NYANYIAN PENA

Berbeda Tapi Tetap Satu

Posted by: penulis biasa on: April 9, 2009

Kawan…

Kita emang nggak menutup mata kalo dalam masalah shalat ini banyak sekali kita temukan perbedaan. Coba aja kita perhatiin orang-orang yang shalat di masjid. Niscaya akan kita dapati mereka berbeda dalam banyak hal. Misalnya ada yang kalo sujud tangan duluan, ada yang lutut duluan. Trus ada juga yang kalo duduk tasyahhud jarinya digerak-gerakkan, dan ada juga yang nggak. Dan masih banyak lagi perbedaan yang lainnya.

Namun hal ini wajar. Sebab, Baca entri selengkapnya »

Wanita & Shalat Berjama’ah

Posted by: penulis biasa on: Maret 1, 2009

Kawan…

Mungkin ada di antara kalian yang bertanya-tanya. Bagaimana dengan wanita? Apakah kaum wanita diperintahkan juga untuk shalat berjama’ah di masjid kayak laki-laki?

Mmm…setau saya sih, berdasarkan kesepakatan para ulama, kaum wanita nggak diperintahkan untuk shalat berjama’ah di masjid. Jadi, boleh-boleh aja bagi mereka untuk nggak dateng ke masjid. Dateng boleh, nggak dateng juga boleh. Namun, yang lebih utama bagi mereka melakukan shalatnya di rumah, bukan di masjid.

Dari Ummu Humaid As-Sa’idiyyah radhiyallahu ‘anha, dia mendatangi Rasulullah Shallallâhu ’alayhi wa sallam dan berkata,”Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya senang shalat bersamamu.” Beliau Shallallâhu ’alayhi wa sallam berkata,”Sesungguhnya saya mengetahui bahwa engkau senang shalat bersamaku. Namun, shalatmu di rumahmu lebih baik daripada shalatmu di kamarmu. Shalatmu di kamarmu lebih baik daripada shalatmu di tempat tinggalmu. Shalatmu di tempat tinggalmu lebih baik daripada shalatmu di masjid kaummu. Dan shalatmu di masjid kaummu lebih baik daripada shalatmu di masjidku.” (HR. Ahmad dan Ibnu Khuzaimah)

Namun, kalo mereka tetep pingin ikutan shalat berjama’ah di masjid, nggak boleh ada orang yang ngelarang. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallâhu ’alayhi wa sallam,”Jangan kamu melarang istri-istrimu (shalat) di masjid, namun rumah mereka sebenarnya lebih baik untuk mereka.”(H.r. Ahmad, Abu Dawud, dan Al-Hakim)

Hanya saja, bagi wanita yang pingin ikutan shalat berjama’ah di masjid, hendaknya mereka nggak memakai wangi-wangian.

Lho, emangnya kenapa nggak boleh?!

Sebab, Rasulullah ngelarang hal itu. Beliau bersabda begini:

“Janganlah kalian melarang para wanita (pergi) ke masjid dan hendaklah mereka keluar dengan tidak memakai wangi-wangian.”(H.r. Ahmad dan Abu Dawud)

Dan beliau Shallallâhu ’alayhi wa sallam juga bersabda:

“Perempuan yang mana saja yang memakai wangi-wangian, maka janganlah dia ikut shalat Isya’ berjama’ah bersama kami.”(H.r. Muslim)

Pada kesempatan lain, beliau Shallallâhu ’alayhi wa sallam juga bersabda,”Perempuan yang mana saja yang memakai wangi-wangian, kemudian dia pergi ke masjid, maka shalatnya tidak diterima sehingga dia mandi.”(H.r. Ibnu Majah)

Nah, jadi Rasulullah ngelarang kaum wanita memakai wewangian kalo pingin ke masjid. Dan kewajiban kita sebagai sesorang Muslim, harus “sami’na wa atho’na”. Kita nggak boleh ngebantah.

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,”Seungguhnya jawaban orang-orang mukmin bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan,”Kami mendengar, dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Q.s. an-Nur: 51)

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ juga berfirman,’Semua yang diberikan Rasul, ambillah! Dan semua yang dia larang, tinggalkanlah! Takutlah kalian kepada Allah. Sungguh, Allah sangat keras hukuman-Nya.’(Q.s. al-Hasyr: 7).

Dan kita harus yakin, bahwa setiap yang dilarang Rasulullah Shallallâhu ’alayhi wa sallam pasti mengandung bahaya, walaupun terkadang kita belom mengetahui bahayanya, dan kita ngerasa (berdasarkan pengetahuan kita yang serba sedikit) kalo hal itu nggak berbahaya. Sebab, Rasulullah adalah orang yang paling tau tentang apa saja yang bisa membahayakan ummatnya. Dan Rasulullah, sebagaimana udah saya sebutin di awal, adalah orang yang paling sayang kepada ummatnya. Beliau sangat menginginkan kebaikan bagi ummatnya.

