<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>NYANYIAN PENA</title>
	<atom:link href="http://penulispemula.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://penulispemula.wordpress.com</link>
	<description>Mari Menulis Dengan Ilmu dan Cinta !!!</description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Apr 2009 04:02:28 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='penulispemula.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/1895566e6d99d664a47b3fac7a341b87?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>NYANYIAN PENA</title>
		<link>http://penulispemula.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Berbeda Tapi Tetap Satu</title>
		<link>http://penulispemula.wordpress.com/2009/04/09/berbeda-tapi-tetap-satu/</link>
		<comments>http://penulispemula.wordpress.com/2009/04/09/berbeda-tapi-tetap-satu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Apr 2009 04:02:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penulis biasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulisanku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penulispemula.wordpress.com/?p=120</guid>
		<description><![CDATA[Kawan&#8230;
 Kita emang nggak menutup mata kalo dalam masalah shalat ini banyak sekali kita temukan perbedaan. Coba aja kita perhatiin orang-orang yang shalat di masjid. Niscaya akan kita dapati mereka berbeda dalam banyak hal. Misalnya ada yang kalo sujud tangan duluan, ada yang lutut duluan. Trus ada juga yang kalo duduk tasyahhud jarinya digerak-gerakkan, dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penulispemula.wordpress.com&blog=3691474&post=120&subd=penulispemula&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Kawan&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Kita emang nggak menutup mata kalo dalam masalah shalat ini banyak sekali kita temukan perbedaan. Coba aja kita perhatiin orang-orang yang shalat di masjid. Niscaya akan kita dapati mereka berbeda dalam banyak hal. Misalnya ada yang kalo sujud tangan duluan, ada yang lutut duluan. Trus ada juga yang kalo duduk tasyahhud jarinya digerak-gerakkan, dan ada juga yang nggak. Dan masih banyak lagi perbedaan yang lainnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Namun hal ini wajar. Sebab, <span id="more-120"></span>sebagaimana udah saya bilangin, kalo masalah shalat ini merupakan masalah fikih yang tentu saja nggak menutup kemungkinan terjadinya beda pendapat. Perbedaan pendapat ini terkadang bersumber dari perbedaan dalam memahami dalil-dalil, baik al-Qur’an dan as-Sunnah. Ada yang memahaminya seperti ini, dan ada yang memahaminya seperti itu. <span> </span>Terkadang, dari satu dalil, seorang ulama bisa berbeda dalam memahaminya, sehingga terjadilah pebedaan pendapat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Kita tentu pernah mendengar kisah pengutusan para Sahabat Nabi ke Bani Quroizhoh. Sebelum berangkat, Rasulullah <em>Shallallâhu ’alayhi wa sallam </em>berpesan kepada para sahabatnya begini,”Janganlah ada seorang pun dari<span> </span>kalian yang mengerjakan shalat Ashar, kecuali setelah sampai di Bani Quroidzhoh!” (Muttafaq ‘alaih), demikian pesan Rasulullah <em>Shallallâhu ’alayhi wa sallam </em>kepada mereka. Namun, di tengah perjalanan, masuklah waktu shalat Ashar. Para sahabat kemudian berbeda pendapat. Ada yang berpendapat bahwa mereka harus tetep shalat pada waktunya. Adapun perintah Rasulullah, menurut mereka, maksudnya ialah agar para Sahabat mempercepat perjalanan seshingga bisa sampe di Bani Quroizhoh pas waktu Ashar. Merekapun kemudian shalat di tengah jalan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Sahabat yang lain lagi memahami berbeda. Mereka berkesimpulan bahwa mereka dilarang shalat, kecuali di Bani Quroizhoh. Sehingga merekapun nggak ikutan shalat. Mereka baru melaksanakannya ketika sudah sampe di Bani Quroizhoh. Kemudian setelah itu, merekapun menyampaikan hal ini kepada Rasulullah <em>Shallallâhu ’alayhi wa sallam</em>. Namun Rasulullah nggak memarahi mereka karena berbeda pendapat dalam masalah ini. Sehingga dari sini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa Islam memberi keluasan dalam masalah-masalah fikih yang seperti ini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Sayangnya, banyak di antara kawan-kawan kita yang nggak ngerti tentang hal ini. Sehingga tak jarang kita jumpai terjadi insiden kecil-kecilan di antara mereka hanya gara-gara permasalahan fikih yang mestinya mereka harus bersikap lapang dada terhadap orang yang berbeda pendapat dengan dirinya. Namun, tak jarang pula kita melihat, perbedaan masalah fikih ini bisa menyulut api permusuhan antar sesama Muslim. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Seorang kawan pernah bercerita begini. Suatu hari, selesai shalat berjama’ah, dia ditegur oleh seseorang yang shalat di sisinya. Rupanya orang itu merasa terganggu dengan gerakan jari telunjuk kawan saya ketika duduk tasyahud. Bikin nggak khusyu’, katanya (<em>Orang itu nggak paham bahwa shalat khusyu bukan berarti seseorang itu nggak ngeliat gerakan di sekelilingnya. Salah satu ciri shalat khsuyu adalah shalat yang dilakukan sesuai contoh Rasulullah Shallallâhu ’alayhi wa sallam. Dan, menggerak-gerakkan jari telunjuk ketika tasyahud termasuk yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallâhu ’alayhi wa sallam, karena ada dalilnya</em>). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Kawan saya itu pun langsung mengajak orang itu ke lantai bawah masjid di mana di sana terdapat pedagang buku-buku Islam yang menggelar dagangannya. Kawan saya lalu mengambil sebuah buku tentang tata cara shalat Nabi. Di tunjukkan kepada orang itu hadits tentang menggerakkan jari telunjuk ketika tasyahud. Haditsnya berbunyi,” Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam</em> menggerak-gerakkan jari telunjuknya (ketika duduk tasyahud-pent) sambil membaca doa.”(HR. Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Jarud dalam <em>Al-Muntaqa</em> (208), Ibnu Khuzaimah (1/86/1-2), Ibnu Hibban dalam <em>Shahih</em>-nya (485) dengan sanad shahih, disahkan oleh Ibnu Mulaqqan (28/2).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Namun, orang itu tetap ngeyel. “Tapi kan tetep ganggu…”, demikian sangkalnya. “Lho, ini hadits Rosul”, ucap pedagang buku ikut nimbrung. Orang itu tetap tidak bisa menerima dan pergi begitu saja dengan perasaan kesal. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">*** <span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Oleh karena itu, agar perbedaan pendapat semacam ini nggak sampe menyulut api permusuhan di antara kau muslimin, hendaknya kita belajar tentang bagaimana seharusnya bersikap ketika berhadapan dengan perbedaan pendapat. Apapun bentuknya perbedaan itu, entah perbedaan dalam masalah fikih, perkara akidah, maupun perkara-perkara yang lainnya. Lalu, bagaimana sebenarnya cara menyikapi perbedaan pendapat yang diajarkan Islam?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Sebenarnya Islam sudah memberikan solusi jitu dalam menyikapi perbedaan pendapat.<span> </span>Islam telah memberikan pedoman yang jelas dan terang dalam menyikapi perbedaan pendapat. Mari kita simak ayat berikut ini.</p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Allah <em>Subhânahu wa Ta’âlâ</em> berfirman,”<em>Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur&#8217;an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya</em>”. (Q.s. an-Nisa [4]:59)</p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Inilah sikap yang wajib kita ambil ketika menghadapi perbedaan pendapat, yaitu: <strong>Mengembalikan kepada al-Qur’an dan As-Sunnah</strong>. Sebab, Allah <em>Subhânahu wa Ta’âlâ</em></span> <span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">yang memerintahkan demikian sebagaimana ayat di atas.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="ES">Dari sini, jelaslah kekeliruan sebagian orang<span> </span>yang berkata bahwa ketika terjadi perbedaan pendapat,”Kita kembalikan kepada masing-masing saja! Jangan dipermasalahkan! Dll.”. Sebab, yang pertama, perkataan ini menyelisihi petunjuk Allah <em>Subhânahu wa Ta’âlâ</em>. Kemudian, yang kedua, perkataan ini membuka lebar-lebar pintu kerusakan. Kok bisa?! Saya akan berikan contoh tentang kerusakan yang akan timbul jika kaidah ini dipakai. </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="ES">Misalnya ada anggota keluarga kita (misalnya Ibu dan Ayah kita) yang mempunyai pendapat sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:Wingdings;"><span>v<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="ES">Minum minuman beralkohol nggak mengapa jika tidak sampai mabuk dan tujuannya untuk menenangkan diri. Dalilnya hadits Rasulullah <em>Shallallâhu ’alayhi wa sallam</em>,”<em>Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya</em>”. </span><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">(H.r. Al-Bukhari dan Muslim).</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:Wingdings;"><span>v<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Shalat, puasa, zakat, haji dan ibadah-ibadah lainnya nggak wajib bagi seseorang yang sudah mencapai derajat “al-yaqin”. Dalilnya firman Allah <em>Subhânahu wa Ta’âlâ</em>,”<span> </span>Dan beribadahlah kepada Rabb-mu hingga datang kepadamu “al-yaqin”. (Q.s. Al-hijr [15]: 99).<span> </span></span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Nah, jika kita melihat ayah kita sedang minum minuman keras dan ibu kita tidak shalat lima waktu karena memiliki pendapat seperti di atas, maka apa yang kita lakukan? </span><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="FI">Apakah kita biarkan saja dengan alasan,” Kita kembalikan kepada masing-masing saja! Jangan dipermasalahkan!”. Ataukah kita ingatkan mereka, dengan cara menjelaskan kekeliruan dalil yang mereka gunakan ? </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="SV">Jawabannya tentu yang kedua. Kita ingatkan mereka tentang kekeliruan dalil yang mereka lakukan. </span><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="FI">Kita jelaskan kepada ayah kita bahwa minum minuman beralkohol hukumnya haram meskipun niatnya baik. Sebab, niat baik caranya pun harus baik, yaitu yang tidak bertentangan dengan syari’at. </span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="FI">Kemudian kita jelaskan kepada ibu kita bahwa maksud dari “al-yaqin” dari Q.s. al-Hijr ayat 99, sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama, adalah “al-maut” (kematian). Jadi, maksud ayat ini adalah: Dan beribadahlah kepada Rabb-mu hingga datang kepadamu kematian. </span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;" lang="FI"><span> </span>Nah, kamu tentu sudah paham betapa bahayanya jika kaidah “Kita kembalikan kepada masing-masing saja!” diterapkan ditengah masyarakat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><span> </span><span> </span>Jadi kesimpulannya, kalo kita ngeliat perbedaan perndapat, untuk mengetahui mana pendapat yang benar, kita harus kembalikan kepada Al-Qur’an, As-Sunnah. Kita cek dan recek. Mana pendapat yang paling sesuai dengan Al-Qur’an dan sunnah Rasul. Maka itulah yang kita ambil dan kita pegang. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="FI">*** </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="FI">Jangan Taklid, Yaa&#8230;!</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><span> </span>Namun, perlu saya ingatkan juga, bahwa ketika kita berbeda pendapat kita nggak boleh taklid. Kamu tau kan taklid itu apaan? Taklid itu maksudnya a<span style="color:black;">dalah mengikuti pendapat/perkataan seseorang tanpa diketahui dalilnya. Sebab taklid ini sangat berbahaya. Dia ibarat virus ganas yang bisa membahayakan orang-orang yang dihinggapinya. Virus taklid ini telah terbukti memakan banyak korban. Di zaman Rasulullah </span><em>Shallallâhu ’alayhi wa sallam </em><span style="color:black;">dahulu, khususnya di awal-awal munculnya Islam, ratusan bahkan ribuan orang masuk neraka gara-gara taklid. Orang-orang kafir Quraisy pada waktu itu banyak yang enggan menerima Islam gara-gara terjangkit virus taklid. </span></span><span style="color:black;" lang="SV">Mereka taklid kepada nenek moyang mereka. Oleh karena itu Islam sangat melarang taklid. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="SV">Dalam al-Qur’an, banyak sekali ayat-ayat yang memberi peringatan untuk menjauhi taklid. Diantaranya Allah <em>Subhânahu wa Ta’âlâ</em> berfirman,”<em>Dan apabila dikatakan kepada mereka:”Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah”. Mereka menjawab:”(Tidak) tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk</em>”. (Q.s. al-Baqarah [ 2]:170)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"><span> </span>Bahkan, para ulama jaman dahulu –seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’I, dan Imam Ahmad bin Hambal- sudah mewanti-wanti para muridnya untuk waspada dari sikap taklid.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"><span> </span>Imam Abu Hanifah berkata,”<strong>Tidak halal bagi seseorang untuk mengikuti perkataan kami bila ia tidak tahu dari mana kami mengambil sumbernya</strong>.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="color:black;" lang="SV">Imam Malik berkata,”<strong>Saya hanyalah seorang manusia biasa, terkadang salah, terkadang benar. Oleh karena itu, telitilah pendapatku. Bila sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah, ambillah; dan bila tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah, tinggalkanlah</strong>.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"><span> </span>Imam Asy-Syafi’i berkata,”<strong>Bila kalian menemukan dalam kitabku sesuatu yang berlainan dengan<span> </span>hadits Rasulullah, peganglah hadits Rasulullah itu dan tinggalkanlah pendapatku itu</strong>.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"><span> </span>Imam Ahmad berkata,”<strong>Janganlah kamu taklid kepada siapapun dari mereka dalam urusan agamamu. Apa yang datang dari Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa Sallam</em> dan para Sahabatnya, itulah hendaknya yang kamu ambil</strong>.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"><span> </span></span><span style="color:black;" lang="FI">Oleh karena itu kita harus hati-hati. Jangan sampe kita terkena virus yang satu ini. Terutama sebagai seorang terpelajar (penuntut ilmu). Dia harus membentengi dirinya sekuat tenaga dari virus taklid ini. Caranya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="FI"><span> </span>Untuk membentengi diri dari virus taklid, sebagai seorang yang terpelajar (<em>saya yakin, kamu-kamu yang baca buku adalah orang terpelajar semua, ya kan?</em>), kita harus kritis dalam beragama. </span><span style="color:black;">Tidak asal menerima pendapat setiap orang. Ketika ada seseorang yang mengeluarkan pendapat, entah itu ustadznya, kiyainya, gurunya, syaikhnya, atau siapapun hendaknya diteliti terlebih dahulu. </span><span style="color:black;" lang="ES">Sesuai tidak pendapatnya itu dengan al-Qur’an dan as-Sunnah? Benar nggak pemahaman al-Qur’an dan as-Sunnah yang disampaikan? Ada nggak contoh pengamalannya dari Rasulullah dan para sahabatnya? