Posted by: penulis biasa on: Juni 28, 2011
Kenapa dibentuk PBAJJ?
PBAJJ (Pelatihan Bahasa Arab Jarak Jauh) ini dibuat karena beberapa alasan:
Oleh karena itu, dalam rangka memasyarakatkan bahasa Arab ke tengah-tengah ummat, dan membimbing kaum Muslimin yang ingin menguasai bahasa Arab, maka dibentuklah PBAJJ.
Kenapa dilakukan jarak jauh?
Agar peserta pelatihan bisa memilih waktu belajar sesuai dengan waktu yang diinginkan. Dan peserta pelatihan bisa mengkondisikan lingkungan belajarnya sendiri.
Kenapa digunakan kitab FAHIMNA?
Kitab FAHIMNA merupakan intisari dari kitab-kitab bahasa Arab yang sudah lebih dahulu beredar. Kitab ini disusun agar bisa dipelajari sendiri oleh mereka yang baru pertama kali belajar bahasa Arab.
Kenapa dibuat menjadi 6 kelas dan 6 modul? Kenapa tidak dibuat satu modul saja yang berisi 6 kelas pelajaran?
Ya, kami membagi pelatihan ini menjadi 6 kelas dengan 6 modul karena beberapa alasan:
Apa Target yang Ingin Dicapai?
Kami berharap, setelah mengikuti pelatihan ini peserta pelatihan:
Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai target di atas?
Sangat tergantung banyak hal. Diantaranya kerajinan dan kesungguhan peserta pelatihan dalam belajar. Kalau peserta pelatihan bisa belajar rutin setiap hari, insya Alloh dalam waktu sekitar 3-4 bulan, bisa mencapai target yang diharapkan.
Kenapa harus bayar?
Ya, kami mohon maaf karena pelatihan ini harus bayar. Sebab untuk menyelenggarakan acara pelatihan ini dikeluarkan dana yang cukup besar. Oleh karena itu terpaksa pelatihan ini dipungut bayaran. Namun, untuk menentukan biaya sebesar Rp.50.000/kelas kami sudah rundingkan dengan beberapa kalangan dan mereka mengatakan jumlah ini sudah sangat murah.
Jika Anda puas dengan pelatihan ini, silakan ajak kawan-kawan Anda untuk ikut bergabung
Namun, jika Anda kecewa, mohon hubungi kami
Saran dan kritik yang membangun dari Anda sungguh kami harapkan
Posted by: penulis biasa on: Juni 28, 2011
KENAPA KITA PERLU BELAJAR BAHASA ARAB ???
Alasan 1: Agar kita tidak seperti ORANG MABUK ketika sholat
Saudara-saudari yang kami cintai karena Alloh…
Alloh Subhanahu wa Ta’ala melarang kita sholat dalam keadaan mabuk.
Kenapa ???
Agar kita sadar dengan bacaan sholat yang kita ucapkan.
Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
”Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mendekati sholat ketika kamu dalam keadaan mabuk sampai kamu sadar apa yang kamu ucapkan.”
(QS. An-Nisa [4]:43)
Alhamdulillah, sekarang ini kita tidak pernah melihat ada orang yang sholat dalam keadaan mabuk. Namun, apakah lantas mereka sadar dengan yang mereka ucapkan ketika sholat??? Apakah lantas mereka mengerti bacaan sholat mereka??? Entahlah.
Coba saja tanyakan sendiri kepada mereka:
Alasan 2: Agar SHOLAT kita KHUSYUK
Khusyuk dalam sholat merupakan sebuah kewajiban. Dan salah satu sarana agar bisa khusyuk dalam sholat adalah mengerti bacaan sholat yang diucapkan.
Alasan 3: ALLOH Subahanahu wa Ta’ala MENYURUH kita
Kita diperintahkan Alloh Subhanahu wa Ta’ala untuk mentadaburi al-Qur’an.
Alloh Subhanahu wa Ta’a berfirman:
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Quran,
ataukah hati mereka terkunci?”
(QS. Muhammad: 24).
Namun kita tidak akan mungkin bisa mentadaburi al-Qur’an secara sempurna
tanpa kita mengerti bahasa Arab.
Saatnya kita belajar BAHASA ARAB !!!
Pingin belajar BAHASA ARAB tanpa harus keluar rumah ???
Ikutan aja….
PELATIHAN BAHASA ARAB JARAK JAUH
UNTUK ORANG AWAM
CARA belajarnya GIMANA ???
Anda cukup mempelajari modul yang kami berikan di rumah masing-masing
Jika ada yang belum faham, Anda bisa bertanya VIA SMS
MODUL apa yang digunakan ???
Modul yang digunakan berasal dari kitab FAHIMNA yang disusun oleh TIM PENGKAJI BAHASA ARAB PUSTAKA LAKA.
Kitab FAHIMNA merupakan intisari dari kitab-kitab bahasa Arab yang sudah lebih dahulu beredar. Kitab ini disusun khusus untuk ORANG INDONESIA dan dibuat sedemikian rupa agar bisa DIPELAJARI SENDIRI oleh mereka yang baru pertama kali belajar bahasa Arab. Penyusunan materi dalam kitab ini berdasarkan PENGALAMAN BELAJAR & MENGAJAR TIM PUSTAKA LAKA di berbagai tempat & kalangan. Di dalamnya terdapat: teori, contoh-contoh, soal-soal latihan, dan soal ujian kenaikan kelas.
Kenapa dilakukan jarak jauh?
Agar peserta pelatihan bisa memilih waktu belajar sesuai dengan waktu yang diinginkan. Dan peserta pelatihan bisa mengkondisikan lingkungan belajarnya sendiri.
Apa Target yang Ingin Dicapai?
Kami berharap, setelah mengikuti pelatihan ini peserta pelatihan:
Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai target di atas?