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,”Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan kebaikan bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (Q.s. at-Taubah: 128)

***

Kemudian, bagi wanita yang pingin ke masjid, hendaknya mengenakan busana yang sesuai aturan syari’at. Yaitu busana yang menutup aurat, longgar sehingga tidak membentuk lekuk-lekuk tubuh, tebal (tidak tipis), dan tidak menarik perhatian kaum laki-laki. Merekapun nggak boleh bertabarruj.

Wah, apaan tuh tabarruj?

Tabarruj itu artinya perbuatan wanita menampakkan perhiasan dan kecantikannya, serta segala sesuatu yang seharusnya ditutup dan disembunyikan karena bisa membangkitkan syahwat laki-laki. Dan ini nggak boleh dilakukan. Sebagaimana Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,”Janganlah kamu bertabarruj seperti orang-orang jahiliyah dahulu.”(Q.s. al-Ahzab [33]: 33)

Kamu tau nggak, kenapa tabarruj dilarang? Sebab nih, tabarruj-nya seorang wanita bisa menimbulkan kerusakan yang besar di masyarakat, khususnya bagi laki-laki. Sebab sudah menjadi tabiat (fitrah) laki-laki memiliki ketertarikan kepada wanita. Dan tabarruj-nya seorang wanita sangat potensial mendorong terjadinya perbuatan zina. Minimal yang terjadi adalah zina mata. Oleh karena itu Islam sangat keras melarang tabarruj. Sampai-sampai perbuatan tabarruj ini disejajarkan dengan perbuatan syirik, zina, mencuri, dan perbuatan haram lainnya.

Abdullah bin Amr pernah mengisahkan. Umaimah bintu Ruqaiqah pernah datang berbai’at kepada Nabi untuk masuk Islam. Nabi berkata,”Aku bai’at kamu untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anakmu, tidak membuat-buat kedustaan yang dibuat dengan kedua tangan dan kakimu, tidak meratap, dan tidak ber–tabarruj seperti yang dilakukan wanita jahiliyah dulu.” (H.r. Ahmad)

Kok, kayaknya Islam terlalu banyak aturan deh! Nggak boleh begini lah, nggak boleh begitu lah!

Eeh, jangan salah, Fren! Justru itu bukti keindahan Islam dan kasih sayang Islam kepada ummatnya. Emang harus diakui kalo agama Islam memberi banyak aturan kepada ummatnya. Tapi kamu harus ingat nih…

1. Aturan Islam berasal dari Allah Subhânahu wa Ta’âlâ, Pencipta manusia, yang paling tahu segala sesuatu yang bermanfaat untuk manusia. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,” Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Q.s. al-Anfaal [8]: 73). Allah Subhânahu wa Ta’âlâ juga berfirman,”Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Q.s. Al-Baqarah : 232)

Namun sayang, sekarang ini, banyak kita liat manusia yang merasa lebih pintar dari Allah Subhânahu wa Ta’âlâ. Sehingga mereka lebih senang dan bangga mengikuti aturan yang mereka buat sendiri daripada harus mengikuti aturan Allah Subhânahu wa Ta’âlâ. Akibatnya, timbullah kerusakan di mana-mana.

Telah nampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan oleh tangan-tangan (ulah) manusia sendiri...”. (Q.s. ar-Ruum: 41)

2. Aturan dalam Islam semuanya mudah untuk dilaksanakan. Tiada yang sulit dalam menjalankannya.

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,”…Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu….”(Q.s. al-Baqarah [2]:185)

”…Allah tidak ingin menyulitkanmu…”(Q.s. al-Maa-idah:6)

”…Dan Dia (Allah) tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama…”(Q.s. al-Hajj:78)

Rasulullah Shallallâhu ’alayhi wa sallam bersabda,”Sesungguhnya agama (Islam) itu mudah”. (H.r. al-Bukhari [39])

Seandainya kita merasa sulit dan berat dalam melaksanakan sebagian aturan Islam, jangan salahkan aturannya. Hendaknya kita periksa diri kita. Jangan-jangan dalam hati kita ada penyakit. Sebab, bagi orang yang sedang sakit, makanan manis pun akan terasa pahit olehnya. Dan, aktivitas yang paling ringan sekalipun akan terasa berat dikerjakannya.

3. Aturan Islam manfaatnya akan kembali kepada manusia itu sendiri. Sayangnya, banyak manusia yang nggak sadar akan hal ini.

Saya akan berikan sebuah contoh supaya kamu makin jelas. Islam memerintahkan wanita muslimah mengenakan jilbab. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,”Hai Nabi, katakanlah pada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin:”Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuhnya. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang.”(Q.s. Al-Ahzab:59)

Nah, perintah jilbab ini datangnya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang tentunya paling mengetahui terhadap segala sesuatu yang baik untuk para wanita. Kemudian, pelaksanaannya pun mudah. Setiap wanita pasti mampu melakukannya. Dan, manfaat jilbab ini akan berpulang kepada wanita itu sendiri.