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="ES"><span> </span>Allah <em>Subhânahu wa Ta’âlâ</em> memerintahkan kita untuk besikap kritis. Mari kita renungi kembali firman Allah <em>Subhânahu wa Ta’âlâ,”Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya</em>”. </span><span lang="FI">(Q.s. An-Nisa [4]:59)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="FI"><span> </span>Dalam ayat ini, ketika terjadi perbedaan pendapat, Allah </span><em><span lang="FI">Subhânahu wa Ta’âlâ</span></em><span lang="FI"> <span style="color:black;">menyuruh kita untuk melakukan studi kritis. Kita tidak diperintahkan untuk mengembalikan pendapat kepada diri masing-masing atau ustadz/kiyai masing-masing. Akan tetapi Allah </span><em>Subhânahu wa Ta’âlâ</em> <span style="color:black;">menyuruh kita untuk mengembalikannya kepada al-Qur’an dan as-Sunnah. Jika cocok dengan keduanya, itulah yang diambil, meskipun menyalahi pendapat yang kita yakini selama ini atau pendapat yang diyakini oleh ustadz kita dan kiyai kita di pengajian. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="color:black;" lang="SV">Seorang penuntut ilmu yang kritis, otaknya akan berkembang. Tidak <em>jumud</em> (beku). Sebab, otaknya akan terlatih melakukan penelitian yang mendalam. Dia akan rajin membuka-buka referensi, membaca, menelaah, membandingkan, menganalisa, untuk kemudian mengambil pendapat yang paling kuat. Yaitu yang paling sesuai dengan al-Qur’an dan as-Sunnah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"><span> </span>Seorang penuntut ilmu yang kritis akan senantiasa menerima kebenaran, meskipun kebenaran itu menyalahi pendapat dirinya dan gurunya selama ini. Bagi dirinya, kebenaran lebih berhak untuk diterima dan diikuti, dari siapapun datangnya.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"><span> </span>‘Abdurrahman bin ‘Abdillah bin Mas’ud <em>rahimahullah</em> berkata,”Ada seseorang yang datang kepada ‘Abdullah bin Mas’ud seraya berkata,”Wahai Abu ‘Abdirrahman, beritahukanlah kepadaku kalimat yang simpel namun banyak mengandung manfaat!” ‘Abdullah menjawab,”Jangan sekali-kali engkau menyekutukan Allah. Berjalanlah bersama al-Qur’an kemana saja engkau pergi. <strong>Jika ada kebenaran yang datang kepadamu, janganlah segan-segan untuk menerimanya sekalipun kebenaran itu jauh letaknya dan tidak menyenangkan</strong>. Dan jika ada kebathilan yang datang kepadamu, tolaklah ia jauh-jauh sekalipun kebathilan itu dekat letaknya dan sangat kau sukai.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="color:black;">******</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="color:black;">Berbeda halnya dengan penuntut ilmu yang terjangkit virus taklid. Otaknya akan beku, keras,<span> </span>tumpul, dan nggak akan berkembang.<span> </span>Sebab, otaknya jarang diasah. Kebiasaannya adalah<span> </span>menelan mentah-mentah apa yang dikatakan oleh ustadznya saja. Akibatnya, otaknya tidak terlatih untuk melakukan anailisis ilmiyah terhadap suatu permasalahan. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="color:black;">Bagi orang yang taklid, apa yang dikatakan ustadznya, itulah satu-satunya yang dia anggap benar. Dia pun berusaha membela pendapat itu mati-matian. Dia enggan mempertimbangkan pendapat orang lain, meskipun itu suatu kebenaran (berdasarkan dalil yang kuat). Seolah-olah perkataan gurunya adalah wahyu dari Tuhan yang tidak boleh diganggu gugat. Maka, keadaannya tidak jauh beda dengan orang-orang zaman jahiliyyah dahulu.<span> </span></span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;color:black;">“<em>Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb selain Allah, dan (juga mereka menjadikan Rabb ) Al-Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Ilah Yang Maha Esa; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan</em>”. (Q.s. at-Taubah [9]:31)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span><span style="color:black;">Ada</span><span style="color:black;"> juga yang memberikan permisalan, bahwa orang yang terkena virus taklid ini ibarat hewan yang diikat lehernya, kemudian di</span><span style="color:black;" lang="FI">bawa. Namun hewan itu nggak tau mau dibawa ke mana? Seringkali hewan itu dibawa ke tempat penjagalan kemudian disembelih!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="color:black;" lang="FI">Semoga Allah menyelamatkan kita semua dari virus berbahaya ini. Amien. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="color:black;" lang="FI">*** </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="color:black;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="FI"><span> </span>Jadi intinya begini kawan&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="FI"><span> </span>Ketika kita ngeliat ada beda pendapat, trus kita nggak tau mana yang bener dan lebih kuat, maka yang pertama kali kita lakukan ialah bertanya kepada ahlinya. Bisa ke ulama atau ustadz yang mumpuni keilmuannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="color:black;" lang="FI">Tapi, setelah kita diberi jawaban, kita juga jangan menelan mentah-mentah begitu aja. Tapi kita juga kudu cari kejelasan: dalilnya apa? Pemahamannya gimana? Misalnya kita nanya begini,”Maaf Pak Ustadz, kalo boleh<span> </span>tau, dalilnya apa ya? Trus penjelasannya gimana?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="color:black;" lang="FI">Nah, beginilah kita seharusnya dalam menghadapi beda pendapat. </span><span style="color:black;" lang="SV">Dengan begitu, kita akan terhindar dari sikap taklid. Sebab, ketika kita udah tau dalilnya, berarti yang kita ikuti itu dalilnya, bukan ustadznya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="color:black;" lang="SV">Kemudian, kalau ada orang lain yang berbeda pendapat dengan kita, <span> </span>dan setelah kita kaji secara mendalam, ternyata dalil yang dia bawakan lebih kuat dan lebih cocok dengan pengamalan (sunnah) Rasulullah, kita mesti mengambil pendapat itu, meskipun berbeda dengan yang dikatakan oleh ustadz kita, kiyai kita, guru kita, ulama kita,<span> </span>dll. </span><span style="color:black;" lang="FI">Sebab, kebenaran itu lebih berhak untuk diikuti. Dan setiap orang perkataannya bisa diterima dan bisa ditolak, kecuali Rasulullah </span><em><span lang="FI">Shallallâhu ’alayhi wa sallam</span></em><span style="color:black;" lang="FI">. </span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="FI">Imam Malik pernah berkata ”Setiap orang perkataannya bisa diambil dan bisa dibuang, kecuali perkataan penghuni kubur ini,”sambil tangan beliau menunjuk ke kuburan Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-family:&quot;color:black;" lang="FI">*** </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;color:black;" lang="FI"><span> </span></span><span style="color:black;" lang="FI">Gimana, kawan&#8230; </span><span style="color:black;" lang="SV">Semoga kalian semua ngerti dengan yang barusan saya sampaikan. </span><span style="color:black;" lang="FI">Untuk mengakhiri pembahasan yang cukup melelahkan ini, saya akan membawakan sebuah kisah yang dari kisah ini <em>insya Allah</em> kita akan bisa mengambil banyak pelajaran tentang bagaimana seharusnya kita menyikapi perbedaan pendapat. Kisahnya begini&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="color:black;" lang="FI">Abu Sa’id al-Khudri <em>radhiyallahu ’anhu</em> berkata,”Pernah ada dua orang bepergian bersama. Ketika dalam perjalanan, datanglah waktu shalat, namun mereka tidak mendapatkan air. Merekapun tayammum dengan tanah yang suci, lalu shalat. Setelah selesai shalat, mereka mendapatkan air, sedangkan waktu shalat masih ada. Salah seorang dari mereka berwudhu lalu mengulangi shalatnya, sedangkan yang satunya tidak mengulangi shalatnya. Setelah pulang, mereka datang dan menceritakan kepada Rasulullah </span><em><span lang="FI">Shallallâhu ’alayhi wa sallam </span></em><span style="color:black;" lang="FI">tentang kejadian yang mereka alami. Rasulullah </span><em><span lang="FI">Shallallâhu ’alayhi wa sallam </span></em><span style="color:black;" lang="FI">berkata kepada yang tidak mengulangi shalatnya,’Kamu telah mengikuti sunnah dan shalat yang kamu lakukan telah cukup bagimu.’ Sedangkan kepada yang mengulangi wudhu dan shalatnya beliau berkata,’Kamu mendapatkan dua pahala.’” (H.r. Abu Dawud dan an-Nasa’i)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="color:black;" lang="FI">Hadits ini, kata Syaikh bin Baz, menunjukkan bahwa orang yang tidak mengulangi wudhu dan shalatnya telah mengikuti sunnah Nabi, karena mencukupkan dengan sesuatu yang dia mampu ketika itu. </span><span style="color:black;" lang="SV">Adapun orang yang mengulani shalatnya berarti telah berijtihad. Oleh karena itu, dia mendapatkan dua pahala. Pahala pertama didapatkan dari shalatnya yang pertama, dan pahala kedua didapatkan dari ijtihadnya mengulang shalat yang dia maksudkan untuk mengikuti sunnah Nabi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="color:black;" lang="SV">Nah, kawan&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="color:black;" lang="SV">Dari cerita di atas, setidaknya ada empat pelajaran yang bisa kita petik. </span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span lang="SV">Ketika      berbeda pendapat, kita harus menghormati orang yang berbeda pendapat      dengan kita. Nggak boleh kita saling ejek dan cela, apalagi sampe      cakar-cakaran. Malu dong! Masak sesama orang Islam berantem! Kayak anak      kecil aja&#8230;</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="SV">Ketika      berbeda pendapat, kita nggak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain. </span><span lang="FI">Nggak boleh kita memaksa orang lain      untuk ikut pendapat kita. Emangnya kita siapa maksa-maksa orang lain! Kita      ini bukan kompeni yang biasa nyuruh orang kerja paksa. (<em>lho, kok jadi larinya      ke kompeni sih..he..he..</em>)</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="color:black;" lang="FI">Tapi, bukan berarti kita nggak boleh untuk saling berdiskusi. Silakan aja berdiskusi atau bertukar pikiran. Tapi ingat! Tujuan berdiskusi bukan untuk menang-menangan. Tapi buat nyari kebenaran. Jika kita emang mau berdiskusi, lakukanlah dengan suasana sejuk dan penuh keakraban (<em>Kalau perlu diskusinya dilakukan di bawah pohon rindang dengan ditemani segelas es campur dan pisang goreng</em>). Kemudian, hendaknya berlemah-lembut dalam mengeluarkan argumentasi. Agar jangan sampe nantinya jadi debat kusir. Kalo sampe terjadi debat kusir, maka ucapkanlah ”<strong>Sampai jumpaaa&#8230;!</strong>”. Sebab, Rasulullah </span><em><span lang="FI">Shallallâhu ’alayhi wa sallam </span></em><span style="color:black;" lang="FI">bersabda,”</span><span style="font-family:Tahoma;" lang="FI"> </span><em><span lang="FI">Saya adalah pemimpin di sebuah rumah di pelataran surga bagi orang yang meninggalkan debat kusir meskipun ia berada dalam pihak yang benar”</span></em><span lang="FI"> (H.r. Abu Dawud)</span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span lang="FI">Ketika      terjadi perbedaan pendapat, kita nggak boleh mengembalikan kepada diri      masing-masing. Sebagaimana dalam cerita di atas, para Sahabat kemudian      mengembalikannya kepada Rasulullah </span><em><span style="color:windowtext;" lang="FI">Shallallâhu ’alayhi wa      sallam</span></em><span lang="FI"> agar beliau      memutuskan yang benar dari perbedaan pendapat mereka. Seandainya kita      boleh mengembalikannya kepada diri masing-masing, niscaya para sahabat      nggak akan nanya ke Rasulullah </span><em><span style="color:windowtext;" lang="FI">Shallallâhu ’alayhi wa sallam</span></em><span lang="FI">. Ya udah, masing-masing aja&#8230;</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="SV">Jangan      kita jadikan perbedaan pendapat sebagai alasan untuk berpecah belah. Lihatlah      para sahabat Rasul! </span><span lang="IT">Di      antara mereka terjadi perbedaan pendapat, sebagaimana cerita di atas. Trus,      mereka juga berbeda pendapat dalam permasalahan lainnya, misalnya tentang      hukum memakan daging onta, apakah membatalkan wudhu apa nggak. Ada di      antara mereka yang berpendapat bahwa orang yang memakan daging onta maka      wudhunya batal, dan ada yang berpendapat nggak batal. </span><span lang="SV">Tapi mereka tetap bersatu. Mereka      tetap shalat di belakang satu imam. Mereka nggak lantas membikin jama’ah      sendiri-sendiri sesuai dengan yang sependapat dengan mereka. Tidak! Mereka      tetap shalat di belakang satu imam, meskipun bisa jadi imamnya itu      berpendapat bahwa memakan daging onta nggak membatalkan wudhu, sedangkan      makmumnya bependapat sebaliknya. </span><span style="font-family:&quot;" lang="SV"></span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;color:black;" lang="SV"><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="SV">Inilah beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dari cerita dalam hadits di atas. Jadi sekarang, kalo kamu ngeliat adanya perbedaan pendapat di sekitarmu, kamu nggak usah bingung. Sebab, kamu udah tau kan gimana caranya bersikap? Siiip lah kalo gitu&#8230;! Lanjuut&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="SV">Eee..sebentar&#8230;sebentar..! Ada yang kelupaan. Saya mo ngingetin juga nih. Dalam berbeda pendapat, kita juga harus bersikap lapang dada ketika suatu waktu menerima kritikan, meskipun yang mengritik kita ialah orang yang paling kita benci. Anggaplah kritikannya itu sebuah bingkisan yang diberikan kepada kita. Jika ternyata isinya memang sebuah kebenaran, hendaknya kita menerimanya. Kita nggak boleh menolak kebenaran itu. Sebab menolak kebenaran merupakan sikap sombong, sebagaimana Rasulullah bersabda,”<em>Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain</em>.” (H.r. Muslim) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="SV">Ya udah, gitu aja. Lanjuuut&#8230;!</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penulispemula.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penulispemula.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penulispemula.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penulispemula.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penulispemula.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penulispemula.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penulispemula.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penulispemula.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penulispemula.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penulispemula.wordpress.com/120/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penulispemula.wordpress.com&blog=3691474&post=120&subd=penulispemula&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penulispemula.wordpress.com/2009/04/09/berbeda-tapi-tetap-satu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33ca217fb1a3adb928c3df8e2b32fdf9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mujianto2008</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wanita &amp; Shalat Berjama’ah</title>
		<link>http://penulispemula.wordpress.com/2009/03/01/wanita-shalat-berjama%e2%80%99ah/</link>
		<comments>http://penulispemula.wordpress.com/2009/03/01/wanita-shalat-berjama%e2%80%99ah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Mar 2009 06:29:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penulis biasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulisanku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penulispemula.wordpress.com/?p=116</guid>
		<description><![CDATA[Kawan&#8230;
Mungkin ada di antara kalian yang bertanya-tanya. Bagaimana dengan wanita? Apakah kaum wanita diperintahkan juga untuk shalat berjama’ah di masjid kayak laki-laki? 