Untuk menguasai kaidah dasar bahasa Arab (Nahwu-Shorof), ada 6 KELAS yang harus dilewati. Masing-masing kelas membutuhkan waktu + 1 BULAN. Insya Alloh dalam waktu + 6 BULAN (bahkan bisa kurang), Anda sudah bisa memahami kaidah dasar bahasa Arab sebagai bekal memahami Al-Qur’an, hadits, do’a, dzikir, dll. Jadi sangat tergantung pada kerajinan dan kesungguhan peserta pelatihan dalam belajar. Kalau peserta pelatihan bisa belajar rutin setiap hari, insya Alloh dalam waktu sekitar 3-4 bulan, bisa mencapai target yang diharapkan.
BERAPA BAYARNYA ?
Biaya pendaftaran: Rp.50.000,-/Kelas
FASILITAS:
Kenapa harus bayar?
Ya, kami mohon maaf karena pelatihan ini harus bayar. Sebab untuk menyelenggarakan acara pelatihan ini dikeluarkan dana yang cukup besar. Oleh karena itu terpaksa pelatihan ini dipungut bayaran. Namun, untuk menentukan biaya sebesar Rp.50.000/kelas kami sudah rundingkan dengan beberapa kalangan dan mereka mengatakan jumlah ini sudah sangat murah.
Namun bila Anda merasa KEMAHALAN, anda bisa menggunakan cara lain. Silakan Anda beli sendiri buku-buku panduan belajar bahasa Arab di toko buku. Kemudian Anda minta orang yang mengerti bahasa Arab untuk mengajari Anda (Sebab kebanyakan buku tata bahasa Arab yang beredar di masyarakat, harus dipelajari dengan bimbingan langsung seorang guru secara intensif). Jadi, banyak cara yang bisa kita lakukan untuk belajar.
Kenapa dibuat menjadi 6 kelas dan 6 modul? Kenapa tidak dibuat satu modul saja yang berisi 6 kelas pelajaran?
Ya, kami sengaja membagi pelatihan ini menjadi 6 kelas dengan 6 modul karena beberapa alasan:
AYO IKUTAN !!! MUMPUNG ADA KESEMPATAN !!!
KETIK SMS: NAMA/ALAMAT LENGKAP/PBAJJ
KIRIM KE: 0856 9510 4219 / 0898 3636 7655
Biaya pendaftaran bisa ditransfer ke BANK MUAMALAT
no. rek 920 766 5199 a.n. Mujianto
Modul dll. akan segera dikirim setelah transfer.
Mohon ada pemberitahuan setelah mentransfer.
UNTUK WILAYAH BOGOR BEBAS ONGKOS KIRIM
UNTUK LUAR BOGOR ADA TAMBAHAN ONGKOS KIRIM:
Rp. 5.000,- (Jakarta, Depok, Tangerang, Bekasi)
Rp. 10.000,- (Pulau Jawa di luar JADETABEK)
Rp.20.000,- (Luar Jawa)
Info lebih lanjut:
http://pustakalaka.wordpress.com atau hub: Abdul Jabbar: 0856 9510 4219
Semoga informasi ini bermanfaat!
Tim Pengkaji Bahasa Arab Pustaka Laka
http://pustakalaka.wordpress.com
EBOOK GRATIS
Posted by: penulis biasa on: April 12, 2011
Manusia Biasa
Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa aku akan tertarik belajar bahasa Arab. Sebab aku adalah orang yang biasa-biasa saja. Aku terlahir dan dibesarkan oleh orang tua yang biasa-biasa saja. Lingkungan tempat aku tinggal pun biasa-biasa saja. Bukan lingkungan yang agamis. Jadi tidak ada yang mendorongku untuk belajar bahasa Arab pada waktu itu.
Alhamdulillah sejak kecil aku sudah bisa membaca al-Qur’an. Ibuku yang mengajariku membaca al-Qur’an. Kemudian aku disuruh oleh ibuku untuk menghafal surat-surat pendek yang ada di juz ‘amma. Sehabis maghrib aku harus menyetorkan hafalanku di hadapan ibuku. Seingatku, sebelum lulus SD aku sudah berhasil menghafal juz ‘amma. Namun bacaan al-Qur’anku baru sebatas bacaan biasa. Aku tidak mengerti artinya. Dan ketika itu, belum ada keinginan dalam diriku untuk mengerti arti dari bacaan al-Qur’an yang aku baca.
Sejak kecil aku juga sudah bisa mengerjakan sholat. Guru agamaku di sekolah yang mengajarkannya. Aku sudah tahu gerakan dan bacaan sholat. Hanya saja, aku belum mengerti dengan bacaan yang aku baca ketika sholat. Dan aku memang tidak ada keinginan untuk mengerti waktu itu. Sehingga bacaan sholatku persis seperti orang yang sedang mengucapkan mantra-mantra. Mulutku komat-kamit tapi aku tidak mengerti dengan yang aku ucapkan.
Sebagaimana keadaan masyarakat pada umumnya, aku beragama atas dasar “ikut-ikutan”. Setiap yang dikatakan oleh penceramah di masjid, semua aku anggap benar. Aku tak mempermasalahkan siapapun yang ceramah. Meskipun dia seorang penyanyi atau pelawak, apabila dia ceramah tentang agama, aku anggap perkataannya benar dan bagus. Dan itulah yang aku ikuti. Tak pernah terpikirkan dalam benakku waktu itu untuk mempertanyakan, “Apakah yang mereka sampaikan benar-benar sesuai dengan yang diajarkan oleh Alloh dan Rosul-Nya atau tidak? Apakah yang disampaikan oleh para penceramah di masjid, TV, dan radio benar-benar berdasarkan dalil yang kuat dari al-Qur’an dan hadits-hadits yang shohih atau tidak?”. Pokoknya, apapun yang aku dengar, entah dari penceramah, guru, atau siapa saja, aku pun langsung terima saja. Tidak pernah ada keinginan dalam diriku untuk mengkaji kembali ucapan mereka.