Jilbab berfungsi untuk melindungi kehormatan wanita. Tanpa jilbab, wanita layaknya bunga di tepi jalan. Tak ada yang melindungi. Setiap saat mata-mata nakal bebas memandangnya dengan buas, dan begitu mudahnya dipetik oleh tangan-tangan jahil manusia berhati srigala. Setelah puas, bunga pun bisa dengan mudahnya dicampakkan di jalanan. Jadi, jilbab adalah benteng bagi wanita agar kesuciannya tetap terlindungi dan terpelihara.

Jadi demikianlah, kawan. Jika kita mau ngeliat semua aturan Islam dengan kaca mata keadilan, niscaya kita akan dapati bahwa aturan Islam adalah aturan yang Indah. Sebab, aturan Islam berasal dari Allah Subhânahu wa Ta’âlâ Yang Mahaindah dan mencintai keindahan. Rasulullah Shallallâhu ’alayhi wa sallam bersabda, ”Sesungguhnya Allah itu Maha Indah, dan mencintai keindahan..”. (H.r. Muslim)

Jika kita merasa bahwa Islam terlalu banyak aturan, dan sebagian aturannya ada yang “seolah” mengekang, memaksa, dll, maka ketahuilah bahwa justru itu merupakan wujud kasih sayang Islam. Ingatlah bahwa Allah Subhânahu wa Ta’âlâ sangat sayang kepada hamba-Nya, demikian pula dengan Rasulullah Shallallâhu ’alayhi wa sallam. Jadi, mustahil jika Allah Subhânahu wa Ta’âlâ dan Rasul-Nya Shallallâhu ’alayhi wa sallam membuat peraturan yang akan menyengsarakan ummatnya.

Saya akan berikan sebuah permisalan. Permisalan ini sebenarnya mirip-mirip dengan yang udah saya sampein di awal-awal bab. Tapi nggak apa-apa saya ulang lagi, biar kamu semua tambah ngerti bin paham.

Misalnya begini. Ada dua orang ibu, masing-masing mempunyai seorang anak kecil. Ibu yang pertama selalu mengingatkan anaknya,” Nak, jangan main api, jangan main pisau, jangan hujan-hujanan, jangan bermain di jalan raya, pagi-pagi jangan jajan es, … Kalau sampai Ibu tau, nanti Ibu jewer!”. Sedangkan ibu yang kedua berkata kepada anaknya,”Terserah kamu mau ngapain, Ibu nggak bakalan ngelarang. Mau main api kek, hujan-hujanan kek, main pisau kek, terserah. Ibu nggak akan marah. Kamu bebas berekspresi”. Dari kedua ibu ini, siapakah yang pantas dikatakan sebagai orang tua yang sayang kepada anaknya? Tentu ibu yang pertama, bukan?!

Oo..jadi begitu, toh! Saya baru tau kalo ternyata Islam itu emang agama yang indah. Saya jadi semakin cinta sama Islam nih..he..he…uhuk..uhuk..

Emang udah seharusnya begitu. Sebagai orang Islam, emang udah sewajarnya bagi kita untuk mencintai Islam. Kalo bukan kita, siapa lagi yang bakal mencintai Islam.

Trus juga, kita emang harus banyak belajar tentang Islam. Agar jangan sampe kita salah paham terhadap Islam disebabkan ketidaktauan kita. Sebab, sekarang ini, banyak lho orang yang salah paham tentang Islam. Ada yang bilang Islam itu ekstrim, sadis, brutal, nggak adil, memasung kebebasan berekspresi, menzalimi wanita, dll. Kenapa mereka bisa bilang seperti itu? Ya, karena mereka nggak ngerti terhadap aturan-aturan dalam Islam. Seandainya mereka paham bin ngerti, niscaya mereka akan berteriak histeris,”Wow…! Islam indah bangeet…!” Kayak kamu itu, lho. Setelah saya jelasin, kamu baru sadar kan kalo ternyata Islam itu agama yang indah? Padahal sebelumnya kamu bilang kalo Islam itu terlalu banyak aturan dan sering ngelarang-larang.

***

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

(Q.s. al-Baqarah [2]:216)

***

Nah, kawan…

Demikianlah pembahasan tentang hukum shalat berjama’ah di masjid bagi wanita. Jadi, berdasarkan hadits Rasulullah Shallallâhu ’alayhi wa sallam, kaum wanita lebih utama shalat di rumahnya. Dan ini lagi-lagi menunjukkan bentuk kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi kaum wanita sekaligus bagi masyarakat. Sebab, dengan wanita shalat di rumah, tentu saja hal ini akan lebih menjaga wanita dan lebih melindunginya. Selain itu, juga untuk menjaga anak-anak di rumah, para lanjut usia, serta manfaat lainnya. Maha Suci Allah yang telah menurunkan syari’at yang penuh hikmah ini!

***

Tadi kan dibilang kalo wanita itu lebih utama shalatnya di rumah..

Betul! Trus, kenapa?

Boleh nggak mereka mengerjakannya secara berjama’ah antara sesama wanita?

Yup! Pertanyaan yang bagus! Untuk ngejawabnya, saya akan bawakan perkataan dari Dr. Shalih bin Ghanim berikut ini. Dia berkata bahwa jama’ahnya kaum wanita di rumah lebih utama dari pada kehadiran mereka di masjid bersama kaum lelaki, karena shalat mereka di rumah sendirian lebih utama ketimbang dilakukan di masjid. Maka, jika dikerjakan dengan berjama’ah (di rumah) akan lebih utama.

