</p>
<ul>
<li>Sudahkah mereka mengerti do’a istiftah yang mereka baca?</li>
<li>Sudahkah mereka mengerti makna dari surat al-fatihah yang mereka baca?</li>
<li>Sudahkah mereka mengerti makna dari ayat-ayat al-Qur’an yang mereka baca?</li>
<li>Sudahkah mereka mengerti zikir yang mereka baca ketika rukuk?</li>
<li>Sudahkah mereka mengerti zikir ketika i’tidal?</li>
<li>Sudahkah mereka mengerti zikir ketika sujud?</li>
<li>Sudahkah mereka mengerti bacaan duduk di antara dua sujud?</li>
<li>Sudahkah…..? Sudahkah….?</li>
</ul>
<p align="center">
<p align="center"><strong>Alasan 2: </strong>Agar <strong>SHOLAT </strong>kita <strong>KHUSYUK</strong></p>
<p align="center">Khusyuk dalam sholat merupakan sebuah kewajiban. Dan salah satu sarana agar bisa khusyuk dalam sholat adalah mengerti bacaan sholat yang diucapkan.</p>
<p align="center"><strong>Alasan 3:</strong> <strong>ALLOH</strong> <strong><em>Subahanahu wa Ta’ala</em></strong> <strong>MENYURUH</strong> kita</p>
<p align="center">Kita diperintahkan Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> untuk mentadaburi al-Qur’an.</p>
<p align="center">Alloh <em>Subhanahu wa Ta’a</em> berfirman:</p>
<p align="center">“Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Quran,</p>
<p align="center">ataukah hati mereka terkunci?”</p>
<p align="center">(QS. Muhammad: 24).</p>
<p align="center">Namun kita tidak akan mungkin bisa mentadaburi al-Qur’an secara sempurna</p>
<p align="center">tanpa kita mengerti bahasa Arab.</p>
<p align="center"><strong>Saatnya kita belajar BAHASA ARAB !!!</strong></p>
<p align="center"><strong>Pingin belajar BAHASA ARAB tanpa harus keluar rumah ???</strong></p>
<p align="center"><strong>Ikutan aja….</strong></p>
<p align="center"><strong> PELATIHAN </strong><strong>BAHASA ARAB</strong><strong> </strong><strong>JARAK JAUH</strong><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong>UNTUK ORANG AWAM</strong></p>
<p align="center"><a href="http://pustakalaka.files.wordpress.com/2011/07/images_003.jpeg"><img class="aligncenter size-full wp-image-98" title="images_003" src="http://pustakalaka.files.wordpress.com/2011/07/images_003.jpeg?w=480" alt=""   /></a></p>
<p align="center"><strong>CARA belajarnya GIMANA ???</strong><strong></strong></p>
<p align="center"><strong>Anda cukup mempelajari modul yang kami berikan di rumah masing-masing</strong></p>
<p align="center"><strong>Jika ada yang belum faham, Anda bisa bertanya VIA SMS</strong></p>
<p align="center">
<p align="center"><strong>MODUL apa yang digunakan ???</strong><strong></strong></p>
<p align="center"><strong>Modul yang digunakan berasal dari kitab FAHIMNA yang disusun oleh TIM PENGKAJI BAHASA ARAB PUSTAKA LAKA. </strong></p>
<p align="center">Kitab <strong>FAHIMNA</strong> merupakan intisari dari kitab-kitab bahasa Arab yang sudah lebih dahulu beredar. <strong>Kitab ini disusun khusus untuk ORANG INDONESIA dan dibuat sedemikian rupa agar bisa DIPELAJARI SENDIRI oleh mereka yang baru pertama kali belajar bahasa Arab. Penyusunan materi dalam kitab ini berdasarkan PENGALAMAN BELAJAR &amp; MENGAJAR TIM PUSTAKA LAKA di berbagai tempat &amp; kalangan. Di dalamnya terdapat: teori, contoh-contoh, soal-soal latihan, dan soal ujian kenaikan kelas.</strong></p>
<p align="center">
<p align="center"><strong>Kenapa dilakukan jarak jauh?</strong><strong></strong></p>
<p align="center">Agar peserta pelatihan bisa memilih waktu belajar sesuai dengan waktu yang diinginkan. Dan peserta pelatihan bisa mengkondisikan lingkungan belajarnya sendiri.</p>
<p align="center"><strong>Apa Target yang Ingin Dicapai?</strong><strong></strong></p>
<p><strong>Kami berharap, setelah mengikuti pelatihan ini peserta pelatihan:</strong></p>
<ul>
<li>Menguasai kaidah dasar bahasa Arab sebagai bekal untuk melanjutkan ke tingkat berikutnya.</li>
<li>Mengetahui kedudukan sebuah kata dalam kalimat.</li>
<li>Bisa membuat kalimat sederhana dalam bahasa Arab.</li>
<li>Mengerti doa dan dzikir dalam sholat.</li>
<li>Mengerti ayat-ayat al-Qur’an yang dibaca.</li>
<li>Bisa membaca kitab gundul untuk tingkatan pemula.</li>
</ul>
<p align="center"><strong>Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai target di atas?</strong><strong></strong></p>
<p align="center">Untuk menguasai kaidah dasar bahasa Arab (Nahwu-Shorof), ada <strong>6 KELAS</strong> yang harus dilewati. <strong>Masing-masing kelas membutuhkan waktu + 1 BULAN</strong>. <em>Insya Alloh</em> dalam waktu <strong>+ 6 BULAN (bahkan bisa kurang)</strong>, Anda sudah bisa memahami kaidah dasar bahasa Arab sebagai bekal memahami Al-Qur’an, hadits, do’a, dzikir, dll. Jadi sangat tergantung pada kerajinan dan kesungguhan peserta pelatihan dalam belajar. Kalau peserta pelatihan bisa belajar rutin setiap hari, insya Alloh dalam waktu <strong>sekitar 3-4 bulan</strong>, bisa mencapai target yang diharapkan.</p>
<p align="center"><strong>BERAPA BAYARNYA ?</strong><strong></strong></p>
<p align="center"><strong>Biaya pendaftaran: </strong><strong>Rp.50.000,-</strong><strong>/</strong><strong>Kelas</strong></p>
<p align="center"><a href="http://pustakalaka.files.wordpress.com/2011/07/images_012.jpeg"><img class="aligncenter size-full wp-image-99" title="images_012" src="http://pustakalaka.files.wordpress.com/2011/07/images_012.jpeg?w=480" alt=""   /></a></p>
<p align="center">FASILITAS:</p>
<ul>
<li>Modul Kelas 1 yang berisi teori, contoh-contoh, soal-soal latihan, dan soal ujian kenaikan kelas.</li>
<li>Konsultasi VIA SMS setiap hari.</li>
</ul>
<p align="center"><strong> Kenapa harus bayar?</strong><strong></strong></p>
<p align="center">Ya, kami mohon maaf karena pelatihan ini harus bayar. Sebab untuk menyelenggarakan acara pelatihan ini dikeluarkan dana yang cukup besar. Oleh karena itu terpaksa pelatihan ini dipungut bayaran. Namun, untuk menentukan biaya sebesar <strong>Rp.50.000/kelas</strong> kami sudah rundingkan dengan beberapa kalangan dan mereka mengatakan jumlah ini sudah sangat murah.</p>
<p align="center"><strong>Namun bila Anda merasa KEMAHALAN, anda bisa menggunakan cara lain. Silakan Anda beli sendiri buku-buku panduan belajar bahasa Arab di toko buku. Kemudian Anda minta orang yang mengerti bahasa Arab untuk mengajari Anda (</strong><strong>Sebab kebanyakan buku tata bahasa Arab yang beredar di masyarakat, harus dipelajari dengan bimbingan langsung seorang guru secara intensif</strong><strong>). Jadi, banyak cara yang bisa kita lakukan untuk belajar.</strong><strong> </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>Kenapa dibuat menjadi 6 kelas dan 6 modul? Kenapa tidak dibuat satu modul saja yang berisi 6 kelas pelajaran?</strong><strong></strong></p>
<p>Ya, kami sengaja membagi pelatihan ini menjadi 6 kelas dengan 6 modul karena beberapa alasan:</p>
<ol>
<li>Kami ingin peserta pelatihan mempelajari bahasa Arab secara santai. Kami tidak ingin membuat peserta pelatihan merasa berat karena melihat banyaknya pelajaran yang harus dilewati.</li>
<li>Kami ingin peserta pelatihan memiliki pondasi yang kuat dalam belajar. Kami ingin peserta kajian betul-betul kuat dalam pemahaman sebuah materi pelajaran sebelum melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi.</li>
</ol>
<p align="center"><strong>AYO IKUTAN !!! MUMPUNG ADA KESEMPATAN !!!</strong></p>
<p align="center"><a href="http://pustakalaka.files.wordpress.com/2011/07/images_010.jpeg"><img class="aligncenter size-full wp-image-100" title="images_010" src="http://pustakalaka.files.wordpress.com/2011/07/images_010.jpeg?w=480" alt=""   /></a><strong><br />
</strong></p>
<p align="center"><strong> KETIK SMS: NAMA/ALAMAT LENGKAP/PBAJJ</strong></p>
<p align="center"><strong>KIRIM KE: 0856 9510 4219 / 0898 3636 7655</strong></p>
<p align="center"><strong>Biaya pendaftaran bisa ditransfer ke </strong><strong>BANK MUAMALAT </strong></p>
<p align="center"><strong>no. rek </strong><strong>920 766 5199 </strong><strong>a.n. </strong><strong>Mujianto</strong></p>
<p align="center"><strong>Modul dll. akan segera dikirim setelah transfer. </strong></p>
<p align="center"><strong>Mohon ada pemberitahuan setelah mentransfer.</strong></p>
<p align="center"><strong>UNTUK WILAYAH BOGOR BEBAS ONGKOS KIRIM</strong></p>
<p align="center"><strong>UNTUK LUAR BOGOR ADA TAMBAHAN ONGKOS KIRIM:</strong></p>
<p align="center"><strong>Rp. 5.000,- (Jakarta, Depok, Tangerang, Bekasi)</strong></p>
<p align="center"><strong>Rp. 10.000,- (Pulau Jawa di luar JADETABEK)</strong></p>
<p align="center"><strong>Rp.20.000,- (Luar Jawa)</strong><strong></strong></p>
<p><strong>Info lebih lanjut:</strong></p>
<p><a href="../"><strong>http://pustakalaka.wordpress.com</strong></a><strong> atau hub: Abdul Jabbar: 0856 9510 4219</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>Semoga informasi ini bermanfaat!</strong></p>
<p align="center"><strong>Tim Pengkaji Bahasa Arab Pustaka Laka</strong></p>
<p align="center"><strong>http://pustakalaka.wordpress.com</strong></p>
<p align="center">EBOOK GRATIS</p>
<p align="center"><a href="http://www.4shared.com/document/w3hU-FH1/PERJALANAN_PANJANG_YANG_PASTI_.html"><strong>Perjalanan Panjang yang Pasti Kita Lewati</strong></a></p>
<p align="center"><a href="http://www.4shared.com/document/jyskFH4n/KENAPA_KITA_BUTUH_SHOLAT_BERJA.html"><strong>Kenapa Kita Butuh Sholat Berjama&#8217;ah</strong></a></p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penulispemula.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penulispemula.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penulispemula.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penulispemula.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/penulispemula.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/penulispemula.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/penulispemula.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/penulispemula.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penulispemula.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penulispemula.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penulispemula.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penulispemula.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penulispemula.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penulispemula.wordpress.com/141/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penulispemula.wordpress.com&amp;blog=3691474&amp;post=141&amp;subd=penulispemula&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penulispemula.wordpress.com/2011/06/28/pelatihan-bahasa-arab-jarak-jauh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33ca217fb1a3adb928c3df8e2b32fdf9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mujianto2008</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pustakalaka.files.wordpress.com/2011/07/images.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">images</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pustakalaka.files.wordpress.com/2011/07/images_003.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">images_003</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pustakalaka.files.wordpress.com/2011/07/images_012.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">images_012</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pustakalaka.files.wordpress.com/2011/07/images_010.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">images_010</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah Suka Duka Belajar Bahasa Arab Tanpa Guru</title>
		<link>http://penulispemula.wordpress.com/2011/04/12/kisah-suka-duka-belajar-bahasa-arab-tanpa-guru/</link>
		<comments>http://penulispemula.wordpress.com/2011/04/12/kisah-suka-duka-belajar-bahasa-arab-tanpa-guru/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Apr 2011 07:09:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penulis biasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulisanku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penulispemula.wordpress.com/?p=138</guid>
		<description><![CDATA[Manusia Biasa &#160; Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa aku akan tertarik belajar bahasa Arab. Sebab aku adalah orang yang biasa-biasa saja. Aku terlahir dan dibesarkan oleh orang tua yang biasa-biasa saja. Lingkungan tempat aku tinggal pun biasa-biasa saja. Bukan lingkungan yang agamis. Jadi tidak ada yang mendorongku untuk belajar bahasa Arab pada waktu itu. Alhamdulillah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penulispemula.wordpress.com&amp;blog=3691474&amp;post=138&amp;subd=penulispemula&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Manusia Biasa</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa aku akan tertarik belajar bahasa Arab. Sebab aku adalah orang yang biasa-biasa saja. Aku terlahir dan dibesarkan oleh orang tua yang biasa-biasa saja. Lingkungan tempat aku tinggal pun biasa-biasa saja. Bukan lingkungan yang agamis. Jadi tidak ada yang mendorongku untuk belajar bahasa Arab pada waktu itu.</p>
<p><em>Alhamdulillah</em> sejak kecil aku sudah bisa membaca al-Qur’an. Ibuku yang mengajariku membaca al-Qur’an. Kemudian aku disuruh oleh ibuku untuk menghafal surat-surat pendek yang ada di juz ‘amma. Sehabis maghrib aku harus menyetorkan hafalanku di hadapan ibuku. Seingatku, sebelum lulus SD aku sudah berhasil menghafal juz ‘amma. Namun bacaan al-Qur’anku baru sebatas bacaan biasa. Aku tidak mengerti artinya. Dan ketika itu, belum ada keinginan dalam diriku untuk mengerti arti dari bacaan al-Qur’an yang aku baca.</p>
<p>Sejak kecil aku juga sudah bisa mengerjakan sholat. Guru agamaku di sekolah yang mengajarkannya. Aku sudah tahu gerakan dan bacaan sholat. Hanya saja, aku belum mengerti dengan bacaan yang aku baca ketika sholat. Dan aku memang tidak ada keinginan untuk mengerti waktu itu. Sehingga bacaan sholatku persis seperti orang yang sedang mengucapkan mantra-mantra. Mulutku komat-kamit tapi aku tidak mengerti dengan yang aku ucapkan.</p>
<p>Sebagaimana keadaan masyarakat pada umumnya, aku beragama atas dasar “ikut-ikutan”. Setiap yang dikatakan oleh penceramah di masjid, semua aku anggap benar. Aku tak mempermasalahkan siapapun yang ceramah. Meskipun dia seorang penyanyi atau pelawak, apabila dia ceramah tentang agama, aku anggap perkataannya benar dan bagus. Dan itulah yang aku ikuti. Tak pernah terpikirkan dalam benakku waktu itu untuk mempertanyakan,  “Apakah yang mereka sampaikan benar-benar sesuai dengan yang diajarkan oleh Alloh dan Rosul-Nya atau tidak? Apakah yang disampaikan oleh para penceramah di masjid, TV, dan radio benar-benar berdasarkan dalil yang kuat dari al-Qur’an dan hadits-hadits yang shohih atau tidak?”. Pokoknya, apapun yang aku dengar, entah dari penceramah, guru, atau siapa saja, aku pun langsung terima saja. Tidak pernah ada keinginan dalam diriku untuk mengkaji kembali ucapan mereka.</p>
<p>Lucunya waktu itu, setiap buku yang ada tulisan arabnya aku anggap sebagai buku yang bagus untuk dibaca. Buku apapun, baik yang dijual di toko buku, di bus, di kereta, atau dimanapun, jika isinya membahas tetang masalah agama, aku anggap isinya benar dan baik untuk diamalkan. Pernah suatu ketika aku membeli buku yang isinya mengajarkan  tentang zikir-zikir tertentu. Dalam buku itu dijelaskan tentang khasiat zikir-zikir. Dikatakan dalam buku itu kalau kita baca zikir ini dan itu selama sekian kali, maka kita akan begini dan begitu. Namun tidak dijelaskan dalam buku itu apakah amalan ini memang ada ajarannya dari Rosululloh atau tidak. Dalam buku itu cuma disampaikan, kalau membaca zikir ini selama sekian kali maka akan begini dan begitu. Itu saja. Tanpa ada keterangannya dari al-Qur’an, Hadits dan penjelasan para ulama. Aku pun kemudian tertarik untuk mencobanya. Namun, meskipun aku sudah baca zikir ratusan kali seperti  yang diajarkan, aku tetap tidak mendapatkan hasil apa-apa. Padahal aku sudah sangat serius membacanya. Sebab katanya, kalau aku mengamalkan zikir itu, aku bisa menjadi “orang sakti”. Waktu itu aku masih SMA. Karena di sekitar sekolahku sering terjadi tawuran, maka aku ingin sekali jadi orang sakti agar bisa menang kalau berkelahi. Baru kemudian, setelah aku mengerti tentang pemahaman Islam yang benar, aku baru tahu kalau zikir-zikir semacam itu tidak boleh dilakukan. Sebab tidak ada ajarannya dari Rosululloh.</p>