Lucunya waktu itu, setiap buku yang ada tulisan arabnya aku anggap sebagai buku yang bagus untuk dibaca. Buku apapun, baik yang dijual di toko buku, di bus, di kereta, atau dimanapun, jika isinya membahas tetang masalah agama, aku anggap isinya benar dan baik untuk diamalkan. Pernah suatu ketika aku membeli buku yang isinya mengajarkan tentang zikir-zikir tertentu. Dalam buku itu dijelaskan tentang khasiat zikir-zikir. Dikatakan dalam buku itu kalau kita baca zikir ini dan itu selama sekian kali, maka kita akan begini dan begitu. Namun tidak dijelaskan dalam buku itu apakah amalan ini memang ada ajarannya dari Rosululloh atau tidak. Dalam buku itu cuma disampaikan, kalau membaca zikir ini selama sekian kali maka akan begini dan begitu. Itu saja. Tanpa ada keterangannya dari al-Qur’an, Hadits dan penjelasan para ulama. Aku pun kemudian tertarik untuk mencobanya. Namun, meskipun aku sudah baca zikir ratusan kali seperti yang diajarkan, aku tetap tidak mendapatkan hasil apa-apa. Padahal aku sudah sangat serius membacanya. Sebab katanya, kalau aku mengamalkan zikir itu, aku bisa menjadi “orang sakti”. Waktu itu aku masih SMA. Karena di sekitar sekolahku sering terjadi tawuran, maka aku ingin sekali jadi orang sakti agar bisa menang kalau berkelahi. Baru kemudian, setelah aku mengerti tentang pemahaman Islam yang benar, aku baru tahu kalau zikir-zikir semacam itu tidak boleh dilakukan. Sebab tidak ada ajarannya dari Rosululloh.
Lagi pula kalau ada zikir-zikir semacam itu, niscaya Rosululloh lah yang akan pertama kali melakukannya, dan beliau tentu akan mengajarkannya kepada para Sahabat beliau. Sebab mereka sangat butuh zikir-zikir semacam itu. Bukankah mereka dahulu sering berperang sehingga tentunya sangat butuh kepada kesaktian untuk bekal berperang. Namun tidak ada keterangannya bahwa Rosululloh dan para Shahabat beliau mengamalkan zikir-zikir semacam itu.
Demikianlah diriku pada waktu itu. Aku bukanlah orang yang kritis dalam beragama. Aku cuma pengekor. Keadaan diriku dalam beragama persis seperti binatang ternak yang digiring oleh penggembala. Aku hanya manut-manut saja tanpa tahu mau digiring ke mana. Alhamdulillah aku belum sampai digiring ke penjagalan untuk disembelih!
***
Sejak SD hingga SMA aku lalui di sekolah umum. Tentu saja selama di sekolah umum aku tidak diajarkan bahasa Arab. Lalu, kenapa tiba-tiba aku bisa tertarik untuk belajar bahasa Arab? Begini ceritanya…..
Pondok AQ
Setamat dari SMA aku kuliah di kampus ABC yang terletak di kota X. Lokasi kampus ABC sebenarnya masih berdekatan dengan kota tempat aku dilahirkan. Namun untuk menuju ke sana dibutuhkan kira-kira 4-5 jam perjalanan dengan bus. Oleh karena itu, mau tidak mau aku harus kos di kota X.
Ada empat orang dari SMA ku yang kuliah di kampus ABC. Namun ketiga temanku kuliah di fakultas yang berbeda dengan diriku. Karena fakultas kami terpisah jauh, maka kami pun terpaksa harus tinggal terpisah. Ketiga temanku itu tinggal di daerah yang saling berdekatan. Sementara aku berada di daerah yang jauh dari mereka.
Awalnya aku tidak tahu harus kos di mana. Aku tidak kenal siapa-siapa di kota X. Segalanya serba asing bagiku. Syukurlah, saat aku sedang kebingungan, ada seorang mahasiswa senior yang memberiku informasi sebuah rumah kos. Aku disarankan untuk kos di sana. Dia pun memberitahuku alamat rumah kos itu. Nama kosannya Pondok AQ. Katanya dia punya banyak teman di sana. Aku pun kemudian mencari alamat kos itu. Setelah bertanya-tanya, akhirnya aku temukan juga kosan itu.
Ternyata Pondok AQ adalah sebuah rumah yang besar. Ada 16 kamar di dalamnya. Masing-masing kamar diisi oleh dua orang. Jadi aku tinggal bersama sekitar 30-an lebih mahasiswa. Semua kuliah di kampus yang sama.
Berbeda dengan kos yang yang lain, Pondok AQ dikenal sebagai “rumah binaan”. Ada kajian keislaman yang diadakan di dalamnya. Semua penghuni kos, terutama mahasiswa baru, harus mengikuti kajian keislaman yang ada di dalamnya. Diantara materi yang diajarkan ialah bahasa Arab. Nah, inilah awal perkenalanku dengan bahasa Arab.
Seminggu sekali sehabis subuh, kira-kira sekitar satu jam, kami diajarkan kaidah-kaidah bahasa Arab. Waktu itu aku diajarkan kaidah nahwu untuk tingkat dasar. Aku diperkenalkan apa itu isim, fi’il, dan huruf beserta tanda-tandanya. Namun, karena belum ada motivasi yang kuat dalam diriku untuk belajar bahasa Arab, maka tidak ada satu pun ilmu yang nyangkut di kepalaku. Waktu itu bisa dikatakan bahwa aku ini “terpaksa” ikut belajar bahasa Arab. Sebab itu sudah peraturan yang harus dipatuhi oleh semua penghuni kos. Dengan terpaksa aku pun harus mengikutinya.
Aku sendiri sudah lupa apakah ustadz yang mengajarku waktu itu memberi motvasi kami tentang pentingnya bahasa Arab atau tidak. Yang jelas waktu itu aku belum termotivasi sama sekali untuk belajar bahasa Arab. Aku benar-benar tidak mengerti dengan materi yang disampaikan ustadz. Yang masih aku ingat sampai sekarang adalah perkataan ustadz ketika menjelaskan huruf jar. Beliau berkata begini, “Sudah, hafalin saja dulu. Ntar lama-kelamaan juga bakalan ngerti…”.
Karena aku memang tidak tertarik dengan bahasa Arab, akhirnya setelah beberapa kali belajar, tetap tidak ada perubahan yang menggembirakan dalam diriku. Aku tetap tidak mengerti dengan kaidah bahasa Arab yang telah diajarkan. Hingga ketika diadakan ujian, nilaiku pun ancur-ancuran. Namun aku tidak merasa sedih. Sebab teman-temanku yang lain mengalami nasib yang sama denganku. Mereka juga tidak tertarik belajar bahasa Arab. Hanya ada satu orang yang sepertinya sangat bersemangat belajar bahasa Arab. Selain belajar di kos, dia juga belajar di tempat lain di luar kos. Namanya AK.