Mmm&#8230;setau saya sih, berdasarkan kesepakatan para ulama, kaum wanita nggak diperintahkan untuk shalat berjama’ah di masjid. Jadi, boleh-boleh aja bagi mereka untuk nggak dateng ke masjid. Dateng boleh, nggak dateng juga boleh. Namun, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penulispemula.wordpress.com&blog=3691474&post=116&subd=penulispemula&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Kawan&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN">Mungkin ada di antara kalian yang bertanya-tanya. Bagaimana dengan wanita? Apakah kaum wanita diperintahkan juga untuk shalat berjama’ah di masjid kayak laki-laki? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN">Mmm&#8230;setau saya sih, berdasarkan kesepakatan para ulama, kaum wanita nggak diperintahkan untuk shalat berjama’ah di masjid. Jadi, boleh-boleh aja bagi mereka untuk nggak dateng ke masjid. Dateng boleh, nggak dateng juga boleh. Namun, yang lebih utama bagi mereka melakukan shalatnya di rumah, bukan di masjid. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Dari Ummu Humaid As-Sa’idiyyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>, dia mendatangi Rasulullah <em>Shallallâhu ’alayhi wa sallam </em>dan berkata,”Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya senang shalat bersamamu.” Beliau <em>Shallallâhu ’alayhi wa sallam </em>berkata,”<em>Sesungguhnya saya mengetahui bahwa engkau senang shalat bersamaku. Namun, shalatmu di rumahmu lebih baik daripada shalatmu di kamarmu. Shalatmu di kamarmu lebih baik daripada shalatmu di tempat tinggalmu. Shalatmu di tempat tinggalmu lebih baik daripada shalatmu di masjid kaummu. Dan shalatmu di masjid kaummu lebih baik daripada shalatmu di masjidku.” </em>(HR. Ahmad dan Ibnu Khuzaimah) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN">Namun, kalo mereka tetep pingin ikutan shalat berjama’ah di masjid, nggak boleh ada orang yang ngelarang. Sebagaimana sabda Rasulullah <em>Shallallâhu ’alayhi wa sallam,”Jangan kamu melarang istri-istrimu (shalat) di masjid, namun rumah mereka sebenarnya lebih baik untuk mereka.&#8221;</em>(H.r. Ahmad, Abu Dawud, dan Al-Hakim)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Hanya saja, bagi wanita yang pingin ikutan shalat berjama’ah di masjid, hendaknya mereka nggak memakai wangi-wangian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><strong><em><span lang="IN">Lho, emangnya kenapa nggak boleh?!</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><strong><em><span lang="IN"> </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN">Sebab, Rasulullah ngelarang hal itu. Beliau bersabda begini:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="letter-spacing:.1pt;" lang="IN">&#8220;Janganlah kalian melarang para wanita (pergi) ke masjid dan hendaklah mereka </span></em><em><span lang="IN">keluar dengan tidak memakai wangi-wangian.&#8221;</span></em><span lang="IN">(H.r. Ahmad dan Abu Dawud)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN">Dan beliau <em>Shallallâhu ’alayhi wa sallam </em>juga bersabda: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="letter-spacing:-.2pt;" lang="IN">&#8220;Perempuan yang mana saja yang memakai wangi-wangian, maka janganlah dia ikut </span></em><em><span lang="IN">shalat Isya&#8217; berjama&#8217;ah bersama kami.&#8221;</span></em><span lang="IN">(H.r. Muslim)<strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN">Pada kesempatan lain, beliau <em>Shallallâhu ’alayhi wa sallam </em>juga bersabda,”<em>Perempuan yang mana saja yang memakai wangi-wangian, kemudian dia pergi ke masjid, maka shalatnya tidak diterima sehingga dia mandi.&#8221;</em>(H.r. Ibnu Majah)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN">Nah, jadi Rasulullah ngelarang kaum wanita memakai wewangian kalo pingin ke masjid. </span><span lang="ES">Dan kewajiban kita sebagai sesorang Muslim, harus “sami’na wa atho’na”. Kita nggak boleh ngebantah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="ES">Allah <em>Subhânahu wa Ta’âlâ </em>berfirman,”<em>Seungguhnya jawaban orang-orang mukmin bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan,”Kami mendengar, dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung</em>.” (Q.s. an-Nur: 51)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="ES">Allah </span><em><span lang="ES">Subhânahu wa Ta’âlâ</span></em><span lang="ES"><span> </span>juga </span><span lang="ES">berfirman,<em>’Semua yang diberikan Rasul,<span> </span>ambillah! Dan semua yang dia larang, tinggalkanlah! Takut</em></span><em><span lang="SV">lah kalian kepada Allah. Sungguh, Allah sangat keras hukuman-Nya</span></em><span lang="SV">.’(Q.s. al-Hasyr: 7).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="SV">Dan kita harus yakin, bahwa setiap yang dilarang Rasulullah <em>Shallallâhu ’alayhi wa sallam </em>pasti mengandung bahaya, walaupun terkadang kita belom mengetahui bahayanya, dan kita ngerasa (berdasarkan pengetahuan kita yang serba sedikit) kalo hal<span> </span>itu nggak berbahaya. </span><span lang="ES">Sebab, Rasulullah adalah orang yang paling tau tentang apa saja yang bisa membahayakan ummatnya. Dan Rasulullah, sebagaimana udah saya sebutin di awal, adalah orang yang paling sayang kepada ummatnya. Beliau sangat menginginkan kebaikan bagi ummatnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="ES">Allah <em>Subhânahu wa Ta’âlâ</em> berfirman,”<em>Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan kebaikan bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin</em>.” (Q.s. at-Taubah: 128)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="ES"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="ES">*** </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="ES"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="ES">Kemudian, bagi wanita yang pingin ke masjid, hendaknya </span><span lang="IN">mengenakan busana yang sesuai aturan syari’at. Yaitu busana yang menutup aurat, longgar sehingga tidak membentuk lekuk-lekuk tubuh, tebal (tidak tipis), dan tidak menarik perhatian kaum laki-laki. Merekapun nggak boleh bertabarruj.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><strong><em><span lang="IN">Wah, apaan tuh tabarruj?</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><strong><em><span lang="IN"> </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><em><span lang="IN">Tabarruj</span></em><span lang="IN"> itu artinya perbuatan wanita menampakkan perhiasan dan kecantikannya, serta segala sesuatu yang seharusnya ditutup dan disembunyikan karena bisa membangkitkan syahwat laki-laki. Dan ini nggak boleh dilakukan. Sebagaimana Allah <em>Subhânahu wa Ta’âlâ</em> berfirman,”<em>Janganlah kamu bertabarruj seperti orang-orang jahiliyah dahulu</em>.”(Q.s. al-Ahzab [33]: 33)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Kamu tau nggak, kenapa <em>tabarruj</em> dilarang? Sebab nih, <em>tabarruj</em>-nya seorang wanita bisa menimbulkan kerusakan yang besar di masyarakat, khususnya bagi laki-laki. Sebab sudah menjadi tabiat (fitrah) laki-laki memiliki ketertarikan kepada wanita. Dan <em>tabarruj-</em>nya seorang wanita sangat potensial mendorong terjadinya perbuatan zina. Minimal yang terjadi adalah zina mata. Oleh karena itu Islam sangat keras<span> </span>melarang <em>tabarruj</em>. Sampai-sampai perbuatan <em>tabarruj</em> ini disejajarkan dengan perbuatan syirik, zina, mencuri, dan perbuatan haram lainnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN">Abdullah bin Amr pernah mengisahkan. Umaimah bintu Ruqaiqah pernah datang berbai’at kepada Nabi untuk masuk Islam. Nabi berkata,”<em>Aku bai’at kamu untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anakmu, tidak membuat-buat kedustaan yang dibuat dengan kedua tangan dan kakimu, tidak meratap, dan tidak ber&#8211;tabarruj seperti yang dilakukan wanita jahiliyah dulu</em>.” (H.r. Ahmad)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><strong><em><span lang="IN">Kok, kayaknya Islam terlalu banyak aturan deh! Nggak boleh begini lah, nggak boleh begitu lah!</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><strong><em><span lang="IN"> </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN">Eeh, jangan salah, Fren! Justru itu bukti keindahan Islam dan kasih sayang Islam kepada ummatnya. Emang harus diakui kalo agama Islam memberi banyak aturan kepada ummatnya. Tapi kamu harus ingat nih&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">1. Aturan Islam berasal dari Allah </span></strong><em><span lang="IN">Subhânahu wa Ta’âlâ</span></em><span lang="IN">, Pencipta manusia, yang paling tahu segala sesuatu yang bermanfaat untuk manusia. Allah <em>Subhânahu wa Ta’âlâ</em> berfirman,” <em>Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana</em>.” (Q.s. al-Anfaal [8]: 73). Allah <em>Subhânahu wa Ta’âlâ </em>juga berfirman,”<em>Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui</em>.” (Q.s. Al-Baqarah : 232)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Namun sayang, sekarang ini, banyak kita liat manusia yang merasa lebih pintar dari Allah <em>Subhânahu wa Ta’âlâ</em>. </span><span lang="SV">Sehingga mereka lebih senang dan bangga mengikuti aturan yang mereka buat sendiri daripada harus mengikuti aturan Allah <em>Subhânahu wa Ta’âlâ</em>. Akibatnya, timbullah kerusakan di mana-mana.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">”<em>Telah nampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan oleh tangan-tangan (ulah) manusia sendiri.</em>..”. (Q.s. ar-Ruum: 41)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV">2. Aturan dalam Islam semuanya mudah untuk dilaksanakan</span></strong><span lang="SV">. Tiada yang sulit dalam menjalankannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="SV">Allah <em>Subhânahu wa Ta’âlâ</em> berfirman<em>,”&#8230;Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu&#8230;</em>.”(Q.s. al-Baqarah [2]:185)</span></p>
<p class="MsoBodyText2"><span style="font-size:12pt;" lang="SV">”&#8230;<em>Allah tidak ingin menyulitkanmu</em>&#8230;”(Q.s. al-Maa-idah:6)</span></p>
<p class="MsoBodyText2"><span style="font-size:12pt;" lang="SV">”&#8230;<em>Dan Dia (Allah) tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama</em>&#8230;”(Q.s. al-Hajj:78)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="SV">Rasulullah <em>Shallallâhu ’alayhi wa sallam </em>bersabda,”<em>Sesungguhnya agama (Islam) itu mudah</em>”. (H.r. al-Bukhari [39])</span></p>
<p class="MsoBodyText2"><span style="font-size:12pt;" lang="SV"><span> </span>Seandainya kita merasa sulit dan berat dalam melaksanakan sebagian aturan Islam, jangan salahkan aturannya. Hendaknya kita periksa diri kita. Jangan-jangan dalam hati kita ada penyakit. Sebab, bagi orang yang sedang sakit, makanan manis pun akan terasa pahit olehnya. Dan, aktivitas yang paling ringan sekalipun akan terasa berat dikerjakannya.</span></p>
<p class="MsoBodyText2"><span style="font-size:12pt;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV">3.<span> </span>Aturan Islam manfaatnya akan kembali kepada manusia itu sendiri.</span></strong><span lang="SV"> Sayangnya, banyak manusia yang nggak sadar akan hal ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV">Saya akan berikan sebuah contoh supaya kamu makin jelas. Islam memerintahkan wanita muslimah mengenakan jilbab. Allah <em>Subhânahu wa Ta’âlâ</em> berfirman,”<em>Hai Nabi, katakanlah pada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin:”Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuhnya. </em></span><em>Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang</em>.”(Q.s. Al-Ahzab:59)</p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 0 .0001pt;">Nah, perintah jilbab ini datangnya dari Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>, yang tentunya paling mengetahui terhadap segala sesuatu yang baik untuk para wanita. Kemudian, pelaksanaannya pun mudah. Setiap wanita pasti mampu melakukannya. Dan, manfaat jilbab ini akan berpulang kepada wanita itu sendiri.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 0 .0001pt;">Jilbab berfungsi untuk melindungi kehormatan wanita. Tanpa jilbab, wanita layaknya bunga di tepi jalan. Tak ada yang melindungi. Setiap saat mata-mata nakal bebas memandangnya dengan buas, dan begitu mudahnya dipetik oleh tangan-tangan jahil manusia berhati srigala. Setelah puas, bunga pun bisa dengan mudahnya dicampakkan di jalanan. Jadi, jilbab adalah benteng bagi wanita agar kesuciannya tetap terlindungi dan terpelihara.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-size:12pt;">Jadi demikianlah, kawan. Jika kita mau ngeliat semua aturan Islam dengan kaca mata keadilan, niscaya kita akan dapati bahwa aturan Islam adalah aturan yang Indah. Sebab, aturan Islam berasal dari Allah </span><em><span style="font-size:12pt;">Subhânahu wa Ta’âlâ</span></em><span style="font-size:12pt;"> Yang Mahaindah dan mencintai keindahan. Rasulullah </span><em><span style="font-size:12pt;">Shallallâhu ’alayhi wa sallam</span> </em><span style="font-size:12pt;">bersabda, ”<em>Sesungguhnya Allah itu Maha Indah, dan mencintai keindahan</em>..”. (H.r. Muslim)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;">Jika kita merasa bahwa Islam terlalu banyak aturan, dan sebagian aturannya ada yang “seolah” mengekang, memaksa, dll, maka ketahuilah bahwa justru itu merupakan wujud kasih sayang Islam. Ingatlah bahwa Allah <em>Subhânahu wa Ta’âlâ</em><span style="color:red;"> </span>sangat sayang kepada hamba-Nya, demikian pula dengan Rasulullah <em>Shallallâhu ’alayhi wa sallam</em>. Jadi, mustahil jika Allah <em>Subhânahu wa Ta’âlâ</em><span style="color:red;"> </span>dan Rasul-Nya <em>Shallallâhu ’alayhi wa sallam </em>membuat peraturan yang akan menyengsarakan ummatnya.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:normal;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV">Saya akan berikan sebuah permisalan. Permisalan ini sebenarnya mirip-mirip dengan yang udah saya sampein di awal-awal bab. Tapi nggak apa-apa saya ulang lagi, biar kamu semua tambah ngerti bin paham. </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:normal;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="SV">Misalnya begini. Ada dua orang ibu, masing-masing mempunyai seorang anak kecil. Ibu yang pertama selalu mengingatkan anaknya,” Nak, jangan main api, jangan main pisau, jangan hujan-hujanan, jangan bermain di jalan raya, pagi-pagi jangan jajan es, … Kalau sampai Ibu tau, nanti Ibu jewer!”. Sedangkan ibu yang kedua berkata kepada anaknya,”Terserah kamu mau ngapain, Ibu nggak bakalan ngelarang. </span><span lang="FI">Mau main api kek, hujan-hujanan kek, main pisau kek, terserah. Ibu nggak akan marah. Kamu bebas berekspresi”. Dari kedua ibu ini, siapakah yang pantas dikatakan sebagai orang tua yang sayang kepada anaknya? Tentu ibu yang pertama, bukan?!</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:normal;margin:0 0 .0001pt;"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><strong><em><span lang="FI">Oo..jadi begitu, toh! Saya baru tau kalo ternyata Islam itu emang agama yang indah. Saya jadi semakin cinta sama Islam nih..he..he&#8230;uhuk..uhuk..</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><strong><em><span lang="FI"> </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="FI">Emang udah seharusnya begitu. Sebagai orang Islam, emang udah sewajarnya bagi kita untuk mencintai Islam. Kalo bukan kita, siapa lagi yang bakal mencintai Islam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="SV">Trus juga, kita emang harus banyak belajar tentang Islam. Agar jangan sampe kita salah paham terhadap Islam disebabkan ketidaktauan kita. Sebab, sekarang ini, banyak lho orang yang salah paham tentang Islam. Ada yang bilang Islam itu ekstrim, sadis, brutal, nggak adil, memasung kebebasan berekspresi, menzalimi wanita, dll. Kenapa mereka bisa bilang seperti itu? Ya, karena mereka nggak ngerti terhadap aturan-aturan dalam Islam. Seandainya mereka paham bin ngerti, niscaya mereka akan berteriak histeris,”<strong>Wow&#8230;! Islam indah bangeet&#8230;!</strong>” Kayak kamu itu, lho. Setelah saya jelasin, kamu baru sadar kan kalo ternyata Islam itu agama yang indah? Padahal sebelumnya kamu bilang kalo Islam itu terlalu banyak aturan dan sering ngelarang-larang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><strong><em><span lang="SV"> </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="SV">***</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:center;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" align="center"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:center;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" align="center"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="SV">Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai </span><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="FI">sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:center;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" align="center"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">(Q.s. al-Baqarah [2]:216)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="IN">*** </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Nah, kawan&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN">Demikianlah pembahasan tentang hukum shalat berjama’ah di masjid bagi wanita. Jadi, berdasarkan hadits Rasulullah <em>Shallallâhu ’alayhi wa sallam</em>, kaum wanita lebih utama shalat di rumahnya. Dan ini lagi-lagi menunjukkan bentuk kasih sayang Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> bagi kaum wanita sekaligus bagi masyarakat. Sebab, dengan wanita shalat di rumah, tentu saja hal ini akan lebih menjaga wanita dan lebih melindunginya. Selain itu, juga untuk menjaga anak-anak di rumah, para lanjut usia, serta manfaat lainnya. Maha Suci Allah yang telah menurunkan syari’at yang penuh hikmah ini!