<p>Lagi pula kalau ada zikir-zikir semacam itu, niscaya Rosululloh lah yang akan pertama kali melakukannya, dan beliau tentu akan mengajarkannya kepada para Sahabat beliau. Sebab mereka sangat butuh zikir-zikir semacam itu. Bukankah mereka dahulu sering berperang sehingga tentunya sangat butuh kepada kesaktian untuk bekal berperang. Namun tidak ada keterangannya bahwa Rosululloh dan para Shahabat beliau mengamalkan zikir-zikir semacam itu.</p>
<p>Demikianlah diriku pada waktu itu. Aku bukanlah orang yang kritis dalam beragama. Aku cuma pengekor. Keadaan diriku dalam beragama persis seperti binatang ternak yang digiring oleh penggembala. Aku hanya manut-manut saja tanpa tahu mau digiring ke mana. <em>Alhamdulillah</em> aku belum sampai digiring ke penjagalan untuk disembelih!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>***</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sejak SD hingga SMA aku lalui di sekolah umum. Tentu saja selama di sekolah umum aku tidak diajarkan bahasa Arab. Lalu, kenapa tiba-tiba aku bisa tertarik untuk belajar bahasa Arab? Begini ceritanya…..</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pondok AQ</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Setamat dari SMA aku kuliah di kampus ABC yang terletak di kota X. Lokasi kampus ABC sebenarnya masih berdekatan dengan kota tempat aku dilahirkan. Namun untuk menuju ke sana dibutuhkan kira-kira 4-5 jam perjalanan dengan bus. Oleh karena itu, mau tidak mau aku harus kos di kota X.</p>
<p>Ada empat orang dari SMA ku yang kuliah di kampus ABC. Namun ketiga temanku kuliah di fakultas yang berbeda dengan diriku. Karena fakultas kami terpisah jauh, maka kami pun terpaksa harus tinggal terpisah. Ketiga temanku itu tinggal di daerah yang saling berdekatan. Sementara aku berada di daerah yang jauh dari mereka.</p>
<p>Awalnya aku tidak tahu harus kos di mana. Aku tidak kenal siapa-siapa di kota X. Segalanya serba asing bagiku. Syukurlah, saat aku sedang kebingungan, ada seorang mahasiswa senior yang memberiku informasi sebuah rumah kos. Aku disarankan untuk kos di sana. Dia pun memberitahuku alamat rumah kos itu. Nama kosannya Pondok AQ. Katanya dia punya banyak teman di sana. Aku pun kemudian mencari alamat kos itu. Setelah bertanya-tanya, akhirnya aku temukan juga kosan itu.</p>
<p>Ternyata Pondok AQ adalah sebuah rumah yang besar. Ada 16 kamar di dalamnya. Masing-masing kamar diisi oleh dua orang. Jadi aku tinggal bersama sekitar 30-an lebih mahasiswa. Semua kuliah di kampus yang sama.</p>
<p>Berbeda dengan kos yang yang lain, Pondok AQ dikenal sebagai “rumah binaan”. Ada kajian keislaman yang diadakan di dalamnya. Semua penghuni kos, terutama mahasiswa baru, harus mengikuti kajian keislaman yang ada di dalamnya.  Diantara materi yang diajarkan ialah bahasa Arab. Nah, inilah awal perkenalanku dengan bahasa Arab.</p>
<p>Seminggu sekali sehabis subuh, kira-kira sekitar satu jam, kami diajarkan kaidah-kaidah bahasa Arab. Waktu itu aku diajarkan kaidah nahwu untuk tingkat dasar. Aku diperkenalkan apa itu isim, fi’il, dan huruf beserta tanda-tandanya. Namun, karena belum ada motivasi yang kuat dalam diriku untuk belajar bahasa Arab, maka tidak ada satu pun ilmu yang nyangkut di kepalaku. Waktu itu bisa dikatakan bahwa aku ini “terpaksa” ikut belajar bahasa Arab. Sebab itu sudah peraturan yang harus dipatuhi oleh semua  penghuni kos. Dengan terpaksa aku pun harus mengikutinya.</p>
<p>Aku sendiri sudah lupa apakah ustadz yang mengajarku waktu itu memberi motvasi kami tentang pentingnya bahasa Arab atau tidak. Yang jelas waktu itu aku belum termotivasi sama sekali untuk belajar bahasa Arab. Aku benar-benar tidak mengerti dengan materi yang disampaikan ustadz. Yang masih aku ingat sampai sekarang adalah perkataan ustadz ketika menjelaskan huruf jar. Beliau berkata begini, “Sudah, hafalin saja dulu. Ntar lama-kelamaan juga bakalan ngerti…”.</p>
<p>Karena aku memang tidak tertarik dengan bahasa Arab, akhirnya setelah beberapa kali belajar, tetap tidak ada perubahan yang menggembirakan dalam diriku. Aku tetap tidak mengerti dengan kaidah bahasa Arab yang telah diajarkan. Hingga ketika diadakan ujian, nilaiku pun ancur-ancuran. Namun aku tidak merasa sedih. Sebab teman-temanku yang lain mengalami nasib yang sama denganku. Mereka juga tidak tertarik belajar bahasa Arab. Hanya ada satu orang yang sepertinya sangat bersemangat belajar bahasa Arab. Selain belajar di kos, dia juga belajar di tempat lain di luar kos. Namanya AK.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sahabatku AK</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mahasiswa yang tinggal di Pondok AQ semuanya berasal dari luar daerah. Namun kebanyakan masih berada di pulau jawa. Hanya ada beberapa saja yang berasal dari luar jawa. Dan yang rumahnya terjauh adalah AK. Dia berasal dari daerah ujung Indonesia. Dia seangkatan denganku. Hanya saja kami berbeda jurusan.</p>
<p>Berbeda denganku, AK adalah orang yang sangat perhatian dengan permasalahan agama. Dia tipe orang yang kritis dalam beragama. Dia berusaha untuk mengamalkan ibadah agama di atas landasan ilmu, bukan ikut-ikutan. Oleh karena itulah dia banyak membaca buku-buku Islam. Di rak bukunya banyak terdapat buku-buku bacaan Islami tentang berbagai permasalahan, seperti aqidah, fiqih, dll.</p>
<p>Aku dan dia cukup berteman baik. Aku sering berkunjung ke kamarnya. Aku pun sering meminjam buku-buku agama koleksinya. Lewat perantaraan dialah aku mengenal tentang bagaimana seharusnya seorang muslim itu memahami Islam.</p>
<p>AK sering mengajukan permasalahan-permasalahan agama yang membuatku penasaran. Pernah suatu ketika dia mengajukan sebuah pertanyaan tentang aqidah kepadaku dan teman-teman yang sedang ngobrol-ngobrol di kamarku. Dia bertanya (bersambung)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penulispemula.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penulispemula.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penulispemula.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penulispemula.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/penulispemula.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/penulispemula.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/penulispemula.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/penulispemula.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penulispemula.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penulispemula.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penulispemula.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penulispemula.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penulispemula.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penulispemula.wordpress.com/138/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penulispemula.wordpress.com&amp;blog=3691474&amp;post=138&amp;subd=penulispemula&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penulispemula.wordpress.com/2011/04/12/kisah-suka-duka-belajar-bahasa-arab-tanpa-guru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33ca217fb1a3adb928c3df8e2b32fdf9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mujianto2008</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kiat Jitu menjadi Penulis Buku!!</title>
		<link>http://penulispemula.wordpress.com/2010/06/07/kiat-jitu-menjadi-penulis-buku/</link>
		<comments>http://penulispemula.wordpress.com/2010/06/07/kiat-jitu-menjadi-penulis-buku/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jun 2010 13:21:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penulis biasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penulispemula.wordpress.com/?p=133</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin saya perlu sedikit menceritakan pengalaman saya sebelum menjadi penulis di Elexmedia Komputindo. Sekitar tahun 2000, saya pernah mengajukan naskah buku tentang Adobe Photoshop versi 5.0 ke penerbit Dinastindo. Setelah dikoreksi, pihak Dinastindo kurang tertarik dengan tulisan saya. Mungkin ada beberapa pertimbangan mengapa mereka menolak proposal naskah saya yaitu: saya belum berpengalaman menjadi penulis, tata [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penulispemula.wordpress.com&amp;blog=3691474&amp;post=133&amp;subd=penulispemula&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mungkin saya perlu sedikit menceritakan pengalaman saya sebelum menjadi penulis di Elexmedia Komputindo. Sekitar tahun 2000, saya pernah mengajukan naskah buku tentang Adobe Photoshop versi 5.0 ke penerbit Dinastindo. Setelah dikoreksi, pihak Dinastindo kurang tertarik dengan tulisan saya. Mungkin ada beberapa pertimbangan mengapa mereka menolak proposal naskah saya yaitu: saya belum berpengalaman menjadi penulis, tata cara penulisan masih sangat awam, atau tema yang diajukan kurang menarik. Saya memaklumi penolakan tersebut dengan berbagai pertimbangan.</p>
<p>Saya tidak putus asa dan berkecil hati dengan keputusan tersebut. Dua bulan setelah gagalnya proposal naskah di Dinastindo, saya<span id="more-133"></span> mencoba mendatangi langsung ke kantor Elexmedia di Palmerah. Saya ditanya maunketemu siapa, saya agak kikuk bingung mau jawab apa. Saya jawab: ” mau mengirimkan naskah tentang komputer. Singkat cerita, akhirnya saya ketemu dengan pihak Elexmedia. Dan proposal naskah diterima untuk dipelajari dan dikoreksi. Saya menunggu sekitar 3 minggu untuk mengetahui diterima atau tidaknya naskah tersebut. Memasuki minggu keempat sejak proposal naskah dikirim, naskah tersebut belum bisa diterima dengan alasan masih teoritis. Perlu banyak perbaikan.</p>
<p>Akhirnya proposal naskah yang ketiga diterima oleh pihak Elexmedia. Dan saya diberi waktu sekitar 1 – 1,5 bulan untuk menyelesaikan naskah sampai selesai. Jadi, naskah yang dikirim tidak perlu harus selesai semua. Cukup daftar isi, kata pengantar, sinopsis, dan salah satu bab dari bab yang ada. Misalnya buku tersebut terdapat 10 bab, maka kita harus menyelesaikan salah satu dari bab itu (bab 1, bab 2, bab 3, dst) yang penting pembahasan dalam bab tersebut selesai.</p>
<p>Setelah naskah selesai semua, mereka masih mengeditnya. Butuh beberapa bulan sampai akhirnya dibuat surat perjanjian antara Penerbit dengan Penulis. Tak terbayangkan betapa bahagianya diriku menandatangani perjanjian kontrak dengan penerbit buku terbesar di Indonesia.</p>
<p>Ketika buku tersebut terbit, saya mendapatkan fee sebesar 25% dari total semua (misal harga buku Rp. 25.000 x 3000 jumlah cetakan x 10% royalti). Jika dihitung, 75 jt x 10% = 7,5 jt. Nah, saya mendapatan 25% dari 7,5 jt. Wah bahagianya saat itu.</p>
<p>Untuk pembayaran berikutnya, menunggu buku laku terjual selama 6 bulan (biasanya laporan penjualan Agustus dan ditransfer September/Nopember). Biasanya laporan penjualan Bulan Januari dan September tiap tahunnya.Mudah-mudahan cerita tersebut bermanfaat untuk memberi “support” agar tidak berputus asa dalam segala hal.</p>
<p>Alhamdulillah, pihak Elexmedia memberikan kepercayaan ke saya untuk “mengajak” rekan-rekan yang ingin menulis bidang komputer. Tugas saya hanya memberikan rekomendasi ke pihak Elexmedia, sedangkan berhasil atau tidaknya tergantung isi naskah dan ketertertarikan pihak Elexmedia untuk menerbitkan buku tersebut. Saya tidak mengharapkan apapun dari pihak Elexmedia ataupun calon penulis, dan saya bukan “calo:. Manfaatkan kesempatan tersebut selagi ada.</p>
<p>Beberapa contoh file yang bisa didownload.</p>
<p><a href="http://slametriyanto.net/wp-content/uploads/2009/01/CONTOH-Proposal-Naskah-Joomla.zip">CONTOH-Proposal Naskah Joomla</a><br />
<a href="http://slametriyanto.net/wp-content/uploads/2009/01/CONTOH-Matriks_Perencanaan_Joomla.zip">CONTOH-Matriks_Perencanaan_Joomla</a><br />
<a href="http://slametriyanto.net/wp-content/uploads/2009/01/CONTOH-Kata_Pengantar.zip">CONTOH-Kata_Pengantar</a><br />
<a href="http://slametriyanto.net/wp-content/uploads/2009/01/CONTOH-Daftar_Isi.zip">CONTOH-Daftar_Isi</a><br />
<a href="http://slametriyanto.net/wp-content/uploads/2009/01/CONTOH-Bab7_Mengelola_Menu.zip">CONTOH-Bab7_Mengelola_Menu</a></p>
<p>Jika telah berhasil mendownload dan mempelajarinya, silakan kirim contohnya salah satu bab tuntas ke email saya: <strong><a href="mailto:info@slametriyanto.net">info@slametriyanto.net</a></strong>. Hal ini untuk mengetahui format dan tata bahasa yang baku untuk penulisan buku sehingga mempermudah proses selanjutnya. Jika standar tata bahasa yang diinginkan pihak Elexmedia tidak terpenuhi, kemungkinan naskah buku akan dikembalikan untuk direvisi atau bahkan ditolak.</p>
<p>Mudah-mudahan saya dapat membantu memeriksa tata bahasa dan cara penyajian yang baik menurut standar yang diinginkan pihak Elexmedia.</p>
<p>Salam,</p>
<p>Slamet Riyanto</p>
<p>Sumber: http://slametriyanto.net/bagaimana-cara-menjadi-penulis-buku/</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penulispemula.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penulispemula.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penulispemula.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penulispemula.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/penulispemula.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/penulispemula.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/penulispemula.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/penulispemula.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penulispemula.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penulispemula.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penulispemula.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penulispemula.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penulispemula.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penulispemula.wordpress.com/133/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penulispemula.wordpress.com&amp;blog=3691474&amp;post=133&amp;subd=penulispemula&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penulispemula.wordpress.com/2010/06/07/kiat-jitu-menjadi-penulis-buku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33ca217fb1a3adb928c3df8e2b32fdf9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mujianto2008</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Andrie Wongso: Selamat Pagi! Luar Biasa!</title>
		<link>http://penulispemula.wordpress.com/2010/05/10/andrie-wongso-selamat-pagi-luar-biasa/</link>
		<comments>http://penulispemula.wordpress.com/2010/05/10/andrie-wongso-selamat-pagi-luar-biasa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 May 2010 02:39:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penulis biasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penulispemula.wordpress.com/?p=127</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Selamat pagi! Luar biasa!!!&#8221; &#8220;Selamat pagi! Luar biasa!!!&#8221; Seorang pria 30-an tahun menyapa Andrie Wongso dengan penuh semangat. Pak Andrie Wongso, motivator ulung itu, pun menjawab dengan lebih semangat lagi. Macam baru habis makan atau hendak perang saja! Saat itu pukul 10 malam atawa pukul 22.00 WIB di Surabaya. &#8220;Tengah malam begini kok selamat pagi? [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penulispemula.wordpress.com&amp;blog=3691474&amp;post=127&amp;subd=penulispemula&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Selamat pagi! Luar biasa!!!&#8221;<br />
&#8220;Selamat pagi! Luar biasa!!!&#8221;</p>
<p>Seorang pria 30-an tahun menyapa Andrie Wongso dengan penuh semangat. Pak Andrie Wongso, motivator ulung itu, pun menjawab dengan lebih semangat lagi. Macam baru habis makan atau hendak perang saja! Saat itu pukul 10 malam atawa pukul 22.00 WIB di Surabaya.</p>