Sahabatku AK
Mahasiswa yang tinggal di Pondok AQ semuanya berasal dari luar daerah. Namun kebanyakan masih berada di pulau jawa. Hanya ada beberapa saja yang berasal dari luar jawa. Dan yang rumahnya terjauh adalah AK. Dia berasal dari daerah ujung Indonesia. Dia seangkatan denganku. Hanya saja kami berbeda jurusan.
Berbeda denganku, AK adalah orang yang sangat perhatian dengan permasalahan agama. Dia tipe orang yang kritis dalam beragama. Dia berusaha untuk mengamalkan ibadah agama di atas landasan ilmu, bukan ikut-ikutan. Oleh karena itulah dia banyak membaca buku-buku Islam. Di rak bukunya banyak terdapat buku-buku bacaan Islami tentang berbagai permasalahan, seperti aqidah, fiqih, dll.
Aku dan dia cukup berteman baik. Aku sering berkunjung ke kamarnya. Aku pun sering meminjam buku-buku agama koleksinya. Lewat perantaraan dialah aku mengenal tentang bagaimana seharusnya seorang muslim itu memahami Islam.
AK sering mengajukan permasalahan-permasalahan agama yang membuatku penasaran. Pernah suatu ketika dia mengajukan sebuah pertanyaan tentang aqidah kepadaku dan teman-teman yang sedang ngobrol-ngobrol di kamarku. Dia bertanya (bersambung)
Posted by: penulis biasa on: Juni 7, 2010
Mungkin saya perlu sedikit menceritakan pengalaman saya sebelum menjadi penulis di Elexmedia Komputindo. Sekitar tahun 2000, saya pernah mengajukan naskah buku tentang Adobe Photoshop versi 5.0 ke penerbit Dinastindo. Setelah dikoreksi, pihak Dinastindo kurang tertarik dengan tulisan saya. Mungkin ada beberapa pertimbangan mengapa mereka menolak proposal naskah saya yaitu: saya belum berpengalaman menjadi penulis, tata cara penulisan masih sangat awam, atau tema yang diajukan kurang menarik. Saya memaklumi penolakan tersebut dengan berbagai pertimbangan.
Saya tidak putus asa dan berkecil hati dengan keputusan tersebut. Dua bulan setelah gagalnya proposal naskah di Dinastindo, saya Baca entri selengkapnya »
Posted by: penulis biasa on: Mei 10, 2010
“Selamat pagi! Luar biasa!!!”
“Selamat pagi! Luar biasa!!!”
Seorang pria 30-an tahun menyapa Andrie Wongso dengan penuh semangat. Pak Andrie Wongso, motivator ulung itu, pun menjawab dengan lebih semangat lagi. Macam baru habis makan atau hendak perang saja! Saat itu pukul 10 malam atawa pukul 22.00 WIB di Surabaya.
“Tengah malam begini kok selamat pagi? Bukan selamat malam? Apa saya tidak salah dengar?” saya menggerutu dalam hati. Baca entri selengkapnya »
Posted by: penulis biasa on: Mei 10, 2010
Begitu banyak hal yang menakjubkan yang terjadi pada masa kecil para Laskar Pelangi. Sebelas anak Melayu Belitong yang luar biasa ini tak menyerah walau keadaan tak bersimpati pada mereka demi tetap menyalakan terus lentera jiwanya. Semuanya tergambar dengan indah pada sebuah novel berjudul sama yang telah diangkat ke layar lebar dan mengundang antusias yang luar biasa.
Kisah pada novel laris ini semuanya berawal dari memoar masa kecil yang ditulis lelaki berambut ikal penyandang nama panjang Andrea Hirata Seman Said Harun yang seringkali dipanggil Ikal ini. Terlahir pada tanggal 24 Oktober sebagai anak keempat dari pasangan N.A. Masturah (ibu) dan Seman Said Harun (ayah), Andrea Hirata menghabiskan masa kecilnya di Belitong.
Setamat SMA, ia merantau ke Jawa, melanjutkan studi di fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Seusai meraih gelar sarjana ekonomi seperti telah ditulis di atas, ia berhasil mendapatkan beasiswa dari Uni Eropa untuk mengambil gelar master di Universite de Paris Sorbonne, Perancis serta Sheffield Hallam University, di Inggris. Tesis Andrea di bidang ekonomi dan telekomunikasi mendapat penghargaan dari kedua universitas tersebut. Dia pun lulus cum laude.
Di saat ia mengambil gelar masternya tersebut, Andrea memulai debut menulisnya. Disaat malam-malam insomnianya tersebut Andre justru menulis buku non fiksi pertamanya yaitu buku ilmiah berjudul “The Science of Bussiness” pada tahun 2003. Buku yang menurut Andre sendiri adalah semacam pembayar kewajiban moralnya kepada lembaga Uni Eropa yang memberikannya beasiswa kuliah di Sorbonne Prancis dan Sheffield Inggris.
Tapi tidak hanya berhenti sebagai kewajiban moral saja, ternyata Andrea kemudian menjadi ketagihan untuk menulis buku. Andrea yang memang sangat menggemari sains akhirnya mencoba menulis buku sastra dari sejarah panjang kehidupan masa kecilnya yang tertuang dalam buku “Laskar Pelangi”
Pada mulanya, Andrea tidak pernah meniatkan naskahnya untuk dikomersilkan lewat industri buku. Ia menulis memoar itu hanya untuk dipersembahkan sebagai kado ulang tahun bagi gurunya tercinta, Ibu Muslimah, yang telah memberikannya semangat dalam mengejar Lentera Jiwanya. Di mana dalam cerita Laskar Pelangi , ibu guru ini adalah seorang tokoh yang sangat inspiratif, seorang guru miskin di sebuah sekolah dasar miskin di Belitong yang mendidik murid-muridnya dengan penuh kecintaan. Kabarnya pula , Ibu Muslimah tengah diusulkan untuk mendapatkan Ma’arif Award.