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="IN">*** </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><strong><em><span lang="IN">Tadi kan dibilang kalo <span> </span>wanita itu lebih utama shalatnya di rumah..</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><strong><em><span lang="IN"> </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Betul! Trus, kenapa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span><strong><em>Boleh nggak mereka mengerjakannya secara berjama’ah antara sesama wanita?</em></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><em><span lang="IN"> </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Yup! Pertanyaan yang bagus! Untuk ngejawabnya, saya akan bawakan perkataan dari Dr. Shalih bin Ghanim berikut ini. Dia berkata bahwa jama’ahnya kaum wanita di rumah lebih utama dari pada kehadiran mereka di masjid bersama kaum lelaki, karena shalat mereka di rumah sendirian lebih<span> </span>utama ketimbang dilakukan di masjid. Maka, jika dikerjakan dengan berjama’ah (di rumah) akan lebih utama. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Karena inilah, lanjut Dr. Shalih, jika ada sekelompok wanita yang tinggal di rumah, sekolah, universitas, atau rumah-rumah kontrakan, disunnahkan bagi mereka mengadakan jama’ah shalat. Adapun imamnya boleh berdiri di depan atau di tengah shaf yang pertama, boleh juga mengeraskan suara dalam shalat jahriyah, namun tetap menjaga dan memperhatikan kerendahannya, jika dimungkinkan ada laki-laki non mahram yang mendengarnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Banyak riwayat yang menerangkan pensyari’atannya, diantaranya ialah yang diriwayatkan dari Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>, beliau pernah mengimami para wanita dalam shalat fardhu, tepatnya shalat Maghrib. Beliau berdiri di tengah shaf dan mengeraskan bacaannya. (Ibnu Hazm dalam <em>Al-Muhalla</em> (3/171))</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Dari Hujairah binti Husain, dia berkata,”Ibunda Ummu Salamah mengimami kami dalam shalat Ashar, dan beliau berdiri di antara kami.” (Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla (3/171-172))</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN">Nah, inilah beberapa dalil tentang bolehnya wanita mengerjakan shalat berjama’ah antar sesama mereka selain di masjid. Trus, ada ilmu baru juga nih yang mungkin ada diantara kamu yang baru tau sekarang. Jadi, kalo imam wanita, yang disunnahkan ialah poisinya di tengah-tengan shaf pertama, sejajar dengan barisan. Nah, baru tau kan?!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN">Oke deh&#8230; Kayaknya cukup sampe di sini aja pembahasan tentang hukum shalat berjama’ah di masjid bagi wanita. Sekarang kita berlanjut ke pembahasan selanjutnya yaitu tentang <em>udzur</em> shalat berjama’ah. Tapi sebelumnya, kita ikuti dulu pesan-pesan berikut ini&#8230; </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN">Dokutip dari buku saya yang berjudul &#8220;Shalat Berjama&#8217;ah Emang Duahsyaat!&#8221;, yang sedang dalam proses penawaran ke penerbit. Doain ya supaya lolos&#8230;<br />
</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penulispemula.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penulispemula.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penulispemula.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penulispemula.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penulispemula.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penulispemula.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penulispemula.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penulispemula.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penulispemula.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penulispemula.wordpress.com/116/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penulispemula.wordpress.com&blog=3691474&post=116&subd=penulispemula&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penulispemula.wordpress.com/2009/03/01/wanita-shalat-berjama%e2%80%99ah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33ca217fb1a3adb928c3df8e2b32fdf9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mujianto2008</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Maaf, Non-Aktifkan Sejenak HP Anda</title>
		<link>http://penulispemula.wordpress.com/2008/12/10/maaf-non-aktifkan-sejenak-hp-anda/</link>
		<comments>http://penulispemula.wordpress.com/2008/12/10/maaf-non-aktifkan-sejenak-hp-anda/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Dec 2008 02:01:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penulis biasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Menganyam Kata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penulispemula.wordpress.com/?p=113</guid>
		<description><![CDATA[Nah, ini dia nih! Ada juga nih yang kudu kamu perhatiin. Ada saat-saat tertentu di mana sudah seharusnya bagi kamu-kamu yang sering bawa HP ke mana-mana untuk me-non-aktifkan sejenak HP-mu. Di antaranya adalah saat kamu sedang melakukan ibadah shalat, baik shalat wajib maupun shalat sunnah. Hal ini dilakukan sebagai langkah antisipasi jika ada yang menghubungimu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penulispemula.wordpress.com&blog=3691474&post=113&subd=penulispemula&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><em><span lang="PT-BR">Nah, ini dia nih! Ada juga nih yang kudu kamu perhatiin. Ada saat-saat tertentu di mana sudah seharusnya bagi kamu-kamu yang sering bawa HP ke mana-mana untuk me-non-aktifkan sejenak HP-mu. Di antaranya adalah saat kamu sedang melakukan ibadah shalat, baik shalat wajib maupun shalat sunnah. Hal ini dilakukan sebagai langkah antisipasi jika ada yang menghubungimu di tengah shalat. Sebab, suara dering HP bisa mengganggu kekhusyu’an shalat. Terutama ketika shalat berjama’ah di masjid. Di samping mengganggu kekhusyu’an sholatmu, juga ganggu orang yang berada di sekitarmu, lebih-lebih bagi imam shalat.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="PT-BR"><span> </span>Sayangnya, seringkali justru kita dapati sebagian orang yang membiarkan HP-nya dalam keadaan aktif ketika sedang shalat berjama’ah. </span><span lang="SV">Bahkan tak jarang suara dering HP-nya terdengar sangat keras. Di tambah lagi nada dering yang dipakai biasanya berupa musik atau suara yang aneh-aneh, seperti suara hewan, bayi menangis, kuntil anak (hi..hi..hi..hi&#8230;) dll. Tentu saja hal ini sangat mengganggu orang lain yang ada di sekitarnya yang sedang shalat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"><span> </span>Ada cerita begini. Di sebuah masjid yang terletak di daerah perkampungan, <span id="more-113"></span>pernah ada beberapa orang yang shalatnya telat (masbuk). Ketika imam telah salam, mereka yang shalatnya telat ini berdiri untuk menyempurnakan shalatnya. Namun, tiba-tiba terdengar suara musik yang sangat keras dari HP salah seorang dari mereka. Suara ini berlangsung lama, karena si pemilik HP membiarkan saja HP-nya berbunyi. Salah seorang bapak penduduk asli sekitar masjid itupun kemudian berdiri sambil berteriak dengan suara keras,”ENAK DIMUSIKIN KAYAK DI BAR!!!”. Suasana di masjid pun menjadi agak sedikit tegang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"><span> </span>Nah, oleh karena itu, hendaknya kita nggak ngeremehin hal ini. Segera matikan HP kita ketika hendak menunaikan shalat. Jika takut lupa, kita bisa menseting alarm di HP sekitar 5 menit sebelum waktu shalat tiba sehingga jadi ingat untuk segera me-nonaktifkan HP sejenak. Namun, jika kita terlanjur lupa, kemudian HP kita berdering ketika shalat, maka jangan biarkan HP kita terus berbunyi. </span><span lang="FI">Segera matikan, meskipun kita sedang shalat. Hal ini tidak mengapa, bahkan harus kita lakukan. Sebab, kita diperintahkan untuk menghilangkan segala sesuatu yang bisa mengganggu kekhusyu’an shalat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><span> </span>Misalnya aja, kita dilarang untuk shalat ketika makanan udah dihidangkan dan dalam keadaan menahan buang air (kecil maupun besar). Sebagaimana sabda Rasulullah:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">“Apabila makan malam telah dihidangkan, makanlah dahulu sebelum engkau shalat maghrib.” (Muttafaq ‘alaih)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><span> </span>Rasulullah juga pernah bersabda begini:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">“Tidak boleh shalat ketika makanan telah dihidangkan, dan tidak diperbolehkan pula shalat<span> </span>bagi orang yang menahan buang air (kecil maupun besar).” (HR. Muslim)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><span> </span>Larangan ini dimaksudkan agar kita bisa shalat dengan khusyuk tanpa ada gangguan, baik gangguan dari dalam diri kita maupun dari lingkungan sekitar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><span> </span>Barangkali timbul pertanyaan? Bukankah kalau kita matiin HP berarti kita melakukan gerakan yang bukan bagian dari gerakan shalat? Apakah hal ini diperbolehkan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="FI">Jawabnya adalah “boleh”, jika memang hal itu diperlukan demi menjaga kekhusyu’an dan kesempurnaan shalat yang kita lakukan. Ada banyak dalil yang menunjukkan kebolehan melakukan gerakan lain selain gerakan shalat (ketika seseorang sedang melaksanakan shalat) jika memang hal itu harus dilakukan. Namun cukuplah lima hadits berikut ini sebagai dalil penguat bagi kita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="FI"><span> </span>Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam</em> bersabda:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">“Bunuhlah dua binatang hitam (ketika melihatnya-pent) dalam shalat, yaitu ular dan kalajengking.” (Dikeluarkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’I, dan Ibnu Majah. Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><span> </span>Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam</em> juga pernah bersabda:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">“Jika salah seorang di antara kalian mengerjakan shalat menghadap sesuatu yang bisa membatasinya dari orang (yang lewat), lantas ada orang yang hendak lewat di depannya, maka hendaknya dia mencegahnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><span> </span>Ibnu Abbas <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> mengatakan,”Aku bermalam di rumah bibiku yang bernama Maimunah <em>radhiyallahu &#8216;anha</em>. (Pada malam hari) Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam</em> bangun dan mengerjakan shalat malam. Aku lalu berdiri di sebelah kirinya (ketika beliau sedang shalat). Maka beliaupun memegang kepalaku dan meletakkanku di sebelah kanannya.” (HR. Al-Bukhari)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><span> </span>Rasulullah pernah melangkah untuk membuka pintu yang berada di dekat beliau ketika beliau sedang shalat. </span><span lang="EN-GB">Aisyah <em>radhiyallahu &#8216;anha</em> berkata:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-GB">Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam</em> pernah shalat (sunnah) di dalam rumah sedangkan pintunya tertutup. Lalu aku datang dan minta dibukakan. Kemudian beliau berjalan (dalam keadaan shalat-pent) lantas membuka pintu untukku, kemudian kembali lagi ke tempat shalatnya”. (HR. An-Nasa’I dan At-Tirmidzi)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-GB"><span> </span>Rasulullah pun pernah shalat sambil menggendong cucunya yang bernama Umamah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="EN-GB">Abu Qatadah <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> berkata,”Pernah Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam</em> shalat sambil menggendong Umamah putri Zainab <em>radhiyallahu &#8216;anha</em>. Jika beliau sujud, beliau meletakkannya; dan jika beliau berdiri, beliau menggendongnya. (Muttafaq ‘alaih). Dalam riwayat Muslim dikatakan: Beliau pada waktu itu sedang menjadi imam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-GB"><span> </span>Dari kelima hadits di atas menjadi jelaslah oleh kita bahwa seseorang yang sedang melakukan shalat diperbolehkan melakukan gerakan lain yang bukan termasuk gerakan shalat. Namun dengan catatan bahwa gerakan yang dilakukan adalah gerakan yang memang dibutuhkan (berfaidah), bukan gerakan sia-sia ataupun main-main. Bukan pula gerakan yang terlalu banyak (sering dilakukan). Sebab, banyak bergerak di luar gerakan shalat dapat menyibukkan hati dan anggota tubuh dari shalat sehingga dapat membatalkan shalat. Kamu bisa mendapatkan penjelasan panjang lebar tentang masalah ini dalam kitab-kitab hadits atau fikih yang ditulis oleh para ulama. <em>Wallahu a’lam.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span lang="EN-GB"><span> </span></span></em><span lang="EN-GB">Jadi sekarang, kalo kamu lagi shalat trus HP di kantongmu bunyi, segera matikan. Gak apa-apa. Yang nggak boleh, begitu HP kamu bunyi, trus kamu angkat dan kemudian kamu ngobrol dulu sama orang yang nelpon ke HP-mu. Kalo begini sih shalatmu jelas batal. Sebab berbicara ketika shalat termasuk yang membatalkan shalat. </span><span lang="SV">Ah…kalo yang ini sih kamu juga udah tau, kan ?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Tilililit&#8230;&#8230;.. Tilililit&#8230;&#8230;.. Tilililit&#8230;&#8230;.. Tilililit&#8230;&#8230;.. Tilililit&#8230;&#8230;.. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Tilililit&#8230;&#8230;.. Tilililit&#8230;&#8230;.. Tilililit&#8230;&#8230;.. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"><span> </span>Nah, lho! HP siapa tuh yang bunyi? Buruan matiin! Bentar lagi mo sholat nih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span lang="SV">ALLOHU AKBAR &#8230;! ALLOHU AKBAR&#8230;.!</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"><span> </span>Tuh kan, udah adzan. Ya udah, kita sholat dulu. Ngobrolnya ntar diterusin lagi abis shalat. Eh, tapi ngomong-ngomong, HP saya di kantong celana kok nggak ada ya? Waduh&#8230;Jangan-jangan&#8230;COPEEEEEETTT&#8230;.!!!!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB">(Dikutip dari buka saya yang berjudul: HATI2 KAWAN…!!! JGN SAMPE MASUK NERAKA GARA2 HP [</span><span style="font-size:11pt;" lang="EN-GB">Petunjuk Penggunaan HP untuk Meraih Surga </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;" lang="SV">dan Terhindar dari Neraka] yang sedang dalam proses penawaran ke penerbit)</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penulispemula.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penulispemula.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penulispemula.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penulispemula.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penulispemula.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penulispemula.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penulispemula.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penulispemula.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penulispemula.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penulispemula.wordpress.com/113/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penulispemula.wordpress.com&blog=3691474&post=113&subd=penulispemula&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penulispemula.wordpress.com/2008/12/10/maaf-non-aktifkan-sejenak-hp-anda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33ca217fb1a3adb928c3df8e2b32fdf9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mujianto2008</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>NGAPAIN SIH NULIS BUKU ?</title>
		<link>http://penulispemula.wordpress.com/2008/12/02/ngapain-sih-nulis-buku/</link>
		<comments>http://penulispemula.wordpress.com/2008/12/02/ngapain-sih-nulis-buku/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Dec 2008 01:54:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penulis biasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Menganyam Kata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penulispemula.wordpress.com/?p=109</guid>
		<description><![CDATA[Coba kamu bayangin seandainya buku karyamu ditaro di perpustakaan umum sekolah atau kampus yang ada di setiap kota dan daerah. Kemudian setiap hari dibaca dan dimanfaatkan oleh banyak orang. Maka, betapa besar pahala yang bakalan kamu dapat.
