Posted by: penulis biasa on: September 10, 2008
Writer’s Block
Saat pena terangkat
aku pun termenung sejenak
mencoba berfikir kuat
kalimat apa yang hendak aku buat
sementara malam kian pekat
suara jangkrik menyayat-nyayat
aku masih saja termenung
kebingungan semakin menggunung
ah…
lagi-lagi writer’s block
selalu saja writer’s block
kenapa ada writer’s block
tapi sudahlah
lebih baik kutinggalkan saja
mungkin sekarang bukan waktunya
untuk bercanda dengan kata-kata
Bogor, 24 Mei 2008
***
Aduh, bingung euy, mau nulis apa nih? Mmm…mau nulis apa ya? Oya, saya mau menulis tentang writer’s block. Lho, memangnya ada apa dengan writer’s block? Nggak tahu tuh, saya juga bingung!
Berkenalan dengan Writer’s Block
Writer’s block (WB) biasa diartikan dengan “kebuntuan penulis”. Kalau seorang penulis sudah terkena writer’s block, biasanya dia cuma bisa duduk bengong sambil memandangi layar monitor tanpa bisa menuliskan sepatah katapun. Bisa jadi ide di kepalanya melimpah ruah. Namun, ide-ide itu begitu sulit untuk ditumpahkan menjadi kata-kata. Seperti saya yang bingung mau memulai dengan apa ketika menulis bab ini. Saya pun terdiam cukup lama sebelum akhirnya menulis kata-kata seperti yang Anda baca pada awal paragraf di atas.
Ada empat indikasi, kata Bambang Trim, mengapa writer’s block terjadi:
1. penulis memiliki perbendaharaan kata yang relatif sedikit sehingga kesulitan mengalirkan kata-kata;
2. referensi menulis sangat kurang sehingga tidak mencukupi kebutuhan untuk megalirnya ide (hal ini sering juga membuat frustasi);
3. ide menulis berkembang terlalu luas sehingga menyasar ke sana ke mari dan akhirnya menjadi bingung;
4. topik tulisan memang tidak dikuasai sepenuhnya oleh penulis.
Mengusir Si WB
Ketika saya merasa berat dalam mengawali sebuah tulisan, baik tulisan yang belum jadi, tulisan setengah jadi, ataupun tulisan hampir jadi, biasanya saya akan melakukan dua hal berikut:
1. Tuliskan saja!
Saya paksa diri saya untuk terus menulis. Menuliskan apa saja. Pokoknya pena harus terus bergerak, tidak boleh diam. Saya ayunkan terus pena, meskipun yang saya tulis kadang tidak nyambung dengan topik yang akan/sedang ditulis. Tapi tidak mengapa. Hal ini cuma sebagai pancingan. Lama kelamaan, ide yang ada di kepala akan bisa tersalurkan. Dan tiba-tiba…BYUURRR! Ide-ide itupun mengalir dengan sangat derasnya.
Dalam proses menuliskan, saya biasanya menggunakan teknik menulis “gaya bebas” atau istilah kerennya free writing. Pokoknya yang penting saya tuliskan saja apa adanya. Tidak peduli apakah hasil tulisan itu jelek atau tidak, yang penting terus menulis. Saya pun tidak mempedulikan bahasa yang saya gunakan. Mau pakai bahasa gaul kek, mau pakai bahasa daerah kek, mau pakai bahasa isyarat kek, saya tidak peduli (eh, ngomong-ngomong, emangnya bisa nulis pake bahasa isyarat ?!). Yang penting saya harus terus menulis. Tata bahasa pun tidak terlalu saya perhatikan. Yang penting, sekali lagi, saya harus menuliskan. Saya tidak boleh diam. Dan hasilnya…Jangan ditanya deh: Ancuuur!!!
Memang, setelah tulisan selesai, terlihat ancur-ancuran. Tapi tidak masalah. Nanti bisa diperbaiki. Misalnya dengan membuang yang tidak perlu, membaguskan bahasanya, memperbaiki letak titik komanya, dst. Hingga akhirnya jadi sebuah tulisan yang saya inginkan.
Sebagi contoh, ketika hendak membuat sebuah artikel serius, saya pernah memulainya dengan menulis seperti ini:
Aduh bingung nih. Mau nulis apa ya. Pusing euy. Nulis apaan ya. Oke..oke..Tenang..tenang..Konsentrasi. Oya, saya tadi mau nulis tentang ……….. Sebab…….
(Hingga akhirnya jadilah sebuah tulisan)
2. Tinggalkan saja!
Jika kata-kata begitu berat untuk dialirkan, seberat anak kecil memikul sekarung beras, ya sudah. Saya tinggalkan saja. Pena saya letakkan, dan saya pun mencari aktivitas lain untuk menyegarkan otak. Misalnya dengan ngobrol bersama kawan-kawan, atau saya baca buku, baik yang berkaitan dengan topik yang sedang saya tulis maupun yang tidak. Kemudian, ketika ide itu muncul, saya pun langsung mengambil pena dan menuliskannya.
Dua hal ini pernah saya lakukan ketika sedang menulis bab ini. Seperti yang sudah saya katakan di atas, awalnya saya sempat bingung mau memulai dengan apa. Saya pun terdiam cukup lama sebelum akhirnya menulis kata-kata seperti yang bisa Anda baca pada awal paragraf di atas. Atau seperti yang saya tulis di paragraf awal bab sebelum ini.
Kemudian, ketika keran kata-kata memang begitu sulit dibuka, saya coba baca-baca lagi artikel yang terkait dengan tema ini yang saya dapat dari internet. Saya juga baca-baca buku yang ada pembahasan tentang writer’s block di dalamnya. Ketika ide muncul, langsung saja saya tumpahkan ke atas kertas. Hingga akhirnya bab ini berhasil saya rampungkan.
Inilah sedikit pembahasan tentang writer’s block. Semoga bermanfaat, walaupun mungkin belum begitu memuaskan bagi Anda. Kemudian, mmm…apa ya….mm….Waduh, kayaknya saya kedatangan si WB nih. Kalau begitu, langsung saja deh baca bab selanjutnya, daripada kelamaan nungguin saya menemukan kata-kata yang enak untuk mengakhiri bab ini. Oke?! Tariiiik…
Komentar Terakhir