<p>&#8220;Tengah malam begini kok selamat pagi? Bukan selamat malam? Apa saya tidak salah dengar?&#8221; saya menggerutu dalam hati.<span id="more-127"></span></p>
<p>Tak lama, datang lagi rombongan orang, usianya variasi. Mereka pun mengucapkan salam itu: &#8220;Selamat pagi! Luar biasa!&#8221;</p>
<p>Pak Andrie Wongso menjawab: &#8220;Selamat pagi! Luar biasa!!!&#8221;</p>
<p>Akhirnya, saya pun sadar bahwa beginilah gaya Andrie Wongso. Cara pria asal Malang, lahir Desember 1954, dalam menyuntikkan motivasi kepada pendengarnya. &#8220;Selamat pagi! Luar biasa!&#8221; Kalimat ini diucapkan dengan tegas, pendek, ala tentara.</p>
<p>Saya pun coba menyapanya: &#8220;Selamat pagi! Luar biasa!&#8221; Hehehe&#8230; Pak Andrie Wongso pun menjawab seperti itu. Gayanya sudah terpola. &#8220;Mereka-mereka yang sudah ikut pelatihan Andrie Wongso pasti sudah hafal dengan ucapan itu. Semacam ciri khas lah. orang yang belum kenal Andrie Wongso, ya, pasti heran, malam-malam kok selamat pagi? Siang-siang selamat pagi?&#8221;</p>
<p>Begitulah. Andrie Wongso, yang mengaku bergelar SDTT [Sekolah Dasar Tidak Tamat], hanya mengenal PAGI. Tidak ada siang, sore, senja, malam, subuh&#8230;. Pagi itu identik dengan kegairahan, kesegaran, semangat. Maka, jangan sekali-kali engkau mengatakan &#8216;selamat malam&#8217; atau &#8216;selamat sore&#8217;. Harus selalu PAGI, PAGI, PAGI. Semangat, semangat, semangat!</p>
<p>Ceramah-ceramah Andrie Wongso memang penuh semangat. Namanya juga motivator. Sejak 1989 dia menjadi pembicara di mana-mana. Kerjanya memompa semangat, motivasi untuk sukses. Istilah lawasnya: maju terus pantang mundur! Jangan pernah punya semangat kalah. Target harus tinggi. Jadilah pemenang, bukan pecundang!</p>
<p>Karena itu, Andrie Wongso pernah dibayar khusus oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk memotivasi kontingen Pekan Olahraga Nasional XVI di Palembang. Para atlet dipacu semangatnya untuk merebut emas sebanyak-banyaknya. Andrie juga dibayar lagi untuk &#8216;memprovokasi&#8217; semangat atlet-atlet Piala Thomas dan Piala Uber.</p>
<p>Menang semua? Hehehe&#8230;. Lawan-lawan pun bayar motivator juga. Mereka juga latihan, persiapan lama, punya bakat dan catatan prestasi. Maka, ada yang menang, ada yang kalah. Kalau engkau tidak berlatih, fisik lemah, bakat kurang, ya, tak akan menang meskipun tiap hari dipompa oleh Andrie Wongso.</p>
<p>&#8220;Emangnya Andrie Wongso ini tukang sulap? Dia kan cuma jual omongan. Isone ya ngacor tok. Hehehe&#8230;,&#8221; kata teman saya, Cak Mamat.</p>
<p>Apa pun kata orang, di zaman kompetisi macam ini orang-orang kota selalu butuh motivasi lebih untuk maju. Jangan heran manusia-manusia yang pandai bicara macam Andrie Wongso, Tanadi Santoso, James Gwee [dan seabrek nama lagi] beroleh lahan pekerjaan. Kerjanya ya ngomong-ngomong-ngomong! Dan orang suka dengar meskipun setelah pulang baru sadar kalau kata-kata di ceramah itu tidak sesederhana di alam nyata.</p>
<p>Andrie Wongso selalu menceritakan masa kecilnya yang sengsara di Malang. Anak kedua dari tiga bersaudara ini lahir dari keluarga Tionghoa miskin. Ia tidak tamat sekolah dasar, putus kelas enam, karena sekolah Tionghoa ditutup pemerintah Orde Baru. Tak putus asa, Andrie kecil menjual kue-kue di pasar dan toko-toko di Malang.</p>
<p>&#8220;Saya tidak pernah malu karena saya dan orang tua harus survive. Kalau nggak jualan ke pasar-pasar, kami makan apa?&#8221; ujar Andrie Wongso di Surabaya beberapa waktu lalu.</p>
<p>Seperti kisah sukses baba-baba Tionghoa lain, yang memulai usaha dari nol, jualan kelontong, Andrie Wongso berkembang seperti sekarang. Jadi pembicara di mana-mana. Termasuk menceramahi profesor doktor. Menulis buku yang laris manis. SDTT menjadi kecap manis tersendiri bagi Andrie Wongso sebagai motivator.</p>
<p>&#8220;Masa, saya yang SD tidak tamat saja bisa (sukses), lha wong kalian yang sarjana, tamat SMA, lahir dari keluarga mampu, nggak sukses?&#8221; begitu kira-kira logika Pak Andrie. Maka, berbahagialah orang yang miskin, sekolah rendah, tapi sukses!</p>
<p>Beberapa waktu lalu Andrie Wongso memberikan tips untuk menghadapi tahun 2008. Kuncinya: pikir dan aksi! THINK and ACTION! &#8220;Proses THINK tanpa disertai ACTION hanya akan berujung pada kesia-siaan. Sebaliknya, ACTION tanpa THINK akan bias ke mana-mana,&#8221; pesan pemilik situs www.andriewongso.com ini.</p>
<p>Selamat pagi! Luar biasa!<br />
Selamat pagi! Luar biasa!<br />
Selamat pagi! Luar biasa!<br />
Selamat pagi! Luar biasa!<br />
Selamat pagi! Luar biasa!<br />
Selamat pagi! Luar biasa!<br />
Selamat pagi! Luar biasa!</p>
<p>Hehehehe&#8230;. Apanya yang luar biasa, Cak?</p>
<p>Sumber: http://hurek.blogspot.com/2008/03/andrie-wongso-selamat-pagi-luar-biasa.html</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penulispemula.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penulispemula.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penulispemula.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penulispemula.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/penulispemula.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/penulispemula.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/penulispemula.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/penulispemula.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penulispemula.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penulispemula.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penulispemula.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penulispemula.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penulispemula.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penulispemula.wordpress.com/127/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penulispemula.wordpress.com&amp;blog=3691474&amp;post=127&amp;subd=penulispemula&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penulispemula.wordpress.com/2010/05/10/andrie-wongso-selamat-pagi-luar-biasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33ca217fb1a3adb928c3df8e2b32fdf9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mujianto2008</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Andrea Hirata &#8211; Lentera Jiwa Sang Laskar Pelangi</title>
		<link>http://penulispemula.wordpress.com/2010/05/10/andrea-hirata-lentera-jiwa-sang-laskar-pelangi/</link>
		<comments>http://penulispemula.wordpress.com/2010/05/10/andrea-hirata-lentera-jiwa-sang-laskar-pelangi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 May 2010 02:34:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penulis biasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penulispemula.wordpress.com/?p=122</guid>
		<description><![CDATA[Begitu banyak hal yang menakjubkan yang terjadi pada masa kecil para Laskar Pelangi. Sebelas anak Melayu Belitong yang luar biasa ini tak menyerah walau keadaan tak bersimpati pada mereka demi tetap menyalakan terus lentera jiwanya. Semuanya tergambar dengan indah pada sebuah novel berjudul sama yang telah diangkat ke layar lebar dan mengundang antusias yang luar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penulispemula.wordpress.com&amp;blog=3691474&amp;post=122&amp;subd=penulispemula&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Begitu banyak hal yang menakjubkan yang terjadi pada masa kecil para Laskar Pelangi. Sebelas anak Melayu Belitong yang luar biasa ini tak menyerah walau keadaan tak bersimpati pada mereka demi tetap menyalakan terus lentera jiwanya. Semuanya tergambar dengan indah pada sebuah novel berjudul sama yang telah diangkat ke layar lebar dan mengundang antusias yang luar biasa.<br />
Kisah pada novel laris ini semuanya berawal dari memoar masa kecil yang ditulis lelaki berambut ikal penyandang nama panjang Andrea Hirata Seman Said Harun yang seringkali dipanggil Ikal ini. Terlahir pada tanggal 24 Oktober sebagai anak keempat dari pasangan N.A. Masturah (ibu) dan Seman Said Harun (ayah), Andrea Hirata menghabiskan masa kecilnya di Belitong.<br />
Setamat SMA, ia merantau ke Jawa, melanjutkan studi di fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Seusai meraih gelar sarjana ekonomi seperti telah ditulis di atas, ia berhasil mendapatkan beasiswa dari Uni Eropa untuk mengambil gelar master di Universite de Paris Sorbonne, Perancis serta Sheffield Hallam University, di Inggris. Tesis Andrea di bidang ekonomi dan telekomunikasi mendapat penghargaan dari kedua universitas tersebut. Dia pun lulus cum laude.<br />
Di saat ia mengambil gelar masternya tersebut, Andrea memulai debut menulisnya. Disaat malam-malam insomnianya tersebut Andre justru menulis buku non fiksi pertamanya yaitu buku ilmiah berjudul &#8220;The Science of Bussiness&#8221; pada tahun 2003. Buku yang menurut Andre sendiri adalah semacam pembayar kewajiban moralnya kepada lembaga Uni Eropa yang memberikannya beasiswa kuliah di Sorbonne Prancis dan Sheffield Inggris.<br />
Tapi tidak hanya berhenti sebagai kewajiban moral saja, ternyata Andrea kemudian menjadi ketagihan untuk menulis buku. Andrea yang memang sangat menggemari sains akhirnya mencoba menulis buku sastra dari sejarah panjang kehidupan masa kecilnya yang tertuang dalam buku &#8220;Laskar Pelangi&#8221;<br />
Pada mulanya, Andrea tidak pernah meniatkan naskahnya untuk dikomersilkan lewat industri buku. Ia menulis memoar itu hanya untuk dipersembahkan sebagai kado ulang tahun bagi gurunya tercinta, Ibu Muslimah, yang telah memberikannya semangat dalam mengejar Lentera Jiwanya. Di mana dalam cerita Laskar Pelangi , ibu guru ini adalah seorang tokoh yang sangat inspiratif, seorang guru miskin di sebuah sekolah dasar miskin di Belitong yang mendidik murid-muridnya dengan penuh kecintaan. Kabarnya pula , Ibu Muslimah tengah diusulkan untuk mendapatkan Ma&#8217;arif Award.<br />
Tanpa sepengetahuan Andrea, naskah tersebut secara diam-diam dibawa oleh salah seorang sahabat Andrea yang pernah membaca draft tersebut kepada salah satu penerbit untuk diperlihatkan. Penerbit yang beruntung ini, Bentang, tanpa diduga langsung jatuh cinta dan lantas menerbitkannya. Dan tak terduga juga akhirnya Laskar Pelangi termasuk novel yang ada di jajaran best seller untuk tahun 2006 &#8211; 2007.<br />
Buntut kesuksesan Laskar Pelangi ditandai pula oleh diterbitkannya buku tersebut dalam edisi bahasa Melayu di Malaysia dan menjadi best seller di negeri jiran itu. Berkat itu pula, akhirnya novel ini diangkat ke layar lebar oleh sutradara bertangan dingin, Riri Reza, yang juga menghasilkan box office di Indonesia.<br />
Sejak itu pula, Ikal jadi ketagihan menulis fiksi. Ia melewatkan malam-malam insomnianya dengan menulis. Saat menulis itu, ia merasakan hal yang berbeda. Dan menyusul buku pertamanya, Andrea lantas menulis sekuelnya, Sang Pemimpi. Masih berkisah seputar sekolahan, buku keduanya ini pun terbilang sukses. Lagi-lagi ia mendapatkan setumpuk pujian sekaligus kritikan yang disikapinya dengan bijaksana.<br />
Apa mau dikata, Andrea Hirata akhirnya dengan sadar menjerumuskan diri ke dalam penulisan buku fiksi. Laskar Pelangi merupakan buku pertama dari sebuah karya tetralogi. Setelah Sang Pemimpi, berikutnya berturut-turut terbit dua judul lagi yaitu Edensor dan Maryamah Karpov. Setelah terkenal dengan karya-karya sastranya, ia sangat berharap satu hari nanti bisa kembali menulis sebuah buku sains kembali seperti awal debut menulisnya dulu. Karena ia memang sangat menyukai sains, fisika, kimia dan biologi walaupun ia mengambil major ekonomi dalam studinya.<br />
Andrea pun mengakui, bahwa lantaran Laskar Pelangi cita-citanya membuka perpustakaan di kampung halamannya terwujud sudah. Perpustakaan itu menjadi tempat orang belajar ilmu pengetahuan dan agama Islam. Perpustakaan ini membuka diri bagi para relawan yang ingin bergabung.<br />
Pemuda ini sendiri lebih mengidentikkan dirinya sebagai seorang akademisi dan backpacker daripada seorang novelis. Kini setelah kesuksesannya dalam menulis, Ikal masih punya sebuah cita-cita dalam mengejar mimpinya yang lain yaitu tinggal di Kye Gompa, desa tertinggi di dunia, di Himalaya.<br />
Andrea Hirata adalah salah seorang contoh nyata, tidak ada yang tidak mungkin untuk mengejar mimpi dan menyalakan terus Lentera Jiwa. Dari sebuah kumpulan anak-anak berjiwa besar dalam Laskar Pelangi di sebuah desa tertinggal, terlahir Lentera Jiwa yang bersinar terang dan menyentuh banyak orang. [dr.m]<br />
<em>Diambil dari berbagai macam sumber</em></p>
<p><em>Sumber: </em>http://www.lenterajiwa.com/inspirasi.php?Nid=50</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penulispemula.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penulispemula.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penulispemula.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penulispemula.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/penulispemula.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/penulispemula.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/penulispemula.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/penulispemula.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penulispemula.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penulispemula.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penulispemula.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penulispemula.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penulispemula.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penulispemula.wordpress.com/122/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penulispemula.wordpress.com&amp;blog=3691474&amp;post=122&amp;subd=penulispemula&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penulispemula.wordpress.com/2010/05/10/andrea-hirata-lentera-jiwa-sang-laskar-pelangi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33ca217fb1a3adb928c3df8e2b32fdf9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mujianto2008</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berbeda Tapi Tetap Satu</title>
		<link>http://penulispemula.wordpress.com/2009/04/09/berbeda-tapi-tetap-satu/</link>
		<comments>http://penulispemula.wordpress.com/2009/04/09/berbeda-tapi-tetap-satu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Apr 2009 04:02:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penulis biasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulisanku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penulispemula.wordpress.com/?p=120</guid>