 
*** 
 
Sobat…
 Barangkali kamu semua bertanya-tanya. Ngapain sih nulis buku? Nulis buku kan susah. Harus baca banyak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penulispemula.wordpress.com&blog=3691474&post=109&subd=penulispemula&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="FI">Coba kamu bayangin seandainya buku karyamu ditaro di perpustakaan umum<span> </span>sekolah atau kampus yang ada di setiap kota dan daerah. Kemudian setiap hari dibaca dan dimanfaatkan oleh banyak orang. Maka, betapa besar pahala yang bakalan kamu dapat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="SV">*** </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Sobat…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"><span> </span>Barangkali kamu semua bertanya-tanya. Ngapain sih nulis buku? Nulis buku kan susah. Harus baca banyak literatur. Belum nyusun kata-kata yang bagus dan sesuai kaidah EYD (Ejaan Yang Disempurnakan). Nilai Bahasa Indonesia saya aja cuma dapet 5,5. Itupun hasil nyontek. Jadi, bagaimana mungkin bisa nulis buku! Pokoknya susah deh! Susah…Susah…Susaaaaaah…!!!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"><span> </span>Eeh, sabar dulu Sobat! Jangan teriak-teriak gitu. Belum nyoba kok udah bilang susah. Coba dulu atuh. Baru kemudian bisa bilang susah. Kalau belum dicoba, darimana kita tahu kalo nulis buku itu susah. Ya, nggak?!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"><span> </span>Lagian, nulis buku itu nggak susah kok. Serius, saya nggak bo’ong. Buktinya, ada orang yang sekolah SD aja nggak tamat tapi bisa nulis buku. Udah gitu bukunya <em>best seller</em> lagi. Trus, ada juga lho pembantu rumah tangga yang bisa nulis buku. Anak-anak kecil sekarang (yang masih SD) banyak juga kok yang bisa nulis buku. Pokoknya menulis buku itu nggak susah kok. Menulis buku itu guampang. Kalo nggak percaya, coba deh kamu baca buku ini sampai selesai. Nanti kamu bakalan tau sendiri kalo menulis buku itu memang gampang pang&#8230;pang&#8230;paaaang&#8230;. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"><span> </span><em>Trus, kenapa sih kok harus nulis buku, kenapa nggak nulis tembok rumah tetangga aja? </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="FI">Yee…itu mah vandalisme namanya. Nggak boleh kita nulis-nulis tembok rumah tetangga. Ntar kalo dimarahin sama yang punya rumah baru tahu rasa lho! Daripada nulis-nulis tembok tetangga, mendingan nulis-nulis tembok sekolah (Lho, kok!) Eh, nggak…nggak….becanda. Mendingan kamu nulis buku aja. Dijamin banyak manfaatnya deh. Pingin tahu apa aja manfaatnya?<span id="more-109"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="FI">Karena manfaat menulis buku itu banyak buanget, bejibun kalo kata orang Betawi, maka cukup saya sebutin beberapa aja dulu. Sisanya ntar nyusul di bab selanjutnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="FI">Manfaat Menulis Buku </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="FI">Pertama</span></strong><span lang="FI">, dengan menulis buku kita akan mendapatkan pahala dari Alloh. Lho, kok bisa? Iya, soalnya kita telah mengajarkan kebaikan (Ingat lho, “kebaikan” bukannya “kejahatan”) kepada orang lain. Sehingga dengan begitu kita akan memperoleh pahala dari Alloh. Tentunya dengan syarat kita melakukannya dengan ikhlas karena Alloh, bukan semata-mata untuk mengharapkan materi keduniaan (seperti uang, popularitas, dll.). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><span> </span>Apa aja bentuk pahala yang akan kita dapet? Berikut ini diantaranya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="FI">Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam</em> bersabda:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">“Segala sesuatu akan memintakan <strong>ampunan</strong> kepada orang yang mengajarkan kebaikan, bahkan ikan-ikan yang ada di laut pun akan memintakan ampunan baginya” (HR. Ath-Thabrani)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="FI">Beliau <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam</em> juga bersabda:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><span> </span>”Demi Allah, engkau menyebabkan seseorang mendapatkan hidayah Allah itu lebih baik daripada engkau memiliki <strong>unta merah</strong>.” </span><span lang="SV">(HR. Bukhari dan Muslim)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="SV">Unta merah itu adalah harta paling berharga bagi orang Arab tempo dulu. Kalo sekarang mungkin sebanding dengan mobil canggih keluaran terbaru. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV">Kedua</span></strong><span lang="SV">, dengan menulis buku kita akan dapat pahala dobel, yaitu pahala mengajarkan kebaikan dan pahala dari orang yang kita ajarkan kebaikan (lewat buku). Tapi ini tentunya dengan syarat bahwa orang lain yang kita ajarkan lewat buku mau mengamalkan apa yang kita ajarkan itu. Tentang hal ini Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam</em> juga bersabda:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">“Barangsiapa yang menunjuki kepada satu kebaikan, maka dia akan memperoleh pahala seperti pahala orang yang melakukannya.” (HR. Muslim) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV">Ketiga</span></strong><span lang="SV">, dengan menulis buku kita akan mendapat pahala berantai. Wah, apaan tuh pahala berantai? Begini maksudnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="SV">Misalnya ada orang yang mendapatkan manfaat dari ilmu yang kita sebarkan lewat buku, kemudian dia mengajarkan ilmu itu kepada orang lain, dan orang lain yang diajarkan itu mengajarkan lagi kepada orang yang lain lagi, dan begitu seterusnya sampai tujuh turunan lebih, maka kita akan mendapatkan pahala dari mereka juga. Bayangkan seandainya jumlah mereka itu ribuan bahkan mungkin jutaan? Subhanalloh! Banyak sekali pahala yang akan kita dapat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span lang="SV">Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam</em> bersabda:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="SV">“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka dia berhak memperoleh pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, hal tersebut tidak mengurangi sedikitpun dari pahala mereka.” (HR. Muslim)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV">Keempat</span></strong><span lang="SV">, dengan menulis buku kita akan mendapatkan pahala mengalir. Mengalir ke mana? </span><span lang="FI">Ya, mengalir ke kuburan kita ketika kita sudah meninggal dunia. Jadi kita akan tetap mendapatkan pahala lewat buku yang kita tulis itu meskipun kita sudah meninggal dunia. Kenapa bisa seperti itu? Karena orang yang mengajarkan ilmu (kebaikan) kepada orang lain, maka ilmunya itu akan terus membuahkan pahala untuk orang yang mengajarkannya, meskipun orang itu telah meninggal dunia. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span lang="FI">Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam</em> bersabda:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="FI">”Jika manusia telah mati, maka terputuslah semua amalnya, kecuali tiga hal: sedekah jariyah, <strong>ilmu yang</strong> <strong>bermanfaat</strong>, dan anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span lang="FI">Beliau <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam</em> juga bersabda:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="FI">“Di antara amal dan kebaikan yang dapat menyusul seorang Mukmin setelah ajalnya tiba adalah <strong>ilmu yang diajarkan dan disebarluaskan</strong>, anak shalih yang ditinggalkan, mushaf yang diwariskan, masjid yang dibangun, atau rumah yang diperuntukkan untuk ibnussabil (orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan), saluran air yang dibangun atau sedekah yang dikeluarkan dari hartanya saat sehat dan hayat masih dikandung badan, (pahalanya) akan mengikutinya hingga setelah meninggal.” (HR. Ibnu Majah)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><span> </span>Coba kamu bayangin seandainya buku karyamu ditaro di perpustakaan umum<span> </span>sekolah atau kampus yang ada di setiap kota dan daerah. Kemudian setiap hari dibaca dan dimanfaatkan oleh banyak orang. Maka, betapa besar pahala yang bakalan kamu dapat. Apalagi jika buku itu tetap dimanfaatkan sampai ribuan tahun, sebagaimana buku-buku yang ditulis oleh para ulama semisal Imam Bukhori, Imam Muslim, dll. Wah, nggak kebayang deh…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><span> </span>Tapi sekali lagi harus kita ingat. Semua ini hanya akan bisa didapat jika tulisan kita memenuhi dua persyaratan. <strong><span style="text-decoration:underline;">Pertama</span></strong>, buku yang kita tulis isinya bermanfaat, bukan justru merusak dan ngajarin yang nggak bener. Sebab, Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam</em> pernah bersabda begini:</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="FI">“Barangsiapa yang mengajak pada kesesatan, maka dia akan menanggung dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya.” (HR. Muslim)</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span lang="FI"><span> </span></span><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="FI">Nah, lho! Ngeri banget kan. Orang lain yang berbuat dosa tapi kita kena kecipratan dosanya juga. Kenapa? Sebab kita yang jadi pelopornya. Kita yang ngajarin pertama kali. Makanya kita ikut bertanggung jawab, karena kita telah ikut andil menjerumuskan mereka kepada perbuatan dosa, walaupun secara nggak langsung. </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="FI">Kemudian syarat yang <strong><span style="text-decoration:underline;">kedua</span></strong>, niat kita dalam menulis buku itu yang utama ialah demi mengharap ridho dan pahala dari Alloh (ikhlas). Bukannya demi uang, popularitas, dan tetek-bengek keduniaan lainnya. Namun jangan salah paham, Sobat! Bukan berarti kita nggak boleh ngarepin dapet duit dari menulis buku. Boleh aja. Tapi inget, niat utama ialah demi mendapatkan pahala. Adapun uang, insya Alloh menyusul. </span><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="FI">Jika aktivitas menulis buku yang kita lakukan memang betul-betul ikhlas, pasti Allah akan memberikan balasan yang terbaik buat kita. </span><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IT">Kalo belom dibalas di dunia, pasti akan Alloh balas di akhirat. Jadi nggak usah takut! </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IT"><span> </span>Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> berfirman:</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IT">“Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mu&#8217;min, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik”. (QS. Al-Israa [17]:19)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IT"><span> </span>Nah, demikianlah manfaat yang bisa kita kita dapet dari menulis buku. Gimana, sudah cukup? Apa&#8230;.??? Masih belum cukup juga! Oke deh, saya tambahin deh satu lagi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="FI">Kelima</span></strong><span lang="FI">, dengan menulis buku kita akan menjadi cerdas. Hayoo&#8230;kenapa coba? Kenapa menulis buku bisa bikin kita cerdas? Ayo&#8230;ada yang bisa jawab? Ya, coba itu yang angkat tangan. Tahu nggak alasannya, kenapa nulis buku bisa bikin cerdas?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><span> </span>Ya, seratus! Sebab, dengan menulis buku otomatis kita akan terdorong untuk melakukan pengkajian secara lebih mendalam. Misalnya aja kita nulis buku tentang “cara bertanam pohon mangga di kebun”, tentu kita akan mencari banyak referensi untuk kemudian kita baca, kita kaji, dan kita susun dalam bentuk tulisan baru. Dengan begitu wawasan kita akan menjadi bertambah luas. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="FI">Saya sendiri mengalami hal ini ketika menulis buku tentang rokok. Saya baru tahu bahwa dari sebatang rokok ternyata mengandung ribuan zat-zat kimia yang sangat berbahaya, seperti: <em>Polonium-201</em> (bahan radioaktif), <em>acetone</em> (bahan pembuat cat), <em>ammonia</em> (bahan untuk pencuci lantai), <em>napthalene</em> (bahan kapur barus), <em>DDT &amp; arsenic</em> (yang biasa untuk racun serangga), <em>hydrogen cyanida</em> (gas beracun yang lazim digunakan di kamar eksekusi hukuman mati), <em>methanol</em> (bahan bakar roket), <em>cadmium</em> (digunakan untuk accu mobil), <em>vinyil chloride</em> (bahan plastik PVC), <em>phenol bhutane</em> (bahan bakar korek api), <em>carbon monoxide</em> (asap dari knalpot kendaraan), <em>naftalen</em> (kamper), <em>toluene</em> (pelarut industri), dan masih banyak lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><span> </span>Nah, kalau saya nggak nulis buku rokok, bisa jadi saya nggak tahu masalah ini. Oleh karena itu, kalo kamu mau tambah cerdas, ya&#8230;nulis buku aja!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><span> </span>Mungkin cukup lima manfaat ini aja yang bisa saya sampaikan pada kesempatan kali ini. Sisanya ntar saya sebutin di bab&#8230;mmm&#8230;.bab ke berapa ya? Kalo nggak salah di bab kedua deh. Silakan lihat sendiri. Di sana saya akan sebutkan bahwa menulis buku ternyata bisa bikin kaya. Kamu bisa mendapatkan uang milyaran rupiah dari buku yang kamu tulis. Tertarik, Sobat!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><span> </span><em>Mmm&#8230;.tertarik sih. Cumaaa&#8230;.mmm&#8230;cumaaa&#8230;.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="FI">Cuma apa? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><em><span lang="SV">Saya kan nggak punya gelar. Saya cuma lulusan SD. Mungkin nggak sih saya bisa menulis buku?.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"><span> </span>Yee&#8230;emangnya kalo nulis buku harus punya gelar dulu. Nggak perlu lagi. Yang penting kita menguasai dan ngerti dengan yang kita tulis, itu aja. Kan udah saya kasih tau tadi bahwa banyak juga penulis buku yang nggak punya gelar. Bahkan lulus SD pun nggak. Berarti kamu masih mending masih lulus SD. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="SV">Kalau kamu taunya cuma gimana cara beternak bebek, ya tulis aja buku tentang cara beternak bebek. Kalau kamu taunya cuma gimana cara berdagang somay, ya tulis aja buku tentang gimana caranya berdagang somay. Kalau kamu taunya cuma gimana caranya menanam ganja –eh,nggak boleh ya?- menanam pepaya misalnya, ya tulis aja buku tentang gimana cara menanam pepaya agar bisa berbuah lebat.<span> </span>Kalau kamu tahunya cumaaa&#8230;..aah&#8230;.kayaknya kamu emang kudu baca buku ini sampai selesai deh, biar kamu yakin kalo menulis buku itu nggak perlu harus nunggu dapet gelar dulu. Ya udah, lanjutin deh bacanya!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">(Dikutip dari buku saya yang berjudul : “Sobat… </span>Nulis Buku, Yuk!)</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penulispemula.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penulispemula.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penulispemula.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penulispemula.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penulispemula.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penulispemula.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penulispemula.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penulispemula.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penulispemula.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penulispemula.wordpress.com/109/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penulispemula.wordpress.com&blog=3691474&post=109&subd=penulispemula&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penulispemula.wordpress.com/2008/12/02/ngapain-sih-nulis-buku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33ca217fb1a3adb928c3df8e2b32fdf9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mujianto2008</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Royalti itu 10 % atau ….</title>