Karena inilah, lanjut Dr. Shalih, jika ada sekelompok wanita yang tinggal di rumah, sekolah, universitas, atau rumah-rumah kontrakan, disunnahkan bagi mereka mengadakan jama’ah shalat. Adapun imamnya boleh berdiri di depan atau di tengah shaf yang pertama, boleh juga mengeraskan suara dalam shalat jahriyah, namun tetap menjaga dan memperhatikan kerendahannya, jika dimungkinkan ada laki-laki non mahram yang mendengarnya.

Banyak riwayat yang menerangkan pensyari’atannya, diantaranya ialah yang diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau pernah mengimami para wanita dalam shalat fardhu, tepatnya shalat Maghrib. Beliau berdiri di tengah shaf dan mengeraskan bacaannya. (Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla (3/171))

Dari Hujairah binti Husain, dia berkata,”Ibunda Ummu Salamah mengimami kami dalam shalat Ashar, dan beliau berdiri di antara kami.” (Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla (3/171-172))

Nah, inilah beberapa dalil tentang bolehnya wanita mengerjakan shalat berjama’ah antar sesama mereka selain di masjid. Trus, ada ilmu baru juga nih yang mungkin ada diantara kamu yang baru tau sekarang. Jadi, kalo imam wanita, yang disunnahkan ialah poisinya di tengah-tengan shaf pertama, sejajar dengan barisan. Nah, baru tau kan?!

Oke deh… Kayaknya cukup sampe di sini aja pembahasan tentang hukum shalat berjama’ah di masjid bagi wanita. Sekarang kita berlanjut ke pembahasan selanjutnya yaitu tentang udzur shalat berjama’ah. Tapi sebelumnya, kita ikuti dulu pesan-pesan berikut ini…

Dokutip dari buku saya yang berjudul “Shalat Berjama’ah Emang Duahsyaat!”, yang sedang dalam proses penawaran ke penerbit. Doain ya supaya lolos…

Maaf, Non-Aktifkan Sejenak HP Anda

Posted by: penulis biasa on: Desember 10, 2008

Nah, ini dia nih! Ada juga nih yang kudu kamu perhatiin. Ada saat-saat tertentu di mana sudah seharusnya bagi kamu-kamu yang sering bawa HP ke mana-mana untuk me-non-aktifkan sejenak HP-mu. Di antaranya adalah saat kamu sedang melakukan ibadah shalat, baik shalat wajib maupun shalat sunnah. Hal ini dilakukan sebagai langkah antisipasi jika ada yang menghubungimu di tengah shalat. Sebab, suara dering HP bisa mengganggu kekhusyu’an shalat. Terutama ketika shalat berjama’ah di masjid. Di samping mengganggu kekhusyu’an sholatmu, juga ganggu orang yang berada di sekitarmu, lebih-lebih bagi imam shalat.

Sayangnya, seringkali justru kita dapati sebagian orang yang membiarkan HP-nya dalam keadaan aktif ketika sedang shalat berjama’ah. Bahkan tak jarang suara dering HP-nya terdengar sangat keras. Di tambah lagi nada dering yang dipakai biasanya berupa musik atau suara yang aneh-aneh, seperti suara hewan, bayi menangis, kuntil anak (hi..hi..hi..hi…) dll. Tentu saja hal ini sangat mengganggu orang lain yang ada di sekitarnya yang sedang shalat.

Ada cerita begini. Di sebuah masjid yang terletak di daerah perkampungan, Baca entri selengkapnya »

NGAPAIN SIH NULIS BUKU ?

Posted by: penulis biasa on: Desember 2, 2008

Coba kamu bayangin seandainya buku karyamu ditaro di perpustakaan umum sekolah atau kampus yang ada di setiap kota dan daerah. Kemudian setiap hari dibaca dan dimanfaatkan oleh banyak orang. Maka, betapa besar pahala yang bakalan kamu dapat.

***

Sobat…

Barangkali kamu semua bertanya-tanya. Ngapain sih nulis buku? Nulis buku kan susah. Harus baca banyak literatur. Belum nyusun kata-kata yang bagus dan sesuai kaidah EYD (Ejaan Yang Disempurnakan). Nilai Bahasa Indonesia saya aja cuma dapet 5,5. Itupun hasil nyontek. Jadi, bagaimana mungkin bisa nulis buku! Pokoknya susah deh! Susah…Susah…Susaaaaaah…!!!

Eeh, sabar dulu Sobat! Jangan teriak-teriak gitu. Belum nyoba kok udah bilang susah. Coba dulu atuh. Baru kemudian bisa bilang susah. Kalau belum dicoba, darimana kita tahu kalo nulis buku itu susah. Ya, nggak?!