Tanpa sepengetahuan Andrea, naskah tersebut secara diam-diam dibawa oleh salah seorang sahabat Andrea yang pernah membaca draft tersebut kepada salah satu penerbit untuk diperlihatkan. Penerbit yang beruntung ini, Bentang, tanpa diduga langsung jatuh cinta dan lantas menerbitkannya. Dan tak terduga juga akhirnya Laskar Pelangi termasuk novel yang ada di jajaran best seller untuk tahun 2006 – 2007.
Buntut kesuksesan Laskar Pelangi ditandai pula oleh diterbitkannya buku tersebut dalam edisi bahasa Melayu di Malaysia dan menjadi best seller di negeri jiran itu. Berkat itu pula, akhirnya novel ini diangkat ke layar lebar oleh sutradara bertangan dingin, Riri Reza, yang juga menghasilkan box office di Indonesia.
Sejak itu pula, Ikal jadi ketagihan menulis fiksi. Ia melewatkan malam-malam insomnianya dengan menulis. Saat menulis itu, ia merasakan hal yang berbeda. Dan menyusul buku pertamanya, Andrea lantas menulis sekuelnya, Sang Pemimpi. Masih berkisah seputar sekolahan, buku keduanya ini pun terbilang sukses. Lagi-lagi ia mendapatkan setumpuk pujian sekaligus kritikan yang disikapinya dengan bijaksana.
Apa mau dikata, Andrea Hirata akhirnya dengan sadar menjerumuskan diri ke dalam penulisan buku fiksi. Laskar Pelangi merupakan buku pertama dari sebuah karya tetralogi. Setelah Sang Pemimpi, berikutnya berturut-turut terbit dua judul lagi yaitu Edensor dan Maryamah Karpov. Setelah terkenal dengan karya-karya sastranya, ia sangat berharap satu hari nanti bisa kembali menulis sebuah buku sains kembali seperti awal debut menulisnya dulu. Karena ia memang sangat menyukai sains, fisika, kimia dan biologi walaupun ia mengambil major ekonomi dalam studinya.
Andrea pun mengakui, bahwa lantaran Laskar Pelangi cita-citanya membuka perpustakaan di kampung halamannya terwujud sudah. Perpustakaan itu menjadi tempat orang belajar ilmu pengetahuan dan agama Islam. Perpustakaan ini membuka diri bagi para relawan yang ingin bergabung.
Pemuda ini sendiri lebih mengidentikkan dirinya sebagai seorang akademisi dan backpacker daripada seorang novelis. Kini setelah kesuksesannya dalam menulis, Ikal masih punya sebuah cita-cita dalam mengejar mimpinya yang lain yaitu tinggal di Kye Gompa, desa tertinggi di dunia, di Himalaya.
Andrea Hirata adalah salah seorang contoh nyata, tidak ada yang tidak mungkin untuk mengejar mimpi dan menyalakan terus Lentera Jiwa. Dari sebuah kumpulan anak-anak berjiwa besar dalam Laskar Pelangi di sebuah desa tertinggal, terlahir Lentera Jiwa yang bersinar terang dan menyentuh banyak orang. [dr.m]
Diambil dari berbagai macam sumber
Sumber: http://www.lenterajiwa.com/inspirasi.php?Nid=50
Posted by: penulis biasa on: April 9, 2009
Kawan…
Kita emang nggak menutup mata kalo dalam masalah shalat ini banyak sekali kita temukan perbedaan. Coba aja kita perhatiin orang-orang yang shalat di masjid. Niscaya akan kita dapati mereka berbeda dalam banyak hal. Misalnya ada yang kalo sujud tangan duluan, ada yang lutut duluan. Trus ada juga yang kalo duduk tasyahhud jarinya digerak-gerakkan, dan ada juga yang nggak. Dan masih banyak lagi perbedaan yang lainnya.
Namun hal ini wajar. Sebab, Baca entri selengkapnya »
Posted by: penulis biasa on: Maret 1, 2009
Kawan…
Mungkin ada di antara kalian yang bertanya-tanya. Bagaimana dengan wanita? Apakah kaum wanita diperintahkan juga untuk shalat berjama’ah di masjid kayak laki-laki?
Mmm…setau saya sih, berdasarkan kesepakatan para ulama, kaum wanita nggak diperintahkan untuk shalat berjama’ah di masjid. Jadi, boleh-boleh aja bagi mereka untuk nggak dateng ke masjid. Dateng boleh, nggak dateng juga boleh. Namun, yang lebih utama bagi mereka melakukan shalatnya di rumah, bukan di masjid.
Dari Ummu Humaid As-Sa’idiyyah radhiyallahu ‘anha, dia mendatangi Rasulullah Shallallâhu ’alayhi wa sallam dan berkata,”Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya senang shalat bersamamu.” Beliau Shallallâhu ’alayhi wa sallam berkata,”Sesungguhnya saya mengetahui bahwa engkau senang shalat bersamaku. Namun, shalatmu di rumahmu lebih baik daripada shalatmu di kamarmu. Shalatmu di kamarmu lebih baik daripada shalatmu di tempat tinggalmu. Shalatmu di tempat tinggalmu lebih baik daripada shalatmu di masjid kaummu. Dan shalatmu di masjid kaummu lebih baik daripada shalatmu di masjidku.” (HR. Ahmad dan Ibnu Khuzaimah)
Namun, kalo mereka tetep pingin ikutan shalat berjama’ah di masjid, nggak boleh ada orang yang ngelarang. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallâhu ’alayhi wa sallam,”Jangan kamu melarang istri-istrimu (shalat) di masjid, namun rumah mereka sebenarnya lebih baik untuk mereka.”(H.r. Ahmad, Abu Dawud, dan Al-Hakim)
Hanya saja, bagi wanita yang pingin ikutan shalat berjama’ah di masjid, hendaknya mereka nggak memakai wangi-wangian.
Lho, emangnya kenapa nggak boleh?!