		<link>http://penulispemula.wordpress.com/2008/10/09/royalti-itu-10-atau-%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://penulispemula.wordpress.com/2008/10/09/royalti-itu-10-atau-%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Oct 2008 03:51:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penulis biasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Menganyam Kata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penulispemula.wordpress.com/?p=102</guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya, royalti menulis buku biasanya itu 10 % atau 5 % sih? Bisakah Anda menjelaskannya kepada saya. Sebab, saya sering baca di buku-buku kiat menulis, yang selalu dijadikan contoh untuk jumlah royalti yang diberikan penerbit kepada penulis buku sebesar 10 %. Tapi kenyataannya, selama ini saya selalu mendapati penerbit yang memberikan royalti cuma 5 % [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penulispemula.wordpress.com&blog=3691474&post=102&subd=penulispemula&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal">Sebenarnya, royalti menulis buku biasanya itu 10 % atau 5 % sih? Bisakah Anda menjelaskannya kepada saya. Sebab, saya sering baca di buku-buku kiat menulis, yang selalu dijadikan contoh untuk jumlah royalti yang diberikan penerbit kepada penulis buku sebesar 10 %. Tapi kenyataannya, selama ini saya selalu mendapati penerbit yang memberikan royalti cuma 5 % dari harga buku di pasaran. Memang sih ada juga yang memberi 10 %, tapi dari harga netto (harga buku setelah dipotong 50%). Berarti sama aja bo’ong.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Untuk buku pertama saya,<span id="more-102"></span> saya mendapatkan royalti 5 % dari harga bandrol. Tapi saya dapet uang depe sebesar 500 ribu ketika buku saya pertama kali terbit. Naskah saya yang lain pernah hampir lolos di sebuah penerbit. Waktu itu royalti yang ditawarkan juga sama, 5 % dari harga bandrol. Cuma uang depenya agak gedean dikit. Penerbit katanya akan memberikan uang depe sebesar 1 juta. Tapi sayang, naskah saya batal diterbitkan.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Kemudian, buku kedua saya pun sama. Walaupun saya dapat royalti 10 %, tapi dihitung dari harga netto, yaitu harga buku di pasaran dipotong 50%. Jadi, kalau dihitung-hitung, sama saja dengan yang lain. Saya cuma dapat 5 % dari harga bandrol.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Kawan&#8230;</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Sengaja saya menuliskan tentang hal ini agar para penulis pemula (seperti saya) tahu, bahwa jumlah royalti yang akan didapat dari menulis buku jumlahnya bervariasi.<span> </span>Tidak melulu 10 % seperti yang sering dijadikan contoh di buku-buku kiat menulis. Jadi, kalau nanti ketemu penerbit yang ngasih royalti 5 % jangan kaget. Dan biar nggak kaget, makanya saya beri tahu dari awal. Terutama bagi mereka-mereka yang memang tujuan menulis buku murni untuk mendapatkan uang. Mereka harus siap menerima kenyataan jika nanti ternyata hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan yang selama ini dibayangkan.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span><span lang="SV">Saya saja awalnya sempat kaget juga. Saya kira kebanyakan penerbit akan memberi royalti 10 %. Mungkin ada yang ngasih di bawah itu, tapi perkiraan saya jumlahnya sedikit. Tapi kenyataannya, yang selalu saya dapati ialah penerbit yang memberi royalti cuma 5 %. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span> </span>Perlu saya jelaskan bahwa memang saya menulis bukan semata-mata untuk mendapatkan uang. Tetap tujuan saya menulis ialah untuk memberi manfaat yang sebesar-besarnya kepada masyarakat. Nah, kalau saya diberi royalti besar, khan saya jadi lebih bisa menebar manfaat secara lebih banyak lagi. Dari uang royalti itu, saya bisa membeli ”suplemen” agar kerja saya bisa lebih kuat dan semangat untuk menghasilkan karya yang lebih banyak. Tul, gak ?!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span> </span>Saya setuju dengan pernyataan ”Uang memang bukan segalanya, tetapi segalanya butuh uang”. Berarti menulis pun butuh uang. Berarti juga memberi manfaat kepada masyarakat lewat tulisan juga butuh uang. Seandainya uang yang diperoleh lebih besar, tentu akan lebih besar juga manfaat yang bisa diberikan lewat tulisan. Misalnya dengan royalti 5 % kita selanjutnya bisa menulis satu buku, maka dengan royalti 10% kita bisa bikin buku lebih banyak lagi. Berarti manfaat yang bisa kita berikan akan lebih banyak lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span> </span>Tapi saran saya, tetaplah menulis walaupun royalti yang kita dapat Cuma 5 %. Insya Alloh, jika niat kita ikhlas, uang yang kita peroleh akan barokah untuk kita. Bisa saja, misalnya, kita dikasih royalti 10%, tapi ternyata buku kita tidak laku sehingga uang yang kita dapat sedikit; atau bukunya laku tapi uang yang kita dapat cepat menguap karena kita tidak ikhlas. Dan bisa saja kita dikasih royalti Cuma 5%, tapi buku kita best seller; atau walaupun kurang laku, uang yang kita dapat meskipun tidak seberapa jumlahnya, ternyata cukup untuk modal menulis banyak buku. Namun yang terbaik tentu saja kita dapat royalti besar, buku best seller, dan kita kemudian bisa berkarya lebih banyak lagi. Gimana, setuju?!</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penulispemula.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penulispemula.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penulispemula.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penulispemula.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penulispemula.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penulispemula.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penulispemula.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penulispemula.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penulispemula.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penulispemula.wordpress.com/102/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penulispemula.wordpress.com&blog=3691474&post=102&subd=penulispemula&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penulispemula.wordpress.com/2008/10/09/royalti-itu-10-atau-%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33ca217fb1a3adb928c3df8e2b32fdf9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mujianto2008</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Royalti atau Beli Putus ?</title>
		<link>http://penulispemula.wordpress.com/2008/10/09/royalti-atau-beli-putus/</link>
		<comments>http://penulispemula.wordpress.com/2008/10/09/royalti-atau-beli-putus/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Oct 2008 03:48:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penulis biasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Menganyam Kata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penulispemula.wordpress.com/?p=100</guid>
		<description><![CDATA[Yang saya tahu, bentuk kerjasama antara penulis buku dengan penerbit secara umum ada dua. Pertama, royalti; sedangkan yang kedua, beli putus. Kalau royalti, penulis akan terus mendapatkan penghasilan selama bukunya masih terus dicetak. Sedangkan beli putus, penulis hanya mendapatkan penghasilan sekali saja, yaitu uang pembayaran naskah yang dibeli oleh penerbit. Setelah itu, penulis tidak akan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penulispemula.wordpress.com&blog=3691474&post=100&subd=penulispemula&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal"><span lang="SV">Yang saya tahu, bentuk kerjasama antara penulis buku dengan penerbit secara umum ada dua. Pertama, royalti; sedangkan yang kedua, beli putus. Kalau royalti, penulis akan<span> </span>terus mendapatkan penghasilan selama bukunya masih terus dicetak. Sedangkan beli putus, penulis hanya mendapatkan penghasilan sekali saja, yaitu uang pembayaran naskah yang dibeli oleh penerbit. Setelah itu, penulis tidak akan<span> </span>mendapatkan apa-apa lagi, walaupun bukunya dicetak berulang kali. Demikian kira-kira yang saya pahami tentang sistem kerja sama bentuk ”royalti” dan ”beli putus”.</span><span id="more-100"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span> </span>Kalau disuruh memilih dari dua bentuk kerjasama ini, Anda pilih mana ? Kalau saya akan memilih kerjasama bentuk royalti. Sebab, saya merasa ada unsur ”gambling” di dalam kerjasama bentuk beli putus. Seandainya naskah yang dibeli penerbit dengan beli putus <em>best seller</em> alias laku keras di pasaran, maka penerbit untung besar dari penjualan buku itu, namun penulis tidak bisa ikut merasakannya. Dia cuma dapat uang sekali saja yang terkadang (bahkan bisa dipastikan) jumlahnya jauh dibandingkan keuntungan yang didapat penerbit. Perbandingannya bisa seperti jarak antara langit dan bumi. Jadi tidak adil, bukan ?!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span> </span>Namun jika buku tidak laku dan menumpuk di gudang, penerbit yang rugi. Sebab, penerbit telah mengeluarkan uang yang cukup besar untuk ongkos produksi dll. plus untuk bayar naskah, tetapi ternyata uang yang dikeluarkan tidak sesuai dengan keuntungan yang didapat. Adapun penulis untung karena telah memperoleh<span> </span>pembayaran di muka, yang bisa dikatakan cukup lumayan dibanding biaya yang dikeluarkan untuk menulis buku.<span> </span>Ini kalau memang bukunya benar-benar tidak laku.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span> </span>Berbeda halnya dengan sistem kerjasama bentuk royalti. </span><span lang="FI">Penulis dan penerbit sama-sama enak. <span> </span>Jika bukunya best seller, keduanya sama-sama untung.<span> </span>Sedangkan jika buku tidak laku, sama-sama rugi. Penulis telah rugi waktu, tenaga, pikiran, dan uang yang tidak sedikit untuk bisa menulis sebuah buku, sedangkan penerbit rugi biaya produksi dll. Jadi bisa dikatakan kerjasama bentuk royaltilah yang lebih mendingan. Oleh karena itu, saya memilih bentuk kerjasama berupa royalti dalam buku saya yang berjudul ”Ngerokok Bikin Kamu Kaya”.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"><span> </span>Ceritanya waktu itu, tidak sampai dua minggu setelah naskah saya kirim ke penerbit lewat pos, saya langsung dihubungi pihak penerbit lewat telpon. Mereka menyatakan tertarik untuk menerbitkan naskah saya yang awalnya<span> </span>saya beri judul ”Menjadi Kaya Dengan Merokok”. Penerbit awalnya menawarkan<span> </span>untuk beli putus. Mereka berani membayar sekitar 700-800ribu, dan akan langsung ditransfer ke rekening saya. Namun saya meminta meminta bentuk kerjasama royalti saja. Alasannya sebagaimana yang telah saya jelaskan di atas. Walaupun waktu itu saya sempat bimbang. Sebab, terus terang saja, waktu itu saya sedang butuh uang. Uang simpanan saya semakin menipis karena dipakai untuk biaya menulis buku. HP saya satu-satunya sudah saya jual ke teman. Seandainya waktu itu saya setuju beli putus, setidaknya saya akan sedikit mendapat suntikan energi untuk bisa terus merangkai kata tanpa harus terganggu dengan kondisi kantong yang keroncongan. Tapi, karena saya merasa yakin bahwa buku saya bakalan laris, maka saya tetapkan hati untuk memilih kerjasama bentuk royalti. Walaupun<span> </span>persentase yang ditawarkan tidak terlalu besar. Cuma 5 % dari harga bandrol dan diberikan tiap tiga bulan sekali. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"><span> </span>Ternyata pilihan saya sudah tepat. Buku saya ini, di 3 bulan pertama penjualannya habis terjual sebanyak 2700 eksemplar. Sayapun mendapatkan royalti sebesar Rp. 2.430.000 dengan hitung-hitungan sebagai berikut: 5% x 18.000 (harga buku) x 2700 = 2.430.000.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"><span> </span>Nah, sekarang coba kita bandingkan uang royalti yang saya dapat ini dengan uang yang akan saya terima jika jadi beli putus. Jauh sekali bedanya bukan? Sekitar 1:3. Bahkan saya masih ada kemungkinan bisa dapat uang lebih besar lagi dari buku saya ini jika penjualannya bisa terus meningkat. Namun, walaupun kemudian bukunya sudah tidak laku lagi, saya dan penerbit telah sama-sama untung. Kalo nggak percaya, tanya saja<span> </span>langsung ke penerbitnya!</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penulispemula.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penulispemula.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penulispemula.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penulispemula.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penulispemula.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penulispemula.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penulispemula.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penulispemula.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penulispemula.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penulispemula.wordpress.com/100/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penulispemula.wordpress.com&blog=3691474&post=100&subd=penulispemula&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penulispemula.wordpress.com/2008/10/09/royalti-atau-beli-putus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33ca217fb1a3adb928c3df8e2b32fdf9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mujianto2008</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PROSES KELAHIRAN BUKU ” NGEROKOK BIKIN KAMU “KAYA””</title>
		<link>http://penulispemula.wordpress.com/2008/09/22/proses-kelahiran-buku-%e2%80%9d-ngerokok-bikin-kamu-%e2%80%9ckaya%e2%80%9d%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://penulispemula.wordpress.com/2008/09/22/proses-kelahiran-buku-%e2%80%9d-ngerokok-bikin-kamu-%e2%80%9ckaya%e2%80%9d%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Sep 2008 06:41:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penulis biasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penulispemula.wordpress.com/?p=90</guid>
		<description><![CDATA[
PROSES KELAHIRAN BUKU ” NGEROKOK BIKIN KAMU “KAYA”” 

BERAWAL DARI CORET-CORETAN BIASA 



KEMUDIAN DITULIS SELAMA 2 MINGGUAN



LALU JADI BUKU YANG SIAP KIRIM KE PENERBIT



SETELAH ITU DITERBITKAN



SETELAH ITU DIJUAL DEH&#8230;
AYO SIAPA YANG BELUM BELI ? NTAR KEABISAN LHO!