Lagian, nulis buku itu nggak susah kok. Serius, saya nggak bo’ong. Buktinya, ada orang yang sekolah SD aja nggak tamat tapi bisa nulis buku. Udah gitu bukunya best seller lagi. Trus, ada juga lho pembantu rumah tangga yang bisa nulis buku. Anak-anak kecil sekarang (yang masih SD) banyak juga kok yang bisa nulis buku. Pokoknya menulis buku itu nggak susah kok. Menulis buku itu guampang. Kalo nggak percaya, coba deh kamu baca buku ini sampai selesai. Nanti kamu bakalan tau sendiri kalo menulis buku itu memang gampang pang…pang…paaaang….

Trus, kenapa sih kok harus nulis buku, kenapa nggak nulis tembok rumah tetangga aja?

Yee…itu mah vandalisme namanya. Nggak boleh kita nulis-nulis tembok rumah tetangga. Ntar kalo dimarahin sama yang punya rumah baru tahu rasa lho! Daripada nulis-nulis tembok tetangga, mendingan nulis-nulis tembok sekolah (Lho, kok!) Eh, nggak…nggak….becanda. Mendingan kamu nulis buku aja. Dijamin banyak manfaatnya deh. Pingin tahu apa aja manfaatnya? Baca entri selengkapnya »

Royalti itu 10 % atau ….

Posted by: penulis biasa on: Oktober 9, 2008

Sebenarnya, royalti menulis buku biasanya itu 10 % atau 5 % sih? Bisakah Anda menjelaskannya kepada saya. Sebab, saya sering baca di buku-buku kiat menulis, yang selalu dijadikan contoh untuk jumlah royalti yang diberikan penerbit kepada penulis buku sebesar 10 %. Tapi kenyataannya, selama ini saya selalu mendapati penerbit yang memberikan royalti cuma 5 % dari harga buku di pasaran. Memang sih ada juga yang memberi 10 %, tapi dari harga netto (harga buku setelah dipotong 50%). Berarti sama aja bo’ong.

Untuk buku pertama saya, Baca entri selengkapnya »

Royalti atau Beli Putus ?

Posted by: penulis biasa on: Oktober 9, 2008

Yang saya tahu, bentuk kerjasama antara penulis buku dengan penerbit secara umum ada dua. Pertama, royalti; sedangkan yang kedua, beli putus. Kalau royalti, penulis akan terus mendapatkan penghasilan selama bukunya masih terus dicetak. Sedangkan beli putus, penulis hanya mendapatkan penghasilan sekali saja, yaitu uang pembayaran naskah yang dibeli oleh penerbit. Setelah itu, penulis tidak akan mendapatkan apa-apa lagi, walaupun bukunya dicetak berulang kali. Demikian kira-kira yang saya pahami tentang sistem kerja sama bentuk ”royalti” dan ”beli putus”. Baca entri selengkapnya »

PROSES KELAHIRAN BUKU ” NGEROKOK BIKIN KAMU “KAYA””

Posted by: penulis biasa on: September 22, 2008

PROSES KELAHIRAN BUKU ” NGEROKOK BIKIN KAMU “KAYA””

BERAWAL DARI CORET-CORETAN BIASA

KEMUDIAN DITULIS SELAMA 2 MINGGUAN

LALU JADI BUKU YANG SIAP KIRIM KE PENERBIT

SETELAH ITU DITERBITKAN

SETELAH ITU DIJUAL DEH…

AYO SIAPA YANG BELUM BELI ? NTAR KEABISAN LHO!

PASPOR KEMATIAN: JALAN MENUJU SURGA-MU

Posted by: penulis biasa on: September 17, 2008

CATATAN PEMBUKA

*********************

“Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagiNya;

dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan (diri kepada Allah)”.

(QS. Al-An’am:162-163)

OOOOOOOOOOO

الحمد لله و الصلاة و السلام على رسول الله صلى الله عليه و سلم

أما بعد:

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda:

“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu dengan keduanya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.”(HR. Al-Bukhari, At-Tirmidzi, dll)

Shodaqo Rasulullah! Sungguh benarlah kata-kata yang keluar dari lisan beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Realita di sekitar kita menjadi buktinya. Betapa banyak manusia yang enggan mempergunakan kesehatan dan waktu luang yang mereka miliki untuk mempersiapkan bekal menuju akhirat. Kebanyakan mereka justru mengisinya dengan melakukan aktivitas yang tidak bermanfaat, baik untuk dunia maupun akhirat mereka.