		<description><![CDATA[Kawan&#8230; Kita emang nggak menutup mata kalo dalam masalah shalat ini banyak sekali kita temukan perbedaan. Coba aja kita perhatiin orang-orang yang shalat di masjid. Niscaya akan kita dapati mereka berbeda dalam banyak hal. Misalnya ada yang kalo sujud tangan duluan, ada yang lutut duluan. Trus ada juga yang kalo duduk tasyahhud jarinya digerak-gerakkan, dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penulispemula.wordpress.com&amp;blog=3691474&amp;post=120&amp;subd=penulispemula&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Kawan&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Kita emang nggak menutup mata kalo dalam masalah shalat ini banyak sekali kita temukan perbedaan. Coba aja kita perhatiin orang-orang yang shalat di masjid. Niscaya akan kita dapati mereka berbeda dalam banyak hal. Misalnya ada yang kalo sujud tangan duluan, ada yang lutut duluan. Trus ada juga yang kalo duduk tasyahhud jarinya digerak-gerakkan, dan ada juga yang nggak. Dan masih banyak lagi perbedaan yang lainnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Namun hal ini wajar. Sebab, <span id="more-120"></span>sebagaimana udah saya bilangin, kalo masalah shalat ini merupakan masalah fikih yang tentu saja nggak menutup kemungkinan terjadinya beda pendapat. Perbedaan pendapat ini terkadang bersumber dari perbedaan dalam memahami dalil-dalil, baik al-Qur’an dan as-Sunnah. Ada yang memahaminya seperti ini, dan ada yang memahaminya seperti itu. <span> </span>Terkadang, dari satu dalil, seorang ulama bisa berbeda dalam memahaminya, sehingga terjadilah pebedaan pendapat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Kita tentu pernah mendengar kisah pengutusan para Sahabat Nabi ke Bani Quroizhoh. Sebelum berangkat, Rasulullah <em>Shallallâhu ’alayhi wa sallam </em>berpesan kepada para sahabatnya begini,”Janganlah ada seorang pun dari<span> </span>kalian yang mengerjakan shalat Ashar, kecuali setelah sampai di Bani Quroidzhoh!” (Muttafaq ‘alaih), demikian pesan Rasulullah <em>Shallallâhu ’alayhi wa sallam </em>kepada mereka. Namun, di tengah perjalanan, masuklah waktu shalat Ashar. Para sahabat kemudian berbeda pendapat. Ada yang berpendapat bahwa mereka harus tetep shalat pada waktunya. Adapun perintah Rasulullah, menurut mereka, maksudnya ialah agar para Sahabat mempercepat perjalanan seshingga bisa sampe di Bani Quroizhoh pas waktu Ashar. Merekapun kemudian shalat di tengah jalan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Sahabat yang lain lagi memahami berbeda. Mereka berkesimpulan bahwa mereka dilarang shalat, kecuali di Bani Quroizhoh. Sehingga merekapun nggak ikutan shalat. Mereka baru melaksanakannya ketika sudah sampe di Bani Quroizhoh. Kemudian setelah itu, merekapun menyampaikan hal ini kepada Rasulullah <em>Shallallâhu ’alayhi wa sallam</em>. Namun Rasulullah nggak memarahi mereka karena berbeda pendapat dalam masalah ini. Sehingga dari sini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa Islam memberi keluasan dalam masalah-masalah fikih yang seperti ini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Sayangnya, banyak di antara kawan-kawan kita yang nggak ngerti tentang hal ini. Sehingga tak jarang kita jumpai terjadi insiden kecil-kecilan di antara mereka hanya gara-gara permasalahan fikih yang mestinya mereka harus bersikap lapang dada terhadap orang yang berbeda pendapat dengan dirinya. Namun, tak jarang pula kita melihat, perbedaan masalah fikih ini bisa menyulut api permusuhan antar sesama Muslim. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Seorang kawan pernah bercerita begini. Suatu hari, selesai shalat berjama’ah, dia ditegur oleh seseorang yang shalat di sisinya. Rupanya orang itu merasa terganggu dengan gerakan jari telunjuk kawan saya ketika duduk tasyahud. Bikin nggak khusyu’, katanya (<em>Orang itu nggak paham bahwa shalat khusyu bukan berarti seseorang itu nggak ngeliat gerakan di sekelilingnya. Salah satu ciri shalat khsuyu adalah shalat yang dilakukan sesuai contoh Rasulullah Shallallâhu ’alayhi wa sallam. Dan, menggerak-gerakkan jari telunjuk ketika tasyahud termasuk yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallâhu ’alayhi wa sallam, karena ada dalilnya</em>). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Kawan saya itu pun langsung mengajak orang itu ke lantai bawah masjid di mana di sana terdapat pedagang buku-buku Islam yang menggelar dagangannya. Kawan saya lalu mengambil sebuah buku tentang tata cara shalat Nabi. Di tunjukkan kepada orang itu hadits tentang menggerakkan jari telunjuk ketika tasyahud. Haditsnya berbunyi,” Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam</em> menggerak-gerakkan jari telunjuknya (ketika duduk tasyahud-pent) sambil membaca doa.”(HR. Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Jarud dalam <em>Al-Muntaqa</em> (208), Ibnu Khuzaimah (1/86/1-2), Ibnu Hibban dalam <em>Shahih</em>-nya (485) dengan sanad shahih, disahkan oleh Ibnu Mulaqqan (28/2).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Namun, orang itu tetap ngeyel. “Tapi kan tetep ganggu…”, demikian sangkalnya. “Lho, ini hadits Rosul”, ucap pedagang buku ikut nimbrung. Orang itu tetap tidak bisa menerima dan pergi begitu saja dengan perasaan kesal. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">*** <span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Oleh karena itu, agar perbedaan pendapat semacam ini nggak sampe menyulut api permusuhan di antara kau muslimin, hendaknya kita belajar tentang bagaimana seharusnya bersikap ketika berhadapan dengan perbedaan pendapat. Apapun bentuknya perbedaan itu, entah perbedaan dalam masalah fikih, perkara akidah, maupun perkara-perkara yang lainnya. Lalu, bagaimana sebenarnya cara menyikapi perbedaan pendapat yang diajarkan Islam?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Sebenarnya Islam sudah memberikan solusi jitu dalam menyikapi perbedaan pendapat.<span> </span>Islam telah memberikan pedoman yang jelas dan terang dalam menyikapi perbedaan pendapat. Mari kita simak ayat berikut ini.</p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Allah <em>Subhânahu wa Ta’âlâ</em> berfirman,”<em>Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur&#8217;an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya</em>”. (Q.s. an-Nisa [4]:59)</p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Inilah sikap yang wajib kita ambil ketika menghadapi perbedaan pendapat, yaitu: <strong>Mengembalikan kepada al-Qur’an dan As-Sunnah</strong>. Sebab, Allah <em>Subhânahu wa Ta’âlâ</em></span> <span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">yang memerintahkan demikian sebagaimana ayat di atas.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="ES">Dari sini, jelaslah kekeliruan sebagian orang<span> </span>yang berkata bahwa ketika terjadi perbedaan pendapat,”Kita kembalikan kepada masing-masing saja! Jangan dipermasalahkan! Dll.”. Sebab, yang pertama, perkataan ini menyelisihi petunjuk Allah <em>Subhânahu wa Ta’âlâ</em>. Kemudian, yang kedua, perkataan ini membuka lebar-lebar pintu kerusakan. Kok bisa?! Saya akan berikan contoh tentang kerusakan yang akan timbul jika kaidah ini dipakai. </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="ES">Misalnya ada anggota keluarga kita (misalnya Ibu dan Ayah kita) yang mempunyai pendapat sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:Wingdings;"><span>v<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="ES">Minum minuman beralkohol nggak mengapa jika tidak sampai mabuk dan tujuannya untuk menenangkan diri. Dalilnya hadits Rasulullah <em>Shallallâhu ’alayhi wa sallam</em>,”<em>Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya</em>”. </span><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">(H.r. Al-Bukhari dan Muslim).</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:Wingdings;"><span>v<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Shalat, puasa, zakat, haji dan ibadah-ibadah lainnya nggak wajib bagi seseorang yang sudah mencapai derajat “al-yaqin”. Dalilnya firman Allah <em>Subhânahu wa Ta’âlâ</em>,”<span> </span>Dan beribadahlah kepada Rabb-mu hingga datang kepadamu “al-yaqin”. (Q.s. Al-hijr [15]: 99).<span> </span></span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Nah, jika kita melihat ayah kita sedang minum minuman keras dan ibu kita tidak shalat lima waktu karena memiliki pendapat seperti di atas, maka apa yang kita lakukan? </span><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="FI">Apakah kita biarkan saja dengan alasan,” Kita kembalikan kepada masing-masing saja! Jangan dipermasalahkan!”. Ataukah kita ingatkan mereka, dengan cara menjelaskan kekeliruan dalil yang mereka gunakan ? </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="SV">Jawabannya tentu yang kedua. Kita ingatkan mereka tentang kekeliruan dalil yang mereka lakukan. </span><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="FI">Kita jelaskan kepada ayah kita bahwa minum minuman beralkohol hukumnya haram meskipun niatnya baik. Sebab, niat baik caranya pun harus baik, yaitu yang tidak bertentangan dengan syari’at. </span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="FI">Kemudian kita jelaskan kepada ibu kita bahwa maksud dari “al-yaqin” dari Q.s. al-Hijr ayat 99, sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama, adalah “al-maut” (kematian). Jadi, maksud ayat ini adalah: Dan beribadahlah kepada Rabb-mu hingga datang kepadamu kematian. </span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;" lang="FI"><span> </span>Nah, kamu tentu sudah paham betapa bahayanya jika kaidah “Kita kembalikan kepada masing-masing saja!” diterapkan ditengah masyarakat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><span> </span><span> </span>Jadi kesimpulannya, kalo kita ngeliat perbedaan perndapat, untuk mengetahui mana pendapat yang benar, kita harus kembalikan kepada Al-Qur’an, As-Sunnah. Kita cek dan recek. Mana pendapat yang paling sesuai dengan Al-Qur’an dan sunnah Rasul. Maka itulah yang kita ambil dan kita pegang. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="FI">*** </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="FI">Jangan Taklid, Yaa&#8230;!</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><span> </span>Namun, perlu saya ingatkan juga, bahwa ketika kita berbeda pendapat kita nggak boleh taklid. Kamu tau kan taklid itu apaan? Taklid itu maksudnya a<span style="color:black;">dalah mengikuti pendapat/perkataan seseorang tanpa diketahui dalilnya. Sebab taklid ini sangat berbahaya. Dia ibarat virus ganas yang bisa membahayakan orang-orang yang dihinggapinya. Virus taklid ini telah terbukti memakan banyak korban. Di zaman Rasulullah </span><em>Shallallâhu ’alayhi wa sallam </em><span style="color:black;">dahulu, khususnya di awal-awal munculnya Islam, ratusan bahkan ribuan orang masuk neraka gara-gara taklid. Orang-orang kafir Quraisy pada waktu itu banyak yang enggan menerima Islam gara-gara terjangkit virus taklid. </span></span><span style="color:black;" lang="SV">Mereka taklid kepada nenek moyang mereka. Oleh karena itu Islam sangat melarang taklid. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="SV">Dalam al-Qur’an, banyak sekali ayat-ayat yang memberi peringatan untuk menjauhi taklid. Diantaranya Allah <em>Subhânahu wa Ta’âlâ</em> berfirman,”<em>Dan apabila dikatakan kepada mereka:”Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah”. Mereka menjawab:”(Tidak) tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk</em>”. (Q.s. al-Baqarah [ 2]:170)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"><span> </span>Bahkan, para ulama jaman dahulu –seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’I, dan Imam Ahmad bin Hambal- sudah mewanti-wanti para muridnya untuk waspada dari sikap taklid.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"><span> </span>Imam Abu Hanifah berkata,”<strong>Tidak halal bagi seseorang untuk mengikuti perkataan kami bila ia tidak tahu dari mana kami mengambil sumbernya</strong>.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="color:black;" lang="SV">Imam Malik berkata,”<strong>Saya hanyalah seorang manusia biasa, terkadang salah, terkadang benar. Oleh karena itu, telitilah pendapatku. Bila sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah, ambillah; dan bila tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah, tinggalkanlah</strong>.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"><span> </span>Imam Asy-Syafi’i berkata,”<strong>Bila kalian menemukan dalam kitabku sesuatu yang berlainan dengan<span> </span>hadits Rasulullah, peganglah hadits Rasulullah itu dan tinggalkanlah pendapatku itu</strong>.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"><span> </span>Imam Ahmad berkata,”<strong>Janganlah kamu taklid kepada siapapun dari mereka dalam urusan agamamu. Apa yang datang dari Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa Sallam</em> dan para Sahabatnya, itulah hendaknya yang kamu ambil</strong>.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"><span> </span></span><span style="color:black;" lang="FI">Oleh karena itu kita harus hati-hati. Jangan sampe kita terkena virus yang satu ini. Terutama sebagai seorang terpelajar (penuntut ilmu). Dia harus membentengi dirinya sekuat tenaga dari virus taklid ini. Caranya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="FI"><span> </span>Untuk membentengi diri dari virus taklid, sebagai seorang yang terpelajar (<em>saya yakin, kamu-kamu yang baca buku adalah orang terpelajar semua, ya kan?</em>), kita harus kritis dalam beragama. </span><span style="color:black;">Tidak asal menerima pendapat setiap orang. Ketika ada seseorang yang mengeluarkan pendapat, entah itu ustadznya, kiyainya, gurunya, syaikhnya, atau siapapun hendaknya diteliti terlebih dahulu. </span><span style="color:black;" lang="ES">Sesuai tidak pendapatnya itu dengan al-Qur’an dan as-Sunnah? Benar nggak pemahaman al-Qur’an dan as-Sunnah yang disampaikan? Ada nggak contoh pengamalannya dari Rasulullah dan para sahabatnya? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="ES"><span> </span>Allah <em>Subhânahu wa Ta’âlâ</em> memerintahkan kita untuk besikap kritis. Mari kita renungi kembali firman Allah <em>Subhânahu wa Ta’âlâ,”Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya</em>”. </span><span lang="FI">(Q.s. An-Nisa [4]:59)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="FI"><span> </span>Dalam ayat ini, ketika terjadi perbedaan pendapat, Allah </span><em><span lang="FI">Subhânahu wa Ta’âlâ</span></em><span lang="FI"> <span style="color:black;">menyuruh kita untuk melakukan studi kritis. Kita tidak diperintahkan untuk mengembalikan pendapat kepada diri masing-masing atau ustadz/kiyai masing-masing. Akan tetapi Allah </span><em>Subhânahu wa Ta’âlâ</em> <span style="color:black;">menyuruh kita untuk mengembalikannya kepada al-Qur’an dan as-Sunnah. Jika cocok dengan keduanya, itulah yang diambil, meskipun menyalahi pendapat yang kita yakini selama ini atau pendapat yang diyakini oleh ustadz kita dan kiyai kita di pengajian. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="color:black;" lang="SV">Seorang penuntut ilmu yang kritis, otaknya akan berkembang. Tidak <em>jumud</em> (beku). Sebab, otaknya akan terlatih melakukan penelitian yang mendalam. Dia akan rajin membuka-buka referensi, membaca, menelaah, membandingkan, menganalisa, untuk kemudian mengambil pendapat yang paling kuat. Yaitu yang paling sesuai dengan al-Qur’an dan as-Sunnah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"><span> </span>Seorang penuntut ilmu yang kritis akan senantiasa menerima kebenaran, meskipun kebenaran itu menyalahi pendapat dirinya dan gurunya selama ini. Bagi dirinya, kebenaran lebih berhak untuk diterima dan diikuti, dari siapapun datangnya.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"><span> </span>‘Abdurrahman bin ‘Abdillah bin Mas’ud <em>rahimahullah</em> berkata,”Ada seseorang yang datang kepada ‘Abdullah bin Mas’ud seraya berkata,”Wahai Abu ‘Abdirrahman, beritahukanlah kepadaku kalimat yang simpel namun banyak mengandung manfaat!” ‘Abdullah menjawab,”Jangan sekali-kali engkau menyekutukan Allah. Berjalanlah bersama al-Qur’an kemana saja engkau pergi. <strong>Jika ada kebenaran yang datang kepadamu, janganlah segan-segan untuk menerimanya sekalipun kebenaran itu jauh letaknya dan tidak menyenangkan</strong>. Dan jika ada kebathilan yang datang kepadamu, tolaklah ia jauh-jauh sekalipun kebathilan itu dekat letaknya dan sangat kau sukai.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="color:black;">******</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="color:black;">Berbeda halnya dengan penuntut ilmu yang terjangkit virus taklid. Otaknya akan beku, keras,<span> </span>tumpul, dan nggak akan berkembang.<span> </span>Sebab, otaknya jarang diasah. Kebiasaannya adalah<span> </span>menelan mentah-mentah apa yang dikatakan oleh ustadznya saja. Akibatnya, otaknya tidak terlatih untuk melakukan anailisis ilmiyah terhadap suatu permasalahan. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="color:black;">Bagi orang yang taklid, apa yang dikatakan ustadznya, itulah satu-satunya yang dia anggap benar. Dia pun berusaha membela pendapat itu mati-matian. Dia enggan mempertimbangkan pendapat orang lain, meskipun itu suatu kebenaran (berdasarkan dalil yang kuat). Seolah-olah perkataan gurunya adalah wahyu dari Tuhan yang tidak boleh diganggu gugat. Maka, keadaannya tidak jauh beda dengan orang-orang zaman jahiliyyah dahulu.