Sebab, Rasulullah ngelarang hal itu. Beliau bersabda begini:
“Janganlah kalian melarang para wanita (pergi) ke masjid dan hendaklah mereka keluar dengan tidak memakai wangi-wangian.”(H.r. Ahmad dan Abu Dawud)
Dan beliau Shallallâhu ’alayhi wa sallam juga bersabda:
“Perempuan yang mana saja yang memakai wangi-wangian, maka janganlah dia ikut shalat Isya’ berjama’ah bersama kami.”(H.r. Muslim)
Pada kesempatan lain, beliau Shallallâhu ’alayhi wa sallam juga bersabda,”Perempuan yang mana saja yang memakai wangi-wangian, kemudian dia pergi ke masjid, maka shalatnya tidak diterima sehingga dia mandi.”(H.r. Ibnu Majah)
Nah, jadi Rasulullah ngelarang kaum wanita memakai wewangian kalo pingin ke masjid. Dan kewajiban kita sebagai sesorang Muslim, harus “sami’na wa atho’na”. Kita nggak boleh ngebantah.
Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,”Seungguhnya jawaban orang-orang mukmin bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan,”Kami mendengar, dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Q.s. an-Nur: 51)
Allah Subhânahu wa Ta’âlâ juga berfirman,’Semua yang diberikan Rasul, ambillah! Dan semua yang dia larang, tinggalkanlah! Takutlah kalian kepada Allah. Sungguh, Allah sangat keras hukuman-Nya.’(Q.s. al-Hasyr: 7).
Dan kita harus yakin, bahwa setiap yang dilarang Rasulullah Shallallâhu ’alayhi wa sallam pasti mengandung bahaya, walaupun terkadang kita belom mengetahui bahayanya, dan kita ngerasa (berdasarkan pengetahuan kita yang serba sedikit) kalo hal itu nggak berbahaya. Sebab, Rasulullah adalah orang yang paling tau tentang apa saja yang bisa membahayakan ummatnya. Dan Rasulullah, sebagaimana udah saya sebutin di awal, adalah orang yang paling sayang kepada ummatnya. Beliau sangat menginginkan kebaikan bagi ummatnya.
Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,”Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan kebaikan bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (Q.s. at-Taubah: 128)
***
Kemudian, bagi wanita yang pingin ke masjid, hendaknya mengenakan busana yang sesuai aturan syari’at. Yaitu busana yang menutup aurat, longgar sehingga tidak membentuk lekuk-lekuk tubuh, tebal (tidak tipis), dan tidak menarik perhatian kaum laki-laki. Merekapun nggak boleh bertabarruj.
Wah, apaan tuh tabarruj?
Tabarruj itu artinya perbuatan wanita menampakkan perhiasan dan kecantikannya, serta segala sesuatu yang seharusnya ditutup dan disembunyikan karena bisa membangkitkan syahwat laki-laki. Dan ini nggak boleh dilakukan. Sebagaimana Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,”Janganlah kamu bertabarruj seperti orang-orang jahiliyah dahulu.”(Q.s. al-Ahzab [33]: 33)
Kamu tau nggak, kenapa tabarruj dilarang? Sebab nih, tabarruj-nya seorang wanita bisa menimbulkan kerusakan yang besar di masyarakat, khususnya bagi laki-laki. Sebab sudah menjadi tabiat (fitrah) laki-laki memiliki ketertarikan kepada wanita. Dan tabarruj-nya seorang wanita sangat potensial mendorong terjadinya perbuatan zina. Minimal yang terjadi adalah zina mata. Oleh karena itu Islam sangat keras melarang tabarruj. Sampai-sampai perbuatan tabarruj ini disejajarkan dengan perbuatan syirik, zina, mencuri, dan perbuatan haram lainnya.
Abdullah bin Amr pernah mengisahkan. Umaimah bintu Ruqaiqah pernah datang berbai’at kepada Nabi untuk masuk Islam. Nabi berkata,”Aku bai’at kamu untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anakmu, tidak membuat-buat kedustaan yang dibuat dengan kedua tangan dan kakimu, tidak meratap, dan tidak ber–tabarruj seperti yang dilakukan wanita jahiliyah dulu.” (H.r. Ahmad)
Kok, kayaknya Islam terlalu banyak aturan deh! Nggak boleh begini lah, nggak boleh begitu lah!
Eeh, jangan salah, Fren! Justru itu bukti keindahan Islam dan kasih sayang Islam kepada ummatnya. Emang harus diakui kalo agama Islam memberi banyak aturan kepada ummatnya. Tapi kamu harus ingat nih…
1. Aturan Islam berasal dari Allah Subhânahu wa Ta’âlâ, Pencipta manusia, yang paling tahu segala sesuatu yang bermanfaat untuk manusia. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,” Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Q.s. al-Anfaal [8]: 73). Allah Subhânahu wa Ta’âlâ juga berfirman,”Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Q.s. Al-Baqarah : 232)
Namun sayang, sekarang ini, banyak kita liat manusia yang merasa lebih pintar dari Allah Subhânahu wa Ta’âlâ. Sehingga mereka lebih senang dan bangga mengikuti aturan yang mereka buat sendiri daripada harus mengikuti aturan Allah Subhânahu wa Ta’âlâ. Akibatnya, timbullah kerusakan di mana-mana.
”Telah nampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan oleh tangan-tangan (ulah) manusia sendiri...”. (Q.s. ar-Ruum: 41)
2. Aturan dalam Islam semuanya mudah untuk dilaksanakan. Tiada yang sulit dalam menjalankannya.
Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,”…Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu….”(Q.s. al-Baqarah [2]:185)
”…Allah tidak ingin menyulitkanmu…”(Q.s. al-Maa-idah:6)
”…Dan Dia (Allah) tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama…”(Q.s. al-Hajj:78)
Rasulullah Shallallâhu ’alayhi wa sallam bersabda,”Sesungguhnya agama (Islam) itu mudah”. (H.r. al-Bukhari [39])
Seandainya kita merasa sulit dan berat dalam melaksanakan sebagian aturan Islam, jangan salahkan aturannya. Hendaknya kita periksa diri kita. Jangan-jangan dalam hati kita ada penyakit. Sebab, bagi orang yang sedang sakit, makanan manis pun akan terasa pahit olehnya. Dan, aktivitas yang paling ringan sekalipun akan terasa berat dikerjakannya.