Para pemuda menghabiskan malam sambil genjrang-genjreng tidak karuan, para pemilik warung rokok menunggu pembeli sambil bermain catur, para tukang ojek menunggu sewa sambil bermain judi, supir angkot menunggu giliran berangkat sambil main domino, tukang becak menunggu penumpang sambil meringkuk di dalam becaknya, para pedagang sembako di kampung-kampung menunggu pembeli sambil ngelamun, para pengangguran tidur-tiduran saja seharian sambil menunggu kerjaan datang, para sarjana muda bermalas-malasan di depan televisi sambil menunggu panggilan kerja, anak-anak SMP duduk bersila berjam-jam di rental PS sepulang sekolah, para mahasiswa selonjoran seharian di teras kos sambil membaca novel picisan karena tidak ada tugas kuliah, para pegawai kantor ngerumpi dengan sesama mereka karena bos mereka sedang tidak berada di tempat, para pegawai pemerintahan asyik merokok di ruang kerjanya karena sedang tidak ada kerjaan, anak-anak sekolah ribut ngobrol pada jam pelajaran karena guru yang mengajar berhalangan hadir, ibu-ibu rumah tangga ngerumpi ngalor-ngidul dengan tetangganya sambil menunggu suaminya pulang kerja, penjaga rental komputer khusyuk bermain game sambil menunggu kedatangan penyewa, tukang jahit duduk bengong sambil menghisap rokok menunggu kedatangan orang yang ingin menjahitkan baju, satpam masjid duduk santai setengah harian di pos jaga sambil bergurau dengan tukang sapu, tukang buah di pingir jalan duduk diam berjam-jam di depan kios buahnya sambil memperhatikan lalu-lalang orang yang lewat, para remaja tanggung nongkrong-nongkrong di halte sambil cuci mata, penumpang bis antar kota diam membisu memandang rumah-rumah di pinggir jalan melalui kaca jendela, ……………………..

Pemandangan di atas merupakan suatu hal yang begitu akrab dengan kita. Saking akrabnya sehingga kita menganggapnya sebagai suatu hal yang lumrah. Padahal, kalau dilihat dari kaca mata agama, hal ini adalah sebuah musibah besar! Mengapa?

Bukankah setiap manusia kelak akan dimintai pertanggungjawaban tentang umur yang dia hidup di dalamnya? Apakah umurnya itu digunakan untuk melakukan kemanfaatan ataukah untuk kesia-siaan? Apakah umurnya itu dihabiskan untuk kebaikan dan ketaatan kepada Allah ataukah untuk keburukan dan ketaatan kepada setan? Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:”Tidak akan bergeser kedua telapak kaki anak Adam dari sisi Robnya pada hari kiamat, hingga dia ditanya tentang lima hal: (1) Tentang umurnya untuk apa dia habiskan, (2) tentang masa mudanya untuk apa dia pergunakan, (3) tentang hartanya, darimana dia dapat dan (4) ke mana dia infaqkan, dan (5) amalan apa yang telah diperbuat dari ilmu yang dia miliki.”(HR. At- Tirmidzi)

Kalau sudah tahu begini, tentu merupakan sebuah musibah jika seseorang semasa hidupnya tidak pernah mempersiapkan bekal untuk akhiratnya. Padahal dia telah diberikan kesempatan dan kemampuan untuk itu. Sayangnya, sedikit sekali manusia yang bisa memanfaatkannya dengan baik.

Sekarang, kalau setiap orang ditanya: Siapkah Anda jika esok hari nyawa Anda dicabut? Siapkah Anda ketika membuka mata setelah semalaman tidur ternyata Anda telah berada di liang lahat?

Saya yakin, hampir semua orang jawabannya sama:”Aduh saya belum siap! Aduh saya masih banyak dosa! Aduh saya belum mempersiapkan bekal! Aduh saya belum…………! Aduh saya masih……….!

Jika memang demikian keadaannya, kenapa tidak dari sekarang kita mempersiapkan diri? Kenapa kita tidak segera berbekal untuk kehidupan setelah mati? Kenapa kita masih bersantai-santai? Bagaimana nanti kita menjawab pertanyaan – pertanyaan Allah ?

***

Kita semua tentu ingin masuk surga. Namun, apa yang sudah kita persiapkan untuk bisa masuk surga? Amal shalih apa saja yang telah kita kerjakan untuk ditukar dengan Surga?

YA, inilah motivasi terbesar dari ditulisnya buku ini. Saya mengajak diri saya pribadi dan juga kepada mereka-mereka yang ingin masuk Surga untuk segera mempersiapkan diri dengan cara beramal shalih sebanyak-banyaknya agar bisa masuk surga dengan selamat. Tidak pake acara mampir dulu di Neraka.

Akhir kata, semoga kita semua menjadi golongan orang-orang yang dipangil oleh Allah dalam firman-nya…

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku”. (QS. Al-Fajr [89]:30)

Dan, semoga kita semua bukan termasuk mereka yang berkata dengan penuh penyesalan di akhirat nanti:

“Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini”. (QS. Al-Fajr [89]:24)

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, Sahabatnya, dan ummatnya semua yang senantiasa melakukan amal shalih dan berkata,” Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan (diri kepada Allah)”. (QS. Al-An’am:162-163)

Jakarta, Ahad 13 Januari 2008

Abdul Jabbar

(Penulis dan Pendamba Surga)

MOHON DOANYA YA…

Posted by: penulis biasa on: September 17, 2008

Kawan-kawan,

Saat ini saya sedang mengajukan naskah buku ke-8 saya yang saya beri judul ”PENULIS PEMULA JUGA BISA NULIS BUKU”. Buku ini saya tulis dengan tujuan untuk ngomporin orang -siapapun dia, apapun gelar dan profesinya- agar mau berbagi ilmu yang mereka miliki lewat perantaraan buku. Mohon doanya ya biar bisa cepet diterima penerbit, cepet diterbitkan, dan cepet laku (best seller).