       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penulispemula.wordpress.com&blog=3691474&post=90&subd=penulispemula&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!--[if gte mso 9]&gt;--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><strong><span lang="FI">PROSES KELAHIRAN BUKU ” NGEROKOK BIKIN KAMU “KAYA”” </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><!--[if gte mso 9]&gt;--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span lang="IT">BERAWAL DARI CORET-CORETAN BIASA </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><a href="http://penulispemula.files.wordpress.com/2008/09/muji-artikel-3-edit.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-91" title="muji-artikel-3-edit" src="../files/2008/09/muji-artikel-3-edit.jpg?w=300" alt="" width="300" height="243" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><!--[if gte mso 9]&gt;--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span lang="IT">KEMUDIAN DITULIS SELAMA 2 MINGGUAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><a href="http://penulispemula.files.wordpress.com/2008/09/images_009.jpeg"><img class="aligncenter size-full wp-image-92" title="images_009" src="../files/2008/09/images_009.jpeg" alt="" width="114" height="117" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><!--[if gte mso 9]&gt;--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span lang="IT">LALU JADI BUKU YANG SIAP KIRIM KE PENERBIT</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><a href="http://penulispemula.files.wordpress.com/2008/09/muji-buku-edit1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-93" title="muji-buku-edit1" src="../files/2008/09/muji-buku-edit1.jpg?w=213" alt="" width="213" height="300" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><!--[if gte mso 9]&gt;--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span lang="SV">SETELAH ITU DITERBITKAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><a href="http://penulispemula.files.wordpress.com/2008/09/380761.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-94" title="380761" src="../files/2008/09/380761.jpg" alt="" width="88" height="130" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong>SETELAH ITU DIJUAL DEH&#8230;</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong>AYO SIAPA YANG BELUM BELI ? NTAR KEABISAN LHO!<br />
</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penulispemula.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penulispemula.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penulispemula.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penulispemula.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penulispemula.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penulispemula.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penulispemula.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penulispemula.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penulispemula.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penulispemula.wordpress.com/90/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penulispemula.wordpress.com&blog=3691474&post=90&subd=penulispemula&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penulispemula.wordpress.com/2008/09/22/proses-kelahiran-buku-%e2%80%9d-ngerokok-bikin-kamu-%e2%80%9ckaya%e2%80%9d%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33ca217fb1a3adb928c3df8e2b32fdf9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mujianto2008</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="../files/2008/09/muji-artikel-3-edit.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">muji-artikel-3-edit</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="../files/2008/09/images_009.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">images_009</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="../files/2008/09/muji-buku-edit1.jpg?w=213" medium="image">
			<media:title type="html">muji-buku-edit1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="../files/2008/09/380761.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">380761</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PASPOR KEMATIAN: JALAN MENUJU SURGA-MU</title>
		<link>http://penulispemula.wordpress.com/2008/09/17/paspor-kematian-jalan-menuju-surga-mu/</link>
		<comments>http://penulispemula.wordpress.com/2008/09/17/paspor-kematian-jalan-menuju-surga-mu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Sep 2008 03:37:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penulis biasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulisanku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penulispemula.wordpress.com/?p=68</guid>
		<description><![CDATA[





CATATAN PEMBUKA
*********************
“Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagiNya;
dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan (diri kepada Allah)”.
(QS. Al-An’am:162-163)
OOOOOOOOOOO
 
الحمد لله و الصلاة و السلام على رسول الله صلى الله عليه و سلم
أما بعد:
 
 Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam pernah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penulispemula.wordpress.com&blog=3691474&post=68&subd=penulispemula&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><a href="http://penulispemula.files.wordpress.com/2008/09/paspokematian3.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-69" title="paspokematian3" src="http://penulispemula.files.wordpress.com/2008/09/paspokematian3.jpg?w=150&#038;h=228" alt="" width="150" height="228" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:26pt;" lang="IN">C</span><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:16pt;" lang="IN">ATATAN PEMBUKA</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl" align="center"><span style="font-size:16pt;color:black;">*********************</span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span lang="IN">“Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagiNya;</span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;text-indent:.5in;line-height:normal;" align="center"><span lang="IN">dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang<span> </span>pertama-tama menyerahkan (diri kepada Allah)”.</span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span lang="IN">(QS. Al-An’am:162-163)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="color:black;">OOOOOOOOOOO</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:16pt;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl" align="center"><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;">الحمد لله و الصلاة و السلام على رسول الله صلى الله عليه و سلم</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl" align="center"><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;">أما بعد:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam</em> pernah bersabda:</span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu dengan keduanya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.”(HR. Al-Bukhari, At-Tirmidzi, dll)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span><em>Shodaqo Rasulullah!</em> Sungguh benarlah kata-kata yang keluar dari lisan beliau <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam</em>. Realita di sekitar kita menjadi buktinya. Betapa banyak manusia yang enggan mempergunakan kesehatan dan waktu luang yang mereka miliki untuk mempersiapkan bekal menuju akhirat. Kebanyakan mereka justru mengisinya dengan melakukan aktivitas yang tidak bermanfaat, baik untuk dunia maupun akhirat mereka. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN">Para pemuda menghabiskan malam sambil <em>genjrang-genjreng</em> tidak karuan, para pemilik warung rokok menunggu pembeli sambil bermain catur, para tukang ojek menunggu sewa sambil bermain judi, supir angkot menunggu giliran berangkat sambil main domino, tukang becak menunggu penumpang sambil meringkuk di dalam becaknya, para pedagang sembako di kampung-kampung menunggu pembeli sambil ngelamun, para pengangguran tidur-tiduran saja seharian sambil menunggu kerjaan datang, para sarjana muda bermalas-malasan di depan televisi sambil menunggu panggilan kerja, anak-anak SMP duduk bersila berjam-jam di rental PS sepulang sekolah, para mahasiswa selonjoran seharian di teras kos sambil membaca novel picisan karena tidak ada tugas kuliah, para pegawai kantor ngerumpi dengan sesama mereka karena<span> </span>bos mereka sedang tidak berada di tempat, para pegawai pemerintahan asyik merokok di ruang kerjanya karena sedang tidak ada kerjaan, anak-anak sekolah ribut ngobrol pada jam pelajaran karena guru yang mengajar berhalangan hadir, ibu-ibu rumah tangga ngerumpi <em>ngalor-ngidul</em> dengan tetangganya sambil menunggu suaminya pulang kerja, penjaga rental komputer khusyuk bermain game sambil menunggu kedatangan penyewa,<span> </span>tukang jahit duduk bengong sambil menghisap rokok menunggu kedatangan orang yang ingin menjahitkan baju, satpam masjid duduk santai setengah harian di pos jaga sambil bergurau dengan tukang sapu, tukang buah di pingir jalan duduk diam berjam-jam di depan kios buahnya sambil memperhatikan lalu-lalang orang yang lewat, para remaja tanggung nongkrong-nongkrong di halte sambil cuci mata, penumpang bis antar kota diam membisu memandang rumah-rumah di pinggir jalan melalui kaca jendela, ……………………..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN">Pemandangan di atas merupakan suatu hal yang begitu akrab dengan kita. Saking akrabnya sehingga kita menganggapnya sebagai suatu hal yang lumrah. Padahal, kalau dilihat dari kaca mata agama, hal ini adalah sebuah musibah besar! Mengapa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN">Bukankah setiap manusia kelak akan dimintai pertanggungjawaban tentang umur yang dia hidup di dalamnya? Apakah umurnya itu digunakan untuk melakukan kemanfaatan ataukah untuk kesia-siaan? Apakah umurnya itu dihabiskan untuk kebaikan dan ketaatan kepada Allah ataukah untuk keburukan dan ketaatan kepada setan? Oleh karena itu Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa salam</em> bersabda:”Tidak akan bergeser kedua telapak kaki anak Adam dari sisi Robnya pada hari kiamat, hingga dia ditanya tentang lima hal: (1) Tentang umurnya untuk apa dia habiskan, (2) tentang masa mudanya untuk apa dia pergunakan, (3) tentang hartanya, darimana dia dapat dan (4) ke mana dia infaqkan, dan (5) amalan apa yang telah diperbuat dari ilmu yang dia miliki.”(HR. At- Tirmidzi)</span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN"><span> </span>Kalau sudah tahu begini, tentu merupakan sebuah musibah jika seseorang semasa hidupnya tidak pernah mempersiapkan bekal untuk akhiratnya. Padahal dia telah diberikan kesempatan dan kemampuan untuk itu. Sayangnya, sedikit sekali manusia yang bisa memanfaatkannya dengan baik. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Sekarang, kalau setiap orang ditanya: Siapkah Anda jika esok hari nyawa Anda dicabut? Siapkah Anda ketika membuka mata setelah semalaman tidur ternyata Anda telah berada di liang lahat? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Saya yakin, hampir semua orang jawabannya sama:”Aduh saya belum siap! Aduh saya masih banyak dosa! Aduh saya belum mempersiapkan bekal! Aduh saya belum…………! Aduh saya masih……….!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Jika memang demikian keadaannya, kenapa tidak dari sekarang kita mempersiapkan diri? Kenapa kita tidak<span> </span>segera berbekal untuk kehidupan setelah mati? Kenapa kita masih bersantai-santai?<span> </span>Bagaimana nanti kita menjawab pertanyaan – pertanyaan Allah ? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="IN">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN">Kita semua tentu ingin masuk surga. Namun, apa yang sudah kita persiapkan untuk bisa masuk surga? Amal shalih apa saja yang telah kita kerjakan untuk ditukar dengan Surga? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN">YA, inilah motivasi terbesar dari ditulisnya buku ini. Saya mengajak diri saya pribadi dan juga kepada mereka-mereka yang ingin masuk Surga untuk segera mempersiapkan diri dengan cara beramal shalih sebanyak-banyaknya agar bisa masuk surga dengan selamat. Tidak <em>pake</em> acara mampir dulu di Neraka. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN">Akhir kata, semoga kita semua menjadi golongan orang-orang yang dipangil oleh Allah dalam firman-nya…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya. Maka masuklah ke dalam jama&#8217;ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku”. (QS. Al-Fajr [89]:30)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN">Dan, semoga kita semua bukan termasuk mereka yang berkata dengan penuh penyesalan di akhirat nanti:</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini&#8221;. (QS. Al-Fajr [89]:24)</span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:normal;"><span lang="IN">Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, Sahabatnya, dan ummatnya semua yang senantiasa melakukan amal shalih dan berkata,” Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang<span> </span>pertama-tama menyerahkan (diri kepada Allah)”. (QS. Al-An’am:162-163)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><span style="color:black;">Jakarta, Ahad 13 Januari<span> </span>2008 </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><span style="color:black;">Abdul Jabbar</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><span style="color:black;">(Penulis dan Pendamba Surga)</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/penulispemula.wordpress.com/68/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/penulispemula.wordpress.com/68/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penulispemula.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penulispemula.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penulispemula.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penulispemula.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penulispemula.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penulispemula.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penulispemula.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penulispemula.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penulispemula.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penulispemula.wordpress.com/68/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penulispemula.wordpress.com&blog=3691474&post=68&subd=penulispemula&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penulispemula.wordpress.com/2008/09/17/paspor-kematian-jalan-menuju-surga-mu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33ca217fb1a3adb928c3df8e2b32fdf9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mujianto2008</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://penulispemula.files.wordpress.com/2008/09/paspokematian3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">paspokematian3</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MOHON DOANYA YA&#8230;</title>
		<link>http://penulispemula.wordpress.com/2008/09/17/mohon-doanya-ya/</link>
		<comments>http://penulispemula.wordpress.com/2008/09/17/mohon-doanya-ya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Sep 2008 03:30:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penulis biasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Menganyam Kata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penulispemula.wordpress.com/?p=64</guid>
		<description><![CDATA[Kawan-kawan, 
 Saat ini saya sedang mengajukan naskah buku ke-8 saya yang saya beri judul ”PENULIS PEMULA JUGA BISA NULIS BUKU”. Buku ini saya tulis dengan tujuan untuk ngomporin orang -siapapun dia, apapun gelar dan profesinya- agar mau berbagi ilmu yang mereka miliki lewat perantaraan buku. Mohon doanya ya biar bisa cepet diterima penerbit, cepet [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penulispemula.wordpress.com&blog=3691474&post=64&subd=penulispemula&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal"><span lang="FI">Kawan-kawan, </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"><span> </span>Saat ini saya sedang mengajukan naskah buku ke-8 saya yang saya beri judul ”<strong>PENULIS PEMULA JUGA BISA NULIS BUKU</strong>”. Buku ini saya tulis dengan tujuan untuk ngomporin orang -siapapun dia, apapun gelar dan profesinya- agar mau berbagi ilmu yang mereka miliki lewat perantaraan buku. </span><span lang="SV">Mohon doanya ya biar bisa cepet diterima penerbit, cepet diterbitkan, dan cepet laku (<em>best seller</em>). </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span> </span>Daftar isi bukunya kayak gini nih&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span lang="FI">”PENULIS PEMULA JUGA BISA NULIS BUKU”</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="FI"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span lang="FI">DAFTAR ISI</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="FI">PENGANTAR PENULIS</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="FI">BAB I: MENGAPA SAYA MENULIS BUKU ?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="FI">BAB II: MENULIS BUKU ITU GAMPANG</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="FI">BAB III: BAGAIMANA SAYA MENULIS BUKU ?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="FI">BAB IV: MENGIRIM NASKAH</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="IT">BAB V: BILA NASKAH KITA DITOLAK</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="IT">BAB VI: MEMBEDAH BUKU</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="IT">BAB VII: AYO, MENULIS !</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="IT">BAB VIII: IDE MENULIS</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="IT">BAB IX: AGAR MENULIS MENJADI MUDAH</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="IT">BAB X: WRITER’S BLOCK</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="IT">BAB XI: MENULIS DENGAN CINTA</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="IT">BAB XII: SELAMAT MENULIS BUKU !</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="IT">PENUTUP</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="FI">DAFTAR PUSTAKA</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="FI">TENTANG PENULIS</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV"><span> </span>Harapan saya sih buku ini bisa best seller hingga terjual jutaan eksemplar dan diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa di dunia. Semoga ini bukan sekedar harapan&#8230; Amien ya Alloh&#8230; </span></strong></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/penulispemula.wordpress.com/64/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/penulispemula.wordpress.com/64/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penulispemula.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penulispemula.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penulispemula.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penulispemula.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penulispemula.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penulispemula.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penulispemula.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penulispemula.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penulispemula.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penulispemula.wordpress.com/64/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penulispemula.wordpress.com&blog=3691474&post=64&subd=penulispemula&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penulispemula.wordpress.com/2008/09/17/mohon-doanya-ya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33ca217fb1a3adb928c3df8e2b32fdf9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mujianto2008</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MEMBEDAH BUKU</title>
		<link>http://penulispemula.wordpress.com/2008/09/17/membedah-buku/</link>
		<comments>http://penulispemula.wordpress.com/2008/09/17/membedah-buku/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Sep 2008 03:28:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penulis biasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulisanku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penulispemula.wordpress.com/?p=62</guid>
		<description><![CDATA[
“Jangan melihat buku dari ketebalannya agar kita tidak merasa bahwa akitifitas menulis buku merupakan aktifitas yang begitu sulit dan melelahkan karena terbayang harus menulis berpuluh-puluh halaman bahkan sampai beratus-ratus halaman. Tapi, marilah kita lihat bab-bab yang ada dalam buku itu yang hanya berupa tulisan pendek saja”.