<span> </span></span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;color:black;">“<em>Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb selain Allah, dan (juga mereka menjadikan Rabb ) Al-Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Ilah Yang Maha Esa; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan</em>”. (Q.s. at-Taubah [9]:31)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span><span style="color:black;">Ada</span><span style="color:black;"> juga yang memberikan permisalan, bahwa orang yang terkena virus taklid ini ibarat hewan yang diikat lehernya, kemudian di</span><span style="color:black;" lang="FI">bawa. Namun hewan itu nggak tau mau dibawa ke mana? Seringkali hewan itu dibawa ke tempat penjagalan kemudian disembelih!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="color:black;" lang="FI">Semoga Allah menyelamatkan kita semua dari virus berbahaya ini. Amien. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="color:black;" lang="FI">*** </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="color:black;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="FI"><span> </span>Jadi intinya begini kawan&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="FI"><span> </span>Ketika kita ngeliat ada beda pendapat, trus kita nggak tau mana yang bener dan lebih kuat, maka yang pertama kali kita lakukan ialah bertanya kepada ahlinya. Bisa ke ulama atau ustadz yang mumpuni keilmuannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="color:black;" lang="FI">Tapi, setelah kita diberi jawaban, kita juga jangan menelan mentah-mentah begitu aja. Tapi kita juga kudu cari kejelasan: dalilnya apa? Pemahamannya gimana? Misalnya kita nanya begini,”Maaf Pak Ustadz, kalo boleh<span> </span>tau, dalilnya apa ya? Trus penjelasannya gimana?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="color:black;" lang="FI">Nah, beginilah kita seharusnya dalam menghadapi beda pendapat. </span><span style="color:black;" lang="SV">Dengan begitu, kita akan terhindar dari sikap taklid. Sebab, ketika kita udah tau dalilnya, berarti yang kita ikuti itu dalilnya, bukan ustadznya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="color:black;" lang="SV">Kemudian, kalau ada orang lain yang berbeda pendapat dengan kita, <span> </span>dan setelah kita kaji secara mendalam, ternyata dalil yang dia bawakan lebih kuat dan lebih cocok dengan pengamalan (sunnah) Rasulullah, kita mesti mengambil pendapat itu, meskipun berbeda dengan yang dikatakan oleh ustadz kita, kiyai kita, guru kita, ulama kita,<span> </span>dll. </span><span style="color:black;" lang="FI">Sebab, kebenaran itu lebih berhak untuk diikuti. Dan setiap orang perkataannya bisa diterima dan bisa ditolak, kecuali Rasulullah </span><em><span lang="FI">Shallallâhu ’alayhi wa sallam</span></em><span style="color:black;" lang="FI">. </span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="FI">Imam Malik pernah berkata ”Setiap orang perkataannya bisa diambil dan bisa dibuang, kecuali perkataan penghuni kubur ini,”sambil tangan beliau menunjuk ke kuburan Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-family:&quot;color:black;" lang="FI">*** </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;color:black;" lang="FI"><span> </span></span><span style="color:black;" lang="FI">Gimana, kawan&#8230; </span><span style="color:black;" lang="SV">Semoga kalian semua ngerti dengan yang barusan saya sampaikan. </span><span style="color:black;" lang="FI">Untuk mengakhiri pembahasan yang cukup melelahkan ini, saya akan membawakan sebuah kisah yang dari kisah ini <em>insya Allah</em> kita akan bisa mengambil banyak pelajaran tentang bagaimana seharusnya kita menyikapi perbedaan pendapat. Kisahnya begini&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="color:black;" lang="FI">Abu Sa’id al-Khudri <em>radhiyallahu ’anhu</em> berkata,”Pernah ada dua orang bepergian bersama. Ketika dalam perjalanan, datanglah waktu shalat, namun mereka tidak mendapatkan air. Merekapun tayammum dengan tanah yang suci, lalu shalat. Setelah selesai shalat, mereka mendapatkan air, sedangkan waktu shalat masih ada. Salah seorang dari mereka berwudhu lalu mengulangi shalatnya, sedangkan yang satunya tidak mengulangi shalatnya. Setelah pulang, mereka datang dan menceritakan kepada Rasulullah </span><em><span lang="FI">Shallallâhu ’alayhi wa sallam </span></em><span style="color:black;" lang="FI">tentang kejadian yang mereka alami. Rasulullah </span><em><span lang="FI">Shallallâhu ’alayhi wa sallam </span></em><span style="color:black;" lang="FI">berkata kepada yang tidak mengulangi shalatnya,’Kamu telah mengikuti sunnah dan shalat yang kamu lakukan telah cukup bagimu.’ Sedangkan kepada yang mengulangi wudhu dan shalatnya beliau berkata,’Kamu mendapatkan dua pahala.’” (H.r. Abu Dawud dan an-Nasa’i)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="color:black;" lang="FI">Hadits ini, kata Syaikh bin Baz, menunjukkan bahwa orang yang tidak mengulangi wudhu dan shalatnya telah mengikuti sunnah Nabi, karena mencukupkan dengan sesuatu yang dia mampu ketika itu. </span><span style="color:black;" lang="SV">Adapun orang yang mengulani shalatnya berarti telah berijtihad. Oleh karena itu, dia mendapatkan dua pahala. Pahala pertama didapatkan dari shalatnya yang pertama, dan pahala kedua didapatkan dari ijtihadnya mengulang shalat yang dia maksudkan untuk mengikuti sunnah Nabi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="color:black;" lang="SV">Nah, kawan&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="color:black;" lang="SV">Dari cerita di atas, setidaknya ada empat pelajaran yang bisa kita petik. </span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span lang="SV">Ketika      berbeda pendapat, kita harus menghormati orang yang berbeda pendapat      dengan kita. Nggak boleh kita saling ejek dan cela, apalagi sampe      cakar-cakaran. Malu dong! Masak sesama orang Islam berantem! Kayak anak      kecil aja&#8230;</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="SV">Ketika      berbeda pendapat, kita nggak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain. </span><span lang="FI">Nggak boleh kita memaksa orang lain      untuk ikut pendapat kita. Emangnya kita siapa maksa-maksa orang lain! Kita      ini bukan kompeni yang biasa nyuruh orang kerja paksa. (<em>lho, kok jadi larinya      ke kompeni sih..he..he..</em>)</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="color:black;" lang="FI">Tapi, bukan berarti kita nggak boleh untuk saling berdiskusi. Silakan aja berdiskusi atau bertukar pikiran. Tapi ingat! Tujuan berdiskusi bukan untuk menang-menangan. Tapi buat nyari kebenaran. Jika kita emang mau berdiskusi, lakukanlah dengan suasana sejuk dan penuh keakraban (<em>Kalau perlu diskusinya dilakukan di bawah pohon rindang dengan ditemani segelas es campur dan pisang goreng</em>). Kemudian, hendaknya berlemah-lembut dalam mengeluarkan argumentasi. Agar jangan sampe nantinya jadi debat kusir. Kalo sampe terjadi debat kusir, maka ucapkanlah ”<strong>Sampai jumpaaa&#8230;!</strong>”. Sebab, Rasulullah </span><em><span lang="FI">Shallallâhu ’alayhi wa sallam </span></em><span style="color:black;" lang="FI">bersabda,”</span><span style="font-family:Tahoma;" lang="FI"> </span><em><span lang="FI">Saya adalah pemimpin di sebuah rumah di pelataran surga bagi orang yang meninggalkan debat kusir meskipun ia berada dalam pihak yang benar”</span></em><span lang="FI"> (H.r. Abu Dawud)</span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span lang="FI">Ketika      terjadi perbedaan pendapat, kita nggak boleh mengembalikan kepada diri      masing-masing. Sebagaimana dalam cerita di atas, para Sahabat kemudian      mengembalikannya kepada Rasulullah </span><em><span style="color:windowtext;" lang="FI">Shallallâhu ’alayhi wa      sallam</span></em><span lang="FI"> agar beliau      memutuskan yang benar dari perbedaan pendapat mereka. Seandainya kita      boleh mengembalikannya kepada diri masing-masing, niscaya para sahabat      nggak akan nanya ke Rasulullah </span><em><span style="color:windowtext;" lang="FI">Shallallâhu ’alayhi wa sallam</span></em><span lang="FI">. Ya udah, masing-masing aja&#8230;</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="SV">Jangan      kita jadikan perbedaan pendapat sebagai alasan untuk berpecah belah. Lihatlah      para sahabat Rasul! </span><span lang="IT">Di      antara mereka terjadi perbedaan pendapat, sebagaimana cerita di atas. Trus,      mereka juga berbeda pendapat dalam permasalahan lainnya, misalnya tentang      hukum memakan daging onta, apakah membatalkan wudhu apa nggak. Ada di      antara mereka yang berpendapat bahwa orang yang memakan daging onta maka      wudhunya batal, dan ada yang berpendapat nggak batal. </span><span lang="SV">Tapi mereka tetap bersatu. Mereka      tetap shalat di belakang satu imam. Mereka nggak lantas membikin jama’ah      sendiri-sendiri sesuai dengan yang sependapat dengan mereka. Tidak! Mereka      tetap shalat di belakang satu imam, meskipun bisa jadi imamnya itu      berpendapat bahwa memakan daging onta nggak membatalkan wudhu, sedangkan      makmumnya bependapat sebaliknya. </span><span style="font-family:&quot;" lang="SV"></span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;color:black;" lang="SV"><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="SV">Inilah beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dari cerita dalam hadits di atas. Jadi sekarang, kalo kamu ngeliat adanya perbedaan pendapat di sekitarmu, kamu nggak usah bingung. Sebab, kamu udah tau kan gimana caranya bersikap? Siiip lah kalo gitu&#8230;! Lanjuut&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="SV">Eee..sebentar&#8230;sebentar..! Ada yang kelupaan. Saya mo ngingetin juga nih. Dalam berbeda pendapat, kita juga harus bersikap lapang dada ketika suatu waktu menerima kritikan, meskipun yang mengritik kita ialah orang yang paling kita benci. Anggaplah kritikannya itu sebuah bingkisan yang diberikan kepada kita. Jika ternyata isinya memang sebuah kebenaran, hendaknya kita menerimanya. Kita nggak boleh menolak kebenaran itu. Sebab menolak kebenaran merupakan sikap sombong, sebagaimana Rasulullah bersabda,”<em>Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain</em>.” (H.r. Muslim) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="SV">Ya udah, gitu aja. Lanjuuut&#8230;!</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penulispemula.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penulispemula.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penulispemula.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penulispemula.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/penulispemula.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/penulispemula.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/penulispemula.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/penulispemula.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penulispemula.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penulispemula.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penulispemula.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penulispemula.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penulispemula.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penulispemula.wordpress.com/120/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penulispemula.wordpress.com&amp;blog=3691474&amp;post=120&amp;subd=penulispemula&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penulispemula.wordpress.com/2009/04/09/berbeda-tapi-tetap-satu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33ca217fb1a3adb928c3df8e2b32fdf9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mujianto2008</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wanita &amp; Shalat Berjama’ah</title>
		<link>http://penulispemula.wordpress.com/2009/03/01/wanita-shalat-berjama%e2%80%99ah/</link>
		<comments>http://penulispemula.wordpress.com/2009/03/01/wanita-shalat-berjama%e2%80%99ah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Mar 2009 06:29:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penulis biasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulisanku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penulispemula.wordpress.com/?p=116</guid>
		<description><![CDATA[Kawan&#8230; Mungkin ada di antara kalian yang bertanya-tanya. Bagaimana dengan wanita? Apakah kaum wanita diperintahkan juga untuk shalat berjama’ah di masjid kayak laki-laki? Mmm&#8230;setau saya sih, berdasarkan kesepakatan para ulama, kaum wanita nggak diperintahkan untuk shalat berjama’ah di masjid. Jadi, boleh-boleh aja bagi mereka untuk nggak dateng ke masjid. Dateng boleh, nggak dateng juga boleh. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penulispemula.wordpress.com&amp;blog=3691474&amp;post=116&amp;subd=penulispemula&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Kawan&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN">Mungkin ada di antara kalian yang bertanya-tanya. Bagaimana dengan wanita? Apakah kaum wanita diperintahkan juga untuk shalat berjama’ah di masjid kayak laki-laki? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN">Mmm&#8230;setau saya sih, berdasarkan kesepakatan para ulama, kaum wanita nggak diperintahkan untuk shalat berjama’ah di masjid. Jadi, boleh-boleh aja bagi mereka untuk nggak dateng ke masjid. Dateng boleh, nggak dateng juga boleh. Namun, yang lebih utama bagi mereka melakukan shalatnya di rumah, bukan di masjid. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Dari Ummu Humaid As-Sa’idiyyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>, dia mendatangi Rasulullah <em>Shallallâhu ’alayhi wa sallam </em>dan berkata,”Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya senang shalat bersamamu.” Beliau <em>Shallallâhu ’alayhi wa sallam </em>berkata,”<em>Sesungguhnya saya mengetahui bahwa engkau senang shalat bersamaku. Namun, shalatmu di rumahmu lebih baik daripada shalatmu di kamarmu. Shalatmu di kamarmu lebih baik daripada shalatmu di tempat tinggalmu. Shalatmu di tempat tinggalmu lebih baik daripada shalatmu di masjid kaummu. Dan shalatmu di masjid kaummu lebih baik daripada shalatmu di masjidku.” </em>(HR. Ahmad dan Ibnu Khuzaimah) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN">Namun, kalo mereka tetep pingin ikutan shalat berjama’ah di masjid, nggak boleh ada orang yang ngelarang. Sebagaimana sabda Rasulullah <em>Shallallâhu ’alayhi wa sallam,”Jangan kamu melarang istri-istrimu (shalat) di masjid, namun rumah mereka sebenarnya lebih baik untuk mereka.&#8221;</em>(H.r. Ahmad, Abu Dawud, dan Al-Hakim)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Hanya saja, bagi wanita yang pingin ikutan shalat berjama’ah di masjid, hendaknya mereka nggak memakai wangi-wangian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><strong><em><span lang="IN">Lho, emangnya kenapa nggak boleh?!</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><strong><em><span lang="IN"> </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN">Sebab, Rasulullah ngelarang hal itu. Beliau bersabda begini:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="letter-spacing:.1pt;" lang="IN">&#8220;Janganlah kalian melarang para wanita (pergi) ke masjid dan hendaklah mereka </span></em><em><span lang="IN">keluar dengan tidak memakai wangi-wangian.&#8221;</span></em><span lang="IN">(H.r. Ahmad dan Abu Dawud)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN">Dan beliau <em>Shallallâhu ’alayhi wa sallam </em>juga bersabda: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="letter-spacing:-.2pt;" lang="IN">&#8220;Perempuan yang mana saja yang memakai wangi-wangian, maka janganlah dia ikut </span></em><em><span lang="IN">shalat Isya&#8217; berjama&#8217;ah bersama kami.