Daftar isi bukunya kayak gini nih…

”PENULIS PEMULA JUGA BISA NULIS BUKU”

DAFTAR ISI

PENGANTAR PENULIS

BAB I: MENGAPA SAYA MENULIS BUKU ?

BAB II: MENULIS BUKU ITU GAMPANG

BAB III: BAGAIMANA SAYA MENULIS BUKU ?

BAB IV: MENGIRIM NASKAH

BAB V: BILA NASKAH KITA DITOLAK

BAB VI: MEMBEDAH BUKU

BAB VII: AYO, MENULIS !

BAB VIII: IDE MENULIS

BAB IX: AGAR MENULIS MENJADI MUDAH

BAB X: WRITER’S BLOCK

BAB XI: MENULIS DENGAN CINTA

BAB XII: SELAMAT MENULIS BUKU !

PENUTUP

DAFTAR PUSTAKA

TENTANG PENULIS

Harapan saya sih buku ini bisa best seller hingga terjual jutaan eksemplar dan diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa di dunia. Semoga ini bukan sekedar harapan… Amien ya Alloh…

MEMBEDAH BUKU

Posted by: penulis biasa on: September 17, 2008

“Jangan melihat buku dari ketebalannya agar kita tidak merasa bahwa akitifitas menulis buku merupakan aktifitas yang begitu sulit dan melelahkan karena terbayang harus menulis berpuluh-puluh halaman bahkan sampai beratus-ratus halaman. Tapi, marilah kita lihat bab-bab yang ada dalam buku itu yang hanya berupa tulisan pendek saja”.

***

Sekarang, coba Anda ambil sebuah buku. Atau begini saja. Coba Anda perhatikan buku yang sedang berada di tangan Anda ini. Bolak-baliklah bagian isinya, perhatikan baik-baik. Apa yang Anda lihat?

Kalau Anda perhatikan, buku ini sebenarnya hanyalah terdiri dari kumpulan beberapa bab, betul tidak?! Masing-masing bab berisi sebuah tulisan pendek yang panjangnya tidak jauh beda dengan panjang karangan yang saya dan Anda buat sewaktu sekolah dulu. Ya, paling-paling satu atau dua halaman kertas HVS atau folio. Bahkan bisa jadi dahulu Anda menulis lebih panjang dari itu. Seperti saya waktu SMP dulu. Kalau sedang pelajaran mengarang, guru saya waktu itu menyuruh untuk menulis sepanjang-panjangnya. Terutama waktu ujian.Tujuannya apa? Tentu saja agar mendapat nilai yang bagus.

Kemudian, saya juga diberi tips lain agar bisa dapat nilai bagus. Katanya, kalau ngarang, paragraf-paragraf awal dan akhir kalau bisa dibagusin. Sebab, katanya lagi, pemeriksa tidak akan mungkin membaca seluruh karangan, dari awal hingga akhir karena karangan siswa yang harus diperiksa jumlahnya puluhan. Paling-paling yang dibaca bagian awal dan akhirnya saja. Kalau bagus, kemungkinan akan mendapat nilai tinggi.

Oleh karena itu, waktu mengarang dulu, yang saya seriusin cuma bagian awal dan akhirnya saja. Adapun di bagian tengahnya terkadang saya “ngoceh” ngalor-ngidul. Yang penting saya bisa menulis sepanjang-panjangnya agar mendapat nilai bagus.(Tapi cara seperti ini tidak bisa diterapkan untuk menulis artikel jika tujuannya agar dimuat di media. Bisa-bisa tulisan kita nanti tidak akan pernah dimuat-muat. Sebab redaktur tentu akan membaca semuanya, dari awal hingga akhir. Kecuali jika kita sendiri yang jadi redakturnya).

***

Hakikat Sebuah Buku

Kembali ke awal pembicaraan. Jadi, sebuah buku (secara umum) pada hakikatnya hanyalah terdiri dari kumpulan tulisan pendek. Sedangkan tulisan pendek itu kalau kita bedah lagi hanyalah kumpulan paragraf atau alinea. Paragraf sendiri, hanyalah terdiri dari kumpulan kalimat. Sedangkan kalimat, hanyalah terdiri dari kumpulan kata. Adapun kata berasal dari gabungan huruf-huruf.

Jadi, kata Mas Edy Jaqeus, kalau kita bisa merangkai huruf menjadi kata, merangkai kata-kata menjadi kalimat, kemudian membuat kalimat-kalimat tersebut menjadi paragraf, lalu bisa merangkai sebuah paragraf menjadi sebuah tulisan, dan terakhir menulis beberapa artikel atau tulisan pendek, ya jadilah buku itu. Sederhana itulah! Makanya, jangan punya persepsi menulis buku itu sulit. Demikian kata Mas Edy.

Saya setuju dengan Mas Edy. Jangan punya persepsi menulis buku itu sulit! Sekali lagi, JANGAN PUNYA PERSEPSI MEMBUAT BUKU ITU SULIT! Sebab, buku hanyalah terdiri dari kumpulan tulisan pendek yang Anda sendiri tentu dengan mudah bisa membuatnya.