 
***
 
Sekarang, coba Anda ambil sebuah buku. Atau begini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penulispemula.wordpress.com&blog=3691474&post=62&subd=penulispemula&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--></p>
<p class="MsoBodyText3" style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:#000000;">“Jangan melihat buku dari ketebalannya agar kita tidak merasa bahwa akitifitas menulis buku merupakan aktifitas yang begitu sulit dan melelahkan karena terbayang harus menulis berpuluh-puluh halaman bahkan sampai beratus-ratus halaman. Tapi, marilah kita lihat bab-bab yang ada dalam buku itu yang hanya berupa tulisan pendek saja”.</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="text-align:center;"><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="text-align:center;"><span style="color:#000000;">***</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:#000000;">Sekarang, coba Anda ambil sebuah buku. Atau begini saja. Coba Anda perhatikan buku yang sedang berada di tangan Anda ini. Bolak-baliklah bagian isinya, perhatikan baik-baik. Apa yang Anda lihat?</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:#000000;">Kalau Anda perhatikan, buku ini sebenarnya hanyalah terdiri dari kumpulan beberapa bab, betul tidak?! Masing-masing bab berisi sebuah tulisan pendek yang panjangnya tidak jauh beda dengan panjang karangan yang saya dan Anda buat sewaktu sekolah dulu. Ya, paling-paling satu atau dua halaman kertas HVS atau folio.<span> </span>Bahkan bisa jadi dahulu Anda menulis lebih panjang dari itu. Seperti saya waktu SMP dulu. Kalau sedang pelajaran mengarang, guru saya waktu itu menyuruh untuk menulis sepanjang-panjangnya. Terutama waktu ujian.Tujuannya apa? Tentu saja agar mendapat nilai yang bagus. </span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:#000000;">Kemudian, saya juga diberi tips lain agar bisa dapat nilai bagus. Katanya, kalau ngarang, paragraf-paragraf awal dan akhir kalau bisa dibagusin. Sebab, katanya lagi, pemeriksa tidak akan mungkin membaca seluruh karangan, dari awal hingga akhir karena karangan siswa yang harus diperiksa jumlahnya puluhan. Paling-paling yang dibaca bagian awal dan akhirnya saja. Kalau bagus, kemungkinan akan mendapat nilai tinggi. </span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:#000000;">Oleh karena itu, waktu mengarang dulu, yang saya seriusin cuma bagian awal dan akhirnya saja. Adapun di bagian tengahnya terkadang saya “ngoceh” ngalor-ngidul. Yang penting saya bisa menulis sepanjang-panjangnya agar mendapat nilai bagus.(Tapi cara seperti ini tidak bisa diterapkan untuk menulis artikel jika tujuannya agar dimuat di media. </span><span style="color:#000000;">Bisa-bisa tulisan kita nanti tidak akan pernah dimuat-muat. Sebab redaktur tentu akan membaca semuanya, dari awal hingga akhir. Kecuali jika kita sendiri yang jadi redakturnya). </span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="color:#000000;">***</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#000000;">Hakikat Sebuah Buku</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText3" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:#000000;">Kembali ke awal pembicaraan. Jadi, sebuah buku (secara umum) pada hakikatnya hanyalah terdiri dari kumpulan tulisan pendek. Sedangkan tulisan pendek itu kalau kita bedah lagi hanyalah kumpulan paragraf atau alinea. Paragraf sendiri, hanyalah terdiri dari kumpulan kalimat. Sedangkan kalimat, hanyalah terdiri dari kumpulan kata. Adapun kata berasal dari gabungan huruf-huruf.</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:#000000;">Jadi, kata Mas Edy Jaqeus, kalau kita bisa merangkai huruf menjadi kata, merangkai kata-kata menjadi kalimat, kemudian membuat kalimat-kalimat tersebut menjadi paragraf, lalu bisa merangkai sebuah paragraf menjadi sebuah tulisan, dan terakhir menulis beberapa artikel atau tulisan pendek, ya jadilah buku itu. Sederhana itulah! Makanya, jangan punya persepsi menulis buku itu sulit. Demikian kata Mas Edy. </span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:#000000;">Saya setuju dengan Mas Edy. Jangan punya persepsi menulis buku itu sulit! Sekali lagi, JANGAN PUNYA PERSEPSI MEMBUAT BUKU ITU SULIT! Sebab, buku hanyalah terdiri dari kumpulan tulisan pendek yang Anda sendiri tentu dengan mudah bisa membuatnya. </span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:#000000;">Maka, jangan melihat buku dari ketebalannya agar kita tidak merasa bahwa akitifitas menulis buku merupakan aktifitas yang begitu sulit dan melelahkan karena terbayang harus menulis berpuluh-puluh halaman bahkan sampai beratus-ratus halaman. Tapi, marilah kita lihat bab-bab yang ada dalam buku itu yang hanya berupa tulisan pendek saja. Kalau cuma segitu, kita pun dengan mudah tentu bisa membuatnya. Betul, tidak?! (Dengan intonasi suara mirip Aa Gym)</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:#000000;">Kalau dalam sehari kita cuma bisa menulis satu-dua paragraf saja, tidak masalah. Tuliskan saja. Lama-kelamaan juga akan meningkat menjadi satu-dua halaman, bahkan sampai berlembar-lembar halaman. Kalau kita disiplin dan kontinu dalam menuliskannya, dalam waktu satu atau dua bulan, kita bisa menelorkan sebuah buku yang berisi kumpulan tulisan yang kita buat (cicil) selama ini. Isinya bisa saja berupa peristiwa<span> </span>yang kita alami sehari-hari yang mengandung hikmah (pelajaran berharga), agar bisa diambil sebagai pelajaran bagi orang lain yang membacanya. Atau kita pernah mendengar sebuah kisah bermanfaat dari orang, atau kita pernah membacanya dari sebuah buku, atau kita menemukan kata-kata mutiara dari buku yang kita baca, bisa saja kita tuliskan dan kumpulkan. Setelah jumlahnya cukup banyak, kita bisa menjadikannya sebagai sebuah buku. Beri saja judul buku kita<span> </span>“HARI-HARIKU” atau “PENGALAMANKU” atau judul apa saja terserah kita. </span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:#000000;">Saya pernah membaca sebuah buku kecil (ukuran saku) yang berjudul “Kiat Meraih Ketenangan Batin”. Buku ini adalah terjemahan dari buku karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, seorang ulama besar dari Saudi Arabia. Judul edisi bahasa Arabnya “Al-Wasa-ilul Mufiidah lil Hayaatis Sa’idah (Artinya: Berbagai Sarana yang Bermanfa’at untuk Meraih Kehidupan Bahagia)”. Ternyata dari 21 kiat yang ada dalam buku itu, beberapa kiat hanya terdiri dari satu paragraf saja. </span><span style="color:#000000;">Misalnya kiat ketujuhbelas dan kesembilan belas. Sebagiannya lagi ada yang terdiri dari dua paragraf. </span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:#000000;">Sebagai bahan inspirasi, berikut ini saya kutipkan untuk Anda.</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="color:#000000;">**********************************</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><strong><span style="color:#000000;">KIAT MERAIH KETENANGAN BATIN</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><strong><span style="color:#000000;">Kiat Ketujuhbelas:</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText3"><strong><span style="color:#000000;">Memikirkan Hal-hal yang Bermanfaat</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText3" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:#000000;">Ketahuilah bahwa hidupmu mengikuti apa yang ada dalam pikiranmu. Jika pikiran-pikiran itu berisikan tentang perkara-perkara yang bermanfaat bagi agama dan duniamu, maka hidupmu adalah kehidupan yang baik dan bahagia. Jika tidak, maka sebaliknya.</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:.25in;text-align:justify;"><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:.25in;text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoBodyText3"><strong><span style="color:#000000;">Kiat Kesembilanbelas:</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText3"><strong><span style="color:#000000;">Menyibukkan Diri dengan Hal yang Bermanfaat</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:.5in;text-align:justify;"><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:#000000;">Jadikanlah hal-hal yang bermanfaat selalu berada di hadapanmu, dan beramallah untuk merealisasikannya. Janganlah engkau berpaling pada perkara-perkara yang membahayakan dan bersenang-senang dengannya, karena hal itu merupakan sebab yang dapat mengantarkan pada duka cita dan kesedihan. Maka minta tolonglah dengan ketenangan dan terpokusnya jiwa dalam melakukan amal-amal yang penting. </span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="color:#000000;">*******************</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="text-align:center;"><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;color:#000000;">(Buku Kiat Meraih Ketenangan Batin. Beberapa kiat dalam buku ini hanya terdiri dari satu paragraf)</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:#000000;">Membaca dua kutipan di atas, bagaimana pendapat Anda? Mudah sekali bukan menulis buku itu? Tinggal tulis beberapa kata hingga menjadi sebuah paragraf dan tulisan pendek, kemudian digabungkan menjadi satu. Maka jadilah sebuah buku. Jadi, menulis buku tidaklah sesulit yang dibayangkan. Menulis buku itu mudah. Yakinlah!</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:#000000;">Saya juga sangat yakin, setiap kita pasti bisa menulis buku. Andrie Wongso saja yang gelarnya SDSTT (Sekolah Dasar Saja Tidak Tamat) bisa menulis buku. Udah gitu <em>bestseller</em> lagi. Apalagi Anda yang barangkali banyak diantara Anda yang bergelar sarjana. “Bohong besar” jika Anda mengaku tidak bisa menulis buku. Kalau memang tidak bisa, lalu skripsi Anda siapa yang nulis? </span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:#000000;">Maka tulislah meskipun cuma satu paragraf! Tapi ingat, tulislah sesuatu yang bermanfaat; untuk Anda dan untuk masyarakat sekitar Anda; untuk dunia Anda dan untuk akhirat Anda. Gimana, siap?!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">(Dikutip dari buku saya yang berjudul ”Penulis Pemula Juga Bisa Nulis Buku”)</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/penulispemula.wordpress.com/62/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/penulispemula.wordpress.com/62/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penulispemula.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penulispemula.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penulispemula.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penulispemula.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penulispemula.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penulispemula.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penulispemula.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penulispemula.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penulispemula.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penulispemula.wordpress.com/62/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penulispemula.wordpress.com&blog=3691474&post=62&subd=penulispemula&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penulispemula.wordpress.com/2008/09/17/membedah-buku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33ca217fb1a3adb928c3df8e2b32fdf9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mujianto2008</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>