&#8221;</span></em><span lang="IN">(H.r. Muslim)<strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN">Pada kesempatan lain, beliau <em>Shallallâhu ’alayhi wa sallam </em>juga bersabda,”<em>Perempuan yang mana saja yang memakai wangi-wangian, kemudian dia pergi ke masjid, maka shalatnya tidak diterima sehingga dia mandi.&#8221;</em>(H.r. Ibnu Majah)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN">Nah, jadi Rasulullah ngelarang kaum wanita memakai wewangian kalo pingin ke masjid. </span><span lang="ES">Dan kewajiban kita sebagai sesorang Muslim, harus “sami’na wa atho’na”. Kita nggak boleh ngebantah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="ES">Allah <em>Subhânahu wa Ta’âlâ </em>berfirman,”<em>Seungguhnya jawaban orang-orang mukmin bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan,”Kami mendengar, dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung</em>.” (Q.s. an-Nur: 51)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="ES">Allah </span><em><span lang="ES">Subhânahu wa Ta’âlâ</span></em><span lang="ES"><span> </span>juga </span><span lang="ES">berfirman,<em>’Semua yang diberikan Rasul,<span> </span>ambillah! Dan semua yang dia larang, tinggalkanlah! Takut</em></span><em><span lang="SV">lah kalian kepada Allah. Sungguh, Allah sangat keras hukuman-Nya</span></em><span lang="SV">.’(Q.s. al-Hasyr: 7).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="SV">Dan kita harus yakin, bahwa setiap yang dilarang Rasulullah <em>Shallallâhu ’alayhi wa sallam </em>pasti mengandung bahaya, walaupun terkadang kita belom mengetahui bahayanya, dan kita ngerasa (berdasarkan pengetahuan kita yang serba sedikit) kalo hal<span> </span>itu nggak berbahaya. </span><span lang="ES">Sebab, Rasulullah adalah orang yang paling tau tentang apa saja yang bisa membahayakan ummatnya. Dan Rasulullah, sebagaimana udah saya sebutin di awal, adalah orang yang paling sayang kepada ummatnya. Beliau sangat menginginkan kebaikan bagi ummatnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="ES">Allah <em>Subhânahu wa Ta’âlâ</em> berfirman,”<em>Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan kebaikan bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin</em>.” (Q.s. at-Taubah: 128)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="ES"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="ES">*** </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="ES"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="ES">Kemudian, bagi wanita yang pingin ke masjid, hendaknya </span><span lang="IN">mengenakan busana yang sesuai aturan syari’at. Yaitu busana yang menutup aurat, longgar sehingga tidak membentuk lekuk-lekuk tubuh, tebal (tidak tipis), dan tidak menarik perhatian kaum laki-laki. Merekapun nggak boleh bertabarruj.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><strong><em><span lang="IN">Wah, apaan tuh tabarruj?</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><strong><em><span lang="IN"> </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><em><span lang="IN">Tabarruj</span></em><span lang="IN"> itu artinya perbuatan wanita menampakkan perhiasan dan kecantikannya, serta segala sesuatu yang seharusnya ditutup dan disembunyikan karena bisa membangkitkan syahwat laki-laki. Dan ini nggak boleh dilakukan. Sebagaimana Allah <em>Subhânahu wa Ta’âlâ</em> berfirman,”<em>Janganlah kamu bertabarruj seperti orang-orang jahiliyah dahulu</em>.”(Q.s. al-Ahzab [33]: 33)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Kamu tau nggak, kenapa <em>tabarruj</em> dilarang? Sebab nih, <em>tabarruj</em>-nya seorang wanita bisa menimbulkan kerusakan yang besar di masyarakat, khususnya bagi laki-laki. Sebab sudah menjadi tabiat (fitrah) laki-laki memiliki ketertarikan kepada wanita. Dan <em>tabarruj-</em>nya seorang wanita sangat potensial mendorong terjadinya perbuatan zina. Minimal yang terjadi adalah zina mata. Oleh karena itu Islam sangat keras<span> </span>melarang <em>tabarruj</em>. Sampai-sampai perbuatan <em>tabarruj</em> ini disejajarkan dengan perbuatan syirik, zina, mencuri, dan perbuatan haram lainnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN">Abdullah bin Amr pernah mengisahkan. Umaimah bintu Ruqaiqah pernah datang berbai’at kepada Nabi untuk masuk Islam. Nabi berkata,”<em>Aku bai’at kamu untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anakmu, tidak membuat-buat kedustaan yang dibuat dengan kedua tangan dan kakimu, tidak meratap, dan tidak ber&#8211;tabarruj seperti yang dilakukan wanita jahiliyah dulu</em>.” (H.r. Ahmad)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><strong><em><span lang="IN">Kok, kayaknya Islam terlalu banyak aturan deh! Nggak boleh begini lah, nggak boleh begitu lah!</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><strong><em><span lang="IN"> </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN">Eeh, jangan salah, Fren! Justru itu bukti keindahan Islam dan kasih sayang Islam kepada ummatnya. Emang harus diakui kalo agama Islam memberi banyak aturan kepada ummatnya. Tapi kamu harus ingat nih&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">1. Aturan Islam berasal dari Allah </span></strong><em><span lang="IN">Subhânahu wa Ta’âlâ</span></em><span lang="IN">, Pencipta manusia, yang paling tahu segala sesuatu yang bermanfaat untuk manusia. Allah <em>Subhânahu wa Ta’âlâ</em> berfirman,” <em>Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana</em>.” (Q.s. al-Anfaal [8]: 73). Allah <em>Subhânahu wa Ta’âlâ </em>juga berfirman,”<em>Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui</em>.” (Q.s. Al-Baqarah : 232)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Namun sayang, sekarang ini, banyak kita liat manusia yang merasa lebih pintar dari Allah <em>Subhânahu wa Ta’âlâ</em>. </span><span lang="SV">Sehingga mereka lebih senang dan bangga mengikuti aturan yang mereka buat sendiri daripada harus mengikuti aturan Allah <em>Subhânahu wa Ta’âlâ</em>. Akibatnya, timbullah kerusakan di mana-mana.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">”<em>Telah nampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan oleh tangan-tangan (ulah) manusia sendiri.</em>..”. (Q.s. ar-Ruum: 41)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV">2. Aturan dalam Islam semuanya mudah untuk dilaksanakan</span></strong><span lang="SV">. Tiada yang sulit dalam menjalankannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="SV">Allah <em>Subhânahu wa Ta’âlâ</em> berfirman<em>,”&#8230;Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu&#8230;</em>.”(Q.s. al-Baqarah [2]:185)</span></p>
<p class="MsoBodyText2"><span style="font-size:12pt;" lang="SV">”&#8230;<em>Allah tidak ingin menyulitkanmu</em>&#8230;”(Q.s. al-Maa-idah:6)</span></p>
<p class="MsoBodyText2"><span style="font-size:12pt;" lang="SV">”&#8230;<em>Dan Dia (Allah) tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama</em>&#8230;”(Q.s. al-Hajj:78)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="SV">Rasulullah <em>Shallallâhu ’alayhi wa sallam </em>bersabda,”<em>Sesungguhnya agama (Islam) itu mudah</em>”. (H.r. al-Bukhari [39])</span></p>
<p class="MsoBodyText2"><span style="font-size:12pt;" lang="SV"><span> </span>Seandainya kita merasa sulit dan berat dalam melaksanakan sebagian aturan Islam, jangan salahkan aturannya. Hendaknya kita periksa diri kita. Jangan-jangan dalam hati kita ada penyakit. Sebab, bagi orang yang sedang sakit, makanan manis pun akan terasa pahit olehnya. Dan, aktivitas yang paling ringan sekalipun akan terasa berat dikerjakannya.</span></p>
<p class="MsoBodyText2"><span style="font-size:12pt;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV">3.<span> </span>Aturan Islam manfaatnya akan kembali kepada manusia itu sendiri.</span></strong><span lang="SV"> Sayangnya, banyak manusia yang nggak sadar akan hal ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV">Saya akan berikan sebuah contoh supaya kamu makin jelas. Islam memerintahkan wanita muslimah mengenakan jilbab. Allah <em>Subhânahu wa Ta’âlâ</em> berfirman,”<em>Hai Nabi, katakanlah pada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin:”Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuhnya. </em></span><em>Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang</em>.”(Q.s. Al-Ahzab:59)</p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 0 .0001pt;">Nah, perintah jilbab ini datangnya dari Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>, yang tentunya paling mengetahui terhadap segala sesuatu yang baik untuk para wanita. Kemudian, pelaksanaannya pun mudah. Setiap wanita pasti mampu melakukannya. Dan, manfaat jilbab ini akan berpulang kepada wanita itu sendiri.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 0 .0001pt;">Jilbab berfungsi untuk melindungi kehormatan wanita. Tanpa jilbab, wanita layaknya bunga di tepi jalan. Tak ada yang melindungi. Setiap saat mata-mata nakal bebas memandangnya dengan buas, dan begitu mudahnya dipetik oleh tangan-tangan jahil manusia berhati srigala. Setelah puas, bunga pun bisa dengan mudahnya dicampakkan di jalanan. Jadi, jilbab adalah benteng bagi wanita agar kesuciannya tetap terlindungi dan terpelihara.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-size:12pt;">Jadi demikianlah, kawan. Jika kita mau ngeliat semua aturan Islam dengan kaca mata keadilan, niscaya kita akan dapati bahwa aturan Islam adalah aturan yang Indah. Sebab, aturan Islam berasal dari Allah </span><em><span style="font-size:12pt;">Subhânahu wa Ta’âlâ</span></em><span style="font-size:12pt;"> Yang Mahaindah dan mencintai keindahan. Rasulullah </span><em><span style="font-size:12pt;">Shallallâhu ’alayhi wa sallam</span> </em><span style="font-size:12pt;">bersabda, ”<em>Sesungguhnya Allah itu Maha Indah, dan mencintai keindahan</em>..”. (H.r. Muslim)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;">Jika kita merasa bahwa Islam terlalu banyak aturan, dan sebagian aturannya ada yang “seolah” mengekang, memaksa, dll, maka ketahuilah bahwa justru itu merupakan wujud kasih sayang Islam. Ingatlah bahwa Allah <em>Subhânahu wa Ta’âlâ</em><span style="color:red;"> </span>sangat sayang kepada hamba-Nya, demikian pula dengan Rasulullah <em>Shallallâhu ’alayhi wa sallam</em>. Jadi, mustahil jika Allah <em>Subhânahu wa Ta’âlâ</em><span style="color:red;"> </span>dan Rasul-Nya <em>Shallallâhu ’alayhi wa sallam </em>membuat peraturan yang akan menyengsarakan ummatnya.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:normal;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV">Saya akan berikan sebuah permisalan. Permisalan ini sebenarnya mirip-mirip dengan yang udah saya sampein di awal-awal bab. Tapi nggak apa-apa saya ulang lagi, biar kamu semua tambah ngerti bin paham. </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:normal;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV">Misalnya begini. Ada dua orang ibu, masing-masing mempunyai seorang anak kecil. Ibu yang pertama selalu mengingatkan anaknya,” Nak, jangan main api, jangan main pisau, jangan hujan-hujanan, jangan bermain di jalan raya, pagi-pagi jangan jajan es, … Kalau sampai Ibu tau, nanti Ibu jewer!”. Sedangkan ibu yang kedua berkata kepada anaknya,”Terserah kamu mau ngapain, Ibu nggak bakalan ngelarang. </span><span lang="FI">Mau main api kek, hujan-hujanan kek, main pisau kek, terserah. Ibu nggak akan marah. Kamu bebas berekspresi”. Dari kedua ibu ini, siapakah yang pantas dikatakan sebagai orang tua yang sayang kepada anaknya? Tentu ibu yang pertama, bukan?!</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:normal;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><strong><em><span lang="FI">Oo..jadi begitu, toh! Saya baru tau kalo ternyata Islam itu emang agama yang indah. Saya jadi semakin cinta sama Islam nih..he..he&#8230;uhuk..uhuk..</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><strong><em><span lang="FI"> </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="FI">Emang udah seharusnya begitu. Sebagai orang Islam, emang udah sewajarnya bagi kita untuk mencintai Islam. Kalo bukan kita, siapa lagi yang bakal mencintai Islam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="SV">Trus juga, kita emang harus banyak belajar tentang Islam. Agar jangan sampe kita salah paham terhadap Islam disebabkan ketidaktauan kita. Sebab, sekarang ini, banyak lho orang yang salah paham tentang Islam. Ada yang bilang Islam itu ekstrim, sadis, brutal, nggak adil, memasung kebebasan berekspresi, menzalimi wanita, dll. Kenapa mereka bisa bilang seperti itu? Ya, karena mereka nggak ngerti terhadap aturan-aturan dalam Islam. Seandainya mereka paham bin ngerti, niscaya mereka akan berteriak histeris,”<strong>Wow&#8230;! Islam indah bangeet&#8230;!</strong>” Kayak kamu itu, lho. Setelah saya jelasin, kamu baru sadar kan kalo ternyata Islam itu agama yang indah? Padahal sebelumnya kamu bilang kalo Islam itu terlalu banyak aturan dan sering ngelarang-larang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><strong><em><span lang="SV"> </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="SV">***</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:center;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" align="center"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:center;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" align="center"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="SV">Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai </span><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="FI">sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:center;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" align="center"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">(Q.s. al-Baqarah [2]:216)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="IN">*** </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Nah, kawan&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN">Demikianlah pembahasan tentang hukum shalat berjama’ah di masjid bagi wanita. Jadi, berdasarkan hadits Rasulullah <em>Shallallâhu ’alayhi wa sallam</em>, kaum wanita lebih utama shalat di rumahnya. Dan ini lagi-lagi menunjukkan bentuk kasih sayang Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> bagi kaum wanita sekaligus bagi masyarakat. Sebab, dengan wanita shalat di rumah, tentu saja hal ini akan lebih menjaga wanita dan lebih melindunginya. Selain itu, juga untuk menjaga anak-anak di rumah, para lanjut usia, serta manfaat lainnya. Maha Suci Allah yang telah menurunkan syari’at yang penuh hikmah ini!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="IN">*** </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><strong><em><span lang="IN">Tadi kan dibilang kalo <span> </span>wanita itu lebih utama shalatnya di rumah..</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><strong><em><span lang="IN"> </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Betul! Trus, kenapa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span><strong><em>Boleh nggak mereka mengerjakannya secara berjama’ah antara sesama wanita?</em></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><em><span lang="IN"> </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Yup! Pertanyaan yang bagus! Untuk ngejawabnya, saya akan bawakan perkataan dari Dr. Shalih bin Ghanim berikut ini. Dia berkata bahwa jama’ahnya kaum wanita di rumah lebih utama dari pada kehadiran mereka di masjid bersama kaum lelaki, karena shalat mereka di rumah sendirian lebih<span> </span>utama ketimbang dilakukan di masjid. Maka, jika dikerjakan dengan berjama’ah (di rumah) akan lebih utama. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Karena inilah, lanjut Dr. Shalih, jika ada sekelompok wanita yang tinggal di rumah, sekolah, universitas, atau rumah-rumah kontrakan, disunnahkan bagi mereka mengadakan jama’ah shalat. Adapun imamnya boleh berdiri di depan atau di tengah shaf yang pertama, boleh juga mengeraskan suara dalam shalat jahriyah, namun tetap menjaga dan memperhatikan kerendahannya, jika dimungkinkan ada laki-laki non mahram yang mendengarnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Banyak riwayat yang menerangkan pensyari’atannya, diantaranya ialah yang diriwayatkan dari Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>, beliau pernah mengimami para wanita dalam shalat fardhu, tepatnya shalat Maghrib. Beliau berdiri di tengah shaf dan mengeraskan bacaannya. (Ibnu Hazm dalam <em>Al-Muhalla</em> (3/171))</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Dari Hujairah binti Husain, dia berkata,”Ibunda Ummu Salamah mengimami kami dalam shalat Ashar, dan beliau berdiri di antara kami.” (Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla (3/171-172))</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN">Nah, inilah beberapa dalil tentang bolehnya wanita mengerjakan shalat berjama’ah antar sesama mereka selain di masjid. Trus, ada ilmu baru juga nih yang mungkin ada diantara kamu yang baru tau sekarang. Jadi, kalo imam wanita, yang disunnahkan ialah poisinya di tengah-tengan shaf pertama, sejajar dengan barisan. Nah, baru tau kan?!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN">Oke deh&#8230; Kayaknya cukup sampe di sini aja pembahasan tentang hukum shalat berjama’ah di masjid bagi wanita. Sekarang kita berlanjut ke pembahasan selanjutnya yaitu tentang <em>udzur</em> shalat berjama’ah. Tapi sebelumnya, kita ikuti dulu pesan-pesan berikut ini&#8230; </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN">Dokutip dari buku saya yang berjudul &#8220;Shalat Berjama&#8217;ah Emang Duahsyaat!&#8221;, yang sedang dalam proses penawaran ke penerbit. Doain ya supaya lolos&#8230;<br />