Maka, jangan melihat buku dari ketebalannya agar kita tidak merasa bahwa akitifitas menulis buku merupakan aktifitas yang begitu sulit dan melelahkan karena terbayang harus menulis berpuluh-puluh halaman bahkan sampai beratus-ratus halaman. Tapi, marilah kita lihat bab-bab yang ada dalam buku itu yang hanya berupa tulisan pendek saja. Kalau cuma segitu, kita pun dengan mudah tentu bisa membuatnya. Betul, tidak?! (Dengan intonasi suara mirip Aa Gym)

Kalau dalam sehari kita cuma bisa menulis satu-dua paragraf saja, tidak masalah. Tuliskan saja. Lama-kelamaan juga akan meningkat menjadi satu-dua halaman, bahkan sampai berlembar-lembar halaman. Kalau kita disiplin dan kontinu dalam menuliskannya, dalam waktu satu atau dua bulan, kita bisa menelorkan sebuah buku yang berisi kumpulan tulisan yang kita buat (cicil) selama ini. Isinya bisa saja berupa peristiwa yang kita alami sehari-hari yang mengandung hikmah (pelajaran berharga), agar bisa diambil sebagai pelajaran bagi orang lain yang membacanya. Atau kita pernah mendengar sebuah kisah bermanfaat dari orang, atau kita pernah membacanya dari sebuah buku, atau kita menemukan kata-kata mutiara dari buku yang kita baca, bisa saja kita tuliskan dan kumpulkan. Setelah jumlahnya cukup banyak, kita bisa menjadikannya sebagai sebuah buku. Beri saja judul buku kita “HARI-HARIKU” atau “PENGALAMANKU” atau judul apa saja terserah kita.

Saya pernah membaca sebuah buku kecil (ukuran saku) yang berjudul “Kiat Meraih Ketenangan Batin”. Buku ini adalah terjemahan dari buku karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, seorang ulama besar dari Saudi Arabia. Judul edisi bahasa Arabnya “Al-Wasa-ilul Mufiidah lil Hayaatis Sa’idah (Artinya: Berbagai Sarana yang Bermanfa’at untuk Meraih Kehidupan Bahagia)”. Ternyata dari 21 kiat yang ada dalam buku itu, beberapa kiat hanya terdiri dari satu paragraf saja. Misalnya kiat ketujuhbelas dan kesembilan belas. Sebagiannya lagi ada yang terdiri dari dua paragraf.

Sebagai bahan inspirasi, berikut ini saya kutipkan untuk Anda.

**********************************

KIAT MERAIH KETENANGAN BATIN

Kiat Ketujuhbelas:

Memikirkan Hal-hal yang Bermanfaat

Ketahuilah bahwa hidupmu mengikuti apa yang ada dalam pikiranmu. Jika pikiran-pikiran itu berisikan tentang perkara-perkara yang bermanfaat bagi agama dan duniamu, maka hidupmu adalah kehidupan yang baik dan bahagia. Jika tidak, maka sebaliknya.

Kiat Kesembilanbelas:

Menyibukkan Diri dengan Hal yang Bermanfaat

Jadikanlah hal-hal yang bermanfaat selalu berada di hadapanmu, dan beramallah untuk merealisasikannya. Janganlah engkau berpaling pada perkara-perkara yang membahayakan dan bersenang-senang dengannya, karena hal itu merupakan sebab yang dapat mengantarkan pada duka cita dan kesedihan. Maka minta tolonglah dengan ketenangan dan terpokusnya jiwa dalam melakukan amal-amal yang penting.

*******************

(Buku Kiat Meraih Ketenangan Batin. Beberapa kiat dalam buku ini hanya terdiri dari satu paragraf)

Membaca dua kutipan di atas, bagaimana pendapat Anda? Mudah sekali bukan menulis buku itu? Tinggal tulis beberapa kata hingga menjadi sebuah paragraf dan tulisan pendek, kemudian digabungkan menjadi satu. Maka jadilah sebuah buku. Jadi, menulis buku tidaklah sesulit yang dibayangkan. Menulis buku itu mudah. Yakinlah!

Saya juga sangat yakin, setiap kita pasti bisa menulis buku. Andrie Wongso saja yang gelarnya SDSTT (Sekolah Dasar Saja Tidak Tamat) bisa menulis buku. Udah gitu bestseller lagi. Apalagi Anda yang barangkali banyak diantara Anda yang bergelar sarjana. “Bohong besar” jika Anda mengaku tidak bisa menulis buku. Kalau memang tidak bisa, lalu skripsi Anda siapa yang nulis?

Maka tulislah meskipun cuma satu paragraf! Tapi ingat, tulislah sesuatu yang bermanfaat; untuk Anda dan untuk masyarakat sekitar Anda; untuk dunia Anda dan untuk akhirat Anda. Gimana, siap?!

(Dikutip dari buku saya yang berjudul ”Penulis Pemula Juga Bisa Nulis Buku”)