3. Aturan Islam manfaatnya akan kembali kepada manusia itu sendiri. Sayangnya, banyak manusia yang nggak sadar akan hal ini.
Saya akan berikan sebuah contoh supaya kamu makin jelas. Islam memerintahkan wanita muslimah mengenakan jilbab. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,”Hai Nabi, katakanlah pada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin:”Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuhnya. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang.”(Q.s. Al-Ahzab:59)
Nah, perintah jilbab ini datangnya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang tentunya paling mengetahui terhadap segala sesuatu yang baik untuk para wanita. Kemudian, pelaksanaannya pun mudah. Setiap wanita pasti mampu melakukannya. Dan, manfaat jilbab ini akan berpulang kepada wanita itu sendiri.
Jilbab berfungsi untuk melindungi kehormatan wanita. Tanpa jilbab, wanita layaknya bunga di tepi jalan. Tak ada yang melindungi. Setiap saat mata-mata nakal bebas memandangnya dengan buas, dan begitu mudahnya dipetik oleh tangan-tangan jahil manusia berhati srigala. Setelah puas, bunga pun bisa dengan mudahnya dicampakkan di jalanan. Jadi, jilbab adalah benteng bagi wanita agar kesuciannya tetap terlindungi dan terpelihara.
Jadi demikianlah, kawan. Jika kita mau ngeliat semua aturan Islam dengan kaca mata keadilan, niscaya kita akan dapati bahwa aturan Islam adalah aturan yang Indah. Sebab, aturan Islam berasal dari Allah Subhânahu wa Ta’âlâ Yang Mahaindah dan mencintai keindahan. Rasulullah Shallallâhu ’alayhi wa sallam bersabda, ”Sesungguhnya Allah itu Maha Indah, dan mencintai keindahan..”. (H.r. Muslim)
Jika kita merasa bahwa Islam terlalu banyak aturan, dan sebagian aturannya ada yang “seolah” mengekang, memaksa, dll, maka ketahuilah bahwa justru itu merupakan wujud kasih sayang Islam. Ingatlah bahwa Allah Subhânahu wa Ta’âlâ sangat sayang kepada hamba-Nya, demikian pula dengan Rasulullah Shallallâhu ’alayhi wa sallam. Jadi, mustahil jika Allah Subhânahu wa Ta’âlâ dan Rasul-Nya Shallallâhu ’alayhi wa sallam membuat peraturan yang akan menyengsarakan ummatnya.
Saya akan berikan sebuah permisalan. Permisalan ini sebenarnya mirip-mirip dengan yang udah saya sampein di awal-awal bab. Tapi nggak apa-apa saya ulang lagi, biar kamu semua tambah ngerti bin paham.
Misalnya begini. Ada dua orang ibu, masing-masing mempunyai seorang anak kecil. Ibu yang pertama selalu mengingatkan anaknya,” Nak, jangan main api, jangan main pisau, jangan hujan-hujanan, jangan bermain di jalan raya, pagi-pagi jangan jajan es, … Kalau sampai Ibu tau, nanti Ibu jewer!”. Sedangkan ibu yang kedua berkata kepada anaknya,”Terserah kamu mau ngapain, Ibu nggak bakalan ngelarang. Mau main api kek, hujan-hujanan kek, main pisau kek, terserah. Ibu nggak akan marah. Kamu bebas berekspresi”. Dari kedua ibu ini, siapakah yang pantas dikatakan sebagai orang tua yang sayang kepada anaknya? Tentu ibu yang pertama, bukan?!
Oo..jadi begitu, toh! Saya baru tau kalo ternyata Islam itu emang agama yang indah. Saya jadi semakin cinta sama Islam nih..he..he…uhuk..uhuk..
Emang udah seharusnya begitu. Sebagai orang Islam, emang udah sewajarnya bagi kita untuk mencintai Islam. Kalo bukan kita, siapa lagi yang bakal mencintai Islam.
Trus juga, kita emang harus banyak belajar tentang Islam. Agar jangan sampe kita salah paham terhadap Islam disebabkan ketidaktauan kita. Sebab, sekarang ini, banyak lho orang yang salah paham tentang Islam. Ada yang bilang Islam itu ekstrim, sadis, brutal, nggak adil, memasung kebebasan berekspresi, menzalimi wanita, dll. Kenapa mereka bisa bilang seperti itu? Ya, karena mereka nggak ngerti terhadap aturan-aturan dalam Islam. Seandainya mereka paham bin ngerti, niscaya mereka akan berteriak histeris,”Wow…! Islam indah bangeet…!” Kayak kamu itu, lho. Setelah saya jelasin, kamu baru sadar kan kalo ternyata Islam itu agama yang indah? Padahal sebelumnya kamu bilang kalo Islam itu terlalu banyak aturan dan sering ngelarang-larang.
***
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.
(Q.s. al-Baqarah [2]:216)
***
Nah, kawan…
Demikianlah pembahasan tentang hukum shalat berjama’ah di masjid bagi wanita. Jadi, berdasarkan hadits Rasulullah Shallallâhu ’alayhi wa sallam, kaum wanita lebih utama shalat di rumahnya. Dan ini lagi-lagi menunjukkan bentuk kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi kaum wanita sekaligus bagi masyarakat. Sebab, dengan wanita shalat di rumah, tentu saja hal ini akan lebih menjaga wanita dan lebih melindunginya. Selain itu, juga untuk menjaga anak-anak di rumah, para lanjut usia, serta manfaat lainnya. Maha Suci Allah yang telah menurunkan syari’at yang penuh hikmah ini!
***
Tadi kan dibilang kalo wanita itu lebih utama shalatnya di rumah..
Betul! Trus, kenapa?
Boleh nggak mereka mengerjakannya secara berjama’ah antara sesama wanita?