</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penulispemula.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penulispemula.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penulispemula.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penulispemula.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/penulispemula.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/penulispemula.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/penulispemula.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/penulispemula.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penulispemula.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penulispemula.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penulispemula.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penulispemula.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penulispemula.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penulispemula.wordpress.com/116/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penulispemula.wordpress.com&amp;blog=3691474&amp;post=116&amp;subd=penulispemula&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penulispemula.wordpress.com/2009/03/01/wanita-shalat-berjama%e2%80%99ah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33ca217fb1a3adb928c3df8e2b32fdf9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mujianto2008</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Maaf, Non-Aktifkan Sejenak HP Anda</title>
		<link>http://penulispemula.wordpress.com/2008/12/10/maaf-non-aktifkan-sejenak-hp-anda/</link>
		<comments>http://penulispemula.wordpress.com/2008/12/10/maaf-non-aktifkan-sejenak-hp-anda/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Dec 2008 02:01:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penulis biasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Menganyam Kata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penulispemula.wordpress.com/?p=113</guid>
		<description><![CDATA[Nah, ini dia nih! Ada juga nih yang kudu kamu perhatiin. Ada saat-saat tertentu di mana sudah seharusnya bagi kamu-kamu yang sering bawa HP ke mana-mana untuk me-non-aktifkan sejenak HP-mu. Di antaranya adalah saat kamu sedang melakukan ibadah shalat, baik shalat wajib maupun shalat sunnah. Hal ini dilakukan sebagai langkah antisipasi jika ada yang menghubungimu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penulispemula.wordpress.com&amp;blog=3691474&amp;post=113&amp;subd=penulispemula&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><em><span lang="PT-BR">Nah, ini dia nih! Ada juga nih yang kudu kamu perhatiin. Ada saat-saat tertentu di mana sudah seharusnya bagi kamu-kamu yang sering bawa HP ke mana-mana untuk me-non-aktifkan sejenak HP-mu. Di antaranya adalah saat kamu sedang melakukan ibadah shalat, baik shalat wajib maupun shalat sunnah. Hal ini dilakukan sebagai langkah antisipasi jika ada yang menghubungimu di tengah shalat. Sebab, suara dering HP bisa mengganggu kekhusyu’an shalat. Terutama ketika shalat berjama’ah di masjid. Di samping mengganggu kekhusyu’an sholatmu, juga ganggu orang yang berada di sekitarmu, lebih-lebih bagi imam shalat.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="PT-BR"><span> </span>Sayangnya, seringkali justru kita dapati sebagian orang yang membiarkan HP-nya dalam keadaan aktif ketika sedang shalat berjama’ah. </span><span lang="SV">Bahkan tak jarang suara dering HP-nya terdengar sangat keras. Di tambah lagi nada dering yang dipakai biasanya berupa musik atau suara yang aneh-aneh, seperti suara hewan, bayi menangis, kuntil anak (hi..hi..hi..hi&#8230;) dll. Tentu saja hal ini sangat mengganggu orang lain yang ada di sekitarnya yang sedang shalat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"><span> </span>Ada cerita begini. Di sebuah masjid yang terletak di daerah perkampungan, <span id="more-113"></span>pernah ada beberapa orang yang shalatnya telat (masbuk). Ketika imam telah salam, mereka yang shalatnya telat ini berdiri untuk menyempurnakan shalatnya. Namun, tiba-tiba terdengar suara musik yang sangat keras dari HP salah seorang dari mereka. Suara ini berlangsung lama, karena si pemilik HP membiarkan saja HP-nya berbunyi. Salah seorang bapak penduduk asli sekitar masjid itupun kemudian berdiri sambil berteriak dengan suara keras,”ENAK DIMUSIKIN KAYAK DI BAR!!!”. Suasana di masjid pun menjadi agak sedikit tegang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"><span> </span>Nah, oleh karena itu, hendaknya kita nggak ngeremehin hal ini. Segera matikan HP kita ketika hendak menunaikan shalat. Jika takut lupa, kita bisa menseting alarm di HP sekitar 5 menit sebelum waktu shalat tiba sehingga jadi ingat untuk segera me-nonaktifkan HP sejenak. Namun, jika kita terlanjur lupa, kemudian HP kita berdering ketika shalat, maka jangan biarkan HP kita terus berbunyi. </span><span lang="FI">Segera matikan, meskipun kita sedang shalat. Hal ini tidak mengapa, bahkan harus kita lakukan. Sebab, kita diperintahkan untuk menghilangkan segala sesuatu yang bisa mengganggu kekhusyu’an shalat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><span> </span>Misalnya aja, kita dilarang untuk shalat ketika makanan udah dihidangkan dan dalam keadaan menahan buang air (kecil maupun besar). Sebagaimana sabda Rasulullah:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">“Apabila makan malam telah dihidangkan, makanlah dahulu sebelum engkau shalat maghrib.” (Muttafaq ‘alaih)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><span> </span>Rasulullah juga pernah bersabda begini:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">“Tidak boleh shalat ketika makanan telah dihidangkan, dan tidak diperbolehkan pula shalat<span> </span>bagi orang yang menahan buang air (kecil maupun besar).” (HR. Muslim)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><span> </span>Larangan ini dimaksudkan agar kita bisa shalat dengan khusyuk tanpa ada gangguan, baik gangguan dari dalam diri kita maupun dari lingkungan sekitar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><span> </span>Barangkali timbul pertanyaan? Bukankah kalau kita matiin HP berarti kita melakukan gerakan yang bukan bagian dari gerakan shalat? Apakah hal ini diperbolehkan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="FI">Jawabnya adalah “boleh”, jika memang hal itu diperlukan demi menjaga kekhusyu’an dan kesempurnaan shalat yang kita lakukan. Ada banyak dalil yang menunjukkan kebolehan melakukan gerakan lain selain gerakan shalat (ketika seseorang sedang melaksanakan shalat) jika memang hal itu harus dilakukan. Namun cukuplah lima hadits berikut ini sebagai dalil penguat bagi kita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="FI"><span> </span>Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam</em> bersabda:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">“Bunuhlah dua binatang hitam (ketika melihatnya-pent) dalam shalat, yaitu ular dan kalajengking.” (Dikeluarkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’I, dan Ibnu Majah. Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><span> </span>Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam</em> juga pernah bersabda:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">“Jika salah seorang di antara kalian mengerjakan shalat menghadap sesuatu yang bisa membatasinya dari orang (yang lewat), lantas ada orang yang hendak lewat di depannya, maka hendaknya dia mencegahnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><span> </span>Ibnu Abbas <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> mengatakan,”Aku bermalam di rumah bibiku yang bernama Maimunah <em>radhiyallahu &#8216;anha</em>. (Pada malam hari) Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam</em> bangun dan mengerjakan shalat malam. Aku lalu berdiri di sebelah kirinya (ketika beliau sedang shalat). Maka beliaupun memegang kepalaku dan meletakkanku di sebelah kanannya.” (HR. Al-Bukhari)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><span> </span>Rasulullah pernah melangkah untuk membuka pintu yang berada di dekat beliau ketika beliau sedang shalat. </span><span lang="EN-GB">Aisyah <em>radhiyallahu &#8216;anha</em> berkata:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-GB">Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam</em> pernah shalat (sunnah) di dalam rumah sedangkan pintunya tertutup. Lalu aku datang dan minta dibukakan. Kemudian beliau berjalan (dalam keadaan shalat-pent) lantas membuka pintu untukku, kemudian kembali lagi ke tempat shalatnya”. (HR. An-Nasa’I dan At-Tirmidzi)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-GB"><span> </span>Rasulullah pun pernah shalat sambil menggendong cucunya yang bernama Umamah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="EN-GB">Abu Qatadah <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> berkata,”Pernah Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam</em> shalat sambil menggendong Umamah putri Zainab <em>radhiyallahu &#8216;anha</em>. Jika beliau sujud, beliau meletakkannya; dan jika beliau berdiri, beliau menggendongnya. (Muttafaq ‘alaih). Dalam riwayat Muslim dikatakan: Beliau pada waktu itu sedang menjadi imam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-GB"><span> </span>Dari kelima hadits di atas menjadi jelaslah oleh kita bahwa seseorang yang sedang melakukan shalat diperbolehkan melakukan gerakan lain yang bukan termasuk gerakan shalat. Namun dengan catatan bahwa gerakan yang dilakukan adalah gerakan yang memang dibutuhkan (berfaidah), bukan gerakan sia-sia ataupun main-main. Bukan pula gerakan yang terlalu banyak (sering dilakukan). Sebab, banyak bergerak di luar gerakan shalat dapat menyibukkan hati dan anggota tubuh dari shalat sehingga dapat membatalkan shalat. Kamu bisa mendapatkan penjelasan panjang lebar tentang masalah ini dalam kitab-kitab hadits atau fikih yang ditulis oleh para ulama. <em>Wallahu a’lam.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span lang="EN-GB"><span> </span></span></em><span lang="EN-GB">Jadi sekarang, kalo kamu lagi shalat trus HP di kantongmu bunyi, segera matikan. Gak apa-apa. Yang nggak boleh, begitu HP kamu bunyi, trus kamu angkat dan kemudian kamu ngobrol dulu sama orang yang nelpon ke HP-mu. Kalo begini sih shalatmu jelas batal. Sebab berbicara ketika shalat termasuk yang membatalkan shalat. </span><span lang="SV">Ah…kalo yang ini sih kamu juga udah tau, kan ?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Tilililit&#8230;&#8230;.. Tilililit&#8230;&#8230;.. Tilililit&#8230;&#8230;.. Tilililit&#8230;&#8230;.. Tilililit&#8230;&#8230;.. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Tilililit&#8230;&#8230;.. Tilililit&#8230;&#8230;.. Tilililit&#8230;&#8230;.. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"><span> </span>Nah, lho! HP siapa tuh yang bunyi? Buruan matiin! Bentar lagi mo sholat nih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span lang="SV">ALLOHU AKBAR &#8230;! ALLOHU AKBAR&#8230;.!</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"><span> </span>Tuh kan, udah adzan. Ya udah, kita sholat dulu. Ngobrolnya ntar diterusin lagi abis shalat. Eh, tapi ngomong-ngomong, HP saya di kantong celana kok nggak ada ya? Waduh&#8230;Jangan-jangan&#8230;COPEEEEEETTT&#8230;.!!!!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">(Dikutip dari buka saya yang berjudul: HATI2 KAWAN…!!! JGN SAMPE MASUK NERAKA GARA2 HP [</span><span style="font-size:11pt;" lang="EN-GB">Petunjuk Penggunaan HP untuk Meraih Surga </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;" lang="SV">dan Terhindar dari Neraka] yang sedang dalam proses penawaran ke penerbit)</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penulispemula.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penulispemula.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penulispemula.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penulispemula.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/penulispemula.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/penulispemula.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/penulispemula.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/penulispemula.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penulispemula.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penulispemula.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penulispemula.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penulispemula.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penulispemula.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penulispemula.wordpress.com/113/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penulispemula.wordpress.com&amp;blog=3691474&amp;post=113&amp;subd=penulispemula&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penulispemula.wordpress.com/2008/12/10/maaf-non-aktifkan-sejenak-hp-anda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33ca217fb1a3adb928c3df8e2b32fdf9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mujianto2008</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>NGAPAIN SIH NULIS BUKU ?</title>
		<link>http://penulispemula.wordpress.com/2008/12/02/ngapain-sih-nulis-buku/</link>
		<comments>http://penulispemula.wordpress.com/2008/12/02/ngapain-sih-nulis-buku/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Dec 2008 01:54:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penulis biasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Menganyam Kata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penulispemula.wordpress.com/?p=109</guid>
		<description><![CDATA[Coba kamu bayangin seandainya buku karyamu ditaro di perpustakaan umum sekolah atau kampus yang ada di setiap kota dan daerah. Kemudian setiap hari dibaca dan dimanfaatkan oleh banyak orang. Maka, betapa besar pahala yang bakalan kamu dapat. *** Sobat… Barangkali kamu semua bertanya-tanya. Ngapain sih nulis buku? Nulis buku kan susah. Harus baca banyak literatur. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penulispemula.wordpress.com&amp;blog=3691474&amp;post=109&amp;subd=penulispemula&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="FI">Coba kamu bayangin seandainya buku karyamu ditaro di perpustakaan umum<span> </span>sekolah atau kampus yang ada di setiap kota dan daerah. Kemudian setiap hari dibaca dan dimanfaatkan oleh banyak orang. Maka, betapa besar pahala yang bakalan kamu dapat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="SV">*** </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Sobat…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"><span> </span>Barangkali kamu semua bertanya-tanya. Ngapain sih nulis buku? Nulis buku kan susah. Harus baca banyak literatur. Belum nyusun kata-kata yang bagus dan sesuai kaidah EYD (Ejaan Yang Disempurnakan). Nilai Bahasa Indonesia saya aja cuma dapet 5,5. Itupun hasil nyontek. Jadi, bagaimana mungkin bisa nulis buku! Pokoknya susah deh! Susah…Susah…Susaaaaaah…!!!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"><span> </span>Eeh, sabar dulu Sobat! Jangan teriak-teriak gitu. Belum nyoba kok udah bilang susah. Coba dulu atuh. Baru kemudian bisa bilang susah. Kalau belum dicoba, darimana kita tahu kalo nulis buku itu susah. Ya, nggak?!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"><span> </span>Lagian, nulis buku itu nggak susah kok. Serius, saya nggak bo’ong. Buktinya, ada orang yang sekolah SD aja nggak tamat tapi bisa nulis buku. Udah gitu bukunya <em>best seller</em> lagi. Trus, ada juga lho pembantu rumah tangga yang bisa nulis buku. Anak-anak kecil sekarang (yang masih SD) banyak juga kok yang bisa nulis buku. Pokoknya menulis buku itu nggak susah kok. Menulis buku itu guampang. Kalo nggak percaya, coba deh kamu baca buku ini sampai selesai. Nanti kamu bakalan tau sendiri kalo menulis buku itu memang gampang pang&#8230;pang&#8230;paaaang&#8230;. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"><span> </span><em>Trus, kenapa sih kok harus nulis buku, kenapa nggak nulis tembok rumah tetangga aja? </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="FI">Yee…itu mah vandalisme namanya. Nggak boleh kita nulis-nulis tembok rumah tetangga. Ntar kalo dimarahin sama yang punya rumah baru tahu rasa lho! Daripada nulis-nulis tembok tetangga, mendingan nulis-nulis tembok sekolah (Lho, kok!) Eh, nggak…nggak….becanda. Mendingan kamu nulis buku aja. Dijamin banyak manfaatnya deh. Pingin tahu apa aja manfaatnya?<span id="more-109"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="FI">Karena manfaat menulis buku itu banyak buanget, bejibun kalo kata orang Betawi, maka cukup saya sebutin beberapa aja dulu. Sisanya ntar nyusul di bab selanjutnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="FI">Manfaat Menulis Buku </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="FI">Pertama</span></strong><span lang="FI">, dengan menulis buku kita akan mendapatkan pahala dari Alloh. Lho, kok bisa? Iya, soalnya kita telah mengajarkan kebaikan (Ingat lho, “kebaikan” bukannya “kejahatan”) kepada orang lain. Sehingga dengan begitu kita akan memperoleh pahala dari Alloh. Tentunya dengan syarat kita melakukannya dengan ikhlas karena Alloh, bukan semata-mata untuk mengharapkan materi keduniaan (seperti uang, popularitas, dll.). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><span> </span>Apa aja bentuk pahala yang akan kita dapet? Berikut ini diantaranya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="FI">Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam</em> bersabda:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">“Segala sesuatu akan memintakan <strong>ampunan</strong> kepada orang yang mengajarkan kebaikan, bahkan ikan-ikan yang ada di laut pun akan memintakan ampunan baginya” (HR. Ath-Thabrani)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="FI">Beliau <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam</em> juga bersabda:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><span> </span>”Demi Allah, engkau menyebabkan seseorang mendapatkan hidayah Allah itu lebih baik daripada engkau memiliki <strong>unta merah</strong>.” </span><span lang="SV">(HR. Bukhari dan Muslim)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="SV">Unta merah itu adalah harta paling berharga bagi orang Arab tempo dulu. Kalo sekarang mungkin sebanding dengan mobil canggih keluaran terbaru. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV">Kedua</span></strong><span lang="SV">, dengan menulis buku kita akan dapat pahala dobel, yaitu pahala mengajarkan kebaikan dan pahala dari orang yang kita ajarkan kebaikan (lewat buku). Tapi ini tentunya dengan syarat bahwa orang lain yang kita ajarkan lewat buku mau mengamalkan apa yang kita ajarkan itu. Tentang hal ini Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam</em> juga bersabda:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">“Barangsiapa yang menunjuki kepada satu kebaikan, maka dia akan memperoleh pahala seperti pahala orang yang melakukannya.” (HR. Muslim) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV">Ketiga</span></strong><span lang="SV">, dengan menulis buku kita akan mendapat pahala berantai. Wah, apaan tuh pahala berantai? Begini maksudnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="SV">Misalnya ada orang yang mendapatkan manfaat dari ilmu yang kita sebarkan lewat buku, kemudian dia mengajarkan ilmu itu kepada orang lain, dan orang lain yang diajarkan itu mengajarkan lagi kepada orang yang lain lagi, dan begitu seterusnya sampai tujuh turunan lebih, maka kita akan mendapatkan pahala dari mereka juga. Bayangkan seandainya jumlah mereka itu ribuan bahkan mungkin jutaan? Subhanalloh! Banyak sekali pahala yang akan kita dapat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span lang="SV">Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam</em> bersabda:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="SV">“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka dia berhak memperoleh pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, hal tersebut tidak mengurangi sedikitpun dari pahala mereka.” (HR. Muslim)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV">Keempat</span></strong><span lang="SV">, dengan menulis buku kita akan mendapatkan pahala mengalir. Mengalir ke mana? </span><span lang="FI">Ya, mengalir ke kuburan kita ketika kita sudah meninggal dunia. Jadi kita akan tetap mendapatkan pahala lewat buku yang kita tulis itu meskipun kita sudah meninggal dunia. Kenapa bisa seperti itu? Karena orang yang mengajarkan ilmu (kebaikan) kepada orang lain, maka ilmunya itu akan terus membuahkan pahala untuk orang yang mengajarkannya, meskipun orang itu telah meninggal dunia. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span lang="FI">Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam</em> bersabda:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="FI">”Jika manusia telah mati, maka terputuslah semua amalnya, kecuali tiga hal: sedekah jariyah, <strong>ilmu yang</strong> <strong>bermanfaat</strong>, dan anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span lang="FI">Beliau <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam</em> juga bersabda:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="FI">“Di antara amal dan kebaikan yang dapat menyusul seorang Mukmin setelah ajalnya tiba adalah <strong>ilmu yang diajarkan dan disebarluaskan</strong>, anak shalih yang ditinggalkan, mushaf yang diwariskan, masjid yang dibangun, atau rumah yang diperuntukkan untuk ibnussabil (orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan), saluran air yang dibangun atau sedekah yang dikeluarkan dari hartanya saat sehat dan hayat masih dikandung badan, (pahalanya) akan mengikutinya hingga setelah meninggal.” (HR. Ibnu Majah)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><span> </span>Coba kamu bayangin seandainya buku karyamu ditaro di perpustakaan umum<span> </span>sekolah atau kampus yang ada di setiap kota dan daerah. Kemudian setiap hari dibaca dan dimanfaatkan oleh banyak orang. Maka, betapa besar pahala yang bakalan kamu dapat. Apalagi jika buku itu tetap dimanfaatkan sampai ribuan tahun, sebagaimana buku-buku yang ditulis oleh para ulama semisal Imam Bukhori, Imam Muslim, dll. Wah, nggak kebayang deh…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><span> </span>Tapi sekali lagi harus kita ingat. Semua ini hanya akan bisa didapat jika tulisan kita memenuhi dua persyaratan. <strong><span style="text-decoration:underline;">Pertama</span></strong>, buku yang kita tulis isinya bermanfaat, bukan justru merusak dan ngajarin yang nggak bener. Sebab, Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam</em> pernah bersabda begini:</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="FI">“Barangsiapa yang mengajak pada kesesatan, maka dia akan menanggung dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya.” (HR. Muslim)</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span lang="FI"><span> </span></span><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="FI">Nah, lho! Ngeri banget kan. Orang lain yang berbuat dosa tapi kita kena kecipratan dosanya juga. Kenapa? Sebab kita yang jadi pelopornya. Kita yang ngajarin pertama kali. Makanya kita ikut bertanggung jawab, karena kita telah ikut andil menjerumuskan mereka kepada perbuatan dosa, walaupun secara nggak langsung. </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="FI">Kemudian syarat yang <strong><span style="text-decoration:underline;">kedua</span></strong>, niat kita dalam menulis buku itu yang utama ialah demi mengharap ridho dan pahala dari Alloh (ikhlas). Bukannya demi uang, popularitas, dan tetek-bengek keduniaan lainnya. Namun jangan salah paham, Sobat! Bukan berarti kita nggak boleh ngarepin dapet duit dari menulis buku. Boleh aja. Tapi inget, niat utama ialah demi mendapatkan pahala. Adapun uang, insya Alloh menyusul. </span><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="FI">Jika aktivitas menulis buku yang kita lakukan memang betul-betul ikhlas, pasti Allah akan memberikan balasan yang terbaik buat kita. </span><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IT">Kalo belom dibalas di dunia, pasti akan Alloh balas di akhirat. Jadi nggak usah takut! </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IT"><span> </span>Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> berfirman:</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IT">“Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mu&#8217;min, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik”. (QS. Al-Israa [17]:19)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IT"><span> </span>Nah, demikianlah manfaat yang bisa kita kita dapet dari menulis buku. Gimana, sudah cukup? Apa&#8230;.??? Masih belum cukup juga! Oke deh, saya tambahin deh satu lagi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="FI">Kelima</span></strong><span lang="FI">, dengan menulis buku kita akan menjadi cerdas. Hayoo&#8230;kenapa coba? Kenapa menulis buku bisa bikin kita cerdas? Ayo&#8230;ada yang bisa jawab? Ya, coba itu yang angkat tangan. Tahu nggak alasannya, kenapa nulis buku bisa bikin cerdas?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><span> </span>Ya, seratus! Sebab, dengan menulis buku otomatis kita akan terdorong untuk melakukan pengkajian secara lebih mendalam. Misalnya aja kita nulis buku tentang “cara bertanam pohon mangga di kebun”, tentu kita akan mencari banyak referensi untuk kemudian kita baca, kita kaji, dan kita susun dalam bentuk tulisan baru. Dengan begitu wawasan kita akan menjadi bertambah luas. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="FI">Saya sendiri mengalami hal ini ketika menulis buku tentang rokok. Saya baru tahu bahwa dari sebatang rokok ternyata mengandung ribuan zat-zat kimia yang sangat berbahaya, seperti: <em>Polonium-201</em> (bahan radioaktif), <em>acetone</em> (bahan pembuat cat), <em>ammonia</em> (bahan untuk pencuci lantai), <em>napthalene</em> (bahan kapur barus), <em>DDT &amp; arsenic</em> (yang biasa untuk racun serangga), <em>hydrogen cyanida</em> (gas beracun yang lazim digunakan di kamar eksekusi hukuman mati), <em>methanol</em> (bahan bakar roket), <em>cadmium</em> (digunakan untuk accu mobil), <em>vinyil chloride</em> (bahan plastik PVC), <em>phenol bhutane</em> (bahan bakar korek api), <em>carbon monoxide</em> (asap dari knalpot kendaraan), <em>naftalen</em> (kamper), <em>toluene</em> (pelarut industri), dan masih banyak lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><span> </span>Nah, kalau saya nggak nulis buku rokok, bisa jadi saya nggak tahu masalah ini. Oleh karena itu, kalo kamu mau tambah cerdas, ya&#8230;nulis buku aja!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><span> </span>Mungkin cukup lima manfaat ini aja yang bisa saya sampaikan pada kesempatan kali ini. Sisanya ntar saya sebutin di bab&#8230;mmm&#8230;.bab ke berapa ya? Kalo nggak salah di bab kedua deh. Silakan lihat sendiri. Di sana saya akan sebutkan bahwa menulis buku ternyata bisa bikin kaya. Kamu bisa mendapatkan uang milyaran rupiah dari buku yang kamu tulis. Tertarik, Sobat!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><span> </span><em>Mmm&#8230;.tertarik sih. Cumaaa&#8230;.mmm&#8230;cumaaa&#8230;.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="FI">Cuma apa? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><em><span lang="SV">Saya kan nggak punya gelar. Saya cuma lulusan SD. Mungkin nggak sih saya bisa menulis buku?.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"><span> </span>Yee&#8230;emangnya kalo nulis buku harus punya gelar dulu. Nggak perlu lagi. Yang penting kita menguasai dan ngerti dengan yang kita tulis, itu aja. Kan udah saya kasih tau tadi bahwa banyak juga penulis buku yang nggak punya gelar. Bahkan lulus SD pun nggak. Berarti kamu masih mending masih lulus SD. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="SV">Kalau kamu taunya cuma gimana cara beternak bebek, ya tulis aja buku tentang cara beternak bebek. Kalau kamu taunya cuma gimana cara berdagang somay, ya tulis aja buku tentang gimana caranya berdagang somay. Kalau kamu taunya cuma gimana caranya menanam ganja –eh,nggak boleh ya?- menanam pepaya misalnya, ya tulis aja buku tentang gimana cara menanam pepaya agar bisa berbuah lebat.<span> </span>Kalau kamu tahunya cumaaa&#8230;..aah&#8230;.kayaknya kamu emang kudu baca buku ini sampai selesai deh, biar kamu yakin kalo menulis buku itu nggak perlu harus nunggu dapet gelar dulu. Ya udah, lanjutin deh bacanya!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">(Dikutip dari buku saya yang berjudul : “Sobat… </span>Nulis Buku, Yuk!)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penulispemula.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penulispemula.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penulispemula.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penulispemula.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/penulispemula.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/penulispemula.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/penulispemula.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/penulispemula.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penulispemula.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penulispemula.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penulispemula.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penulispemula.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penulispemula.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penulispemula.wordpress.com/109/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penulispemula.wordpress.com&amp;blog=3691474&amp;post=109&amp;subd=penulispemula&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penulispemula.wordpress.com/2008/12/02/ngapain-sih-nulis-buku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33ca217fb1a3adb928c3df8e2b32fdf9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mujianto2008</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