Yup! Pertanyaan yang bagus! Untuk ngejawabnya, saya akan bawakan perkataan dari Dr. Shalih bin Ghanim berikut ini. Dia berkata bahwa jama’ahnya kaum wanita di rumah lebih utama dari pada kehadiran mereka di masjid bersama kaum lelaki, karena shalat mereka di rumah sendirian lebih utama ketimbang dilakukan di masjid. Maka, jika dikerjakan dengan berjama’ah (di rumah) akan lebih utama.
Karena inilah, lanjut Dr. Shalih, jika ada sekelompok wanita yang tinggal di rumah, sekolah, universitas, atau rumah-rumah kontrakan, disunnahkan bagi mereka mengadakan jama’ah shalat. Adapun imamnya boleh berdiri di depan atau di tengah shaf yang pertama, boleh juga mengeraskan suara dalam shalat jahriyah, namun tetap menjaga dan memperhatikan kerendahannya, jika dimungkinkan ada laki-laki non mahram yang mendengarnya.
Banyak riwayat yang menerangkan pensyari’atannya, diantaranya ialah yang diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau pernah mengimami para wanita dalam shalat fardhu, tepatnya shalat Maghrib. Beliau berdiri di tengah shaf dan mengeraskan bacaannya. (Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla (3/171))
Dari Hujairah binti Husain, dia berkata,”Ibunda Ummu Salamah mengimami kami dalam shalat Ashar, dan beliau berdiri di antara kami.” (Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla (3/171-172))
Nah, inilah beberapa dalil tentang bolehnya wanita mengerjakan shalat berjama’ah antar sesama mereka selain di masjid. Trus, ada ilmu baru juga nih yang mungkin ada diantara kamu yang baru tau sekarang. Jadi, kalo imam wanita, yang disunnahkan ialah poisinya di tengah-tengan shaf pertama, sejajar dengan barisan. Nah, baru tau kan?!
Oke deh… Kayaknya cukup sampe di sini aja pembahasan tentang hukum shalat berjama’ah di masjid bagi wanita. Sekarang kita berlanjut ke pembahasan selanjutnya yaitu tentang udzur shalat berjama’ah. Tapi sebelumnya, kita ikuti dulu pesan-pesan berikut ini…
Dokutip dari buku saya yang berjudul “Shalat Berjama’ah Emang Duahsyaat!”, yang sedang dalam proses penawaran ke penerbit. Doain ya supaya lolos…
Posted by: penulis biasa on: Desember 10, 2008
Nah, ini dia nih! Ada juga nih yang kudu kamu perhatiin. Ada saat-saat tertentu di mana sudah seharusnya bagi kamu-kamu yang sering bawa HP ke mana-mana untuk me-non-aktifkan sejenak HP-mu. Di antaranya adalah saat kamu sedang melakukan ibadah shalat, baik shalat wajib maupun shalat sunnah. Hal ini dilakukan sebagai langkah antisipasi jika ada yang menghubungimu di tengah shalat. Sebab, suara dering HP bisa mengganggu kekhusyu’an shalat. Terutama ketika shalat berjama’ah di masjid. Di samping mengganggu kekhusyu’an sholatmu, juga ganggu orang yang berada di sekitarmu, lebih-lebih bagi imam shalat.
Sayangnya, seringkali justru kita dapati sebagian orang yang membiarkan HP-nya dalam keadaan aktif ketika sedang shalat berjama’ah. Bahkan tak jarang suara dering HP-nya terdengar sangat keras. Di tambah lagi nada dering yang dipakai biasanya berupa musik atau suara yang aneh-aneh, seperti suara hewan, bayi menangis, kuntil anak (hi..hi..hi..hi…) dll. Tentu saja hal ini sangat mengganggu orang lain yang ada di sekitarnya yang sedang shalat.
Ada cerita begini. Di sebuah masjid yang terletak di daerah perkampungan, Baca entri selengkapnya »
Posted by: penulis biasa on: Desember 2, 2008
Coba kamu bayangin seandainya buku karyamu ditaro di perpustakaan umum sekolah atau kampus yang ada di setiap kota dan daerah. Kemudian setiap hari dibaca dan dimanfaatkan oleh banyak orang. Maka, betapa besar pahala yang bakalan kamu dapat.
***
Sobat…
Barangkali kamu semua bertanya-tanya. Ngapain sih nulis buku? Nulis buku kan susah. Harus baca banyak literatur. Belum nyusun kata-kata yang bagus dan sesuai kaidah EYD (Ejaan Yang Disempurnakan). Nilai Bahasa Indonesia saya aja cuma dapet 5,5. Itupun hasil nyontek. Jadi, bagaimana mungkin bisa nulis buku! Pokoknya susah deh! Susah…Susah…Susaaaaaah…!!!
Eeh, sabar dulu Sobat! Jangan teriak-teriak gitu. Belum nyoba kok udah bilang susah. Coba dulu atuh. Baru kemudian bisa bilang susah. Kalau belum dicoba, darimana kita tahu kalo nulis buku itu susah. Ya, nggak?!
Lagian, nulis buku itu nggak susah kok. Serius, saya nggak bo’ong. Buktinya, ada orang yang sekolah SD aja nggak tamat tapi bisa nulis buku. Udah gitu bukunya best seller lagi. Trus, ada juga lho pembantu rumah tangga yang bisa nulis buku. Anak-anak kecil sekarang (yang masih SD) banyak juga kok yang bisa nulis buku. Pokoknya menulis buku itu nggak susah kok. Menulis buku itu guampang. Kalo nggak percaya, coba deh kamu baca buku ini sampai selesai. Nanti kamu bakalan tau sendiri kalo menulis buku itu memang gampang pang…pang…paaaang….
Trus, kenapa sih kok harus nulis buku, kenapa nggak nulis tembok rumah tetangga aja?
Yee…itu mah vandalisme namanya. Nggak boleh kita nulis-nulis tembok rumah tetangga. Ntar kalo dimarahin sama yang punya rumah baru tahu rasa lho! Daripada nulis-nulis tembok tetangga, mendingan nulis-nulis tembok sekolah (Lho, kok!) Eh, nggak…nggak….becanda. Mendingan kamu nulis buku aja. Dijamin banyak manfaatnya deh. Pingin tahu apa aja manfaatnya? Baca entri selengkapnya »
Komentar Terakhir